-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NATAL SEBAGAI SENANDUNG KESATUAN DALAM KEBERAGAMAN

Sabtu, 30 Desember 2017 | 11:48 WIB Last Updated 2020-02-22T13:51:42Z
NATAL SEBAGAI SENANDUNG KESATUAN DALAM KEBERAGAMAN
Gambar; youtube

Makna dan pesan  NATAL  sudah diketahui dan dihayati oleh kebanyakan orang Kristiani. Bahwa natal merupakan momen kelahiran Sang Mesias. 

Allah menjelma menjadi manusia dan dikandung oleh  Sang Perawan tanpa noda, lalu dilahirkan ke dunia. Seperti pernyataan St. Louis Marie Grignion De Montfort dalam buku Bakti Sejati, Allah datang ke dunia melalui Maria dan melalui Maria pula Dia berkuasa di dunia. 

Sang Mesias lahir bukan hanya bagi umat Kristiani, melainkan bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Dia datang untuk menyertai dan merajai seluruh manusia. 

Sebab Dia adalah Allah sekaligus manusia. Artinya, dalam diri-Nya ada sisi ke-Allahan dan sisi manusiawi-Nya. Dia adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia.

Kedatangan Allah ke dunia bermaksud untuk membawa keselamatan bagi umat manusia. Gambaran tentang keselamatan, hemat saya, salah satunya yakni menjadikan umat yang berbeda agama, suku, bahasa, ras, dan budaya menjadi senandung kebhinekaan yang harmonis.

Harmonisasi umat yang beranekragam menjadi kekuatan dan keindahan memesona. Bahwa Indonesia yang berbeda terlukis keindahan yang menjadi ruang dan momen yang sangat bagus dijadikan cermin kehidupan bagi negara-negara asing.

Tatkala Allah merupakan tujuan hidup yang dicari oleh seluruh umat manusia, berarti perbedaan bukan merupakan sekat-sekat dalam perpaduan relasi dan komunikasi.

Perbedaan merupakan kekayaan yang menyejukkan suasana hati dalam kekeluargaan, relasi dan komunikasi. Dari gambaran ini, kita bisa melihat adanya kesatuan dalam keberagaman. Bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang satu dalam pelbagai perbedaan.

Gambaran di atas bertitik berangkat dari pemahaman dasar tentang konsep Allah yang satu dan sama. Seperti yang terungkap dalam sila pertama Pancasila digambarkan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bahwa Indonesia yang berbeda-beda ini memiliki konsep yang sama tentang Allah yakni Allah Yang Maha Esa. Kita memiliki Allah yang satu dan sama. Lantas kita bertanya, mengapa kita harus menciptakan permusuhan sementara kita memiliki Allah yang satu dan sama?

Tatkala kita saling bermusuhan berarti kita belum menyadari dan menghidupi serta mewujudkan konsep Allah Yang Maha Esa di dalam diri kita masing-masing.

Orang yang menghayati makna spiritualitas berarti orang tersebut tahu mengasihi sesamanya seperti diri sendiri. Liyan (yang lain/sesama) bukan musuh melainkan "aku".

Gambaran tentang aku merupakan keseluruhan keberadaan diriku (buku filsafat Aku dan Liyan). Konsep aku ini bisa dikenakan padaku dan juga pada orang lain.

Artinya dalam diriku dan liyan ada aku. Kemudian, untuk apa ada permusuhan bila aku ada dalam diri yang lain dan aku juga ada dalam diriku. Apa bila saya memusuhi yang lain sama halnya saya memusuhi diriku sendiri.

Di tengah situasi yang kurang sedap sepanjang tahun 2017 ini, kita yang berbeda agama, suku, ras, bahasa dan budaya, diajak untuk "kembali". Momen kembali merupakan kesempatan agar kita tidak melanjutkan perjalanan yang tidak baik dan benar, semisalnya jalan permusuhan antar umat beragama, suku, ras, bahasa, dan budaya. Kita harus kembali ke jalan yang benar, seperti yang terungkap dalam butir-butir Pancasila.

Agar jalan kebenaran terungkap nyata, bagi umat Kristiani, natal menjadi momen sejarah yang sungguh bermakna.

Natal memiliki kekayaan makna dan pesan luar biasa. Natal merupakan terbitnya Sang Fajar Baru. Fajar Baru ini memancarkan jutaan atau lebih percikan cahaya kepada seluruh manusia, seperti cahaya perdamaian, persatuan, keadilan, kesatuan dalam perbedaan-perbedaan, cinta kasih, kepedulian, kebijaksanaan dan sebagainya.

Natal merupakan momen penting, merenungkan nilai-nilai spiritualitas untuk semakin menyuarakan nilai-nilai cinta kasih bagi sesama manusia.

Dengan pristiwa natal ini, kita diharapkan untuk menaburkan benih-benih cinta agar sesama manusia mengalami kemuliaan Allah. Hal ini akan tercapai apabila setiap pribadi manusia, termasuk saya, mengasihi Allah lebih dari apapun dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Dan salah satu hal praktisnya yakni setiap pribadi menjadi aktor untuk menyuarakan kesatuan dalam keberagaman dan mewujudkannya dalam kenyataan hidup.


DOA

Allah Yang Maha Esa, betapa luar biasa cinta kasih-Mu yang menjiwai umat manusia Indonesia. Kami bersyukur dan berterimakasih karena Engkau tetap merangkul dan membelai kami meskipun kami adalah orang berdosa.

Engkau sungguh setia mengasihi kami sehingga hingga saat ini kami tetap mewujudkan kesatuan dalam kebhinekaan di negara Indonesia ini.

Kami mohon, semoga dengan peristiwa natal ini, kami dilahirkan kembali dalam cinta, perdamaian, kesatuan, keadilan, kebijaksanaan dan sebagainya. Tuhan, Dikau kami puji kini dan sepanjang masa. Amin.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update