-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Tuhan Sudah Mati, Perdagangan Manusia Menjadi-Jadi

Rabu, 28 Desember 2016 | 23:16 WIB Last Updated 2020-02-17T02:50:30Z
Ketika Tuhan Sudah Mati, Perdagangan Manusia Menjadi-Jadi
Perdangangan manusia (Ilustrasi; google)

Akhir-akhir ini perdagangan manusia bukan menjadi sesuatu yang tabu.  Manusia melakukan perdagangan terhadap sesamanya. 

Perdagangan manusia menggambarkan iklim yang sungguh aneh. Pertanyaannya, mengapa terjadi perdagangan manusia? Apakah tindakan tersebut baik sekaligus benar? Apa manfaat dari tindakan tersebut? 

Pembicaraan mengenai perdagangan manusia yakni pembicaraan berkaitan baik atau buruk. Perbuatan tersebut baik bagi mereka, tetapi belum tentu benar bagi manusia pada umumnya. Kenapa demikian? 

Pada dasarnya perdagangan manusia merupakan perbuatan buruk. Jika demikian, perbuatan tersebut tidak benar. Orang melakukan perdagangan manusia lain disebabkan karna moralnya bejat. 

Mereka merupakan aktor kebencian terhadap sesamanya. Barangkali mereka memandang sesama sebagai barang yang tidak beda dengan barang jualan di pasar. 

Perdagangan manusia terjadi karena pelbagai hal, seperti ekonomi dan sebagainya. Faktor keadaanlah yang memunculkan persoalan tersebut. Barangkali keadaan ekonomi dan sebagainya mendesak mereka melakukan tindakan buruk. Karenanya, politik jaringan ditata dengan rapi guna mendapatkan keuntungan pribadi.

Namun hal paling mendasar, perdagangan manusia disebabkan karena faktor kebebasan yang tak terkendali. Mereka bebas melakukan apa saja. Karena hemat mereka, tidak seorang pun dapat membatasi perbuatan mereka. 

Hal ini terkait dengan cara berpikir Nietzche, Tuhan sudah mati, maka manusia bebas melakukan apa saja, termasuk perdagangan manusia. 

Dengan kematian Tuhan, para aktor perdagangan manusia tersebut bertindak sebebas-bebasnya tanpa mempertimbangkan rasionalitas dan hatinurani. Sebab Tuhan tidak dapat mengintip perbuatan buruk mereka.

Para aktor kejahatan tidak menyadari apa yang disebut dengan kebebasan karena ketaatan. Orang yang taat terhadap kasih Tuhan berarti orang beriman tangguh.  Orang tersebut dapat mengekspresikan hidupnya secara bebas (taat yang membebaskan).  

Mereka menghayati kebebasan dalam kasih-setia. Dalan konteks perdagangan manusia, orang taat untuk menghargai sesamanya sebagai manusia yang memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. 

Mereka mengasihi sesama tanpa dibatasi keadaan atau faktor apa pun. Mereka tidak melakukan perdagangan terhadap sesama, karena perbuatan tersebut jelas melanggar ketaatan terhadap Tuhan.

Jadi, orang yang menggarisbawahi rasionalitas dan hatinurani berarti orang yang mampu mewujudkan kebebasannya dalam ketataatan terhadap hukum cintakasih. Taat berarti bebas. Dan bebas sebebasnya tanpa pertimbangan akal budi dan hatinurani belum tentu bebas. 

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update