-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KELUAR DARI GUA: MENUJU KEBEBASAN SEJATI

Rabu, 04 April 2018 | 22:27 WIB Last Updated 2018-04-04T15:45:17Z


    Di bagian belakang gerbang Universitas Islam Negeri (UIN) Malang terdapat banyak lukisan dan memo dalam rangka memperingati hari bumi Nasional, 22 April 2016. Dalam sebuah memo terpampang sebuah pernyataan menggeletik, “Surga Kecil jatuh ke Bumi” dan di sampingnya lagi ada sebuah pernyataan, “Keserakahan manusia menghancurkan bumi (surga kecil)”. Bumi ini adalah surga atau firdaus yang dihadiahkan kepada manusia dan ciptaan lainnnya. Akan tetapi, ada sebuah kekuatiran ketika bumi ini berubah menjadi tempat yang menakutkan.
    Firdaus adalah simbol kenyamanan. Firdaus adalah simbol suka cita. Firdaus adalah simbol keteraturan. Dan akhirnya, firdaus adalah surga. Ketika atribut-atribut firdaus yang dikenakan kepada bumi dirobek dan diobrak-abrik oleh keganasan manusia, kini semuanya telah berubah. Keteraturan berubah menjadi ketidakteraturan. Sukacita berubah menjadi dukacita. Surga berubah menjadi neraka. Keadaan bumi seperti inilah yang diuraikan dalam konsep, kembalikan firdaus yang hilang. Atau dengan kata lain, firdaus yang hilang adalah realitas malum (keburukan).  Firdaus yang hilang merupakan realitas fisik yang telah hancur.
    Firdaus yang hilang berarti firdaus yang tidak lagi permai seperti sediakala. Keindahannya telah sirnah. Muncul banyak fakta kerusakan bumi (firdaus), Pencemaran udara di perkotaan di Indonesia, khususnya sektor transportasi, mengancam kehidupan masyarakat. Berbagai masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat pencemaran itu berdampak langsung pada beban biaya kesehatan masyarakat. Penggusuran dan penggalian besar-besaran yang mengakibatkan terjadinya kerusakan hutan di mana-mana.
    Erich Fromm, lewat bukunya yang sudah hampir klasik ketika orang berbicara tentang kekerasan, yakni The Anatomy of human Destructivness (1973), memperoleh titik temunya dengan kondisi kejiwaan sebagai masyarakat akhir-akhir ini. Dia membedakan antara hasrat biofilus (cinta kehidupan) dan nekrofilus (cinta kematian, kehancuran dan kekerasan). Fromm menyebut adanya tindakan-tindakan nekrofilus yang tak-disadari berupa perilaku yang sudah menjadi kebiasaan, seperti kecenderungan seseorang untuk merusak benda-benda indah seperti bangunan, mencabut daun-daun bunga, atau dalam kasus yang lebih tinggi melukai tubuhnya sendiri.  Dari pernyataan Fromm, kita bisa melihat dalam kasus yang lebih ekstrim menghancurkan ibu ‘bumi’.
    Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan ‘hati nurani’. Alam begitu saja dieksploitasi dan dihancuri tanpa rasa berdosa. Fakta-fakat berikut sering terjadi; pencemaran udara, pencemaran air, pertambangan, dan kerusakkan alam merasuki kehidupan sejarah manusia. Dalam sebuah harian kompas diberitakan, polusi udara pemicu penyakit. Investasi dorong eksploitasi lahan secara massif. Pencemaran udara di perkotaan di Indonesia, khususnya sektor transportasi, mengancam kehidupan masyarakat. Berbagai masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat pencemaran itu berdampak langsung pada beban kesehatan.  Alam semakin tak bersahabat. Itulah yang dapat dikatakan tentang realitas yang terjadi. Kesadaran akan adanya krisis lingkungan hidup menimbulkan berbagai gerakan untuk kembali mengais dan belajar dari Gereja. Gereja dengan getol membela penggusuran dan pengeksploitasian bumi.
    Berhadapan dengan persoalan ini, bagaimana Gereja melihat realitas kehancuran ini? Gereja pun hidup di tengah dunia dengan berbagai persoalannya. Konsekuensinya, Gereja harus solider terhadap situasi dunia.  Solidaritas adalah salah satu soko guru dan prinsip Gereja Katolik dalam memperjuangkan keadilan dan pembebasan  berhadapan dengan persoalan kerusakan lingkungan hidup. Solidaritas Gereja bersumber dari solidaritas Yesus kepada orang miskin dan orang yang diperlakukan tidak adil. Inilah roh pembebasan dalam diri Gereja. Gereja berani bergelimang di dalam lumpur persoalan yang terjadi. Ia berani ‘keluar’ dari kenyamanan pribadi demi menyalamatkan alam ciptaan.

