-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ayam Jantan Menerjang

Sabtu, 01 April 2017 | 20:06 WIB Last Updated 2020-02-08T18:12:02Z
Ayam Jantan Menerjang
Ilustrasi: google

Oleh: NF

“Hidup ini adalah pencarian tiada henti meski apa yang dicari itu tak sampai. Namun kita terus berjuang hingga waktunya tiba”.

Pengalaman “merantau” cukup menarik perhatian untuk dimuat dalam lembaran kehidupan. Zaman sekarang, banyak orang khususnya anak-anak muda merantau di tanah orang. 

Anak-anak muda meninggalkan orang tua, sanak saudara dan sahabat-sahabatnya. Mereka mencari situasi dan iklim baru di tempat baru. Inilah trending jaman yang digauli oleh lalong-lalong reba (anak-anak muda) di era modern.

“Lalong Sepang” merupakan salah satu dari sekian banyak Lalong di tanah rantau. Dia merantau ke Tanah Jawa. Dia mendendangkan syair-syair kehidupannya di tempat perantauan tersebut. 

Baginya, Tanah Jawa merupakan rahim yang mampu menelurkan butiran-butiran cinta-kebijaksanaan. Rahim tersebut menjadi benteng pertahanan sekaligus gada besi dalam kerapuhan hidup yang selalu meraung di depan sepasang matanya.

Tanah Jawa merupakan salah satu destinasi petualangan kehidupan yang menarik dan memesona. Meskipun Tanah Jawa diakui sebagai tempat yang carut marut, penuh rintangan, kesulitan dan sebagainya. Namun di tempat tersebut, dia berpikir tentang garis lurus kehidupan dengan  warna-warna pelangi.

Lalong Sepang bermimpi tentang harmonisasi nalar kehidupan yang indah. Dia menggelorakan api semangat di setiap situasi dan kondisi kerasnya kehidupan. 

Dia ingin menggenggam emas yang diperjuangkannya sendiri. Dan ingin agar urai air mata dan cucuran keringatnya menjadi tinta warna pada sebait puisi. 

Inilah faktor yang dapat menjadi alasan dia mengarahkan pandangannya ke Tanah Jawa, meskipun dia mengetahui tempat-tempat lain tidak berbeda jauh dengan tempat tersebut.

****

Tiba saatnya, dia berkiprah ke Tanah Jawa. Dia memulai perjuangannya di bagian timur Tanah Jawa tersebut. Kurang lebih empat tahun, dia mengenyam pendidikan di sebuah lembah unik yakni “Sangkar Kebijaksanaan”. Dia dibina dan dibentuk pelbagai mutiara pengetahuan dalam mal kebijaksanaan.

Seusai masa pendidikannya, dia merasa perjuangannya belum selesai. Dia ingin berpijak pada anak tangga berikutnya. 

Oleh karena itu, dia melanjutkan perjalanannya ke bagian barat pulau Jawa. Tepatnya di kota metropolitan Jakarta, dia hendak mengutarakan perwujudan mimpi-mimpi indahnya pada pusaran waktu. 

Meskipun dia mendengarkan sharing bahwa “Jakarta itu keras”. Namun karena justru hal demikian, dia ingin melembutkan hidupnya dari kerasnya kota tersebut.  

Tepatnya ketika sore mendekat, dia diantar oleh dua Lalong, sahabat karibnya. Mereka beradik-kakak. Nama kakak-beradik tersebut yakni Lalong Koe dan Lalong Rombeng. 

Mereka membawa barang-barangnya ke stasiun kereta. Tiba di sana, mereka ingin mengabadikan momen terindah di senja tersebut.

“Gimana kalo kita selfi bareng”, kata Lalong Rombeng kepada Lalong Sepang dan Lalong Koe. Mendengar kata-kata iseng tersebut, Lalong Sepang dan Lalong Koe sangat antusias. 

Lalong Koe merasa selfi bareng merupakan momen yang perlu untuk selalu dikenang. Sebab dia akan segera berpisah dengan mereka. Dia akan segera melanjutkan perwujudan mimpinya.  

“Bagus juga kalau kita abadikan momen ini”, pikir Lalong Koe dalam hatinya. “Mmmmm, gimana kalau kita selfi bareng di tempat indah dan menarik”, kata Lalong Koe sambil jemari kirinya memegang dagu. Dia melirik tempat yang cocok untuk diabadikan. Namun lonceng keberangkatan berbunnyi.  

