-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENDIDIKAN TRANSFORMATIF: Paradigma Baru Kebijakan Pendidikan Di Indonesia

Kamis, 29 Maret 2018 | 12:26 WIB Last Updated 2018-04-03T04:45:06Z
(Ilustrasi dari google)

    Kehidupan manusia di abad ke-21 banyak mengalami perubahan sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan tersebut mampu mengubah keseluruhan eksistensi diri manusia. Manusia boleh dikatakan masuk dalam dunia tanpa batas. Dunia tanpa batas adalah dunia di mana ruang relasi manusia menjadi sangat luas. Komunikasi menjadi mudah dalam sebuah gengaman manusia. Melihat realitas seperti ini, pertanyaan yang mendasar adalah, apa yang dilakukan manusia dalam menghadapai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Pertanyaan ini menggelitik hati untuk berpikir cerdas, out of the box. Sebab perkembangan zaman merupakan sebuah tantangan sekaligus ”opportunity” untuk mengubah cara pandang dan cara berpikir manusia, bagaimana tantangan itu menjadi sebuah peluang. Di sinilah pendidikan itu harus menunjukan jati dirinya sebagai esensi dari pendidikan tersebut.
    Pendidikan harus memiliki visi dan misi yang mampu mengubah mentalitas manusia untuk semakin berpikir cerdas. Dalam pembukaan UUD 1945 sangat jelas bahwa esensi dari sebuah pendidikan adalah mencerdasakan kehidupan bangsa. Artinya masyarakat Indonesia wajib mengeyam pendidikan. Tujuan pendidikan itu yakni mengubah peradaban masyarakat.  

Pendidikan Transformatif

    Pendidikan transformatif merupakan proses terus menerus yang menghantar manusia ke arah kedewasaan. Manusia berusaha untuk mengarahkan dirinya baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan, seni dan juga hal lainnya. Seluruh proses pendidikan membentuk masyarakat menjadi mandiri. Manusia mengetahui arah, ke mana hidup ini digerakan.
    Pendidikan transformatif harus mengubah paradigma manusia dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Pendidikan harus bersifat dinamis dan tranformatif menuju masyarakat yang lebih baik. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah latihan dan pengembangan diri dalam kaitannya dengan nilai pedagogik dan keterampilan
    Di era ke-21 UNESCO mengedepankan pendidikan dengan merumuskan visi dasar pendidikan tersebut. Visi dasar pendidikan mencakup empat pilar pendidikan. Pertama. Learning to know yaitu kemampuan mengasah daya rasionalitas dan keberanian untuk bersikap kristis terhadap realitas yang ada. Kita belajar terus menerus untuk mengasah daya kreatif, eksplorasi dan imajinasi. Singkatnya bahwa learning to know adalah belajar mengembangkan inteletual untuk menjadi manusia cerdas. Kedua, Learning to do yaitu belajar untuk menghasilkan sesuatu yang berguna atau bermanfaat. Manusia belajar keterampilan (skill) dalam melakukan pekerjaan termasuk dalam memecahkan sebuah masalah. Ketiga, Learning to live together yaitu belajar untuk hidup bersama orang lain. Dalam penerapan pendidikan peserta didik harus diarahkan pada kesadaran bahwa kita hidup bersama orang lain.  Maka yang dibuat adalah penanaman sikap tanggung jawab, pengembangan sikap toleransi, cinta damai dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Keempat, learning being and to be berarti kita tidak hanya sekedar ada tetapi kita harus belajar untuk menjadi. Manusia belajar untuk menjadi diri sendiri “be our self”. 
    Dalam rancangan strategi departemen pendidikan Nasional tahun 2014 dirumuskan pendidikan transformatif yaitu melahirkan insan yang cerdas. Kecerdasan-kecerdasan tersebut di antaranya adalah Kecerdasan intelektual (IQ) yaitu melatih cara berpikir logis untuk menjadi pribadi yang kritis, kreatif, dan imajinatif dalam menghadapi tantangan zaman. Kecerdasan emosional (EQ) yaitu peserta didik dilatih untuk menjadi pribadi yang memiliki rasa akan keindahan seni dan budaya. Kecerdasan spiritual (SQ) yaitu pendidikan harus mampu mengelolah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat iman akan Tuhan. Kecerdasan sosial yaitu pendidikan harus mampu menumbuhkan sikap sosial terhadap peserta didik dan menumbuhkan semangat intraksi sosialnya bersama yang lain.

Paradigma Pendidikan Transformatif

   Pendidikan adalah sarana atau modal untuk mengubah sumber daya manusia. Sebuah negara dikatakan maju apabila sumber daya manusia meningkat. pendidikan Indonesia saat ini masih sangat rendah, bahkan di antara negara-negara ASEAN, Indonesia berada di urutan ke 5. Dalam hal ini, ada yang keliru dalam sistem pendidikan Indonesia.
    Pendidikan di era abab ke-21 harus menyentuh kesadaran manusia bahwa hidup tidak hanya sekedar “ being” atau “ada” tetapi harus “to be” atau “menjadi”. Teminologi ini menyadarkan manusia menemukan esensi dari hidup dan kehidupan. Kita perlu belajar dari konsep pendidikan Paoulo Fraire yang ditulis dalam Pedagogy of the Oppressed. Dalam buku tersebut Paulo Fraeire lebih megedepankan kesadaran manusia. Konsep pendidikan Fraire muncul ketika masyarakat Brazil zaman itu mengalami keterpurukan hidup, kemiskinan dan penindasan. Paulo Fraire mengatakan bahwa mengubah taraf hidup manusia tidak lain adalah pendidikan.  Pendidikan itu harus menyentuh kesadaran manusia. Dia mengatakan pendidikan itu seperti “membangunkan orang yang sedang tertidur kepada kesadaran”. Pendidikan itu harus mengubah cara pandang supaya manusia menyadari keterbatasan dirinya. Ketika manusia menyadari keterbatasan realitas dirinya maka dia mencoba untuk keluar dari keterpurukan hidupnya. Pendidikan yang ingin dikembangkan oleh Fraire adalah mengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.
   Bagaimana paradigma pendidikan transformatif itu? Ada seorang tokoh yang sangat terkenal, Thomas Lickona mengsulkan bahwa paradigma baru pendidikan tranformatif adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter memiliki proses yang sangat baik. Thomas Lickona menyebut pendidikan karakter yakni Knowing the good, desiring the good, dan doing the good. Proses pendidikan karakter menyentuh esensi pendidikan. Artinya bahwa pendidikan itu tidak hanya dimengerti sebagai transfer ilmu saja, melainkan transfer seluruh tatanan nilai kehidupan manusia. Pendidikan itu harus mampu mengubah manusia menjadi manusia utuh baik kecerdasan intelektual, emosional maupun kecerdasan spiritrual.

    Dari uraian di atas kita menemukan paradigama baru yaitu menciptakan masyarakat yang kritis, kreatif, dan imajinatif. Cara untuk mencapai semuanya itu adalah pendidikan harus ditempatkan di atas segalanya. Karena pendidikan itu mampu mengubah mentalitas manusia. Namun dalam hal ini menurut Prof Amarda Riyanto mengatakan kita sebagai pelaku pendidikan masih terlampau memosisikan diri sebagai penonton. Kita  belum sungguh-sungguh menjadi “produser” pendidikan tersebut. Bukan hanya karena saluran internet yang sangat lambat dan mengenaskan, melainkan terutama karena kita kurang memiliki skema-skema baru mengenai kesadaran keadilan pemerataan pendidikan bagi setiap masyarakat yang ada di Indonesia ini.

Oleh: Robinson



×
Berita Terbaru Update