Nasib Ibu di Tangan Malinkundang: Realitas Kehancuran Alam
            
    Bumi adalah ibu yang memiliki Rahim. Ia memiliki banyak khazanah berharga dan menampung beragam sumber kehidupan. Seorang anak, sebelum dilahirkan berada dalam rahim sang ibu. Rahim itu menyimpan sejuta benih-benih kehidupan. Setelah hadir di pertiwi ini, manusia pun diajarkan untuk memelihara sang ibu ‘bumi’. 
    Malin Kundang merupakan cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat.  Cerita ini terkenal di bumi pertiwi. Dikisahkan bagaimana seorang anak yang menyangkal dan menolak kehadiran ibunya. Ia lupa daratan dan dari mana asalnya? Ternyata kesabaran juga punya batas. Sang ibu mengutuk anaknya sendiri. Akhirnya ia pun mati tragis, menjadi batu. Nasib ibu Malinkundang kurang lebih seperti nasib ibu (Bumi) yang dirusakkan di atas tangan anaknya. Dirusakkan oleh keserakahan anak-anaknya sendiri.
    Menurut evaluasi mutu udara perkotaan pada 40 Kota di tanah air tahun 2015, indeks rata-rata mutu udara 83, 53%. Itu bisa ditingkatkan signifikan jika mutu bahan bakar diperbaiki.  Dari data tersebut masih ada peluang untuk memulihkan kembali kerusakan yang ada. Aksentuasinya, dibutuhkan kesadaran dari publik untuk melihat hutan sebagai unsur yang vital dalam kehidupan.
    Keserakahan manusia merusakan bumi. Sekitar 70 persen kerusakan lingkungan di Indonesia disebabkan oleh operasi pertambangan. Industri ekstraktif ini dengan mudah melabrak dan mengakali berbagai aturan yang bertentangan dengan kepentingannya, termasuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH). "Bahkan, UU No 32/2009 dianggap sebagai penghambat investasi. Tak heran, undang-undang ini terus diabaikan dan pelan-pelan dipereteli kekuatannya," kata Priyo Pamungkas Kustiadi, Media Communication and Outreach Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), di Jakarta, Jumat (28/9/2012). Hampir 34 persen daratan Indonesia telah diserahkan kepada korporasi lewat 10.235 izin pertambangan mineral dan batubara (minerba). Itu belum termasuk izin perkebunan skala besar, wilayah kerja migas, panas bumi, dan tambang galian C. Kawasan pesisir dan laut juga tidak luput dari eksploitasi, lebih dari 16 titik reklamasi, penambangan pasir, pasir besi, dan menjadi tempat pembuangan limbah tailing Newmont dan Freeport. Demikian juga hutan kita, setidaknya 3, 97 juta hektar kawasan lindung terancam pertambangan, tak luput keanekaragaman hayati di dalamnya.  Bumi Indonesia hampir sebagian besar telah rusak. Fakta di atas pun dapat kita cermati dari situasi Kalimantan dengan pertambangan sawit, Papua dengan Freeport, Flores dengan semakin meningkatnya penggalian pertambangan.
    Tak hanya hutan, sungai kita pun dikorbankan. Jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak parah meningkat dalam 10 tahun terakhir. Dari sekitar 4.000 DAS yang ada di Indonesia, sebanyak 108 DAS mengalami kerusakan parah. ESDM dinilai melakukan pembiaran atas kehancuran ini dan dibayar dengan kematian warga, kerusakan lahan, dan berubahnya pola ekonomi masyarakat. Melihat kondisi inilah, Jatam menuntut secara tegas agar Energi dan Sumber Daya Mineral tunduk kepada UU No 32/2009 dan tidak mengintervensi Kementerian Lingkungan Hidup, segera menghentikan izin usaha pertambangan dan mengevaluasi perusahaan yang merusak lingkungan, menutup segera tambang di wilayah hutan untuk menahan laju daya rusak tambang.   Kerusakan yang terjadi sungguh menyadarkan publik, ada sesuatu yang hilang sesungguhnya. Berhadapan dengan kerusakan ini apa yang mesti dilakukan oleh manusia Indonesia?
    Selain itu, adanya sebuah penemuan menipisnya lapisan ozon. Akhir-akhir ini, para ilmuwan resah karena terjadi menipisnya lapisaan ozon. Lapisan ozon merupakan unsur penting dalam atmosfir ini.
    Lapisan ozon berfungsi sebagai pelindung terhadap sinar ultra violet yang datang berlebihan dari sinar matahari. Sinar ultra violet yang tidak difilter oleh lapisan ozon berbahaya bagi manusia. Selain itu sinar ultra violet yang tidak difilter lapisan ozon mengakibatkan kenaikan suhu bumi. Dari sini, dapatlah dilihat bahwa lapisan ozon sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia.
    Ozon yang ada pada lapisan atmosfir bawah sekitar 0, 02 ppm, sedangkan ozon yang ada pada lapisan atmosfir sekita 0, 1 ppm. Kerusakan lapisan ozon disebabkan karena bereaksi dengan radikal chlor. Radikal Chlor berasal dari senyawa pendingin AC, lemari es dan juga digunakan pada bahan penyemprot insektisida, penyemprot cat, penyemprot rambut, penyemprot parfum serta pada pelarut bahan pencuci kering.
02 + Sinar Matahari (ultra violet) -----> O + 0
O2 + 0 --------> O3 (Ozon)
    Kerusakan lapizan ozon pada saat ini adalah terlihat di atas kutub selatan, berupa lubang ozon atau ozone hole. Apabila tidak dicegah, lubang ozon akan makin melebar, tidak tertutup, dan mungkin sampai ke daerah katulistiwa.                
    Data-data historis sudah melatah dalam kehidupan manusia. Saking melatahnya, orang lupa untuk mencari blue-print (cetak-biru) untuk direfleksikan. Ketika nalar dan hati berpadu merenungkan kehancuran bumi ini, lantas apa yang dilakukan Gereja? Inilah yang akan dikupas pada pembahasan selanjutnya.
    Sebelumnya kita melihat peraturan-peraturan pemerintah dalam Analasis Mengenai dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (LN RI Tahun 1990 No. 49; TLN No. 3419), Undang-udang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang (LN RI Tahun 1992 No. 115; TLN No 3051), Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolahan Lingkungan Hidup (LN RI Tahun 1997 No. 68; TLN No 3699), Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 No. 59; TLN No. 3838), dan Keputusan Presiden No. 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Pembangunan).   Solidaritas Gereja penting dengan mengeluarkan ensiklik dan juga dokumen-dokumen tentang manusia dan ekologi. Manusia tidak hidup sendiri. Ia selalu ada dalam kesatuan dengan bumi. Selain itu pijakan Gereja dalam berbicara adalah segi-segi alkitabiah. Karena dikatakan bahwa pada mulanya bumi ini adalah indah-firdaus bagi manusia.