“Teman-teman, maaf ya, waktu keberangkatannya akan segera tiba. Gimana kalau waktu lain aja kita foto bareng. Aku yakin, suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali, entah di mana”, kata Lalong Sepang sambil memegang pundak mereka. Mendengar perkataannya, kedua kakak-beradik itu merasa sedih.

“Oke, selamat jalan bro. Semoga di tempat baru kamu mendapatkan iklim baru. Dan suatu saat nanti, senyum persahabatan yang sudah kita rajut bersama, akan mekar kembali, entah di mana…, Salam SUKSES!!! GOD BLESS YOU”, ujar Lalong Rombeng dengan wajah terharu.

Kemudian Lalong Sepang naik kereta dan berangkat ke Jakarta. Di kereta, dia bertemu dengan Lalong Liba. Pada awalnya, dia tidak mengetahui si Lalong Liba tersebut. Dia duduk di samping tempat Lalong Liba berdiri. 

Kedua-duanya sama-sama cuek. Namun dalam hatinya, dia berpikir kalau-kalau si Lalong Liba tidak asing bagi dirinya.

Ketika Lalong Liba berngobrol dengan temannya dengan logat khasnya, dia merasa penasaran. Dia memiliki rasa ingintahu tentang Lalong Liba tersebut beserta asalnya.

“Baiklah kalo aku pengen tahu tentang orang ini deh’, pikirnya dalam hati. Lalu dia bersalaman dengan Lalong Liba itu. Eh ternyata, si Lalong Liba itu merupakan tetangga daerah asalnya. Mereka berngobrol dengan sangat baik dalam perjalanan ke Jakarta. Semenjak itu sampai sekarang, Lalong Sepang bersahabat dengannya. Mereka sering berkontak lewat via telepon.

Ketika tiba di Jakarta, di stasiun Gambir,  Lalong Sepang menuju tempat temannya yang bernama Lalong Bakok. 

Sedangkan Lalong Liba menuju ke rumah keluarganya, entah! Lalong Sepang menelpon Lalong Bakok yang sedang bekerja di sebuah instansi. Lalu Lalong Bakok memberikan alamat, tempat tinggalnya. Dia tidak sempat menjemputnya karena jam kerja masih berlansung.

“Bro, maaf ya, aku gak sempat menjemput kamu. Soalnya aku lagi sibuk nih. Tadi aku udah kirim alamat rumahku lewat sms. Nanti kamu ikutin alamat itu ya... Kalo bingung, tolong sms aku atau tanya orang/security”, kata Lalong Bakok kepada Lalong Sepang.

Dia membaca sms temannya, lalu menuju alamat tersebut. Dia mengikuti petunjuk yang telah diberitahukan lewat sms tadi. 

Dia turun dari kereta dan lansung mencari mobil KOPAJA yang menuju ke arah terminal Kalideres. Tiba di terminal Kalideres, dia beristirahat sejenak, sambil minum air, dan menatap pelbagai kebaruan seperti pemandangan dan sebagainya.

“ Jakarta begitu indah”, pikirnya dalam hatinya. Dia merasa gembira karena tiba di terminal Kalideres dengan selamat. 

Kata terimakasih kepada Tuhan terurai dari dalam hatinya. “Terimakasih Tuhan, karena Engkau menyertai aku hingga tiba di Jakarta. Terimakasih juga untukmu Sang Bunda, karena berkat bantuanmu jua, aku menikmati perjalananku dengan baik” kata-kata doa dari bibir manisnya.

Setelah waktu istirahat usai, dia mengendarai angkot yang berwarna putih abu-abu. Nama angkot tersebut yakni B09A. Orang-orang di sekitar menyebut nama angkot itu yakni BOGA. 

Dia mengangkat barang-barang dan menaruhnya di dalam angkot tersebut, lalu menuju ke tempat tinggal temannya. 

Tiba di tempat tujuan tersebut, dia turun dan beristirahat sebentar di bawah pepohonan hijau tepatnya di pondok kecil yang berwarna hijau. 

