-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pribadi Liris Yang Berkontemplatif

Minggu, 08 Januari 2017 | 12:36 WIB Last Updated 2020-02-17T09:22:11Z
Pribadi Liris Yang Berkontemplatif
Nasarius Fidin

Persoalan karakter keperibadian manusia berkaitan dengan sebuah pertanyaan mendasar. Who Am I? Pertanyaan siapakah aku ini bermaksud untuk mengetahui keseluruhan kehidupan manusia. 

Kita tidak hanya mengenal diri sebentar saja dan atau di tempat tertentu. Permenungan identitas manusia membutuhkan proses panjang.  Sekurang-kurangnya manusia mampu melewati dinamika pengenalan diri dari hari ke hari.  

Dalam konteks pribadi liris, kesadaran mengenai kontemplasi diutamakan. Kelabilan perasaan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Maka kontemplasi tidak sekedar metode tetapi kewajiban dan salah satu keutamaan yang harus disadari dengan baik. 

Lantas kita bertanya, mengapa kontemplasi merupakan salah satu keutamaan terpenting bagi pribadi liris? Alasannya tidak terlepas dari diri sendiri. Bahwa pribadi liris merupakan pribadi yang secara sepontaniah didominasi oleh perasaan. Nalar absen. 

Perasaan lebih berperan aktif dari nalar. Oleh sebab itu, kontemplasi sangat dibutuhkan guna meransang dan mengaktifkan nalar dalam pemrosesan penemuan kesejatian diri.

Pengenalan Diri-Pribadi Liris

Pertanyaan Who Am I (siapakah aku ini) merupakan bentuk pertanyaan dasar dalam proses pengenalan diri. Pertanyaan who Am I dialamatkan kepada diri sendiri, orang lain, dan bahkan kepada Yang Empunya Kehidupan. 

Bagiku, siapakah aku ini? Siapakah aku bagi sesamaku? Dan, siapakah aku bagi Sang Empunya Kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memunculkan pertanyaan lain. Mengapa saya bertanya tentang siapakah aku bagi diriku, orang lain dan Sang Pencipta? Inilah seni pengenalan akan identitas keperibadian manusia. 

Dewasa ini, manusia mengenal diri secara kebetulan. Manusia belum menyelam ke kedalaman hidup. Hal tersebut terlihat dari cara hidup manusia yang belum menghadirkan kesejatiannya. 

Manusia menjadi asing dari dirinya sendiri, orang lain dan bahkan dari sang Pencipta. Manusia memusatkan diri pada aku-egonya. Aku bukanlah aku dari duniaku sendiri. Aku adalah aku yang palsu. Atau aku bukanlah aku yang sejati. Dan atau aku adalah aku yang instan kerama keabsenan nalarku.

Cara mengenal dan dikenal tentang krakter keperibadian masih tetap misteri. Meski demikian, manusia wajib mengenal sesamanya. Hal tersebut terungkap dari apa yang tampak. Atau pengenalan identitas manusia diketahui sesuai dengan bentuk pengungkapan diri. Dan manusia itu dapat mengetahui sesamanya sejauh dia mampu mengenalnya. 

Pengenalan identitas manusia berkaitan dengan karakter keperibadiannya yang sangat utuh. Identitas seseorang dapat diketahui dari profil hidup dan kehidupannya setiap hari. 

Hal ini bermaksud agar sikap pengertian, kepedulian, keakrapan, cintakasih dan sebagainya dapat terwujud dalam relasi sosial. Dengan demikian, hidup ini merupakan simponi yang bernuansa romantika dalam relasi antarsesama. 

Profil keperibadian manusia tidak sama. Ketaksamaan profil tersebut dikarenakan oleh pelbagai bentuk situasi dan konteks yang berbeda. Perbedaan latarbelakang ini sangat memengaruhi karakter keperibadian seseorang. 

Ada manusia yang secara alamiahnya memiliki pusat energi pada nalar, hati/perasaan dan perut. Bagi pribadi liris, hati merupakan pusat energi. Dari pusat energi ini, dia menyalurkan energi-energinya untuk beraktivitas sehari-sehari.

Karakter pribadi liris merupakan pribadi yang mengedepankan senandung kemesraan hati atau perasaan. Peribadi liris bermain dengan perasaan.  Gerak alamiahnya lebih pada perasaan. 

Cara berpikir mereka adalah cara merasa. Logika nalar mereka adalah logika merasa/perasaan. Dominasi perasaan lebih terwujud daripada cara berpikir. Perasaan lebih menunjukkan taringnya daripada nalar. Kekuatan perasaan sangat menentukan hidup dan keperibadiannya.  

Perasaan merupakan daya/kemampuan untuk merasakan realitas kehidupan. Perasaan sangat berperan aktif untuk mengkontemplasikan realitas. Dinamika kehidupan dirasakan dan diolah dalam pusat energi. 

Semua aspek kehidupan sangat memengaruhi bentuk-bentuk perasaan. Dan perasaan dapat menentukan dunia seseorang. Dengan demikian perasaan merupakan realitas yang dapat membentuk karakter manusia. 

Dominasi perasaan pribadi liris mengedepankan keindahan, seni, romantika kehidupan. Dia mengekspresikan pelbagai bentuk perasaannya kepada publik. Gerak hati dan perasaannya lebih pada sesuatu yang memesona. 

Perasaan cinta/kasih sayang dan benci, bahagia dan derita, suka dan duka, senang dan sedih, suasana kemesraan dan kehampaan, keindahan, keunikan, dan perasaan lainnya merupakan bagian dari seni hidup dan pergulatannya.  

