-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hidup Empo Gervasius Ndokang-Paula Nganus dan Spiritualitas Marial

Kamis, 29 Desember 2016 | 01:12 WIB Last Updated 2020-02-17T04:52:27Z
Hidup Empo Gervasius Ndokang-Paula Nganus dan Spiritualitas Marial
Gambar Bunda Maria (Ilustrasi; google)

Penulis akan menguraikan nilai-nilai kehidupan yang sudah dihayati oleh Empo (kakek/nenek) Gervasius Ndokang dan Paula Nganus (GE-PA) tatkala mereka masih hidup. Saya mencoba, memertemukan kebijaksanaan hidup mereka dengan spiritualitas Marial. Mengapa saya (salah satu dari cucu-cucu mereka) berani memerlihatkan cara hidup mereka dan dikaitkan dengan spiritualitas Marial? 

Pertimbangannya sederhana saja, bahwa saya ingin mengenang dan mengabadikan nilai-nilai kehidupan mereka yang sesuai dengan keutamaan-keutamaan Marial. Seperti terungkap dalam filosofi Manggarai, neka hemong kuni agu kalo (jangan melupakan nilai-nilai kehidupan leluhur) atau kata-kata dari Bapak Presiden RI pertama, Soekarno, jangan melupakan sejarah (Jasmerah).

Cara hidup Empo GE-PA memiliki titik temu dengan keutamaan Marial. Titik temunya terungkap dalam beberapa hal. Bahwasannya, gaya hidup mereka sangat memesona. 

Bilur-bilur air mata mereka yakni daya juang yang sangat indah. Kesederhanaan mereka merupakan kekayaan bagi anak-anak dan cucu-cucu serta keluarga di jaman ingar-bingar ini. Hidup rohani yang mereka teladani yakni contoh bagi kami. Cara mereka mengasihi sesama ialah benih keindahan kami.

Beberapa nilai kehidupan mereka sudah dihidupi oleh Bunda Maria. Meski mereka tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang Perawan suci ini, karena secara akademis, mereka tidak berpendidikan tinggi. Namun mereka menampilkan kebijaksaan hidup yang penuh pesona dan hal ini dilihat dari cara hidup mereka semasa hidup.

Dari beberapa hal ini, penulis merenungkan, betapa indah kebijaksanaan hidup mereka untuk dihidupi oleh anak-anak, cucu-cucu, dan keluarga di masa kini. 

Barangkali ada orang yang merasa terkesan dan tertarik untuk meneladani cara hidup mereka. Silahkan saja. Suatu kebanggaan bagi kami bila ada yang menghidupi cara hidup mereka.

Berikut saya mengulas sekilas tentang Empo GE-PA dan nilai-nilai yang mereka wariskan. Saya juga mengulas secuil kebijaksanaan hidup Bunda Maria yang sedikit relevan dengan cara hidup mereka. Kemudian, saya memerlihatkan titik temu antara keduanya dan relevansi bagi kami atau barangkali bagi kita di masa kini.

Riwayat dan Kebijaksanaan Hidup GE-PA

Sosok empo Gervasius Ndokang dan Paula Nganus (GE-PA) memang tidak dikenal di kalangan banyak orang. Apalagi dalam konteks spiritual, mereka sangat tidak dikenal. Kedua figur ini hanya dikenal di kalangan internal kami (anak-anak, cucu-cucu, dan keluarga).  

Bagaimanapun, saya atau kami berani mengenang kedua wajah binar ini di relung hati. Dan kenangan tersebut saya abadikan lewat untaian-untaian kata.  Bagi kami, kedua tokoh ini merupakan pahlawan keluarga; pembimbing rohani dan pemberi teladan.

Empo Gervasius Ndokang merupakan salah satu putra dari pasangan empo Ngontam dan Undang. Dia dilahirkan pada tahun 1918, di Wae Lale (nama sebua Kampung), Manggarai, Flores. Dia merupakan salah satu anak laki-laki yang bertanggung jawab untuk membantu orang tua. Sejak kecil dia diajarkan untuk menjadi pekerja keras.

Pada masa sekolah dasar (SD), dia diajarkan untuk membaca dan menulis. Seperti diketahui, sekolah, pada masa itu, serba kekurangan. Bangunan sekolahnya sangat tidak memungkinkan untuk kemajuan pendidikan. 