Dia menikmati udara segar sambil memandang alam di sekitarnya. Tidak lama kemudian, dia melihat Lalong Bakok pulang kerja. Mereka bersalam-salaman dengan suasana happy. Lalu mereka lansung menuju ke kontrakan.

Untuk sementara waktu, dia tinggal bersama di kontrakan temannya. Mereka hidup di bawah atap kota Jakarta yang sangat carut-marut. 

Namun sharing pengalaman kebersamaan sewaktu di “Rumah Peduli” mampu menghiasi mendung, panas dan iklim tak menentu di kota tersebut.

Di kontrakan temannya ini-lah, mimpi Lalong Sepang mulai diwujudkan. Dia mulai mengirimkan lamaran pekerjaan ke pelbagai perusahan di kota Jakarta. 

Karena gelora semangat, keberanian dan daya juangnya, maka dia mengirimkan atau membawa lamaran pekerjaan hingga di pelosoknya. 

Pengalaman kebuntuan, tersesat, pulang tengah malam, basah kuyup saat di perjalanan, jalan kaki hingga tubuh lelah, pengalaman ditipu, terjebak, disakiti, tetes air mata, dikhianati, dan sebagainya dialaminya.

Dia berjalan di antara pelbagai kebuntuan, melewati musim demi musim. Dia menerjang dari halte ke halte, jalan terjal, gang-gang kecil, lorong-lorong buntu, dari alamat ke alamat, dan sebagainya. 

Namun di kala tubuh haus, dia meneguk embun. Harapannya pun mekar seiring langit berembun. Seputih harapan ini menenangkan sukma yang patah dan memutihkan baju penuh noda yang melekat pada tubuh lusuhnya. Maka, dia berani berjuang supaya harapan itu semakin putih dalam kesuksesannya nanti.

Pada hari pertama, dia tersesat dan terdampar di Jakarta Utara. Sebenarnya, dia membawa lamaran ke Jakarta selatan. Dia yang berwajah lugu dan polos ini tidak mengetahui jalur dan situasi Jakarta. 

Dia pun tidak mengetahui kalau tempat tersebut yakni Jakarta Utara. Apalagi dia tidak memiliki HP android. 

Semuanya serba kekurangan. Perjalanan pencarian pun buntu!!! Meskipun sebelumnya, dia diberitahu temannya mengenai jalur yang akan dilewati hingga tempat tujuan. 

Ya, namanya orang baru juga; dan baru pertama kali pergi bawa lamaran!! Begitu deh kenyataannya!! dia bingung dan tersesat dalam ketidaktahuannya sendiri.

Dia berpikir bahwa tempat yang dipijaknya yakni Jakrta Selatan. Ketika dia bertanya kepada orang setempat, ehhh, ternyata tempat tersebut adalah Jakarta Utara. “Aaaaddduuuhhh, sial apa hari ini, ya. 

Aku kira ini Jakarta Selatan. Padahal ini tempat lain”, gumamnya dengan wajah cemberut. “Lebih baik aku pulang aja deh”, lanjutnya dengan nada letih. Lalu dia pulang ke kontrakan temannya kira-kira pukul 14.00 WIB, dan tiba di sana pukul 18.30 WIB.

Pengalaman hari pertama begitu menyebalkan tetapi nampak indah. Demikian pun hari kedua dan seterusnya, dia selalu menemukan pelbagai kebuntuan dengan bentuk dan frekwensi yang berbeda. 

Dia mengirimkan banyak lamaran ke pelbagai Perusahaan tetapi tidak satu pun yang memanggilnya, kecuali “perusahan bodongan” (perusahaan palsu) yang bertujuan untuk meminta uang.

Pada suatu hari, dia dipanggil untuk interview di PT SPCI. Dia mengikuti interview dengan baik. Alhamdulilah, dia diterima untuk bekerja di Perusahaan tersebut. Si wajah polos itu bekerja sebagai staf administrasi di Perusahaan yang baru saja menerimanya.

Dia bekerja dengan giat, disiplin, jujur, terbuka, dan tulus di PT SPCI. Sesuai nasehat dan masukan para senior, dia yang berpipi lesung itu bekerja segiat-giatnya untuk Perusahaan. 

Oleh karena cara kerjanya bagus, dia juga dipercayakan untuk bekerja pada posisi yang bukan bagiannya. Dia mengambil bagian beberapa posisi pekerjaan tersebut sesuai dengan tenaga dan kemampuannya.

