-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rekonstruksi Konsep "Nai Ca Anggi Tuka Ca Leleng" Dalam Budaya Manggarai

Minggu, 02 April 2017 | 11:37 WIB Last Updated 2020-02-18T08:12:33Z
Rekonstruksi Konsep "Nai Ca Anggi Tuka Ca Leleng"  Dalam Budaya Manggarai
Acara adat Manggarai (Ilustrasi; google)

Dalam budaya Manggarai, kebijaksanaan hidup sangat dijunjung tinggi. Banyak nilai kebijaksanaan hidup tersebut bernuansa sastra. 

Kebijaksanaan hidup orang Manggarai terukir dalam untaian-untaian filosofi yang memesona. Dan filosofi yang dibingkai dengan sastra tersebut disebut goet. Goet dijadikan semboyan hidup. Orang Manggarai wajib menghidupi nilai-nilai goet itu dalam realitas sehari-sehari.

Salah satu dari nilai-nilai kebijaksanaan orang Manggarai terungkap dalam goet nai ca anggi, tuka ca leleng. Filosofi ca nai agu ca leleng menggemakan semangat kesatuan dan kekeluargaan. 

Namun, nilai kebijaksaan ini belum sungguh mendarat di relung hati orang Manggarai. Konsep ca nai dan ca leleng masih mengawang-awang. Kontroversi antara nilai nai canggi tuka ca leleng dan perwujudannya terungkap dalam masalah keluarga, perang saudara, pembunuhan, masalah seksual, penjualan manusia, penyakit irihati/kecemburuan sosial dan sebagainya.

Realitas persoalan orang Manggarai merupakan suatu kegelisahan tersendiri di kalangan internal orang Manggarai bahkan di ranah publik. Oleh karena itu, penulis menggemakan kembali nilai nai ca anggi tuka ca leleng di jaman moderen ini. 

Saya sangat yakin goet ini sudah diketahui oleh orang Manggarai sendiri. Karena para leluhur sudah mewariskan karya sastra ini kepada kita. Namun saya yakin juga, banyak orang Manggarai termasuk penulis sendiri kurang menghidupi nilai kebijaksanaan para leluhur dalam hidup praktis.

Berikut ini, saya menguraikan sekilas tentang realitas persoalan yang terjadi di Manggarai. Lalu, saya menegaskan kembali apa dan bagaimana goet nai ca anggi tuka ca leleng tersebut. Setelah itu, saya mengungkapkan relevansinya sekaligus solusi dari realitas persoalan tersebut untuk para pembaca.

Realitas Persoalan Orang Manggarai

Pater Frumens, dosen filsafat Dryakara, dalam khotbahnya (Perayaan Misa Natal dan Tahun Baru dalam lingkup keluaraga Satarmese se-Jabotabek) beberapa bulan lalu, mengungkapkan identitas orang Manggarai. 

Bahwa salah satu identitas orang Manggarai yakni cara pandang positif tentang sesuatu. Orang Manggarai memiliki cara berpikir vertikal dan horizontal. Cara berpikir vertikal terkait tentang Tuhan sehingga orang Manggarai sangat religius. Sedangkan horizontal berkaitan dengan cara berpikir positif tentang sesama dan sesuatu di sekitarnya.

Namun, karena cara berpikir yang terlalu positif tersebut, orang Manggarai lupa tentang diri sendiri. Efek negatif di balik cara berpikir yang terlalu positif tersebut dapat merugikan diri sendiri. Hal ini terlihat dalam beberapa kasus, seperti HIV aids yang menular ke Manggarai, penjualan manusia, perang tanding.

Baru-baru ini, orang Manggarai dikejutkan dengan beberapa tragedi pilu. Tragedi di awal tahun 2017 dan di penghujung Januari yang diberitakan kabarnusantara.net, terjadi perkelahian antara dua orang yang masih dalam hubungan keluarga. 