Alat tulis seperti pulpen/pensil dan buku-buku tulis yakni batu kalem. sharing bapak saya, Nikolaus Dampur, batu kalem merupakan batu yang diambil dari alam dan dibuat sedemikian rupa sehingga bentuknya hampir mirip dengan balpoin dan papan kecil. 

Alat tulis ini sangat unik.  Dikatakan unik, batu tersebut bebas pakai. Setelah mengikuti pelajaran di kelas, pengetahuan yang sudah ditulis di batu tersebut lansung dihafal, lalu dihapus guna dipakai untuk pelajaran berikutnya atau kegunaan lainnya seperti mengambar dan sebagainya. 

Dalam konteks ini, saya melihat, orang-orang jaman dulu, seperti salah satunya empo Gervasius ini sangat cerdas. Daya hafal mereka sangat bagus. Ingatan mereka luar biasa. Pendidikan mereka unik tetapi memukau. 

Setelah pulang sekolah, dia membantu orang tua; bekerja seperti orang tua bekerja.  Orang tua yang adalah keluarga miskin, mengajarkan dia untuk menjadi pekerja tangguh di bawah terik panas matahari. 

Tak kenal lelah, dia bekerja keras di ladang atau kebun. Keringat membasahi sekucur tubuhnya. Dalam hal ini, hemat saya, dia belajar tentang arti perjuangan, kerja keras dan kerja cerdas. Dan gurunya adalah orang tua itu sendiri.

Pada masa muda, dia beranjak dewasa. Dia belajar menjadi orang dewasa; dewasa dalam cara berpikir, bijak dalam berbicara, dan mantap dalam bertindak. 

Dia sangat menikmati masa mudannya meski kemiskinan dan kekurangan hidup melanda diri mereka. Pada masa inilah dia menikahi gadis cantik yang merupakan bidadari dari Lembor, Namo. Gadis itu adalah Paula Nganus. Selain cantik, gadis ini memiliki sifat kelembutan seorang ibu, kerja keras, sabar, ramah, dan sebagainya. Berbeda dengan empo Gervasius, selain sifat yang telah disebutkan di atas, dia juga memiliki watak keras. Watak keras dari empo Gervasius dan sifat lembut dari empo Paula menjadi relasi harmoni dalam kehidupan keluarga.

Kedua pasangan ini dianugerahi 13 orang anak. Lima orang laki-laki dan delapan orang perempuan. Namun seorang perempuan yang bernama Veronika Musrin dipanggil Tuhan pada masa gadisnya. 

Secara umum kehidupan mereka dipenuhi pelbagai warna. Mulai dari didikan keras seorang ayah hingga didikan lembut seorang ibu.

Pada dasarnya, mereka diajarkan untuk mose dedia one lino (hidup secara baik di dunia). Mose dedia one lino dimulai dari neka hemong Mori’n agu Ngaran. Ai mose ho mose dokong. Hiang ga ende’m agu ema’m kudut cebo lewe mose one lino. Ema agu anak neka woleng bantang, ase agu kae neka woleng tae. Neka mberweras ngoeng weta. Dedia agu hae ata”, kata-kata bijak dari Empo Gervasius menurut sharing dari Bapak Wilem Madin, salah satu dari anaknya. 

Terjemahan harafiahnya yakni jangan lupakan Tuhan, Sang Pemiliki kehidupan. Karena hidup ini bersifat sementara. Hormatilah ibu dan bapamu supaya hidupmu baik di dunia. Bapak dengan anak, adik dengan kakak harus seia sekata-memiliki semboyan hidup yang sama. Saudara laki-laki menunjukan rasa kasih sayang terhadap saudari perempuan. Dan hidup baik-baik terhadap sesama atau jadilah teladan bagi sesama. 

Kata-kata ini merupakan kata-kata bijak dari empo Gervasius yang diwariskan kepada anak-anaknya, lalu diwariskan pula kepada kami, cucu-cucunya.

Sebagai orang tua, mereka memberikan teladan kepada anak-anak mereka. Hampir setiap malam, mereka mengajak, mengajar anak-anaknya untuk berdoa. Namun pagi, berdasarkan sharing, mereka berdoa secara berduaan saja (empo Gervasius dan Paula). 

