-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA TERLARANG

Kamis, 03 Mei 2018 | 22:38 WIB Last Updated 2018-05-03T15:46:22Z
(Ilustrasi dari google)
      Lani, saya sayang banget sama kamu. Aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri. Kehidupan yang sekarang ini tidak berarti apa-apa bagiku dan mimpiku yang paling hangat adalah berada bersama kamu tuk melewati dunia ini sedemikian rupa. Kamu tahu tidak, dalamnya cintaku tak bisa diukur dan besarnya rinduku padamu tak bisa dibendung lagi. Aku sangat mencintaimu, Lani, jelas lelaki muda itu menyampaikan isi hatinya. Kak, kamu berlebihan ah…hubungan kita belum apa-apa kok… aku baru mengenal kamu sebelum hari ini, masa kamu langsung mengucapkan kata-kata seperti itu. Aku belum pantas mendengarnya, maaf ya? Jawab Lani tersipu malu. Ia sayang, pinta lelaki muda itu, memang ini belum waktu yang tepat, tetapi bagiku waktu sehari itu sudah lebih dari cukup untuk menemukan cinta sejati.
Bagiku satu hari sama dengan seribu hari. Kamu tahu tidak, aku telah mencari cinta sejatiku selama sembilan ratus sembilan puluh sembilan hari dan hari ini adalah hari yang keseribu bagiku dalam pencarian itu. Kini aku merasakan bahwa aku telah menemukannya dan engkaulah yang aku maksudkan. Hatiku mengatakan bahwa engkaulah tulang rusukku. Ketika melihat wajahmu saja aku langsung terperangkap dalam melodi cintaku. Apalagi ketika mendengar titahmu yang lembut dan arif itu, jiwaku langsung tenggelam bersama simfoni rindu yang kian berdahaga.
Cukup kak, cukup…Lani mencoba melepaskan tangan lelaki itu dari bahunya. Kak jangan salah kaprah ya, tegas Lani. Kakak belum tahu siapa saya sesungguhnya. Tidak sayang, hatiku sudah yakin bahwa kamulah pendamping hidupku. Ke mana pun engkau lari, aku akan mengejarmu, kamulah orang yang aku cari selama ini, tolong dengarkan perasaanku. Aku sangat mencintaimu Lani. Ia kak walaupun demikian tapi jangan secepat ini dong….ini terlalu singkat bagiku untuk menjawabnya.
Lani… lelaki itu berdiri di depan Lani seraya memegang tangannya, aku tidak membutuhkan jawabanmu sekarang ini juga. Mungkin ini yang membuat kamu tidak betah mendengar perkataanku. Aku hanya menginginkan agar engkau mendengar dan tahu isi hatiku. Ini serius lho… ini bukan gombal-gombalan, entah terima atau tidak itu urusanmu tetapi aku berhak untuk menyampaikannya. Soalnya perasaan ini terlalu lama membusuk di hatiku dan baru hari ini aku menemukan orang yang tepat untuk mengungkapkannya. Ia kak dan sekarang aku tahu bahwa kakak sangat mencintai aku dan menginginkan agar aku menjadi pendamping kakak, ia kan? Betul sekali Lani, jawab lelaki itu cepat. Ia, sambung Lani dan sekarang izinkanlah aku pergi dari sini. Ok…silahkan, sambung lelaki itu penuh ramah. Sampai jumpa Lani….
         
                                      ****************************

Aduuuuhh….risih banget lelaki itu ya.. ungkap Lani dalam hatinya. Baru sehari ketemu langsung jatuh hati, dasar playboy. Memangnya dia pikir saya ini siapa? Ah.. sudahlah lupakan saja. Lani terus melangkahkan kakinya menuju pintu depan rumahnya. Tiba-tiba hpnya berbunyi pertanda ada sms yang masuk. Selamat siang Lani sayang…. Sudah sampai rumah nggak? Aduh siapa lagi nih, pakai sayang-sayang segala lagi, ungkap Lani kesal. Peduli amat ah…Lani terus melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
          Lani, dari mana saja kau ini, teriak mamanya dari ruang tengah rumah itu. Tenang ma… Lani berusaha menenangkan situasi. Aku cuma pulang jalan-jalan kok… ma. Jalan-jalan, jalan-jalan terus saja kau ini. Sampai kapan sih kamu ini betah di rumah hmm, teriak mamanya kesal. Untung ini siang, kalau malam siapa yang tahu, coba?!! Dasar anak tidak bisa dididik.  Ma, jangan berlebihan ma, aku ini sudah dewasa.
Aku tahu jaga diri ma. Ya itulah anak-anak dewasa ini, kalau dinasihat jawabannya selalu sama, aku mampu jaga diri. Kecelakaan baru rasa, tegas mama Lani sambil meninggalkan ruang tengah rumah itu.
Hari itu, situasi rumah Lani cukup tegang, tak satu pun suara yang keluar setelah kejadian siang itu. Tak terasa waktu mengantar Lani pada pengujung hari. Hpnya kembali berbunyi. Dilihatnya ada sms yang masuk. Sore….apa kabar sayang. Eh..sayang-sayang, geer banget lho.. tutur  Lani seraya membalas sms kepada nomor baru itu.  Keduanya terus berbincang via sms dan akhirnya Lani pun tenggelam dalam untaian kata-kata gombal lelaki tadi. Lani diajaknya ke sebuah taman mini dekat rumahnya. Tanpa sadar Lani keluar rumah menuju taman yang dijanjikan via sms itu. Di sana ia berjumpa dengan lelaki itu. Mereka berbagi kisah, beradu kasih, bercengkerama, bercumbu dan akhirnya jatuh dalam pencobaan. Lani tak sadarkan diri, tubuhnya yang mungil dan mulus itu terentang di atas rerumputan sementara tangan lelaki muda itu merajalela di seluruh tubuh Lani. Ada banyak suara yang terdengar dari taman mini itu. Ada tawa, ada suara mendesah dan ada pula ratap tangis. Semuanya bercampur menjadi satu. Lani, I love you very much, bisik lelaki itu menggoda. I love you too, balas Lani manja.