Pristiwa itu terjadi karena perselisihan pendapat terkait pengaturan air yang mengalir ke persawahan. Perselisihan pendapat memicu gelora amarah yang tinggi sehingga terjadi pertarungan fisik dan barang tajam.

Perang tanding juga atau yang disebut dengan perang saudara terjadi di Manggarai Barat, tepatnya  di Desa Peta Wangka Boleng kampung Rangko. Sengketa tersebut memakan korban jiwa akibat perebutan tanah (nusalale, 16/1/2017).

Perang terbuka terjadi di Desa Lalong Wae, Kecamatan Lembor Res, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Perang tanding tersebut disebabkan karena perebutan satu petak sawah warisan. Seperti dilansir oleh tribunnews.com, 1/1/2011, perang tersebut dilakukan oleh dua kelompok massa yang merupakan satu keluarga. Sejumlah orang tewas dan luka-luka.

Penjualan manusia juga terjadi di Manggarai. Penjualan manusia tersebut merupakan isu pilu yang menggoncangkan rasa kemanusiaan orang Manggarai, Indonesia dan bahkan dunia. Konteksnya yakni manusia menjual manusia. 

Penjualan manusia dikarenakan ketidaksadaran penjual mengenai eksistensi manusia yang sungguh mulia. Barangkali, dia beranggapan bahwa dirinya mahluk ciptaan yang mulia atau disebut subyek, sedangkan yang terjual disebut obyek sehingga pantas dijual dengan harga materi (uang).

Lalu, saya mengarahkan mata kita melihat masalah dalam keluarga. Sadar atau tidak, masalah keluarga sangat rentan terjadi. 

Masalah tersebut dimulai dari kebencian ase agu kae (adik-kakak), ema agu anak (bapak-anak), masalah kudut pande bete/keti ati one ca empo (masalah yang memicu perpecahan dalam serumpun keluarga) hingga masalah sosial yang masih terkait dengan hubungan keluarga.

Masalah rombo tua/rombo rang seperti tua kilo (merebut ketua/pemimpin atau perasaan kehebatan dalam rumpun keluarga) terjadi perselisihan antar ase agu kae, ema agu anak atau antar keluaga. 

Masalah rombo tua juga berkaitan dengan tua adat, tua teno (pemimpin adat, pemimpin untuk pembagian tanah di suatu kampung/wilayah). Biasanya masalah rombo tua menyembulkan suasana amarah yang berujung pada relasi yang tidak sedap. Sehingga konsekwensi dari persoalan ini terungkap dengan kata-kata yang kurang bagus didengar.

Masalah dalam konteks irihati atau kecemburuan sosial khususnya dalam relasi menjadi hal yang sangat memperihatinkan. Dikatakan demikian, karena ase atau kae, ema atau anak masih dalam konteks hubungan darah/keluarga mewujudkan kedengkian, irihati/kecemburuan sosial dalam bentuk samar. 

Mereka memandang saudara/keluarga sebagai yang lain. Sehingga yang lain tidak dibiarkan untuk mengambil apa yang menjadi haknya. Yang lain tidak diberi ruang kesuksesan dan kebahagiaan. Yang lain dianggap bukan saudara/keluarga sehingga rasa nai ca anggi tuka ca leleng hanya sebagai label hampa. 

Sebab rang (perasaan kehebatan) harus dimiliki "aku-nya" dan yang  lain sebagai musuh bebuyutannya. Hal ini merupakan pintu keterpisahan relasi harmonis dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam konteks spiritual, pada umumnya,  orang-orang Manggarai beriman kepada Allah. Orang-orang Manggarai juga melakukan penghormatan kepada Bunda Maria. Secara singkat, orang-orang Manggarai, bersama Bunda Maria, berdoa kepada Allah. Namun, tidak sedikit juga orang Manggarai masih menyembah roh-roh halus, animisme, dinamisme.

