-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KALVARI; KETUNTASAN MENGIKUTI JEJAK SANG GURU

Jumat, 02 Maret 2018 | 11:56 WIB Last Updated 2018-04-17T13:41:18Z



Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku " (Luk:9:23).
      
   SEKEDAR MEMULAI
Secara tradisi iman katolik, rabu abu adalah garis star untuk memulai perlombaan yang garis finishnya di kalvari. Mengawali perlombaan ini, Gereja membekali para peserta dengan mendengarkan kisah heroik sang juara bertahan yang bertarung selama 40 hari, 40 malam di padang gurun tanpa pengawal. Mendekati garis finish, sang juara bertahan diserang bertubi-tubi dalam tiga kesempatan. Karena lamanya perlombaan, maka sang juara bertahanpun merasa lelah, lapar dan haus. Sang musuh pun memanfaatkan kesempatan dengan mencoba mengakalinya dengan sebuah rayuan maut. Tetapi sang legenda tidak terbuai dengan rayuan sang musuh. Tiga kali serangan, tiga kali pula sang legenda menaklukan. Kisah ini memotivasi seluruh peserta lomba untuk sebisa mungkin sampai ke garis finish. Dan akhirnya bisa meraih panjí kemenangan. Bukan mahkota kemenangan karena tidak ada mahkota yang tersedia, yang ada ialah panjí berupa kayu yang melintang (salib).  