Lalu, setelah doa pagi, mereka bekerja di ladang dan memelihara ternak untuk menafkahi anak-anak mereka. Irama kehidupan ini sangat memesona meskipun kemiskinan selalu menghantui mereka.

Empo GE-PA merupan dua sosok sejoli yang memiliki semangat juang dan kerja keras yang tinggi. Dengan keringat ini, mereka mampu membangun rumah setengah tembok. 

Pada jaman itu, rumah tembok hanya dimiliki oleh beberapa orang di kampung. Rumah tembok merupakan buah dari semangat, kerja sama dan kerja keras mereka. Sehingga dia dikenal dengan sebutan empo mbaru watu (kakek rumah batu).

Empo mbaru watu, hemat penulis,  merupakan bahasa simbolis untuk mengagumi dan mengakui semangat, kerja sama, kerja keras dan kesuksesan empo GE-PA beserta anak-anak mereka yang berjumlah belasan orang tersebut. Pengakuan ini dilakukan secara sepontan oleh kebanyakan orang di kampung. Dan empo GE-PA tidak memersoalkan hal tersebut.

Aneka mutiara keindahan yang dihidupi empo GE-PA sangat mengagumkan. Hampir di setiap aspek kehidupan, mereka menggelorakan api semangat hidup, termasuk kehidupan spiritual. 

Bahkan mereka menjadi aktor untuk memerlihatkan seni hidup indah. Mereka memberikan teladan kepada anak-anak, keluarga, sesama maupun para sahabat. Karena keteladanan hidup inilah, maka empo Gervasius dipercayakan sebagai kepala guru agama.

Pada jaman itu, guru agama merupakan tokoh terpandang. Tokoh yang selalu menemani sang pastor paroki yakni Pastor Stanislaus Ograbek, SVD. Atau, guru agama merupakan tangan kanan/asisten dari sang pastor. Mereka dipercayakan untuk membagikan tubuh Kristus. Mereka juga dipercayakan untuk memimpin umat dan memimpin doa di antara umat kalau sang pastor berhalangan.

Sebagai kepala guru agama, empo Gervasius disapa dengan sebutan empo ema Jelis. "Empo ema jelis" merupakan bahasa Manggarai untuk menerangkan identitas empo Gervasius. Dia adalah empo ema jelis yang bertugas, semisal, membawa torok pada saat Natal, Paskah dan ngaji neteng uma agu lingko data (berdoa di kebun atau ladang orang) doa-doa lainnya", sharing dari Bapak Wilem. 

Dia rela berkorban untuk melayani orang-orang yang membutuhkannya tatkala pimpin doa di kebun orang tersebut. Hemat penulis, kerelaan hati ini merupakan bagian dari perutusan Allah. 

Allah memakainya untuk menaburkan benih rohani atau membawa keselamatan kepada orang-orang di sekitarnya.

Pada masanya sebagai kepala guru agama, sikap pelayanan diutamakan. Pelayanan bukan karena ada perasaan moody. 

Empo ini melakukan pelayanan total. Meskipun tengah malam dipanggil, dia pergi, entah tempatnya dekat ataupun jauh. Dia selalu melayani kapanpun dan di manapun. Kesetiaannya sungguh-sungguh menghiasi perjalanan rohaninya. 

Empo Gervas selalu memegang kontas dan ngaji patikontas (kontas: rosario; ngaji patikontas: berdoa rosario). 

Baginya, berdoa patikontas merupakan doa yang mudah dilakukan. Meskipun berdoa dalam bahasa ibu (bahasa Manggarai), namun dia menyukai doa tersebut. 

Dia menyadari ngaji patikontas merupakan salah satu dari sekian doa yang dilakukannya bersama sang kekasih dan anak-anaknya. Hal ini masih tentang kesetiaan mereka dalam kehidupan rohani.

Karena kesetiaan ini, seusai tugasnya karena faktor usia, sang pastor menghadiahkan dia, semisal, patung Tuhan Yesus yang berukuran besar kira-kira satu meter tingginya, tabernakel dan pelbagai buku rohani. 