Solidaritas Gereja

    “Bumi (firdaus) merupakan rumah kita bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka,”  demikian seruan Paus Fransiskus dalam “Laudato Si”.  Paus Fransiskus melihat ibu pertiwi atau dalam tulisan ini adalah firdaus berwajah seorang perempuan. Ia memanggilnya dengan saudari, seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka. Dengan kata lain firdaus itu memiliki rahim yang melahirkan berbagai jenis kehidupan. Kegagalan manusia menjaga firdaus merupakan sebuah bentuk kesalahanan menggunakan kekuasaan.
    Saudari ini (bumi) sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan. Ia “mengeluh dalam rasa sakit bersalin” (Roma 8:22). Kita lupa bahwa kita sendiri dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2:7); tubuh kita tersusun dari partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya.
Betapa tidak. Indonesia tengah dilandari krisis lingkungan hidup. Alam yang tersedia menjadi sumber pencarian nafkah. Alam juga berperan dalam pembentukan kebudayaan dan langsung mempengaruhi hidup manusia.
    Alam selalu memelihara manusia. Panggilan setiap manusia adalah untuk menjaga dan memeliharanya sebagaimana Allah telah memberikannya kepada manusia. Ada banyak refleksi tentang alam sebagai ibu yang harus dijaga, dirawat, dan dipelihara. Dalam kutipan ‘Nyanyian Homer XXX, dari sastra Yunani Kuno tentang bumi sebagai ibu segala sesuatu (The Eart, Mother of All).
    Aku akan bernyanyi tentang Engkau, peletak dasar bumi, Ibu segala sesuatu, yang tertua dari segala yang ada. Dia memberi makan kepada semua ciptaan yang ada di dunia, semua yang merayap di atas bumi dan yang berenang dalam laut dan semua yang terbang di udara. Semuanya mendapat makan dan persediaan atau lumbungnya. Melalui Engkau, Sang Ratu, umat manusia diberkati dengan panen. Engkau juga yang memberi makna kehidupan bagi manusia yang fana dan Engkau yang mengambilnya kembali. Kebahagiaan orang yang merasa senang dihormati. Ia memiliki segala sesuatu dengan melimpah: tanahnya subur melimpahi gandum, ladangnya ditutupi ternak dan rumahnya dipenuhi barang-barang yang baik. Laki-laki seperti itu memerintah dengan tertib di kota, didampingi perempuan-perempuan adil, kekayaan, dan kemakmuran menyertai mereka. Anak-anaknya laki-laki terus menerus bersukacita dan anak-anaknya perempuan bermain dan berloncatan di atas taman bunga yang lembut sambil menggenggam kembang. Begitulah engkau dihormati Dewa Suci, yang melimpah. Elukanlah Ibu dewa-dewa, istri langit berbintang. Limpahilah aku dengan leluasa atas nyanyianku ini. Dan aku juga akan terus mengingat engkau dan menyanyikan nyanyian lain juga.