2PERLOMBAAN DIMULAI
Perlombaan ini bukan sekedar mengandalkan fisik belaka. Ini perlombaan mengandalkan banyak aspek dalam eksistensi manusia. Pertaruhannya ialah identitas dan eksistensi. Karena itu, aturannya sangat ketat. Sangat ketat hendak menjelaskan tidak ada CELA dan ruang kompromi murahan di dalamnya. Lintasan perlombaan pun tak semulus lintasan balapan mobil F-one dan motor GP. Lintasannya tidak ditentukan oleh panitia pelaksana (gereja), tetapi ditentukan berdasarkan kapasitas setiap peserta perlombaan. Aturannya pun, tidak persis sama bagi peserta. Ini perlombaan tingkat DEWA, kalau mau bilang begitu. Karena memang wasitnya ialah SANG DEWA. Inilah aturannya: setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Jelas dan berisi. Tidak ada cela untuk kompromi seperti pertandingan sepak bola dalam hal mengatur skor pertandingan. Bahkan tidak seorang pun berupaya mengajukan review ke komite olahraga internacional seperti yang dilakukan para pakar hukum indonesia yang sedang meriview UUDMD3 buah pemikiran anggota dewan yang menurut Roy Gerung adalah hasil kedunguan anggota dewan. Ini peraturan yang berbobot, bernas dan berakal. Maka darii itu pemenangannya ditentukan beberapa poin ini:  
    1.  MENGIKUT
Point penting dari aspek ini ialah MENGENAL. Sederhananya ialah kalau tidak mengenal, maka tidak mungkin MENGIKUT. Pepatah Indonesia: tidak mengenal, maka tidak disayang. Pertanyaannya ialah apa yang harus dikenal? Dan apa yang harus diikuti? Satu kunci dasar untuk para pemain sepak bola ialah MENGIKUTI apa kata pelatih. Dan dari sisi pelatih, dia harus MENGENAL karakter setiap pemain dan menempatkan mereka pada posisi yang pas agar mencapai target yaitu kemenangan. Jadi di sini ada hubungan timbal balik atau ada sebuah relasi mutualisme. Ada hasrat untuk mengenal dan hasrat untuk mengikuti.
Mengenal dan mengikuti dalam konsep dan permenungan masa pra-paskah adalah terkonsentrasi kepada satu sosok spesial yaitu Jesus. Mengenal Jesus berati mengenal jalan dan hidup (Akulah jalan dan kehidupan) dan mengikuti Dia berarti siap menderita bahkan nyawa adalah taruhannya (barangsiapa yang mengikuti Aku dia harus menyangkal diri). Mengenal dan mengikuti Jesus adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan sikap seperti Abraham ketika Tuhan meminta dia untuk mempersembahkan anaknya sebagai kurban yaitu kesetiaan dan pengorbanan. Kesetiaan Abraham terhadap permintaan Tuhan menghantar Abraham pada pengenalan yang tuntas pada eksistensi Allah. Pengorbanan Abraham yang tidak segan-segan membiarkan anaknya menjadi kurban bakaran untuk Allah, membuat Allah jatuh cinta pada Abraham yang pada akhirnya Allah sendiri berjanji kepada Abraham bahwa Allah akan memberkati keturunannya dan memperbanyak keturunan Abraham seperti bintang di langit dan pasir di pantai laut.  
Menengok sepintas kalvari sebagai perhentian terakhir dari perlombaan rohani kurang lebih 40 hari, maka bekal yang harus disiapkan untuk mencapai kalvari ialah kesetiaan dan pengorbanan. Kalvari itu ketuntasan cinta dan puncak orgasme dari mengenal dan mengikuti sang Guru. Tidak ada lagi rasa cinta yang bisa menandingi ketika membaringkan diri di atas kalvari. Tidak ada lagi bahasa verbal yang terungkap ketika berkanjang di atas kalvari selain desahan nafas karena puncak orgasme kegembiraan. Inilah rumusan final dari proses mengenal dan mengikuti selama masa pra-paskah. Saya menyebutnya masa mengenal rahasia sang Guru dan mengikuti resep sang Idola hingga tuntas. 
2      2. MENYANGKAL
Intisari utama dari menyangkal ialah KETEGUHAN. Karena lintasan perlombaan sangat tergantung pada kapasitas peserta dan sesuai dengan kehendak sang maestro (guru), maka keteguhan adalah pertaruhan harga mati. Sang guru pernah melintasi lintasan ini dengan memikul tiga buah kayu yang disilang. Lintasan berbatu-berbatu dan menanjak. Bisa dibayangkan betapa perihnya setiap sentuhan kaki pada lintasan ini. Saking buruknya lintasan ini, sang Guru pun tersungkur tiga kali. Tetapi walapun tersungkur tiga kali, dengan teguh sang Guru melanjutkan sampai garis finish.
Gereja katolik mematok beberapa rambu-rambu di sepanjang lintasan. Rambu-rambu ini bertujuan agar peserta lomba tidak melintas di jalur yang salah. Ada tiga rambu yang dipatok gereja berdasarkan arahan sang maestro. Ketiganya ialah memberi derma, berpuasa dan berdoa. Coba dibayangkan lebih mendalam. Sudah berjalan begitu lama selama 40 hari, masih juga diminta untuk memberi derma, berpuasa dan berdoa. Memang ini perlombaan tingkat dewa. Tidak semua atlet bisa berpartisipasi dalam perlombaan ini. Tantangannya pada penyangkalan diri. Ketika begitu banyak perempuan di sepanjang lintasan ingin menghibur sang Guru yang tertatih-tatih memikul tiga kepingan balok, Dia malah menolak untuk dihibur. Hiburlah dirimu sendiri. Seakan-akan hendak mengatakan, jalan berbatu dan tiga kepingan balok di pundaknya adalah sahabat yang menghiburnya.
Sebagai umat katolik, poin menyangkal diri adalah satu poin yang susah ditaklukan. Karena selalu tersaji menu lain untuk dinikmati di sepanjang lintasan. Maka dari itu, keteguhan adalah benteng untuk menghalangi tawaran itu. Dalam bahasa rohani, tawaran dunia selalu tersaji dengan indah. Dan keindahan selalu meluluhkan manusia. Petrus pun terbuai dan luluh lantah dengan keindahan tabor. Sampai-sampai membuat kemah untuk bisa bersetubuh secara intim dengan keindahan alam tabor. Pada hal, sang Guru melihat lain, keindahan tabor sudah memanipulasi Petrus. Sang Guru berkata ini hanya keindahan semata. Karena itu, mari kita temukan keindahan abadi di lorong-lorong Yerusalem. Sang Guru menolak berkemah di atas tabor karena sang Guru tidak mau bercinta lebih dalam lagi dengan keindahan tabor. Dia memilih untuk turun dan berkemah pada lorong Yerusalem.
Karena itu, gereja mengajak umatnya untuk tidak terbuai dengan keindahan duniawi. Karena keindahan duniawi banyak dihiasi fantasi. Temukan keindahan yang sesungguhnya dengan menyangkal keindahan itu sendiri. Ini butuh kebijaksanan kata Santo Monfort. Inilah yang diajarkan Yesus kepada Petrus. Yesus membimbing Petrus untuk menolak dengan teguh keindahan tabor. Karena keindahan tabor bukanlah keindahan kekal. Keindahan yang sesungguhnya adalah keindahan kalvari. Keindahan kalvari adalah ketuntasan dari keindahan rohani. Keindahan ilahi. Inilah tujuan akhir dari menyangkal dalam masa pra-paskah. Menyangkal keindahan duniawi untuk bisa menemukan keindahan kalvari. Karena itu, menyangkal diri adalah seni untuk menemukan keindahan ilahi dalam diri sang Guru. Dan itulah kalvari. 
3     3. MEMIKUL
Urat nadi dari MEMIKUL dalam konteks tulisan ini ialah penyerahan diri. Santo Montfort menyebutnya TOTUS TUUS. Memikul mengandaikan adanya kesiapsediaan. Kesiapsediaan adalah buah sulung dari penyerahan diri yang total. Sang Guru memikul tiga keping balok yang disilang di pundak-Nya adalah ungkapan ketuntasan penyerahan diri, bukan saja pada kehendak Allah, Bapa-Nya tetapi keutuhan cinta-Nya tanpa cela pada manusia.
Masih ingat perintah sang Guru pada Petrus di danau genesaret untuk menebar jala ke tempat yang lebih dalam. Petrus mengikuti perintah sang Guru dan akhirnya Petrus menangkap banyak ikan. Poinnya adalah Petrus yang adalah maestro soal menjala ikan, tahu seluk beluk dunia laut, di mana ada ikan dan kapan ikan muncul. Akan tetapi tiba-tiba, Yesus menyuruhnya untuk menjala. Celakanya lagi pada pagi hari. Ikan dari mana yang muncul ke permukaan pagi hari. Tetapi karena kesiapsediaan Petrus pada sang Guru, karena dia melihat dari sisi yang berbeda, bukan dari sisi ilmu kelautan, dia melaksanakan perintah itu. Dan berhasil menangkap banyak ikan.  
Apa yang harus kita pikul selama masa pra-paskah ini? Jawabannya ialah apa saja bisa kita pikul. Para santo mengatakan kayu yang dipikul Yesus adalah lambang kedosaan manusia. Beratnya kayu itu adalah reprsentasi kedosaan manusia sehingga Yesus jatuh tersungkur tiga kali. Tetapi kayu yang berat itu berubah menjadi simbol kemenangan Yesus. Karena itu, mari kita memikul apa saja, buka saja dosa tetapi juga kesucian kita. Kita pancangkan kedosaan dan kesucian kita di atas tiang kemenangan kalvari. Karena kalvari adalah ketuntasan cinta Allah yang mengubah kedosaan menjadi kesucian, dan kesucian mendatangkan rahmat berlimpah. Memikul salib hingga kalvari adalah sebuah TOTU TUUS. Kalvari bukan lagi bukit tengkorak. Kalvari adalah bukit cinta. Bukit yang mensimpulkan cinta dan benci. Cinta menjadi anak tangga ke loteng sang Guru untuk berpesta pora bersama pemenangan yang sudah terlebih verada di singgasana sang Guru dan benci dilebur menjadi benar-benar cinta. Inilah ketuntasan kalvari. Inilah rahasia perlombaan sesungguhnya. 
  