Rekonstruksi Konsep Nai Ca Anggi Tuka Ca Leleng

Nai ca anggi tuka ca leleng dimengerti dalam konteks budaya Manggarai. Pemahaman tentang konsep nai ca anggi agu tuka cala leleng sangat kompleks dan mendalam.  

Penulis memiliki keterbatasan untuk memahami secara luas tentang konsep tersebut. Namun penulis mencoba memahami konsep tersebut sebagai prinsip hidup sehati dalam semangat kekeluargaan dan satu-kesatuan.

Fakta-fakta persoalan Manggarai mengungkapkan keruntuhan nilai-nilai nai ca anggi tuka ca leleng. Nilai nai ca anggi tuka ca leleng bagaikan bangunan runtuh yang menyisakan puing-puing reruntuhan. 

Maka, rekonstruksi nilai-nilai itu perlu dilakukan. Tujuannya, orang Manggarai menyadari nilai-nilai tersebut dan menghidupinya dalam keseharian hidup.

Goet nai ca anggi tuka ca leleng mengandung roh dan semangat para leluhur. Roh dan semangat yang sama juga menjiwai orang Manggarai pada jaman moderen ini. 

Orang Manggarai hidup sesuai dengan roh dan semangat tersebut. Oleh karenanya, orang Manggarai memiliki one spirit (satu jiwa/roh) dan one caracter (satu karakter) dalam satu-kesatuan dan kekeluargaan.

One spirit dan one caracter sebagai orang Manggarai diungkapkan dalam kebersamaan yakni hidup bersama di bawah atap budaya Manggarai itu sendiri. 

One spirit and one caracter mengedepankan  spiritual, mental, intelektual, dan kepribadian manusia. Selain itu, one spirit dan one caracter menjadi landasan dalam pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Kesadaran ini menjadi bagian penting dalam praktik hidup setiap hari.

Konsep ca nai dan ca leleng bukan sekedar filosofi dan seni sastra, melainkan nafas kehidupan. Rasa satu-kesatuan dan kekeluargaan bagaikan atap rumah yang ditopang oleh siri bongkok (tiang tengah). 

Siri bongkok merupakan bahasa simbolis untuk menerangkan Sang Ilahi. Bahwa dasar dari nilai-nilai budaya Manggarai yakni Tuhan. Di luar Tuhan, seperti roh-roh halus, setan, dan sebagainya tidak ada jalan yang benar. 

Oleh karena itu, nai ca anggi tuka ca leleng merupakan bahasa sastra dan filosofi Manggarai yang mengungkapkan jalan menuju Tuhan. Ca nai dan ca leleng berarti jalan kesatuan, kekeluargaan dan gotong-royong untuk meniti keindahan dan harmonisasi kehidupan.

Konsep nai ca anggi tuka ca leleng dimulai dan ditanamkan dalam kesadaran setiap pribadi. Artinya konsep tersebut menjadi bagian dalam kehidupan setiap orang. Lalu, ca nai dan ca leleng ditaburkan dalam relasi dalam keluarga. 

Kesadaran konsep ca nai dan ca leleng menjadi senandung indah antara ase agu kae, ema agu anak, keluarga dan kerabat. Jika demikian, one spirit dan one caracter menjadi simponi yang bergema di bumi Manggarai.

Kesadaran ca nai dan ca leleng terungkap dalam dunia pendidikan. Misalnya, ketika ada keluarga yang anaknya kuliah, maka diadakan acara lonto leok (duduk melingkar). 

Acara lonto leok bermaksud untuk melakukan wuat wai (syukuran dan pengumpulan dana) yang terlahir dari kesadaran dan cinta-kepedulian. Nominalnya tergantung kesadaran pribadi. 

Masih banyak hal yang terkait dengan perwujudan konsep ca nai dan ca leleng dalam budaya Manggarai. Hal-hal tersebut membuat orang Manggarai ca nai dan ca leleng untuk semakin uwa haeng wulang langkas haeng ntala (perkembangan hidup menuju kebaikan dan kebenaran).

