-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BERTEOLOGI BERSAMA MARIA

Rabu, 23 Mei 2018 | 16:57 WIB Last Updated 2018-12-08T15:57:37Z
(Ilustrasi dari google)
Oleh: Ino Christino

Dalam pengertian Kristen, teologi itu pertama-tama adalah suatu kegiatan beriman. Berteologi berarti beriman. Tindakan dasarnya adalah mendengarkan, menyimpannya dalam hati, merenungkan, merefleksikan dan bertanya. Hanya orang yang beriman yang berani bertanya. Berteologi bersama Maria berarti beriman bersama dan seperti Maria. Maria menjadi contoh atau teladan dalam berteologi. Dalam cara berteologi Maria, pertanyaan merupakan hakikat dasar tentang cara beriman selain mendengar dan menyimpannya dalam hati. 

Bertanya dalam beriman tidak berarti mengurangi iman itu sendiri atau meragu-ragukan iman itu. Tetapi sebaliknya bertanya membuat orang semakin ingin menyerahkan diri dan ingin mengetahui kebenaran akan satu pernyataan yang ada atau muncul.

Cara beriman Maria dapat kita ketahui dan pelajari dari bagaimana manusia menanggapi sabda Tuhan? Mengenai hal ini dapat kita lihat dalam Luk, 1: 26-38, 2:1-51. Dari kedua teks ini kita bisa melihat bagaimana Maria menanggapi sabda Tuhan dengan mendengarkan, menyimpannya dalam hati dan menanggapinya dengan bertanya. 

Cara beriman Maria adalah bertanya. Ia bertanya karena ia ingin mengetahui satu kepastian dan kebenaran akan sabda Tuhan yang ia dengar dan terima. Pertanyaan Maria bukan berarti ia meragu-ragukan kuasa Allah ataupun meragukan imannya akan Allah. Tetapi sebaliknya ia bertanya karena digerakkan oleh suatu pencarian yang tulus untuk memahami apa yang ia imani.

Orang beriman selalu berusaha mencari pengertian yang lebih mendalam tentang imannya. Demikian pun Maria. Ia bertanya karena ia ingin mencari suatu pengertian yang mendalam akan sabda Tuhan. Ia membutuhkan informasi lebih lanjut dari sabda Allah yang ia dengar. Dan oleh karena keterbukaan Maria semua yang menjadi pertanyaannya terjawab. 

Jawaban atas pertanyaan Maria itu terjadi karena ada dialog antara Allah dengan dirinya. Di sinilah terjadinya iman yang dialogis yaitu iman yang bertumbuh karena adanya dialog antara Allah dengan manusia. Dialog itu muncul karena iman yang mau menyerahkan diri pada kehendak Allah semata. Cara beriman Maria ini mau mengajak kita tentang bagaimana harusnya berteologi. 

Berteologi yang dimaksudkan lebih pada bagaimana mendengarkan sabda Tuhan, menyimpannya dalam hati serta merenungkannya. Itulah dasar berteologi bagi kita. Sebab tanpa menyimpan firman Tuhan dalam hati dan merenungkannya kita tidak akan dapat tahu berteologi. 

Suatu kekeliruan besar apabila seseorang ingin belajar teologi tanpa menghayati imannya secara lebih mendalam dan bersikap acuh tak acuh sebagai orang beriman Kristen. Ini sama halnya dengan seorang atheis yang belajar tentang ilmu ketuhanan. Dapatkah ia betah mempelajari seluruh ilmu tentang ketuhanan itu? Bukankah ia akan menolaknya? 

Oleh karena itu berteologi pertama-tama harus lahir dari kerinduan besar akan Allah. Suatu kerinduan yang didorong untuk menanggapi sabda Tuhan secara lebih sungguh dan merenungkannya dalam hati. Dan contoh atau teladan yang amat cocok dan pas bagi kita adalah Maria. 

Maria menjadi pintu tentang bagaimana harus beriman yang benar. Maka kiranya cara beriman Maria ini membantu kita tentang bagaimana harus berteologi. Maria memang bukan seorang ilmuwan yang memberikan kepada kita beragam pengetahuan tentang cara berteologi. Tetapi dari cara hidupnyalah mampu mengajarkan kita tentang bagaimana harus berteologi.

Dari cara hidupnya, Maria mengajarkan kita berteologi, pertama-tama bukan soal seberapa banyak pengetahuan yang kita peroleh tentang Allah atau seberapa banyak buku yang kita buat atau kita baca tentang Allah. Tetapi soal bagaimana kita mendengarkan Tuhan dan merenungkan sabda-Nya dalam hati. Sebab, satu kesalahan besar bahwa kita berusaha untuk memahami Allah kalau membaca pikiran sesama manusia saja kita tidak bisa. “Lubuk hati manusia saja tidak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran dan sanubarinya tidak dapat kamu mengerti. Bagaimana mungkin kamu menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-pikiran-Nya?”.

Oleh karena itu, berteologi itu pertama-tama bukan soal mengetahui banyak hal tentang Allah. Tetapi soal bagaimana menanggapi sabda Allah dalam kehidupan nyata sehari-hari. Allah perlu dipahami, dialami dan dirasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita berusaha mengalami-Nya dan merefleksikan kehadiran-Nya dalam diri kita. Dan mengenai hal ini kita kembali kepada teladan kita yakni Maria. 

Dari kedua teks: Luk, 1: 26-38 dan 2, 1-51, kita membaca dan menemukan bahwa  ia (Maria) tidak pernah berusaha untuk memahami Allah ataupun mencobainya dengan pertanyaan yang mengundang murka Allah. Tetapi sebaliknya menyimpan sabda Allah dalam hatinya dan merenungkannya. Itulah hakikat iman Maria yang perlu kita teladani yaitu berusaha untuk mendengarkan sabda Tuhan dan merenungkannya dalam hati.

Daftar Rujukan:
Baker, David L. Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: Gunung Mulia, 2008.
Darmawijaya. Seluk Beluk Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 2009.
Pareira, Berthold Anton. Alkitab dan Ketanahannya. Yogyakarta: Kanisius, 2009.






×
Berita Terbaru Update