Semua barang itu masih terimpan di rumah, meskipun patung Tuhan Yesus, sedikit berlubang karena digigit tikus. Namun Semuanya masih ada di rumah. Inilah kenangan rohani terindah sekaligus bukti kesetiaannya kepada sang pastor, dan lebih dari itu kepada Tuhan dan Bunda Maria.

Selain doa, empo Gervasius sering membantu sesamanya. Baginya, saling membantu sesama adalah bagian dari momang hae ata (wujud mencintai dan mengasihi sesama). 

Dia tidak hanya pergi berdoa di kebun orang atau pimpin doa, tetapi juga dikenal sebagai pengobat/dokter untuk pelbagai penyakit. Dia mengetahui banyak obat tradisional. 

Dia mengetahui pohon, tumbuhan, atau rumput yang memiliki kasiat atau obat penyakit yang diderita oleh sesamanya. Apapun penyakitnya, dia mengetahui obat tersebut dari alam. 

Dia pergi ke hutan untuk mencari rumput/pohon/tumbuhan yang mengandung obat penyakit tersebut. Bahkan, orang mandul setelah menikah pun, dia mengetahui obatnya. Dan banyak orang mengalami kesembuhan karena obat yang dia cari dari alam. 

Saya heran, siapakah yang memberitahu obat-obat penyakit tersebut. Darimanakah dia mengetahui hal itu? Inilah kemisterian dari empo Gervasius. 

Meskipun hampir semua anaknya tidak mau belajar atau mengetahui pelbagai jenis obat tersebut. Empo Gervasius ini sangat unik dalam banyak hal karena kedekatannya dengan alam. 

Kedekatan dan persahabatannya dengan alam membuat dia mengetahui semua jenis obat untuk pelbagai jenis penyakit. Sehingga dia disebut sebagai Sang dokter/perawat kami semasa hidupnya.

Empo Gervasius tak berhenti bekerja hingga sebelum ajalnya. Apalagi empo  ini memiliki unsur seni, kreatif, dan inovatif. Hal yang tidak berguna, seperti barang-barang buangan dijadikannya sebagai barang penuh makna dan memesona.

Sadar atau tidak, hari berganti hari. Roda waktu berjalan terus. Umur semakin tua. Tenaga mulai tergerus usia. Hidup pun tidak seperti pada masa produktif. 

Namun semangat kasih selalu nampak dari raut wajah senyum. Kasih tetap bagai api yang membakar kejamnya dunia. Kedamaian memeluk jiwa sehingga nampak suasana romantis. Betapa indahnya kehidupan mereka pada masa tua ini. Sebab ke-tua-an mereka justru menampilkan kecerahan cinta.

Pada masa tua, GE-PA semakin menekuni hidup doa. Saya menyaksikan sendiri, empo Paula sering berdoa rosario. Terkadang saya bertanya dalam hati kecil, apakah dia mengerti doa yang dia ucapkan itu? 

Kadang-kadang juga saya heran melihat mereka berdoa tanpa henti hingga akhir hidup. Mereka selalu mengajak anak-anak dan cucu-cucunya untuk berdoa. 

Dia selalu menyuarakan kata-kata demikian pada kami, “neka hemong ngaji (jangan lupa berdoa)”, dengan nada lembut.  Kalau orang tua saya tidak berdoa karena alasan tertentu (cape kerja keras di kebun, sawah atau ladang), mereka marah dengan kata-kata bijak yakni mose ho mose dokong (hidup ini adalah hidup sementara). 

Terkadang mereka menegur kami dengan lagu rohani Manggarai, lagu doing koe o, doing koe o mose de.....(hidup baiklah....)

Selain doa rosario, mereka rajin membaca buku orasi. Saya selalu bertanya dalam hati, apakah mereka tahu membaca atau apakah mereka mengerti apa yang mereka baca dalam buku orasi tersebut? Waktu itu saya belum menemukan jawabannya.

Jawabannya saya temukan setelah mereka meninggal dunia. Bahwasannya, sebelum meninggal dunia, empo Gervasius membuat rencana penti (pesta syukur adat Manggarai) yang sungguh berbeda dari acara penti sebelumnya. 

Dia meminta acara penti tersebut pada bulan November. Dan hal menarik, semua warga sekampung menyetujui permintaan itu. 

