-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Semangat Magis Di Saat Malam Gelap

Jumat, 29 Desember 2017 | 14:21 WIB Last Updated 2020-02-21T08:32:00Z
Semangat Magis Di Saat Malam Gelap
Cahaya tiga lilin (Ilustrasi; pxhere.com)

Semangat magis bagaikan cahaya-cahaya tiga lilin (iman, harapan dan kasih) yang menerangi malam gelap. Dan tentunya kita mengetahui malam gelap atau badai hidup kita. 

Malam gelap merupakan bahasa puitis untuk mengungkapkan pelbagai kebuntuan, kesulitan, tantangan, badai menghempas, kebingungan, kebimbangan dan sebagainya. Malam gelap itu tak bertuan. Tidak peduli, badai itu menarik diri kita ke dalam gulungannya, lalu menghempasnya ke bebatuan yang tak bersahabat.

Dalam kehidupan setiap hari, entah sadar atau tidak, malam gelap selalu mendekat atau dekat dengan kita. Ketika sedang bekerja, duduk, istirahat, badai berusaha menghempas jiwa kita. Ketika kita mau berdoa pun, badai berusaha membelai kita supaya membatalkan niat kita untuk berjumpa dengan Tuhan. 

Singkatnya, ketika kita hendak merencanakan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran, malam pekat berusaha menggelapkan pikiran, perasaan, dan hati kita. Sebab salah satu karakternya adalah membantai. Dia tidak menghendaki kita berjalan di jalan kebenaran. 

Malam gelap sangat cerdik, licik dan pintar. Dia mampu mengambil keuntungan di setiap kesempatan. Dia bisa mengubah rupa seseorang atau hal-hal lain. Dia bisa berubah sesuai dengan kemauannya. Dia juga mampu menghalau kesadaran kita sehingga kita terbuai dalam ketaksadaran. Kita seperti berada di atas awan. Dan akal rasional dibekukan oleh daya hipnotisnya. Itulah malam gelap hidup kita.

Malam gelap yang dihadapi merupakan jurang kehidupan. Jurang yang menjebak kita dalam keadaan apapun. Hal itu disebabkan oleh karena kedosaan, keterbatasan, dan kelemahan diri. Kita tidak menghendaki malam atau badai kehidupan ini. Namun badai tersebut menginginkan kita terkapar mati di jurang. Suatu kegagalan bila roh badai tersebut tidak mampu menghalau diri manusia ke dalam jurang.

Untuk menghadapi badai kehidupan ini, kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Kita pasti membutuhkan pihak lain, semisal, orang tua, adik-kakak, keluarga, sahabat, ataupun pencinta anonim. 

Selain itu, hal paling utama yakni mengandalkan Tuhan di setiap kesempatan hidup. Kita mermbiarkan Tuhan menyertai dan membuka jalan cahaya bagi kita.

Tuhan adalah Aktor sejati yang menganugerahi kita semangat magis. Semangat magis merupakan semangat juang yang tak kenal lelah. 

Semangat magis berada dalam diri setiap pribadi dan berakar dari Yang Maha Kuasa. Semangat magis tidak mudah terjebak dalam setiap hempasan ombak. Kita tetap tangguh di setiap topan meniup.

Semangat magis merupakan semangat yang memacu kita ntuk melakukan aktivitas dengan kerja keras dan kerja cerdas. Semangat magis memampukan kita untuk mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan dengan cinta dan ketulusan. 

Dengan semangat ini kita ditantang untuk membuat perubahan demi perubahan dalam hal apa saja. Hal ini sangat jelas apa yang dikatakan dalam buku yang berjudul Menjadi Murid Yesus (Komisi Kateketik KWI). Bahwa semangat magis mendorong kita untuk melakukan habitus baru yakni perubahan diri dalam kaitan dengan pertobatan. Pertobatan itu dipahami dalam konteks natal yakni kelahiran.

Aroma dan situasi Natal sedang ada dalam diri kita. Kita sudah mengetahui pesan natal melalui apa yang kita baca, yang kita renungkan, ataupun yang kita dengarkan dari khotbah para pastor. 

Hemat saya, momen natal merupakan kesempatan kita membuka diri dan siap menyambut Sang Mesias. Kita membiarkan hati kita menjadi palungan agar Kristus lahir di sini, di hati kita masing-masing.

Kelahiran Kristus dalam palungan hati menjadi dasar kita dilahirkan kembali menjadi manusia baru disetiap aspek kehidupan. Dalam hal ini, kita menyadari semangat magis muncul dari Sang Mesias. Semangat magis bagaikan cahaya yang terpancar dari Fajar Pagi. Semangat magis memiliki tiga lilin yang menerangi perjalanan hidup kita.

Bila kita dilanda badai malam, tiga lilin tersebut merupakan benteng hidup kita. Tiga lilin itu selalu menyala di lubuk hati kita sehingga semangat magis berapi-api dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, jangan biarkan lilin-lilin itu redup oleh karena kedosaan, keterbatasan dan kelemahan serta ketidaktahuan kita. Kita berusaha menjaga lilin itu dengan menjalin relasi intim dengan Sang Mesias yang baru lahir dari Sang Perawan Suci, Maria.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update