-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi-Puisi Bernard Ciputra

Sabtu, 28 April 2018 | 09:21 WIB Last Updated 2018-04-29T08:49:40Z

TENTANG NUSA BUNGA

Di situ.
Terhampar ladang hijau manjakan indra.
Air sungai jernih meliuk di antara pohon tua
Sementara sering - sering angin jatuhkan daun kering, 

mencium bumi yang subur..
Ada Laki – laki tua banjir keringat
Dengan pacul di pundak, ada golok di tangan
Ada kaki jalan cepat – cepat
Karena hari hampir gelap
Sudah mau malam


Wahai Bukit dan lembah permai
Yang waktu hampir senja membumbung asap
dari kayu – kayu yang terbakar
dari dapur para ibu
membuat santapan segar
membuka doa akhiri hari.
Di sana Batu – batu begitu tajam
Laut sangat biru
Langit perlu teduh
Tapi bocah – bocah bermain
Mereka yang tidak peduli terik
Tak terkesan dengan alas kaki
Mereka hanya percaya tawa
Seolah lupa hidup sekali saja

Di sana burung bebas cerita sedang
kuntum ramai – ramai mekar
Di sana anjing rajin menggongong dan
ayam tidak dilarang mengais rejeki.
Karena di sana itu Nusa Bunga
Dan lihat itu segerombolan kambing saling
dorong berebut rumput..
Oh aku cinta sungguh..

(Suatu pagi di 28 April 2018)

TENTANG PERANTAU 

Bekalmu percaya
Pergi ke tanah orang
Menjadi Orang tak dikenal
Bernama perantau

Tentang perantau
Tentang air mata dan bersyukur
Tentang memori kampung kecil di ufuk timur
Tentang beberapa butir beras yang begitu penting
Tentang malam yang dingin dan maut yang begitu dekat

Ah perantau itu gigih,
Sang petarung sejati
Percaya pasti mati tapi tidak takut mati

Perantau itu sering berdoa
Baginya rindu yang ditulis akan terbalas jauh hari kemudian
Tapi rindu yang dikatakan sampai segera di tanah leluhur

Wahai perantau
Pejuang yang belum kiamat
kolong langit masih ada
musim masih berganti
para pencintamu masih menanti
kisahmu
tentang sengsara membawa nikmat
tentang Bersakit dahulu, bersenang kemudian.
Tentang ingatanmu yang masih kental pada orang berjubah putih
yang engkau jumpai di gereja tua:
burung di udara tidak mati kelaparan, lantas kenapa cemas
karena perantau lebih dari makhluk di udara itu.

(Tentang perantau, 27 April 2018)

Oleh: Bernard Ciputra
Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero
×
Berita Terbaru Update