Dalam pertemuan juga, diharapkan semua keluarga wan koe etan tua, agu sanggen taung woe agu wela (semua keluarga sekampung dan pihak saudari beserta cucu mereka yang sudah mengikuti suami karena terikat dengan adat dan pernikahan), sahabat dan kenalan hadir dalam acara tersebut.

Nah setelah nempung (pertemuan adat), empo Gervasius mengatakan begini kepada bapak saya, “rampo sepiha acara penti hitu ew nana” (acara adat tersebut dihalangi). 

Lalu bapak saya menjawabnya, “co bo tara nenggitun tombo hitu ge ta ame (mengapa bapak berbicara seperti itu). Waktu itu, bapak saya tidak terlalu menghiraukan kata-katanya. 

Selain itu, empo Gervasius juga pernah mengatakan kalau setelah dua tahun dia, sang kekasih hidupnya, Paula akan menyusul meninggal dunia. Kami tidak percaya. "Darimana dia mengetahui hal itu", pertanyaan saya di relung hati. 

Namun refleksi di kemudian hari, saya menemukan, kekuatan doa membuka mata untuk melihat sesuatu entah hal kecil atau besar. Meskipun hal itu, terkadang menimbulkan kontroversial atau ketakpercayaan bagi orang yang tidak mengalaminya.

Pemberitahuan empo Gervasus ini sungguh benar adanya  dan membuat yang mendengarnya merinding. Semuanya itu sungguh terjadi. Menjelang acara penti, dia menderita sakit, dan pada saat acara tersebut, dia meninggal dunia dengan wajah senyum. 

Kami merasakan duka yang begitu dalam. Namun kami tidak terlalu sulit memberikan kabar duka kepada keluarga karena semuanya sudah hadir dalam acara penti. 

Kami tidak pergi ke Ruteng untuk membawa surat terkait berita duka tersebut agar diberitakan melalui radio. Semuanya terasa mudah, meski duka begitu menyakitkan.

Bagi kami, acara penti yang dia minta sendiri pada bulan November itu adalah acara pesta perpisahan dengannya. Secara tersirat, dia mengundang semua keluarga untuk hampir semuanya hadir dalam acara penti tersebut termamsuk acara perpisahan dengannya. Bagi kami, hal itu merupakan berkat dan anugerah terindah. 

Dia mengundang semua keluarga untuk menyaksikan kepergian. Bukan hanya hal itu saja, undangannya adalah ungkapan terimakasih atas anugerah kehidupan yang dia alami. Dia mensyukuri semuanya pada saat pesta adat (penti) tersebut.

Inilah salah satu contoh terindah, bahwa buah dari doa adalah pergi dengan senyuman dan disaksikan oleh banyak orang. Karena doa, dia tahu, kapan dia berangkat menuju rumah Bapa di Surga. Ini peristiwa unik sekaligus indah, dan kami akan selalu mengenangnya dalam hidup kami.

Dua tahun kemudian, seperti yang telah diramalkan oleh empo Gervas ini, empo Paula meninggal dunia dengan tenang dan damai. Ramalan empo Gervas ini terbukti, bahwa dua tahun kemudian, empo Paula menyusul. Hemat saya, Ge-Pa ini memiliki ikatan batin yang sangat luar biasa. 

Ikatan batin itu terjadi karena cinta yang menyatu dengan hidup dan kehidupan mereka. Cintakasih dan kesetiaan sudah menjiwai diri mereka. Sakramen pernikahanlah yang membuat mereka bukan lagi dua melainkan satu; satu sampai ajal menjemput mereka. 

Dan tentang meninggalnya empo Paula, kami tidak terlalu repot. Menjelang meninggal, dia selalu menunjukan rasa kasih sayang yang berbeda dari sebelumnya. Barangkali dia tahu, bahwa waktunya akan segera tiba. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu sungguh-sungguh menghangatkan. Dia juga tidak merepotkan anak-anak dan cucu-cucunya.

Sore, menjelang meninggal, dia menyuruh ibu saya untuk pergi giling padi, lalu dia juga mencari bapak saya, kebetulan bapak saya mengerjakan rumahnya ematua (bapak besar), bapak Linus Marus, bapaknya Frater Berto Kardi, SX. 