Relevansi

Konsep nai ca anggi dan tuka ca leleng mulai memudar. Ca nai dan ca leleng bagaikan mutiara yang semakin hari semakin ditelan bumi. 

Orang-orang Manggarai mulai melupakan mahakarya tersebut. Hal ini sangat jelas dalam pelbagai persoalan baik persoalan yang telah disebut di atas maupun persoalan yang luput dari kacamata penulis.

Namun, sesungguhnya, filosofi nai ca anggi tuka ca leleng sangat relevan dengan realitas persoalan Manggarai. Filosofi tersebut merupakan penenang riuhnya situasi kebencian. 

Bahkan nilai ca nai dan ca leleng dijadikan dan diakui sebagai jawaban dari persoalan-persoalan yang terjadi. Hal ini mungkin, apabila semua orang menyadari makna mahakarya tersebut dan kekuatannya.

Ca nai dan ca leleng merupakan senjata ampuh untuk memecah kebuntuan akibat pelbagai persoalan. Senjata ampuh ini bukan dalam pengertian alat perang. Istilah ini bermaksud untuk mengungkapkan ketajaman makna ca nai dan ca leleng. 

Bahwa, goet tersebut sangat dasyat untuk menyuarakan perdamaian bila ada persoalan dan perpecahan. Kekuatan cinta bila kebencian meraung siang pun malam. Sabar dan lembut hati bila ada kemarahan dan kekasaran. Murah hati dan rendah hati bila ada perasan keegoan dan keangkuhan. Gotong-royong, bahu-membahu, dan kesatuan dikala hidup harus berjuang sendiri. Rasa kekeluargaan dikala ada perpecahan. Dialog (ngopi) bila ada iklim kebuntuan. Keteladanan dan kebijaksanaan hidup bila ingin dipercaya menjadi 'tua' (sosok yang kaya dengan kebijaksanaan hidup dan menjadi contoh bagi orang lain sehingga dihormati dan dipercaya untuk menjadi pemimpin) dalam seni kehidupan. Senandung sajak persahabatan bila yang lain dianggap musuh.

Konsep nai ca anggi tuka ca leleng merupakan harmoni cinta kasih yang mendorong orang-orang Manggarai bersatu dalam semangat one spirit dan one caracter. 

Namun hal itu mengandaikan setiap pribadi menjadi aktor yang melantunkan syair-syair kebijaksanaan. Dan orang Manggarai menjadi orang pertama dalam mewujudkan eksistensi manusia yang berbudaya yakni budaya ala Manggarai.

Dalam konteks ini, kemandirian sangat diutamakan dalam penghayatan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya. Kemandirian merupakan seni pengungkapan keutuhan dalam kebersamaan. 

Setiap orang mampu berdiri sendiri dalam penghayatan nilai kebijaksanaan hidup. Dengan demikian nai ca anggi tuka ca leleng menjadi paduan kebersamaan dengan irama suara nan indah dalam perwujudannya.

Melihat pelbagai persoalan terjadi, kita sebagai orang Manggarai merenung. Saatnya kita berbenah. Kita kembali dalam budaya kita yang kaya dengan keaslian dan kebijaksanaan hidup. 

Kita mengikuti jejak-jejak leluhur, bekas jalan yang mereka lalui terukir gita cinta. Kita berjalan di bekas tapak mereka dengan cara moderen. Artinya, kita melakukan redefinisi tentang nilai-nilai budaya yang tidak jelas. 

Kita juga menekuni kebijaksanaan yang sudah diakui kebenarannya. Kemudian, kita mewariskan semua nilai budaya tersebut ke generasi berikutnya. Pertanyaannya, salahkah "aku" (saya, anda, kita) mengukir kembali jejak cinta (nai ca anggi tuka ca leleng) para leluhur di tengah riuh dan kerasnya dunia? Pertanyaanku ini terungkap dikala ganasnya dunia!                                            

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update