    Menurut konsep orang Flores tanah adalah “tempat yang suci, agama kami (Sebelum orang mengenal Katolik)” Seperti diungkapkan oleh warga Labuan Bajo dari gerakkan menolak pembangunan pertambangan: “Pertalian batin kami dengan para nenek moyang adalah filsafat hidup dan sumber reproduksi masyarakat kami. Anak-anak kami tumbuh bermain di sekitar batu-batu yang menandai tanah kuburan nenek moyang kami. Tanpa adanya ikatan batin dengan kehidupan nenek moyang dan warisan tanah yang diberikan, hidup kami kehilangan arti.” Pada sebuah peta politik, batas-batas antara negeri sudah sangat jelas. Akan tetapi dalam sebuah peta kompetitif, sebuah peta yang menunjukkan aliran riil dari aktivitas keuangan, batas-batas ini hilang. Ekonomi tanpa batas.
     Dari dasar alkitabiah bias dilihat pengalaman hidup tentang kehadiran yang ilahi di tengah sejarah merupakan fondasi iman umat Allah. Maka, dalam ensiklik Cantesimus Annus, Yohanes Paulus II mengatakan, “maka manusia mesti tidak boleh melupakan bahwa kemampuannya untuk mengubah dan dalam arti tertentu menciptakan dunia melalui kerjanya…selalu harus didasarkan pada pengaruniaan segala-galanya oleh Allah menurut maksud semula.” 
     Sikap dan pandangan menghormati lingkungan hidup mempunyai inti terdalam pada pengalaman akan Allah. Pengalaman bertumbuh tahap demi tahap. Kosmos memiliki intimasi mesra dengan ciptaan lainnya. Lingkungan hidup adalah harta milik bersama yang perlu dijaga. Inilah dasar Gereja menyerukan agar manusia memelihara, menjaga dan merawat lingkungan hidup.  Lebih jauh Yohanes Paulus II menambah, “sebuah ekonomi yang menghormati lingkungan hidup tidak akan menempatkan maksimalisasi keuntungan sebagai satu-satunya tujuannya, karena perlindungan atas lingkungan hidup tidak dapat dijamin semata-mata berdasarkan pada perhitungan finansial menyangkut biaya dan laba.”  Kalau melihat pada fakta ini pertambangan sejatinya adalah demi kesejahteraan umum. Ketika itu tidak dapat menjamin finansial dan kesejahteraan masyarakat secara umum, maka adanya sebuah pemerasan dan penindasan di sana. Selain penindasan terhadap lingkungan hidup, ada penindasan terhadap harkat dan martabat manusia.
    Kerja adalah sebuah vocation (panggilan). Maka, bekerja tidak berhenti membangun kerajaan duniawi dan manusiawi. Adanya proses penyebarangan dari kerja sebagai proses pembangunan kerajaan manusiawi menuju pembangunan kerajaan Ilahi. Kalau orang melihat sampai kepada taraf tersebut, yang terjadi adalah penghormatan terhadap lingkungan hidup.
    Dalam Ensiklik Evangelii Nuntiandi yang ditulis oleh Paus Paulus VI mengulas hubungan antara pewartaan injil dan pembebasan secara luas (No. 31-39)
    Antara pewartaan injil dan kemajuan manusiawi perkembangan dan pembebasan terdapat ikatan yang mendalam. Termasuk di situ ikatan pada tingkat antropologi, sebab manusia harus menerima pewartaan bukan sesuatu yang abstrak, melainkan terkena oleh masalah-masalah sosial dan ekonomi. Sebab menurut kenyataan, bagaimana orang dapat mewartakan perintah baru, tanpa mendukung dalam keadilan dan perdamaian kemajuan manusia yang otentik-sejati? Kami sendiri berusaha menunjukkan itu dengan mengingatkan, bahwa mustahillah menerima ‘bahwa dalam pewartaan injil orang dapat atau harus, tidak mau tahu-menahu tentang pentingnya masalah-masalah yang sekarang ini begitu banyak diperdebatkan, tentang keadilan, pembebasan, perkembangan, dan perdamaian dunia (EN 31).  
     Gereja merupakan sebuah lembaga yang hidup dalam dunia. Sebagai lembaga yang hidup dalam dunia, Gereja turut mengambil bagian dalam persoalan dunia terutama segala bentuk kegetiran dan kecemasan dunia masa kini. Hal ini sudah diwariskan sejak Konsili Vatikan II terutama Gaudium et Spes (art.1)
    Bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang yang dipersatukan dalam kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka pesekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
    Hal ini menegaskan keberadaan Gereja sebagai pembela kaum lemah dan tertindas dalam dunia serta melihat segala kegetiran dan derita sebagai bagian dari hidup Gereja. Prinsip solidaritas meneguhkan sifat sosial keberadaan manusia, sekaligus memperkokoh kesetaraan martabat dan hak-hak dasar yang ada dalam diri manusia. Maka solidaritas selalu dilihat dalam dua segi yang pada dasarnya saling melengkapi, yaitu sebagai sebuah prinsip sosial dan sebagai sebuah kebajikan moral. Lalu bagaimana kitab suci berbicara tentang solidaritas Gereja (PL dan PB)
    Seruan untuk ‘gerakkan keluar’ ini sudah mulai dari PL. Misalnya dalam Kej. 12:1-3 seruan Tuhan kepada Abraham: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu…dan olehmu semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat”. Dalam Kel. 3:10: Seruan Tuhan kepada Musa: “Pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun, untuk membawa umatKu, orang Israel keluar dari Mesir. Dalam Yer: 1:7: Seruan Tuhan kepada Nabi Yeremia: “Jangan katakan: aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi dan apapun yang kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.”
    Yesus memanggil para muridNya tidak hanya untuk tinggal bersama-Nya, tetapi Justru untuk mengutus mereka. Mrk: 1:38: Yesus yang adalah utusan Allah. “Marilah kita pergi kekota-kota yang berdekatan supaya Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Luk: 9:1-6, 10: 1-12: Yesus mengutus murid-muridNya. Yoh: 17:18: para murid ditempatkan dan diutus ke dalam dunia. Jadi para murid dituntut untuk menjadi saksi tindakan keselamatan Allah dalam situasi konkret dengan melakukan pembaharuan-pembaharuan di dunia menuju langit baru dan bumi baru (Wahyu 21:5). Kis1:8: Yesus memerintahkan para rasul untuk menjadi saksi-Nya, tidak hanya di Yerusalem tetapi juga di seluruhYudea dan Samaria dan sampai ke ujung dunia.
    Gereja selalu memahami dirinya sebagai Gereja yang ‘misionaris’ dalam arti bahwa tugas perutusan Gereja bersifat universal, yaitu membawa dan menghadirkan karya keselamatan bagi semua umat manusia, dan hal itu melampaui sekat budaya, suku atau bangsa. “Tradisi melayani manusia” sebagai inti perutusan Gereja merupakan modal sosial Gereja yang bersifat global. Mereka meyakini, memiliki kebenaran yang harus diwartakan kepada semua umat manusia seperti halnya juga Gereja katolik memahami dirinya sebagai pembawa kabar gembira bagi semua bangsa di dunia.
    Yesus hadir dalam sejarah manusia untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia. Gereja pun hadir dengan membawa seberkas cahaya. Jon Sobrino pernah menulis demikian:
The historical Jesus sheds clear light on the chief elements of Christological faith, i.e., following his life and his cause in one's own life. It is in this following that the truth of Jesus surfaces; and it is truth insofar as it enables people to transform this sinful world into the Kingdom of God.  (Yesus yang historis melemparkan terang yang cerah atas unsur-unsur utama iman kristologis, ialah mengikuti cara hidup-Nya dan perjuangan-Nya dalam hidup kita sendiri. Justru dalam mengikuti cara inilah kebenaran Yesus muncul ke permukaan, dan inilah merupakan kebenaran sejauh cara ini memungkinkan orang mentransformasikan dunia yang