Namun beberapa bulan kemudian, dia dipanggil oleh Si BOS. Si BOS memertanyakan cara kerjanya sebagai staf administrasi. 

Dia tidak mengetahui alasannya. Dia segera menghadapi Si BOS di kantornya. Tiba di ruangan Si BOS, dia menanyakan alasannya, “mengapa dia dipanggil ke kantor”. 

Si BOS mengklarifikasi semua barang hilang di gudang Perusahaan tersebut. Lalu Si BOS mempertanyakan hal demikian kepadanya. Dia mengalami kebingungan karena tidak tahu, “mengapa barang-barang hilang begitu saja”. Dia juga tidak mengetahui, “siapa orang-orang yang mengambil barang-barang tersebut”.

Kemudian dia mengecek barang-barang di gudang. Ternyata barang-barang tersebut sudah hilang. Lalu dia mengecek data barang-barang secara administratif di komputer. Semua data barang-barang tersebut tidak ada yang salah. 

Secara administratif, barang-barang tidak hilang tetapi secara real barang-barang sudah hilang. Dia semakin bingung dan tidak tenang. Sebab dia harus bertanggung jawab semua barang yang hilang itu.

“Lalong Sepang, bagaimana barang-barang ini bisa hilang? Kok bisa hilang ya!!!, kata Si BOS kepadanya. 

Dia menjawab tidak tahu. Sebab dia sungguh tidak tahu!! “Saya juga gak tahu, pak. Saya gak tahu orang yang mengambilnya”, jawab Lalong Sepang dengan wajah jujur dan tulus. 

Lalu Si BOS menyuruh si wajah tulus itu mengecek kembali barang-barang di gudang. Tetapi barang-barang tersebut tetap tidak ditemukan.

Setelah pengecekan semua barang hilang tersebut, sekali lagi dia menghadap Si BOS. Dia dimarahi, ditegur, diancam keluar karena menurut Si BOS, cara kerjanya tidak becus. 

Namun dia meminta agar diberikan kesempatan untuk bekerja di perusahaannya. Dia juga meminta waktu berdiskusi untuk membuat taktik dan strategi baru karena dia mencium “bau-bau tidak sedap” terkait kehilangan barang-barang itu. 

Si wajah jujur itu membuat kesepakatan dengan Si BOS untuk pengecekan barang-barang secara rutin, pemasangan sisi TV di setiap sudut gudang, dan penyusunan ulang mengenai keteraturan posisi barang. 

Namun barang-barang tetap ada yang hilang, bahkan jumlah barang yang hilang lebih banyak dari sebelumnya termasuk barang-barang panasonik.

Melihat kenyataan itu, Si BOS mengalami kebingungan karena banyak kerugian. Dia sangat marah. Dia mengecek sisi TV tetapi tidak seorang pun ditemukan dalam kamera. 

Si BOS semakin bingung. Rupanya para pelaku sangat cerdik dan licik seperti ular. Mereka memiliki cara jitu untuk mematikan semua sisi TV. 

Para pelaku mematikan stop-kontak listrik di depan kantor perusahaan, sehingga semua sisi TV tidak aktif. Kemudian mereka membuka pintu kantor dan gudang, mengambil barang-barang untuk dijual ke calo dengan harga yang sudah disepakati bersama.

Pada hari Sabtu, tepatnya pagi hari, Si BOS pergi ke sisi TV pusat, di tempat tugas para security. Dia meminta pihak berwenang untuk melakukan pengecekan sisi TV di depan kantor perusahaannya. 

Setelah dicek secara detail, ternyata para pelaku pencurian barang-barang perusahaan yakni karyawan-karyawannya sendiri. Mereka adalah para kuli, sopir dan kerneknya. Mereka kedapatan di sisi TV. 

Sepertinya, mereka tidak mengetahui kamera yang terpajang di samping jalan (di depan kantor perusahaan) merupakan sisi TV pusat. Mereka merasa kamera sisi TV itu yakni milik perusahan dan pusatnya di kantor perusahan tersebut. Padahan sisi TV itu adalah sisi TV pusat.

Si BOS murka!!! Kemudian dia kembali ke perusahaan. Mulutnya membungkam, raut wajahnya muram! Kelihatannya, dia sangat letih lesu.