3     AKHIR PERLOMBAAN
Akhir dari perlombaan adalah kemenangan. Pemenangan dari perlombaan ini tidak tunggal. Tidak tunggal hendak mengatakan bukan milik individu. Para pemenang tidak ditentukan siapa yang tiba duluan. Memang ini perlombaan tingkat DEWA. Wasit tidak memegang arloji untuk mencatat waktu. Wasit tidak menunggu di garis finish. Tetapi wasit juga menjadi supporter.
Pemenang adalah mereka yang dengan sungguh-sungguh mengikuti aturan perlombaan yaitu memberi derma, berpuasa, berdoa. Peserta lomba wajib mengikuti aturan itu. Dia harus pikul dalam hati dan ingatannya dan menyangkal segala sajian yang tersaji sepanjang lomba. Waktunya tidak dibingkai dengan angka 1-24. Waktunya dibatasi oleh eksistensi manusia itu sendiri. Bahwa eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah akan berakhir ketika sang Guru meniup pluit terakhir untuk dia. Akhirnya kalvari itu bukan terletak di ujung lintasan, karena memang kalvari itu ketuntasan cinta sang Guru pada muridnya. Kalvari berada di sepanjang lintasan perlombaan. Kalvari: ketuntasan mengikuti jejak sang Guru.

Oleh: P. Michael Jeffry Kellen, SMM 
Penulis adalah seorang imam Montfortan. Beliau melakukan tugas perutusannya di Ecuador.

Ket.: Gambar diambil dari google

×
Berita Terbaru Update