-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BERGURU PADA SANG PADI

Jumat, 13 Januari 2017 | 19:56 WIB Last Updated 2020-02-17T11:28:36Z
BERGURU PADA SANG PADI
Berguru pada sang padi (ilustrasi; google)

Ketika masih kecil, khususnya dikala berada di masa sekolah dasar (SD), saya bersama orang tua pergi ke sawah. Sawah kami terletak di ngarai atau di lereng pegunungan. Sawah tersebut berada di tempat strategis karena diapiti pegunungan dan sungai.

Pada musimnya, kami pergi membajak sawah. Alat bajak bukan alat tehnologi. Kerbau merupakan pengganti alat tehnologi. Karena pada masa itu, daerah kami belum mengalami kemajuan. Kami masih menggunakan kerbau untuk membajak sawah.

Setelah membajak, kami meratakan tanah di dalam pematangan. Lalu pada saatnya, bibit padi ditanam. Kami menanam bibit padi itu dengan seni tersendiri. Jarak dan keteraturannya sangat diperhatikan. Dan cara menanam bibit pula bukan maju ke depan melainkan mundur ke belakang. Cara ini sangat unik dan memesona.

Seusai menanam, kira-kira beberapa Minggu kemudian, kami menyiangi sawah tersebut. Kami mencabut rerumputan dan ilalang yang menghambat pertumbuhannya. Sebab, rerumputan itu merupakan hama/penghalang pertumbuhan.

Setelah penyiangan, padi itu disirami pupuk. Penyiraman pupuk dimaksudkan untuk menyuburkan pertumbuhan. Pupuk bagai bahan makanan agar pertumbuhannya bagus.

Selain itu, padi itu menghijau. Sehingga, mata tak jemu memandangnya oleh karena kesuburan dan kehijauannya. Dan bisa jadi, padi yang subur dan hijau itu menjadi pariwisata musiman bagi para petani atau bagi orang yang lewat di sekitarnya.

Kira-kira beberapa bulan kemudian, padi itu berbulir. Bulir-bulir padi mulai menumbuhkan harapan kami. Rasa bahagia terurai dari guratan wajah. Sebab bulir-bulir padi itu sangat bernas. Bulir padi berisi itu lalu merunduk.

Tak lama berselang, bulir-bulir padi itu menguning. Padi kuning membuat hati kami pun menguning. Rasa keingintahuan semakin memuncak untuk menikmatinya. Kami tak sabar untuk mencobanya. Kami ingin mengetahui perasaan pertama saat mencicipi nasi.

Tibalah saatnya, padi berisi yang merunduk itu diketam. Dengan rasa gelora dan gembira, kami menyabit batang-batang padi tersebut. Atau lebih tepatnya, kami mengetam padi. Seusai mengetam, kami memerosesnya guna memisahkan bulir padi berisi dari jerami dan padi yang tidak berisi.

Proses ini sangat melelahkan. Sebab proses tersebut dilakukan dengan cara tradisional. Namun, rasa bahagia menyembulkan energi untuk memudahkan kami dalam proses tersebut hingga selesai. Setelah semuanya dilakukan, kami menikmati makanan, hasil jerih payah kami sendiri.

Berguru Pada Padi Berisi

Kisah di atas sangat menarik perhatian saya, khususnya pada saat padi berisi itu merunduk. Hemat saya, padi memiliki filosofi tersendiri. Filosofi padi ini berkaitan dengan padi berisi dan merunduk. Dia merunduk karena berisi. Atau bulir-bulir padi itu berisi sehingga merunduk.

Filosofi padi sangat relevan dengan kehidupan kita. Boleh dikatakan, kebijaksanaan padi bagaikan sang guru. Dia mengajarkan kita untuk berbuah, berisi. Ketika berisi berarti padi tersebut pasti merunduk. Pada saat menguning, padi itu sudah pasti matang. Pesonanya indah, kala padi menguning itu merunduk. Sebab padi berisi ini memberikan pesan yang berisi pula kepada kita.

Di jaman hingar-bingar ini, terkadang saya, kamu, kita, lupa berguru pada sang padi. Oleh karenanya, kebijaksanaan padi menjadi salah satu keutamaan. Dan kebijaksanaan padi yang dimaksudkan yakni kerendahan hati.

Orang bijaksana mengetahui arti penting dari sikap rendah hati. Dan orang bijaksana pasti berisi. Dia tidak hanya kaya dalam dunia pengetahuan, tetapi cara hidup bijak pula sangat berlimpah-ruah. Artinya perpaduan antara dunia pengetahuan yang dia miliki dengan cara hidupnya bagaikan padi berisi yang menguning. Dia elok dan memesona dipandang mata.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update