Seruan Gereja memandang Bumi: Pekikan Teologi Pembebasan
Memandang Bumi sebagai Ibu
           
    Pertama, bumi adalah Rahim atau ibu bagi orang, tanah air Indonesia. Ketika bumi ditahan dan warga ditawan, itu adalah sebuah bombardir terhadap kehidupan wong cilik. Kehilangan tempat yang layak identik kehilangan hidup. Hiruk pikuk kehidupan menjadi semakin carut marut kalau tanah dieksplorasi atau eksploitasi oleh tangan jahil yang tak berbudi. Bukan ‘buku keuangan’ yang menjanjikan busana kemakmuran, melainkan bumi. Orang Papua bukan tolol merebut tanah yang telah diambil investor asing. Tetapi, ketika ibu diambil dan diklaim sepihak, maka ada sebuah kemasgyulan hati untuk dapat melawan tita raja yang berselewerangan membumihanguskan ibu ‘bumi’. Warga Tumbak misalnya menolak pertambangan dibuka di sana. Menolak musuh untuk membuhuh ibu, bukankah itu adalah baik?
    Berdiam bukanlah salah satu strategi menyulukan kesadaran. Malah, itu menambah luka sukma warga yang sudah lama ditusuk oleh kebahagiaan semu ‘para investor’ yang sejatinya sedang membangun bom nuklir tuk menghancurkan kehidupan warga.

Membangun Simbiosis Mutualisme

    Bumi adalah warisan anak cucu. Adalah suatu keegoisan tingkat tinggi ketika orang begitu mudah menghacurkan bumi “tanah” kepada investor asing. Apalagi kalau yang menjadi pioner adalah pemerintah, yang adalah pemegang ‘kehormatan’, ‘kedaulatan’, dan ‘kenyamanan’ kehidupan masyarakat. Sungguh amat disayangkan.
    Bumi tidak semata-mata adalah kepunyaanku. Bumi juga adalah kepunyaan anak dan cucu-cucuku. Terlalu naif dan tidak manusiawi, kalau mengatakan itu adalah kepunyaanku. Kalau dilihat dari perannya tadi, bumi sudah menjadi rahim baik jasmani maupun spiritual. Maka, warisan itu pula yang harus diregenerasikan.

