-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Misionaris Belanda: Bermisi Lewat Budaya “Mengakar dari Kehidupan Montfort”

Kamis, 05 April 2018 | 22:41 WIB Last Updated 2018-12-08T15:31:11Z
        
(Gambar St. Montfort diambil dari google)

     Suatu hari saya bertanya Rm. Wim, apa yang menguatkan dia dalam menjalankan misi. Dia menggarisbawahi kata kreativitas. Menjadi misionaris bagi beliau adalah menjadi orang yang kreatif. Kreativitas merupakan jiwa bermisi. Kreativitas juga menjawab realitas yang ada dalam bermisi. Bagaimana kita merespon tantangan itu? Selain kreativitas, hal yang perlu ditekankan adalah berdoa. Dengan berdoa, misionaris bisa diberi daya kreatif untuk menjawabi dan memenuhi kebutuhan umat. Dengan berdoa, seorang misionaris mampu menampilkan diri secara sederhana. Dengan berdoa, seorang misionaris mampu membedakan mana kegiatan untuk memuliakan Allah dan mana untuk memenuhi ketenaran pribadi. 
“Berdoa itu penting. Doa dapat membuat mata anda melihat terang, yang sungguh terang. Karena setan juga bisa menunjukkan terang, hanya saja bukan sungguh-sungguh terang”, sahut misionaris Ponsa itu. Beliau merasakan kekuatan doa ketika ia bermisi.
“Mendengarkan”, demikian ia melanjuti sharingnya. Terutama mendengarkan orang yang lebih tua. Jangan pernah merasa diri bahwa kita sama-sama imam dan tidak mendengarkan orang yang lebih tua. Itu menjadi celaka besar. Pengungkapan beliau bukanlah tanpa dasar dan pijakan. Ia menggarisbawahi pengalaman hidupnya sebagai misionaris. 
Spiritualitas DOKAR (Doa dan Karya) bukan berarti seorang tukang dokar. Ia telah mengambil dengan baik spiritualitas Marta dan Maria. Ia tidak saja menjadi Maria yang selalu duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan Sabda, tetapi juga menjadi seperti Marta yang selalu melayani para konfrater. 
Kendatipun rambutnya beruban, semangatnya tak lekang oleh usia. Inilah kesaksian hidup pastor Wim. Kehidupannya sudah disusun sesuai dengan jadwal. Setelah santap pagi, ia menggembalakan Bula Dkk. Setelah itu, dia menulis atau menerjemahkan buku yang menjadi kebutuhan serikat. 
 Ketika saya berpapasan dengan pastor Wim, saya merasakan ada kekuatan Ilahi yang mengalir dari setiap perbuatan dan pembicaraannya. Kedekatannya dengan Yesus membuat ia tidak kehilangan kecemeralangan mewartakan kasih itu kepada konfrater. 

Spiritualitas Montfort

     Santo Montfort adalah seorang kudus dari Bretagne, Perancis Barat-Montfort Sur Meu. Nama Montfort adalah nama tempat babtisnya, dan nama Maria adalah tanda kedekatan dengan Maria. Nama aslinya adalah Louis Grignion. Orang sering menyebut beliau bapak Montfort. Atau orang menyebutnya santo Montfort. Mendiang Santo Yohanes Paulus II menyebut Montfort sebagai teolog berbobot karena daya refleksi dan hidupnya yang berbakti suluruhnya kepada Maria. Santo Yohanes Paulus II juga membaca karya Santo Montfort dan sebagai sarana menuju kekudusan. Karya yang terkenal adalah CKA (Cinta dari Kebijaksanaan Abadi) dan Bakti Sejati kepada Maria. 
     Tetapi CKA tidak terlalu terkenal ketimbang Bakti Sejati kepada Maria. Padahal CKA adalah buku pertama yang ia tulis. CKA adalah sebuah karya kristologi. Sedang karya kedua ini adalah karya yang maha tersohor dari Montfort sendiri. Apa yang ia tulis dalam Bakti Sejati adalah mengalir dari realitas hidup hariannya. Pembaktian diri kepada Yesus melalu Maria adalah jalan menuju kekudusan. Maria adalah wadah yang dipih Allah melahirkan sang Putera. Allah Putera mau bergantung pada ciptaannya Maria. Dalam Bakti Sejati secara tegas dikatakan “Melalui Maria Yesus Kristus datang ke dunia, melalui Maria pulalah Ia berkuasa dan meraja”.
     Kekudusan Maria mengikat hati Allah. Allah Putera pun berdiam dalam rahim sang perawan. Di sana, Ia menemukan kedamaian sebelum ia menyelamatkan manusia. Montfort menggambarkan rahim Maria adalah firdaus baru yang melahirkan Adam baru. Karena ketidaktaan Hawa lama, maka surga tertutup dan karena ketaatan Hawa baru (Maria) surga terbuka, yakni diselamatkan oleh Adam baru, Yesus Kristus
    Maka seluruh hidupnya dibaktikan kepada Maria. Seperti Maria yang selalu menyerahkan hidupnya kepada penyelenggaraan Allah, demikian pun Montfort. Ia menyerahkan hidupnya kepada Allah semata. Hal ini tampak dalam semboyan hidupnya “Seluruhnya atau tidak sama sekali”. Orang harus tegas dan bisa memutuskan untuk memilih seluruhnya atau tidak sama sekali. Ia tidak menghendaki pribadi yang medioker, tidak panas dan juga tidak dingin. Atau kita seirng menyebut orang yang suam-suam kuku. 
     Menjadi lascar Kristus adalah menjadi orang yang lepas bebas, tanpa bapa dan ibu dan tanpa saudara dan saudari. Maria adalah model utama kerendahan hati yang total. Maria selalu memosisikan diri berada di lembah, membiarkan air rahmat mengalir. Hanya dalam kerendahan hatilah rahmat Allah berakarya secara penuh. 
     Montfort melihat model hidup Maria sebagai sebuah model utama hidup kristiani. Kalau Yesus saja dilahirkan oleh Sang Bunda. Maka sebagai pengikut Kristus, kita harus dilahirkan dalam rahim yang sama. Karena kalau kita tidak dilahirkan dari rahim ‘Maria’, maka kita tidak menyerupai Kristus. Maka sungguh aneh kalau kita tidak beriman kepada sang Bunda. Sederhananya Yesus saja menyerahkan Maria ibunya kepada Yohanes di kaki salib. Dan Ibu juga menerima Yohanes sebagai anak. Tidak cukupkah itu sebagai sebuah pengakuan Maria oleh Yesus sebagai ibu Gereja. Bukankah Yohanes adalah simbol kaum beriman. 
     Tetapi pembicaraan ini tidaklah berarti kalau orang tidak mendekatkan diri kepada sang Bunda. Penyerahan diri setiap hari kepada Maria adalah sebagai sebuah jalan agar menyerupai Kristus. Sehingga pembicaraan tentang Maria harus bersumber pada pembicaraan dengan Maria melalu doa-doa kita. 