Lalu dia meminta bapak saya untuk mencari ikan setelah pulang kerja. Katanya dia pengen makan ikan segar. Ketika bapak dan ibu saya mengiyakan permintaannya, dia tidur di kamar bapak dan ibu, dan pergi menghadap Bapa di Surga.

Sepulang dari tempat penggilingan padi, khususnya saat membuka pintu, ibu memanggil dan menyapa empo Paula ini. Namun kesunyian di rumah adalah jawabannya. 

Ibu tidak lansung melihat dia di kamar. Dia memberikan makanan ternak babi karena hari sudah mulai malam. Setelah itu, dia pergi ke kamar dan membangunkannya. 

Namun dia tidak bangun. Ternyata dia sudah tiada. Dia sudah pergi meskipun tanpa pamit secara lansung. 

Dia pamit pada saat menyuruh ibu pergi giling padi dan pada saat dia menyuruh bapak untuk memancing ikan segar di laut. 

Kata-kata pamitannya tidak secara terang-terangan. Namun, sungguh dia sudah pamit dengan caranya, karena mungkin dia tidak mau merepotkan dan menyengsarakan kami semua.

Ya, karena memang sifat dasar dari empo ini, dia selalu menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya. Kalau ada sesuatu, bahkan kalau ada masalah dia tidak marah, ataupun berontak, dia hanya menampilkan wajah lembut, diam, dan tidak dendam. 

Setelah ada masalah, dia yang memulai memaafkan meskipun tidak secara lansung. Hal itu dilihat ketika dia yang duluan menyapa kita. Dia yang duluan mengajak kita berbicara. Ini sifatnya yang unik tetapi sungguh indah.

Ketika ibu saya tahu dia sudah tidak ada di rumah atau pergi selamanya, ibu saya menangis dan berteriak. Semua orang merasa heran. Karena dia pergi tanpa sakit. Dia pergi begitu saja. Kami semua merasakan duka yang mendalam.

Spiritualitas Marial

Pada bagian ini, saya membahas sedikit tentang keutamaan-keutamaan Marial. Kebetulan saya pernah belajar tentang spiritualitas Marial meskipun dalam waktu yang tidak cukup lama. 

Saya mencoba, membahasakan nilai-nilai yang sudah dihidupi oleh Sang Bunda. Bagi saya, nilai-nilai Marial sangat baik dan merupakan bagian dari kehidupan manusia khususnya bagi yang percaya dan membaktikan hidupnya kepada Allah melalui Perawan suci ini.

Pada dasarnya, Bunda Maria memiliki tempat khusus dalam rencana keselamatan Allah dan dalam kehidupan Gereja. Seperti terungkap dalam Bakti Sejati no. 1, “melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia. Melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di dunia”.

Dalam konteks ini, ada beberapa kebenaran dasar bakti sejati. Pertama, Yesus Kristus merupakan tujuan akhir dari bakti kita.

Kedua, kita adalah milik Yesus dan Bunda Maria. Kalau kita milik Yesus dan Bunda Maria, mengapa kita tidak berbakti kepada Allah melalui Bunda Maria?

Ketiga, kenakan manusia baru, Yesus Kristus. Sadar atau tidak, kita sebagai manusia memiliki banyak dosa. Oleh karena itu, kita menjalin relasi mesra dengan Tuhan Yesus. Keutamaan-keutamaan Kristus wajib kita hidupi dalam keseharian hidup.

Keempat, Maria mempermudah perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus. Bunda Maria dengan segala keutamaannya mempermudah proses perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus. 

Kita menghayati nilai-nilai Marial, seperti kasihnya, doanya terus-menerus, imannya, mendengarkan, kelembutan, kebijaksanaannya, kemurniannya, ketaatannya, matiraganya, kesabarannya, kesederhanaan, perjuangan, kerendahan hatinya, dan sebagainya. Karena nilai-nilai yang dihayati oleh Bunda Maria merupakan nilai-nilai Kristus juga.

Kelima, suatu harta rahmat dalam bejana rapuh. Kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, kekurangan, dan kedosaan tak pantas menyimpan harta rahmat tersebut. 