Pelbagai bentuk perasaan merupakan bagian dari kehidupan. Pribadi liris mampu menggapai harmoni kehidupan dengan bijak dan indah, tatkala dia tidak mengabsenkan logika nalar. 

Meski nalar kurang memiliki ruang dalam perasaan, setidak-tidaknya berkat kehadiran nalar tersebut, perasaan semakin nampak berbinar. Maksudnya, perasaan semakin membuat manusia menjadi dewasa. Penemuan kesejatian diri semakin terwujud karena ada kerja sama antara perasaan dan nalar. 

Nalar diwajibkan untuk melibatkan diri dalam gerak aktif perasaan. Kehadiran nalar mengefektifkan daya kerja perasaan. Perasaan tanpa keterlibatan nalar maka pribadi liris itu mengalami keabsenan kedewasaan. Dia dikatakan pribadi yang sangat labil yang membawa dampak negatif bagi diri sendiri maupun sesama.

Sang pribadi liris merupakan pribadi yang suka kontemplasi. Berkat kerja sama perasaan dan nalar ini, permenungan tentang dunia kehidupannya semakin matang. Hati menghening cipta. Batin merenung. 

Energi perasaaan dan nalar terarah pada apa yang dia rasakan. Dia dan perasaannya hadir dalam suatu realitas. Oleh karenanya, suasana keheningan sangat dia perlukan untuk menemukan beribu mutiara pelangi di balik realitas.

Pribadi yang Berkontemplatif

Pribadi liris yang berkontempltif bukan berarti dia tidak mau dan mampu berbicara. Atau dia sengaja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pribadi liris yang berkontemplatif tidak dapat dikatakan sebagai pendiam. 

Meskipun perasaan mencari keheningan tetapi dia masih bisa berbicara kepada orang lain. Dia tidak berbeda jauh dari manusia lain yang mampu berbicara tentang aneka seni kehidupan. 


Pribadi yang kontemplatif merupakan pribadi yang menjadi karakter bawaannya yakni suasana kontemplatif. Dia menjadikan kontemplasi sebagai budaya yang selalu dihidupinya dalam keseharian hidup. 

Baginya, kontemplasi merupakan harga yang tak ternilai yang membuat dia mampu menemukan identitas kesejatiannya. Mulutnya boleh tak diam, tetapi hatinya menciptakan keheningan. Atau setidaknya dia menyadari bahwa keheningan merupakan bagian dari hidupnya. 

Keheningan berada pada bagian terdalam hidupnya. Dia tidak mengungkapkan perasaan heningnya kepada orang lain. Bahkan orang lain menganggap atau menduga-duga apabila dia tak mampu menyelam ke dalam dunia keheningan.  

Sebab dia berbicara sebagaimana orang yang suka berbicara bahkan lebih dominan dari orang tersebut. Dia bercanda seperti orang lain bercanda. Dan dia beraktivitas seperti orang lain beraktivitas. Dia sama dengan orang lain kecuali cara menghening cipta. Keunikan ini membuat mata orang tertutup untuk melihat siapakah dia yang sesungguhnya.  

Pribadi liris yang berkontemplatif memiliki keperibadian seperti pohon cemara. Dia nampak rapuh di mata orang lain tetapi di ruang keheningan dia sangat tangguh dan tanggap untuk menghadirkan pelbagai dinamika dan bahkan persoalan hidup. 

Dia menghadirkan situasi yang tidak sedap itu dalam perasaan, kemudian diolah dan sari-sarinya dicicipi. Sari-sari buah persoalan tersebut membuat wajahnya berkilau-kilau seperti purnama. Sari-sari yang dimaksudkan yakni nilai-nilai kehidupan yang dapat mengikis jeruji penderitaan. Dengan demikian, hidup ini bagai bulir-bulir padi berisi di antara ilalang.

Relevansi

Persoalan mengenai Who am i yang diperuntukkan kepada pribadi liris tidak terlepas dari persoalan identitas manusia. Pertanyaan siapakah aku ini menjadi pertanyaan hakiki untuk menemukan kesejatian hidup di tengah dunia keterasingan diri. 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, manusia khususnya pribadi liris mencari jati dirinya dalam keheningan. Pribadi liris mengenal perasaan-perasannya dalam lautan keheningan. Namun peribadi liris juga menggunakan nalar sebagai sarana dalam pemrosesan penemuannya. 

Hal yang perlu diperhatikan bahwa pribadi liris menyadari arti penting dari keheningan. Bahwasannya, keheningan tidak hanya sebagai jalan atau metode tetapi lebih dari itu sebagai kewajiban dan salah satu keutamaan hidup. 

Suasana keheningan diciptakannya dan diperbiasaan dalam kehidupan setiap hari.  Namun keheningan batin tidak perlu diperlihatkan kepada siapa pun. Sebab aktivitas keheningan batin sifatnya personal. 

Di tempat keheningan tersebut ada perjumpaan antara seorang diri dengan sang PRIBADI sejati. Dia adalah DIA yang dapat men-sejati-kan manusia dari kelabilan dan keterasingan diri. 

Keheningan batin tidak memenjarakan mulut untuk berbicara dengan siapa saja dan tentang apa saja yang baik dan benar. Mulut boleh berbicara tetapi hati tetap menghening!!! Semuanya harus berjalan dengan penuh kesadaran. Dengan demikian keindahan harmoni membuat hidup ini berjalan bak air sungai mengalir tanpa henti.

Oleh: Nasarius Fidin
(Artikel ini sudah diterbitkan di majalah PURAKASASTRA edisi X)
×
Berita Terbaru Update