                                   ******************************

Beberapa jam berselang keduanya berpisah dan Lani kembali ke rumahnya dengan penuh rasa cemas. Ia membuka jendela kamarnya pelan-pelan hendak masuk melalui jendela itu. Betapa terkejutnya ia tat kala menyaksikan mamanya yang sedari tadi duduk di kamarnya. Lani dari mana saja kau, tanya mamanya sembari meneteskan air mata. Em…aku....aku dari luar aja kok ma. Lani tolong jawab mama dengan jujur, pinta mamanya lembut. Kau bertemu dengan siapa di luar dan buat apa malam-malam begini? Ma aku cuma…cuma apa sambar mamanya dengan nada suara tinggi. Setiap kali ditanya tidak pernah jujur. Ingat ya….kalau terjadi apa-apa dengan kamu selama beberapa bulan ke depan, jangan cari mama. Aku bosan berhadapan dengan anak seperti kamu. Kemarin ketika mama omong banyak, katanya sudah dewasa, sudah bisa menjaga diri, mana buktinya hmm. Dasar anak tidak bisa diatur, bentak mamanya lalu pergi meninggalkan Lani.
          Malam itu suasana rumah Lani terasa sepi dan tegang. Lani tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya air mata penyesalan yang mampu menemaninya melewati malam yang penuh tragis itu. Dalam kesendiriannya, ia mencoba mengambil hpnya lalu mengirim sms kepada pujaan hatinya. Sms demi sms dikirimnya. Namun tak satupun yang dibalas. Lani sangat kecewa lalu meneleponnya. Beberapa kali telah dicoba namun jawaban tetap sama, nomor yang anda tujui tidak dapat dihubungi. Hati Lani semakin hancur tak kala mendengar jawaban itu. Ia tak mampu berbuat apa-apa selain menangisi kesalahannya.
          Hari demi hari Lani lalui dengan penuh air mata dan penyesalan. Masa depannya sudah hancur dan tak ada lagi harapan akan hidup yang lebih baik. Perlahan-lahan badannya mulai menurun, kerut di pipinya sudah mulai tampak. Penderitaan Lani semakin menjadi-jadi ketika mendengar bahwa dirinya positif hamil. Sementara mamanya tak lagi menghiraukan kondisinya. Lantas, siapakah yang bertanggung jawab atas diri Lani?
          Pertanyaan demi pertanyaan mencuat ke permukaan tat kala terdengar lelaki yang mengahamilinya telah merantau ke negeri Jiran. Ia pergi tanpa meninggalkan pesan. Kepergian lelaki itu meningggalkan seribu satu macam penderitaan bagi Lani.  Tiap hari olokan, hinaan dan caci maki terus terdengar di pendengaran Lani lantaran warga setempat terus menghinanya tak putus-putus. Dasar perempuan jalang, teriak seorang lelaki menghampirinya. Lani tak sanggup berbuat apa-apa lagi selain hanya menangis dan menyerah. Air mata menjadi bagaikan santapan siang dan malam baginya.
          Tak terasa waktu mengantar Lani pada bulan kesembilan masa kehamilannya. Tibalah saat di mana Lani melahirkan buah hatinya tanpa ayah. Ini adalah penderitaan terberat yang kedua yang dialami Lani setelah ditinggalkan suaminya. Ia harus melahirkan buah hatinya seorang diri tanpa ditemani siapa pun. Sebab ia malu dan takut berurusan dengan orang banyak.
          Penderitaan ketiga kembali menghampiri Lani lantaran bayinya lahir tak bernyawa. Lani tak sanggup lagi melihat semua penderitaan itu. Yesus…….teriak Lani memecahkan keheningan malam itu. Namun sayang sekali tak seorang pun yang mendengar teriakannya itu apalagi datang untuk menolongnya. Tuhan…..mengapa semua ini terjadi padaku? Sampai hatikah Engkau membiarkan aku memikul sendiri penderiataan ini? Teriak Lani menangisi dirinya.


Ino Christino

Penulis adalah mahasiswa STF Widya Sasana Malang.
×
Berita Terbaru Update