-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Meneropong Perang Saudara Di Manggarai

Selasa, 17 Januari 2017 | 10:38 WIB Last Updated 2020-02-17T14:14:21Z
Meneropong Perang Saudara Di Manggarai
Korban perang

Manggarai (Manggarai Timur,  Tengah, dan Barat) dikenal dengan banyaknya nilai spiritual, filosofi, dan budaya. Nilai-nilai tersebut sudah diwariskan oleh para leluhur dan diteruskan oleh generasi ke generasi. 

Kekayaan ini terlukis abadi. Dan saya menyebut nilai-nilai itu yakni kuni agu kalo (atau ditafsirkan secara moderen yakni mahakarya orang Manggarai).

Orang Manggarai yang memeluk pelbagai nilai ini melakukan ulah yang tidak terpuji. Perang tanding atau disebut dengan perang saudara menumpahkan darah di tanah yang dihiasi pelbagai kekayaan. 

Dalam konteks ini, penulis sangat tertarik dengan filosofi Manggarai yang sangat relevan dengan situasi sekarang. Filosofi tersebut berbunyi demikian, "ase agu kae neka woleng tae, ema agu anak neka woleng bantang. Ome manga raja, mai bantang cama, caca cama (adik-kakak dan bapak-anak seia-sekata. Jika ada persoalan, kita menyelesaikannya secara bersama). Filosofi ini mengungkapkan satu prinsip hidup dan " ngopi bareng" (ngobrol pintar) khas Manggarai.

Fakta Perang Saudara

Perang tanding di antara orang Manggarai sering terjadi. Fakta ini sudah menggema di Indonesia dan bahkan di dunia. Hal ini tidak dapat disangkal karena pristiwa tersebut disebarkan melalui media. 

Banyak orang membaca berita yang tidak sedap tersebut. Orang-orang merasa miris dan heran. Karena orang Manggarai yang dalam konteks tertentu beriman kepada Allah, melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran cinta kasihNya.

Sengketa perebutan lahan di kampung Rangko Desa Peta Wangka Boleng kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu dari sekian persoalan tanah di Manggarai. 

Penumpahan darah dilakukan demi ego pribadi. Nyawa melayang seolah tiada harga. Manusia seolah barang atau binatang yang bisa disembelih demi tujuan tertentu.

Sengketa tersebut menewaskan dua orang yakni Donatus Jeharut (50) dan Aloisius Logos (45) tahun. Penumpahan darah itu terjadi Senin 16 Januari 2017. 

Kira-kira 30 orang diduga sebagai pelaku ditangkap dari kampung Mbehel bertetangga dengan kampung Rangko. Polisi menemukan puluhan senjata tajam milik para pelaku berupa tombak, parang dan busur (data pristiwanya dari nusalale.com)

Ngopi Ala Manggarai

Perang saudara dapat diselesaikan dengan ngopi (singkatan dari ngobrol pintar). Ngopi dimaksudkan untuk membicarakan persoalan tersebut dengan mendasarkan diri pada kekayaan nilai yang diwariskan oleh nenek moyang. Segala nilai itu menjadi fondasi agar penyelesaian sengketa dilakukan dengan damai.

Ngopi merupakan cara cerdas dalam pencarian akar persoalan. Hal yang diutamakan dalam ngopi yakni permainan nalar. 

Nalar dijadikan sarana guna mengendalikan kekerasan fisik. Sebab, apabila terjadi permainan fisik (penumpahan darah), maka hal itu terjadi karena keabsenan nalar. Nalar tidak bekerja dengan baik. Sehingga emosi/marah meraung layaknya harimau menerkam mangsanya.

Hal yang dilakukan dalam ngopi yakni lonto leok (duduk melingkar). Lonto leok merupakan duduk bersama yang sudah menjadi kebiasaan orang Manggarai dalam pelbagai acara adat. 

Semisalnya, acara adat perkawinan, penti dan sebagainya, pasti ada acara lonto leok ini. Acara lonto leok juga dipakai untuk membahas pelbagai persoalan adat. Dalam konteks ini, sengketa atau perang tanding dapat diselesaikan bila lonto leok dilakukan dengan baik.

Dalam lonto leok, suasana kekeluargaan menjadi senandung indah. Rasa kekeluargaan menciptakan suasana harmonis saat ngopi berlansung. 

Sebab, dalam budaya Manggarai, keluarga tidak hanya dalam konteks hubungan darah, tetapi keluarga dimaknai secara lebih luas. 

Keluarga merupakan nilai kesatuan yang dijiwai semangat dan nilai yang terkandung dalam budaya Manggarai. Sehingga ke mana pun, di mana pun berada, rasa kekeluargaan itu dengan sendirinya, membuat orang-orang Manggarai terasa dekat.

Dalam konteks perang saudara ini, rasa kekeluargaan perlu menjadi salah satu proses penyelesaian masalah. Bila seseorang menganggap yang lain musuhnya, maka kekeluargaan itu layu dan pudar. Oleh karena itu, ngopi dalam acara lonto leok wajib mengedepankan rasa kekeluargaan.

Ngopi juga mensyaratkan dialog yang indah. Artinya, saat ngopi, sikap saling mendengarkan sangat penting dalam penyampaian pendapat. 

Dengan hal itu, proses ngopi tersebut dapat dilakukan dengan penuh pesona. Atau lebih tepatnya, nilai-nilai baik spiritual, filosofi dan budaya Manggarai merupakan syarat utama dalam ngopi. 

Dengan demikian, perang saudara yang berakhir dengan penumpahan darah dapat diselesaikan dengan baik dan benar.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update