Oleh karena itu, kita memercayakan harta itu kepada Bunda Maria yang berkuasa dan setia, yang akan menyimpannya untuk kita. Dengan demikian, kita bersama Sang Bunda ini bersatu dengan Allah.

Bakti sejati kepada sang Bunda, Perawan suci merupakan bakti yang memesona. Bakti ini bersifat batin, lembut, suci, teguh, dan tanpa pamrih. 

Sebab dengan, dalam, bersama, melalui/lewat, dan untuk Maria kita mampu menjalin relasi mesra dengan Allah. Sang Bunda ini menghiasi kita dengan pelbagai keutamaannya untuk berjumpa dengan Kristus. Sehingga kita nampak indah di mata Tuhan. 

Sebab keutamaan-keutamaan Marial bagaikan mahkota pelangi, berwarna-warni di dalam hati kita. Oleh karena itu, bakti kepada Sang Dewi Maria merupakan jalan menuju persatuan dengan Kristus yang adalah Pengantara kita kepada Allah (St. Louis-Marie Grignion De Montfort, Bakti Sejati Kepada Maria).

Titik Temu

Setelah melihat pengalaman hidup dan nilai-nilai yang dihidupi empo GE-PA dan keutamaan Marial, dapat saya katakan, kira-kira apa yang menjadi titik temu dari kedua hal tersebut? 

Saya melihat ada nilai-nilai spiritualitas Marial yang dihidupi oleh empo GE-PA semasa hidupnya. Namun, saya juga menyadari bahwa empo GE-PA merupakan manusia lemah yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.

Dan tentang dosa-dosa mereka, kami memohon kepada Allah, lewat jalan Marial, agar dosa-dosa empo GE-PA ini tidak diperhitungkan oleh Allah. Kami berharap, Tuhan mengampuni, dan memperkenankan mereka menikmati hidup bersama Bunda Maria dan para kudus di dalam kerajaan Yesus Kristus serta menjadi pendoa bagi kami.

Penulis melihat titik-titik temu atau titik persamaan yakni, pertama, hidup doa. Bunda Maria memiliki keutamaan tentang doa secara terus-menerus. Hidup doa ini dihidupi juga oleh empo  GE-PA ini. Mereka mencontohi cara hidup Bunda Maria.

Mereka berdoa dengan segala sisi manusiawi mereka. Dalam kekurangan dan keterbatasan serta dosa, mereka tetap mengutamakaan bakti kepada Allah melalui Bunda Maria. Hal itu dilakukan dengan cara khas mereka.

Kedua, kesetiaan. Bunda Maria sudah memiliki nilai kesetiaan yakni setia kepada putra-Nya sejak keputusan ya-nya hingga Yesus Kristus di salibkan di Golgota. Sedangkan kesetiaan empo GE-PA terwujud karena belajar dari Bunda Maria. Mereka memerlihatkan kesetiaan itu dalam hubungan suami istri sampai akhir hayat.


Ketiga, Kelembutan. Karakter keras empo Gervasius dilembutkan oleh kelembutan empo Paula. Hal ini membentuk harmoni dalam relasi hidup antara kedua pasangan tersebut dan dengan anak-anak. 

"Nilai kelembutan juga terungkap dalam sikap kesabaran, rendah hati, dan murah hati. Selain kelembutan, empo Gervasius juga memiliki ketelatenan dan tegas" juga sharing dari bapak Wilem yang kerap disapa bapa Elis. Dia tegas tetapi dibalut suasana kelembutan. Kerena kelembutan empo Paula.

Keempat, sikap mengasihi. Kasih Bunda Maria terhadap Yesus, Putra-Nya dan kepada murid-murid-Nya dan sesama merupakan kasih yang total. Ketotalan Maria dalam mengasihi ini, setidak-tidaknya dihayati oleh empo GE-PA.

Bahwasannya, empo GE-PA mengasihi Allah dan berbuah dalam kasih terhadap sesamanya. Hal itu terbukti ketika mereka setia mendidik dan menyayangi anak-anak, melayani, merawat, memimpin doa di kebun orang, mengobati orang-orang sakit yang datang kepadanya.