Si BOS memanggil semua karyawan untuk pertemuan singkat di Kantor. Dia meminta kejujuran para karyawannya. Namun tidak seorang pun yang jujur. 

Lalu Si BOS bertanya beberapa kali, tetapi mereka tetap menyembunyikan ekor. Mereka tidak jujur meski Si BOS membocorkan sedikit bukti sebelum memerlihatkan semua bukti sebenarnya. 

Oleh karena kengototan dan ketertutupan mereka, Si BOS menunjukkan bukti sisi TV. Mereka malu tersipu-sipu dan satu persatu jujur di depan wajahnya. Dengan wajah murka, Si BOS memecat mereka pada hari itu juga.

Sedang Lalong Sepang tidak bekerja pada hari itu, karena sudah diijinkan oleh Si BOS. Dia yang berwatak tulus, jujur, rajin, dan disiplin tersebut, tidak mengetahui para pelaku pencurian barang-barang tersebut. Dia juga tidak mengetahui karyawan-karyawan yang dipecat dari perusahaan pada hari itu juga.

Si BOS baru tahu dan sadar, Lalong Sepang adalah salah satu pekerja jujur, rajin, dan disiplin. Cara pandang dia kepadanya pun berubah pada hari itu juga.

Pada hari Senin, Lalong Sepang pergi kerja. Namun para karyawan yang lain tidak ada. Dia bertanya kepada beberapa temannya karena waktu kerja sudah lewat 10 menit. 

Beberapa teman (karyawan jujur, rajin, displin berjumlah empat orang) memberikan jawaban sebenarnya. Saat itulah, dia merasa legah, dan bebas dari tuduhan Si BOS. 

Beberapa menit kemudian, dia dan empat orang temannya dipanggil untuk pertemuan di Kantornya. Si BOS meminta maaf kepada mereka atas tuduhan yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Selain permohonan maaf, dia juga meminta mereka untuk merancang pelbagai strategi baru terkait pekerjaan di perusahaan agar terbebas dari kasus-kasus demikian.

Sebulan kemudian, setelah lebaran, Lalong Sepang meminta pengunduran diri. Dia ingin pulang kampung. Si BOS menanyakan alasannya. 

Sepertinya Si BOS memertahankannya karena kejujurannya. Namun dia ingin tinggal menetap di kampung halamannya. Kemudian Si BOS memberitahukan jika dia ingin balik ke Jakarta, pintu perusahaan masih terbuka lebar untuknya.

Mendengar Lalong Sepang akan pulang dan menetap di tanah ibu, teman-temannya, dengan pelbagai masukan, mengajak dia supaya tetap tinggal di Jakarta sampai mimpinya terwujud. 

Tanpa ada rasa penolakan, dia pun membatalkan niatnya meski terlanjur basah terkait pengunduran dirinya dari PT SPCI. 

Namun dia tidak mau berpikir ke belakang. Orientasi pemikirannya mengarah ke depan. Dia tidak menyesal dengan pengunduran dirinya dari perusahaan tersebut.

Si wajah polos itu berhenti bekerja. Kini dia mengalami Pengangguran lagi…!!! Pengangguran bagaikan harimau menerkam. 

Pengangguran seperti wajah garang-membuat dirinya merana. Pada masa-masa pengangguran itu, dia mengirim banyak lamaran lewat email, jobstreet, career, indeed. 

Tidak hanya lewat internet, dia juga membawa lamaran pekerjaan secara lansung ke perusahaan-perusahaan. Namun sejauh ini, rejeki belum meneduh hatinya.

Namun dia tidak berhenti berjuang. Dia pantang menyerah. Sebab semuanya akan indah bila cucuran keringatnya penuh arti. Dia yakin Sang Putih mengepakkan sayap-sayapnya dalam perjuangan. Sehingga dia mampu menerjang setiap jurang pun belantara.

Pada suatu ketika, dia dipanggil dari bagian timur Metropolitan. Namun sebelumnya dia pergi ke tempat temannya, Lalong Bakok. 

Sebab sebelumnya dia tinggal sementara di rumahnya Lalong Tana. Dia tidak memakai sepatu, tetapi menyimpannya di kresek hitam. Dia naik angkot BO9A. Dalam perjalanan, entah mengapa, sepatunya hilang. Dia mencarinya saat turun dari angkot.

