-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi Ritual Bebadi suku dayak Barai: Sebagai Medium Perjumpaan

Jumat, 23 Maret 2018 | 10:15 WIB Last Updated 2020-07-10T05:03:29Z

“Kritikus yang membenci pidato puitis, mereka sangat mungkin untuk bersikap dangkal dalam mengkajinya, dan untuk memberi tahu mereka gagasan yang tidak mereka pegang, daripada menemukan apa yang benar-benar mereka pikirkan dan ketahui”
(Sussane K. Langer)

Bila kita membuka mata kita selebar-lebarnya atau membuka ruang refleksi seluas-luasnya, kita pasti akan menemukan bahwa tidak ada satu hal pun tampak sia-sia. Seperti hidup sarat mati atau mati sarat hidup, semuanya punya tujuan dan arti tertentu dan itu menjadi satu kesatuan dalam kehidupan.
Dewasa ini pepatah tradisional dan atau syair-syair tradisional sudah memudar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Lalu apa konsekuensinya? Bagaiman kita harus bersikap?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebetulnya terarah kepada kita saat ini, sebab kitalah penentu eksistensi kebudayaan lokal selanjutnya. Kita seringkali terjebak dalam rutinitas yang kurang produktif, sehingga lupa mengekspresikan kekayaan kualitas diri kita. Ini tidak sedikit terjadi dalam lingkungan orang muda, termasuk saya. Orang muda zaman sekarang (tidak semua) atau zaman now’ tidak lagi tertarik dengan syair-syair puitis-reflektif terlebih syair-syair tradisional yang memiliki makna yang sangat mendalam. Salah satu alasan yang mungkin dapat diamini yakni bahasa-bahasa tradisional merupakan bahasa sakral, digunakan dalam acara-acara tertentu dan sulit dimengerti.
Tetapi sebagai pewaris kebudyaan, setidaknya kita tahu akar dari kebudayaan kita sendiri, terutama lewat syair-syair lisan yang bersumber dari tumenggung atau tokoh-tokoh adat yang memiliki otoritas untuk hal tersebut.
Dalam tulisan ini, penulis hendak menguak kembali makna dari syair/puisi pembukaan ritual BEBADI dalam suku Dayak Barai-Kalimantan Barat.

Syair Asli (Teks)-Bahasa D. Barai
Terjemahan Harfiah (Indonesia)

1.      “Sak, duak, tigak, mpat, limak, enam, tijoh. Tujoh kali ke mata ari mati, mata ari lusi, mata ari busak, mata ari lolak, mata ari padamp, mata ari tangolamp, madamp ka badi tumae`, pamodeh, panyakit, pokak’ngk wodat’nt, baek ka mata ari mati, mata ari busak, mata ari lolak, mata ari padamp, mata ari tangolamp”


1.      Satu...dua...tiga...empat..lima...enam...tujuh. Tujuh kali ke matahari mati, matahari hilang, matahari padam, matahari hancur, matahari padam, matahari tenggelam, memadamkan ‘badi’ (secara harfiah berarti indikasi penyebab seseorang menjadi sakit), Penyakit, terhalang/penghalang, di bawa ke matahari padam, mata hari hancur, matahari padam, matahari tenggelam

Makna Harafiah

Bebadi merupakan Ritual penyembuhan orang sakit bagi suku Dayak Barai dan dayak Lebang Nado. Pertanyaannya adalah kepada siapa puisi/syair itu ditujukan? Apa maksudnya?
Dalam suku Dayak Barai, demkian kata seorang ketua adat Dayak Barai-desa Nanga Lidau yaitu bapak Hieronimus Gompau bahwa orang Dayak Barai mengaku adanya 7 realitas yang menguasa alam semesta dengan Tuha’tn sebagai wujud tertinggi pencipta semua yang ada termasuk 7 realitas yang diyakini sebagai wakil Tuha’tn untuk mengolah menjaga dan melindungi bumi. Ketujuh realitas tersebut masing-masing mengemban satu tugas tertentu dan memiliki hubungan khusus dengan manusia penghuni Bumi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:  

a.       Tingkat yang terendah

Inek sengiang tonong. Sebagai tempat bertanya.
b.      Petara pesileh: sebagai tempat untuk besileh anak ke 7.
c.       Petara empatongk: Untuk menggantikan orang yang sakit
d.      Petara tajo: ngubat pemodeh yang kuat/ mendadak. Berdoa ke petara tajo.
e.       Petara tajah: Untuk betajah. Penyakit yang berat. Berbagi umur.

Makna Simbolis:



“Sak, duak, tigak, mpat, limak, enam, tijoh. Frase ini merupakan manifestasi dari ke 7 realitas tersebut, untuk menyapa secara simbolis penguni alam semesta yang bersangkutan atau bisa dikatakan sebagai syair pembuka percakapan. Sedangakan pada kalimat ini “Tujoh kali ke mata ari mati, mata ari lusi, mata ari busak, mata ari lolak, mata ari padamp, mata ari tangolamp” berupa ucapan simbolis yang mewakili si sakit oleh penyair atau tukang bebadi untuk menyampaikan permohonan atau keluhan dari si sakit dan pada akhirnya madamp ka badi tumae`, pamodeh, panyakit, pokak’ngk wodat’nt, baek ka mata ari mati, mata ari busak, mata ari lolak, mata ari padamp, mata ari tangolamp” dengan mengucapkan kalimat ini  diharapkan si penghuni alam semesta (7 realitas) tersebut mendengarkan keluh si sakit dan memulihkan penyakitnya laksana matahari busak (terbenam) demikian pula rasa sakit si sakit karena kesaktian dari realitas tersebut menyembuhkannya. Demikianlah selanjutnya. Akhirnya, syair ini sebetulnya mengundang kita untuk merenung sejenak bahwa bahasa tradisional sangat penting dipelajari sebab dari sinilah kita mengetahui bagaimana relasi nenek moyang kita dahulu berelasi dengan alam semesta. Jadi ada semacam kebertalian antara bahasa dan manusia, alam dan bahasa, alam dan manusia, masing-masing memiliki medium tersendiri yakni syair/bahsa puitis.
Dalam kutipan Sussane K. Langer di atas dapat kita pahami bahwa dia hendak mengajak kita untuk terus-menerus melestarikan, menghargai, mencintai dan memahami arti penting sebuah puisi, sepremitif apa pun itu, sebab baginya "Simbol adalah sesuatu di mana orang-orang sensitif mengenali nasib potensial mereka.

Oleh: Fr. Siong, SMM
×
Berita Terbaru Update