-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AJARILAH AKU BAHASA CINTAMU

Jumat, 04 Mei 2018 | 15:29 WIB Last Updated 2018-12-08T16:22:43Z
(Ilustrasi dari google)
Kedua kelopak mataku terasa masih berat sehingga erat merekat pejam menutupi retinanya. Rasa - rasanya tubuh ini enggan untuk bangun dari pembaringan untuk mengusir kesepian subuh sunyi mencekam. Sementara jam dinding mengisyaratkan untuk sesegera mungkin tubuh ini berpaling dari pembaringan. ‘’Akh,, sialan,, betapa pendeknya malam ini’’. Jeritku kesal. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan tempat tidurku lalu menuju kamar mandi untuk membasuh diri sebelum masuk ruangan doa atau yang kami kenal dengan sebutan Kapel. Di tempat ini aku dan beberapa sahabat melantunkan nada puji - pujian, Syukur dan keluh kesah permohonan kepada Dia yang kami yakini senantiasa mendengarkan dan menjawab setiap seruan kami, entah seruan subuh maupun petang. 

Dari pagi ke pagi pada jam yang sama kami selalu berada ditempat ini untuk mengungkapkan nada yang sama kepada Dia. Syukur kepada Allah merupakan suatu keistimewaan yang menjadi kelaziman kami, dan dengan  perantaraan seorang  gadis manis yang sangat menawan hati, kami memuji-Nya. Sosok gadis itu sangat mempesona, membuat mata selalu ingin menatap, membuat hati selalu ingin berpaut pada parasnya yang  elok tiada taranya. Diamnya telah menyita banyak perasaanku, tatapannya bercahaya syahdu  membuatku merunduk bisu kala waktunya bersua. Ya, memang benar bahwa tatapan matanya seolah-olah menembus tulang dadaku dan menyingkap tabir kalbu. Ya,, aku pasrah pada lirikan matanya yang anggun, aku ingin sirna tertambat lebur pada bening bola matanya. 

Belakangan ini setelah aku mengenalnya lebih dalam, aku merasa dialah satu-satunya wanita di jagat ini yang paling mulia dan sempurna. Setiap kali aku curhat padanya, ia selalu menjawabnya dengan diam penuh pengertian. Salah satu harta mulia tak tergantikan yang aku peroleh darinya ialah pentingnya keheningan dalam hidup. Oh,, Maria, kuingin seutuhnya jiwa ragaku ini melebur larut kedalam jiwa ragamu yang utuh pula.
                                              
                                                                           ****
   Aku telah meninggalkan segala-galanya demi cintaku yang suci, demi cintaku yang utuh dan tulus untukmu seorang diri Maria. Dari subuh ke subuh aku berjanji akan selalu menepati janji kita untuk saling berbagi rasa dalam keheningan serta lantunan syukur pujian dan permohonan yang aku pasrahkan padamu untuk Dia. Aku tahu kehadiranmu dihadapan-Nya mampu meluluhkan hati-Nya dan berujung pada terkabulnya segenap rintih dan keluh kesahku pada-Nya. 

Pada cintamu aku tak pernah bimbang atau ragu, aku takkan pernah menaruh curiga atau cemburu. Cintamu utuh tak terpisahkan, cintamu teguh tak tergoncangkan, cintamu suci tak tergoreskan seiota noda pun. Aku mencintaimu Maria walau terkadang kumerasa tak layak, akan tetapi setidaknya aku telah ‘‘mencuri’’ banyak hal darimu. 

Sejujurnya aku ingin memiliki cintamu seutuhnya. Aku ingin segenap arah gerak hidupku mengatasnamakan getaran dasyatnya cintamu. Seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu di sudut Kapel kala petang tiba, bahwa aku pernah bercinta dengan seorang gadis desa yang lugu, santun, ramah, polos, sederhana dan penuh pengertian. Entah mengapa , suatu ketika ia terbelit dalam lingkaran api cemburu. Hal itu berawal dari ketika ia melihat aku berjalan dengan seorang gadis yang adalah keponakanku sendiri dan kebetulan baru bertemu denganku setelah belasan tahun berpisah. Cemburunya membara, membakar tali percintaan yang lama terpelihara. Semakin hari berganti, semakin lebar hubungan percintaan merenggang sampai berujung putus menyisakan setumpuk kenangan. Sungguh, yang kucari cinta tetapi yang kutemukan luka. Akh,, betapa aku tak memahami cinta. Apakah aku harus berhati sendu dan berlentur jiwa agar fleksibel mengikuti getarannya ?.  Akh,, sungguh, betapa bodohnya aku kala itu. Akan tetapi aku mesti banyak bersyukur bahwasannya saat ini aku beruntung ada di hadapanmu Maria. Aku beruntung bahwa engkau menerimaku untuk merajut cinta yang utuh, cinta yang sempurna, cinta yang suci nan murni. 