Kemudian keesokan harinya, dia meminjam sepatu temannya untuk mengikuti interview. Dia naik bus berwarna biru. 

Pengalaman yang sama mencederai hatinya. Uangnya diambil orang, entah siapa….Akhirnya dia membayar mobil dengan baju biru, baju kesayangannya. Sialnya lagi, mobil yang dia kendarai, macet di perjalanan sehingga telat mengikuti interview. 

Sepulang interview, dia tidak membayar transportasi karena sopirnya merasa kasihan dengannya. Hal ini terjadi karena dia datang dengan hati terbuka kepada sopir bus tersebut.

Dia bertanya tentang banyak hal terkait pelbagai persoalan kebuntuan yang dialaminya. “Mengapa semuanya terjadi”, kata tanya itu muncul dari kedalamannya. 

Dia bertanya pada langit senja saat matahari condong ke barat, kepada hamparan malam, kepada pagi memerah, dan kepada semua yang kewat di depan bayang-bayangnya. Namun tidak ada isyarat yang memberikan jawabannya.

Kemudian dia menyelam ke dasar samudera kehidupannya. Dia menatap ombak tajam menggulungkan niat dan mimpinya. Dia juga menyaksikan tapak-tapak gelisah yang membuat dirinya pun ikut gelisah dengan masa depannya.

Dia merenung kembali perjalanannya, mulai dari titik pijak niat luhur dan mimpinya hingga niat dan mimpi itu diperjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata pedihnya. Dalam permenungan itu, dia memikirkan cara pemecahan teka-teki dan belitan-belitan ombak di depannya. Namun sebelum mencari solusinya, dia mencari akar-akar persoalannya.

Dia mulai menduga-duga akar-akar serabut dan tunggang yang tersebunyi di balik tanah subur. Dia merasa basiknya tidak sesuai dengan kualifikasi perusahaan yang dia lamar. 

Dia mengakui pelbagai keterbatasan diri yang barangkali belum memenuhi kualifikasi. Barangkali karena syukuran seusai wisuda kuliah belum dilakukan secara adat.  

Atau dia belum membangun jaringan relasi secara luas. Atau juga penampilan dan tampang ketimurannya kurang terkesan dalam pencapaian kualifikasi di setiap perusahaan yang dilamarnya. 

Atau juga serangan malam dan sambaran petir menghalau semua rangkaian proses pencarian mimpinya. Semuanya ini adalah dugaan yang bergema di lubuk hatinya.

Barangkali dugaan-dugaan di atas menjadi akar yang menghambat dirinya sehingga pencapaiannya pun belum terpenuhi. 

Namun dia tetap mencari akar-akar sesungguhnya yang masih tersembunyi. Dia yakin, tiada akar tersembunyi yang tidak ditemukan atau ditelan bumi. 

Bagi dia, tiada sesuatu yang tidak mungkin dalam hidup ini. “Semuanya mungkin”, kata-kata Sang Putih dalam “Diare Kehidupan-Nya”.

Dia memecahkan belitan-belitan itu dengan doa dan cucuran keringat. Setiap senja, ketika matahari condong ke barat, dia menuju ke tempat unik dan suci. Dia berinisiatif untuk termenung, seperti orang yang tidak ada kerjaan.  

Dia berdiam sejenak selama tiga puluh menit. Namun tiga puluh menit seperti tiga jam. Dia merasa waktu begitu lama. Tiada sesuatu dia alami dan rasakan dari permenungan tersebut. 

Roda waktu seolah-olah berjalan hambar dan tidak ada maknanya. Semuanya hampa. Meski demikian, dia tidak berhenti pada hari pertama saja. 

Dia berpegang teguh pada komitmen awal. Bahwa si pipi lesung itu berdiam sejenak di depan gua hingga hati Sang Langit Cerah berpihak padanya.

Pada hari kedua, si wajjah polos itu pergi ke tempat yang sama. Dia itu duduk sejenak sambil bertanya diri. Pertanyaan demi pertanyaan membuat hatinya bingung. 

Sebab dia belum menemukan jawabannya. Barangkali jawabannya tersapu arus ombak musim topan kehidupan. 