Refleksi: Pentingya 267 (Re-La-Si)

Pastor Wim memiliki formasi dalam kehidupannya. Formasi tersebut adalah 267 (RE-LA-SI). Ia memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Buktinya apa? Ia selalu menasihati para frater agar selalu berdoa. Berdoa. Berdoa. Menarik sekali bahwa dalam sharingnya, ia mengatakan setan itu seperti anak kecil yang merengek-rengek. Sekali kita melayani permintaannya, ia akan terus meminta. Tetapi, tatkala kita dengan berani melawan dan membentaknya ia tidak akan meminta lagi. 
Beliau sangat dekast dengan para konfraternya. Saya hampir tidak pernah melihat pastor Wim sedih. Apakah memang ia menutupi rasa sedinya. Ini menjadi PR bagi saya. Nanti, saya tanya beliau. Selama berada bersama beliau, ia seorang yang periang. Selalu menyapa setiap konfrater. Selama ‘berada bersama beliau’ senyuman dan sapaan adalah sebagai sebuah lem perekat relasi antara kami. Ketika berjumpa selalu saja ada senyum dan sapaan. Itulah yang membuatku menjadi bagian dari kehidupan komunitas. Adanya sebuah pergeseran dari kata kami menuju kita. Padahal kalau dalam bahasa Inggris hanya ada satu kata yaitu ‘we’. Inilah sebuah kekayaan tersendiri dalam bahasa Indonesia. Saya bukan lagi ‘kamu’, melainkan ‘kita’.
     Suatu kesempatan, saya diberi kesempatan oleh komunitas untuk mengunjungi orang-orang kecil di Malang. Saya berpikir rupanya kunjungan ini bukan karena saya orang besar, tetapi saya juga orang kecil. Sehingga judul yang saya berikan, kunjungan ke sesama orang kecil. Saya menyusuri lahan pertanian. Saya pun berbasa-basi dengan beberapa orang yang hendak pergi ke lahan pertanian. Saya pun berkehendak mengikuti mereka. Sampai di kebun, di tengah waktu sela, seorang bapak (satu-satunya laki-laki) di kebun mengisahkan perjalanan kehidupannya. Ia sudah beruban dalam pengalaman bertani. Tugas utamanya setiap hari adalah mencabut rumput di lahan pertanian majikannya. Katanya ia bekerja keras demi menghidupi keluarganya (anak dan isterinya). Kebetulan, ia dianugerahi seorang anak semata wayang oleh Allah. Ia tidak pernah lupa mengikuti ngaji dan rukun-rukun Islam. Lebih lanjut, ia mengajak anaknya untuk selalu mendalam ajaran agama Islam dengan baik. Detik-detik terakhir sharing, saya mengutip pernyataannya: saking sulitnya kehidupan setiap hari, maka rasa syukur pun tak pernah absen. Kesadaran akan keberlangsungan hidupnya merupakan perpanjangan tangan dari imannya kepada Allah. Rupanya bapak ini adalah seorang beriman.


Oleh: Eugen Sardono, SMM
Editor: Nasarius Fidin

×
Berita Terbaru Update