Back to nature

    Berhadapan dengan isu pemanasan global dan kerusakan alam satu hal yang bisa didengungkan bersama yaitu “back to nature”. Alam tidak semestinya dijadikan sebagai objek.
    Kembali ke alam mengindikasikan ada sebuah keresahan dan keprihatinan. Ada sebuah kehancuran di sana. Ada sebuah kesedihan melihat wajah bumi. Pemanasan global adalah salah satu kerusakan yang terbesar. Wajah bumi dari hari ke hari semakin tidak karuan. Cuacanya kadang naik kadang turun.
    Seruan respondeo ergo sum yang terus dikumandangkan sebagai sebuah jalan solutif terhadap pemanasan globa dan kerusakan bumi ini. 
     
Penutup

    Penulis menutup tulisan ini dengan beberapa penegasan. Pertama, tampaknya tantangan yang dihadapi oleh dunia, juga dialami oleh Gereja.  Titik pertemuan Gereja terletak dalam cita-cita untuk membela orang yang kelaparan, penyakit, miskin dan ditindas
    Kedua, pada dasarnya solidaritas Gereja juga berarti seruan cinta universal. Cinta terhadap lingkungan hidup. “Saatnya firdaus yang hilang dikembalikan” adalah ungkapan keperihatinan Gereja atas wajah bopeng bumi, tempat tinggal manusia. Kini, ia sangat membutuhkan bantuan manusia untuk mengembalikan ke keadaan semula-keperawanannya. Ia harus disembuhkan dari luka-luka yang merusak wajahnya.
    Dalam sebuah karikatur tentang Lingkungan hidup di bawah judul: “Indonesia Tahun 2001”. Karikatur tersebut menyajikan gambar seorang lelaki tua yang sedang asyik duduk bersantai ria di sebuah padang nan tandus sambil memetik dawai gitar dan mendendangkan syair lagu karya Ismail Marzuki yang telah diplesetkan syair-syairnya. “Tanah airku Indonesia//Negeri tandus amat kucinta//Tanah tumpah darahkku yang gersang//Sawah tercemar hutan ditebang.”  demikian penggalan syair dari lagu tersebut.
    Jika manusia dan bumi menjalin relasi yang harmonis, maka bumi ini telah menjadi ‘firdaus’. Firdaus yang telah hilang akibat kecerobohan Hawa ditemukan kembali. Di tengah firdaus yang tinggal harapan, kelestarian lingkungan hidup adalah tugas dan tanggung jawab siapa? Ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua. Bukan saja tugas dan tanggung jawab pemerintah atau Gereja. Maka, diakhir tulisan ini kita membaca ulang apa yang ditulis tokoh ekologis kristiani St. Fransiskus Asisi dalam kidung “Saudara Matahari”-nya (Gita Sang Surya):

Terpujilah Engkau, Tuhanku
Bersama-sama semua makhluk-Mu
Terutama tuan Saudara Matahari
Ia terang siang hari
Melalui dia kami kau beri terang…
Terpujilah Engkau, Tuhanku
Karena saudari kami Ibu Pertiwi
Ia menyuap dan mengasuh kami,
Ia menumbuhkan aneka ragam buah-buahan
Berserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan…

    Seruan Fransisku Asisi menjagi seruan kita semua. Kita semua dipanggil untuk bermisi. Kita bermisi untuk mewartakan cinta kepada sesama. Pewartaan itu pertama-tama adalah menghormati ibu ‘bumi’ yang telah hancur. Menciptakan kembali firdaus yang telah hilang oleh tangan sang anak durhaka. Cukup dan berhentilah menjadi anak durhaka, yang tidak menyayangi ibu sendiri.



Oleh: Eugen Sardono
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
Beliau aktif dalam refleksi Filosofis

Editor: Nasarius Fidin



×
Berita Terbaru Update