Namun dia berjuang terus dengan keadaan seperti itu. Karena niat tulus memurnikan langkah kakinya untuk tetap datang dan datang terus ke tempat tersebut.

Si pipi lesung memiliki niat tulus dan murni serta kesetiaan untuk selalu datang pada-Nya. Tanpa basa-basih, dia bersimpuh di muka gua Maria. 

Meski tidak ada sesuatu yang nampak, tetapi dia tetap datang untuk memerlihatkan hati remuk-redamnya kepada Sang Bunda. 

Dia ingin ketahui Sang Ibu tahu, meski sesungguhnya Sang Dewi tahu tentang pergulatannya. Dia ingin bersama Sang Ibu supaya “Sang Langit” mengasihi dan memberikan manna kepadanya lewat pekerjaan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

“Tuhan, hanya ini yang kupinta, kasihanilah aku dan berilah aku manna. Berikan aku pekerjaan yang sesuai dengan kehendakMu” kata-kata hatinya saat bersimpuh di depan gua. Kata-kata pinta itu selalu dia gemakan dari kedalaman hatinya di depan gua tersebut.

Selain doa, dia mendengarkan pelbagai sharing para “Lalong-lalong Rombeng” (para senior, pejuang sukses), bagaimana pengalaman kebuntuan dan pengangguran yang sama dengan dirinya. Sharing-sharing mereka merupakan berkas-berkas cahaya peneguhan, kesabaran dan kekuatan. 

Selain itu, sharing mereka bagaikan energi-energi positif, seperti sikap pantang menyerah, membangun jaringan relasi, berkomitmen pada mimpi dan niat awal dan kematangan persiapan saat interview.

Dia menggenggam sari-sari buah pengalaman para Lalong-lalong Rombeng. Baginya, sari-sari buah yang mereka sharingkan sangat enak ditelan. 

Dia merasa pengalaman pencarian adalah seni yang dapat menentukan masa depan. Oleh karena itu, dia mendengarkan dan melaksanakan apa yang sudah disharingkan itu. Hal itu merupakan bintang petunjuk atau kompas dalam pencariannya.

***

Lalong Sepang adalah salah seorang dari sekian pemberani yang berjuang untuk menggapai mimpi indah di masa yang akan datang. 

Pengalaman jatuh-bangun bahkan jatuh lagi merupakan seni pencarian yang terkadang menyakitkan tetapi menarik dan memesona. 

Sebab tiada sesuatu yang semudah membalikkan telapak tangan. Tiada sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit tanpa perjuangan. Kesuksesan hidup ini bermula dari seni perjuangan. Maka perjuangan adalah kunci kesuksesan..

Pengalaman kegagalan dan kebuntuan merupakan proses menuju kesuksesan sejati. Jalan kesuksesan bukan berarti dia tidak pernah gagal. 

Jalan kesuksesan adalah jalan yang didambakan setiap orang, maka dengan segenap kemampuan, kekuatan, hati, dan jiwanya, dia memperjuakan apa yang menjadi haknya yakni kesuksesan itu sendiri.  Sebab setiap orang berhak untuk meraih kesuksesan yang akan diberikan kepadanya.  

Bersambung……

 NB:

Tokoh-tokoh dalam cerpen di atas diambil dari nama ayam. Nama-nama ayam tersebut merupakan bahasa khas penulis (bahasa Manggarai) yang memiliki arti khas. Berikut ini, penulis menguraikan arti dari nama-nama tersebut yakni

* Lalong Sepang (berbulu merah) merupakan nama simbolis untuk menyebut seorang Pejuang dalam meniti jalan kesuksesan.

* Lalong Rombeng (berbulu merah) merupakan sebutan untuk seorang sahabat yang sudah meraih kesuksesan di tangga dua dalam dunia pendidikan.

* Lalong Koe merupakan sebutan seorang adek sekaligus sahabat saat merajut kebersamaan.

* Lalong Bakok (berbulu putih) merupakan sebutan untuk seorang sahabat yang tergolong sukses. Baginya hati seputih warna putih untuk Tuhan adalah wujud sembah dan syukur kepada Sang Putih (Tuhan)

* Lalong-lalong Rombeng merupakan para pejuang sukses.

* Lalong Liba merupakan seorang sahabat yang bertemu saat di perjalanan perjuangan menuju kesuksesan.
×
Berita Terbaru Update