Kelima, Kebijaksanaan hidup. Bunda Maria memiliki ketotalan dalam kebijaksanaan hidup. Dia sungguh-sungguh menghayati hidup hanya Allah saja. Dia bijaksana dalam pelbagai segi kehidupan. 

Sedangkan empo  GE-PA, dengan pelbagai sisi manusiawi, mereka menghayati kebijaksanaan hidup tersebut. Mereka belajar dari Bunda Maria sehingga kebijaksanaan hidup mereka bersinar. 

Keenam, sikap mendengarkan. Bunda Maria adalah sang pendengar sejati. Hal ini terlihat ketika pesta perkawinan di Kanna. 

Setelah berdialog dengan Yesus, dia mengatakan kepada para pelayan-pelayan, “apa yang dikatakan kepada kalian, buatlah itu”. 

Empo GE-PA juga memiliki sifat mendengarkan meskipun sejauh mereka melakukan hal itu dan itu mereka belajar dari Bunda Maria. 

Ketika ada acara adat di kampung atau dalam pertemuan adat lainnya, empo  GE-PA mendengarkan apa yang menjadi inti pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Penulis menyadari, cara dan kualitas penghayatan beberapa nilai di atas dan nilai-nilai spiritual yang belum sempat direfleksikan berbeda dengan cara dan kualitas penghayatan Bunda Maria. 

Bunda Maria adalah Bunda Allah dan Bunda Gereja. Bunda Maria memiliki cara sempurna dan ketotalitasan dalam membaktikan seluruh dirinya kepada Allah. Hal ini dilihat dari jawaban "ya-Maria" dan kesetiaannya hingga Putra-Nya wafat di kayu salib, seperti yang dikatakannya, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Sedangkan empo GE-PA memiliki keterbatasan dan kekuarangan. Karena mereka adalah manusia berdosa. Mereka memiliki sisi kemanusiawian yang sungguh dipenuhi dosa. Namun karena kedosaan inilah, mereka membaktikan diri kepada Allah melalui Bunda Maria.

Hal yang patut disadari, empo GE-PA adalah dua sosok yang mewakili seluruh empo, leluhur, atau orang-orang Manggarai yang sudah menghayati nilai-nilai kebijaksanaan hidup Marial. Mereka menghayati spiritualitas hidup dengan cara mereka. 

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasi kebijaksanaan hidup mereka yang terungkap lewat filosofi atau goet (sastra), cara hidup, dan segala nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Manggarai.

Bagaimana dengan anak-anak dan cucu-cucunya serta keluarga dan barangkali sahabat kenalan? Kita yang hidup di zaman ingar-bingar ini, tentunya mengalami sisi-sisi gelap hidup dan kehidupan kita. Namun, seperti empo GE-PA dengan segala kedosaan, mereka menghayati kebijaksanaan hidup Marial. Setidak-tidaknya mereka melakukan hal-hal itu dalam hidup dan kehidupan mereka setiap hari.

Apa yang kita lakukan dalam ziarah hidup kita? Kesadaran yang wajib ditanamkan dalam setiap lubuk hati generasi muda Manggarai yakni neka oke kuni agu kalo (Jangan melupakan sejarah). Kita menghidupi semua filosofi hidup para leluhur kita. 

Budaya Manggarai sangat kaya dengan pelbagai kebijaksanaan hidup. Banyak nilai kehidupan para leluhur yang sudah diwariskan kepada kita. Meskipun nilai-nilai kebudayaan tersebut belum sepenuhnya dimuat secara tertulis, tetapi setidak-tidaknya kita sebagai generasi penerus mengabadikan semua nilai tersebut dalam bentuk tulisan. 

Sebab, menulis nilai-nilai kebijasanaan hidup para leluhur adalah ungkapan cinta. Kita menghormati, mengenang dan mengabadikan mereka yang terwujud melalui kebijaksanaan hidup kita. Tujuannya, agar nilai-nilai tersebut abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dan menulis kebijaksanaan hidup mereka sama halnya kita sedang melukiskan wajah mereka di jaman sekarang dan yang akan datang. Selain itu, menulis tentang mereka berarti kita sedang mendoakan dan mempersembahkan mereka kepada Allah melalui Maria.

Oleh: Nasarius Fidin
Sharing Pengalaman
×
Berita Terbaru Update