Di atas segala keberuntunganku, memiliki cintamu adalah suatu kemuliaan bagiku akan tetapi suatu pengkhiatan bagi cintamu apabila perasaan manusiawiku yang bersumber dari hati berdaging dan mata berdaging menimbulkan pikiran dan tindakan yang kosong atau hampa tanpa didasari cintamu. Di saat terjaga, aku berdiri mantap menengok kekuatan  cintaku kepadamu. 

Terkadang aku bertanya: akankah cinta kita tetap terpelihara dan utuh terjaga tanpa cela sampai akhir hayat, bahkan sampai di Surga,,?. Oh,,, Maria, kekasih pujaanku, tuntunlah kedua kakiku dan genggamlah kedua tanganku pada jalan kesunyian yang engkau tempuh. Biarlah segala kegaduhan hati manusiawiku sirna tertelan sunyinya jalanmu. Biarlah keperkasaan cintamu senantiasa menjadi senjata ampuh serta penuntun jalanku. Bagiku, belajar mengenalmu adalah belajar mengenal cinta. Bersua denganmu adalah bersua dengan cinta. Ada bersamamu adalah ada dalam cinta.

                                                                           ****
    Maria, waktu kian berlalu dan sesungguhnya aku terlampau jauh mengerti dan  mengenalmu. Aku tahu engkau menjadi gadis yang sangat berpengertian justru karena cinta telah menjadi bagian dari hidupmu. Cintalah yang membuat engkau menjadi insan yang peduli, insan yang rendah hati, insan yang dijiwai roh kesederhanaan. Seperti yang telah kucurahkan padamu petang itu, bahwa hari-hariku terkadang diliputi pergulatan yang hebat. Aku gentar menghadapi getaran cintamu. Ada rasa kecil yang merongrong  diri ini yang membuatku menjadi malu akan dasyatnya cintamu. 

Ya,, Maria, aku malu pada cintamu. Aku malu menjadi kekasih hatimu. Aku takut jika aku hanya ada disampingmu disaat untung saja dan disaat malang melanda cintaku sirna dalam terpaannya. Akh,,, cintaku buta, cintaku semu penuh kamuflase. 

Sesungguhnya aku berdiri menari diatas cinta bersyarat yang sesaat dan menuai luka sebagaimana dimiliki banyak insan di jagat ini. Atas nama cinta aku berpura-pura peduli, atas nama cinta aku berpura-pura berpengertian, berpura-pura sederhana serta berpura-pura rendah hati,,,,. 

Lantas, bertahankah cintaku dibawah syahdu teduhnya pandangan matamu?. Akh,, Maria, rangkulah aku dalam dasyatnya cintamu, biarlah diriku sungguh sungguh mengenal cinta yang engkau miliki. Bujuklah aku dalam sunyi suci jalanmu. Godailah aku dengan cintamu yang tiada tara dasyatnya.     

Biarlah cintamu perlahan merasuk jiwa ragaku seperti cahaya lilin yang kunyalakan dihadapanmu tuk menembus remang petang. Maria, aku rebah pada diammu. Dari kehampaanku, kutengok paras bisumu yang penuh pengertian. Bisumu adalah bahasa cinta dengan makna tak terkatakan.  Diammu menunjukan hakekat cinta yang sesungguhnya, tanpa banyak kata tetapi banyak berbuat. 

Maria, kekasih pujaan hatiku, ajarilah aku bahasa cintamu. Ajarilah aku menjaga dan memelihara keheningan dalan kesunyian, menjaga dan memelihara keheningan dalam keributan.  Seperti dirimu oh kasihku, dalam keheningan engkau mengandung cinta, melahirkan kepedulian, kepekaan, pengertian, kerendahan hati dan kebijaksanaan yang abadi. 

Padamu aku menemukan ketulusan cinta yang menyembuhkan tanpa segores luka. Sungguh, cinta yang lama kucari kini kutemukan dalam potret bisumu laksana subuh sunyi, juga cahaya syahdu bola matamu laksana cercah cercah lilin petang yang kunyalakan dihadapanmu. 

Maria, genggam dan benamkanlah aku ke dasar samudera cintamu yang maha dasyat. Biarlah jiwa ini terbuai pulas dalam aliran cintamu. Sirnalah cintaku yang buta, cintaku yang berkamuflase dengan berlaksa-laksa kepura – puraan layaknya derama pada layar kaca dengan bumbu - bumbu sandiwara yang semu.

(Bukit kimbul – awal Juni 2017)


Oleh: Marselus Natar

Penulis dengan nama kebiaraan: Maria Marselus Natar, adalah rohaniwan katolik pada Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, Sekarang tinggal di komunitas Frateran St. Yoseph – Maumere.

×
Berita Terbaru Update