-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DUC IN ALTUM; Balada Sang Peziarah

Sabtu, 05 Mei 2018 | 18:21 WIB Last Updated 2018-12-11T17:06:42Z

(Ilustrasi dari google)
By: Marselus Natar

    Aku menelusuri jalan ini bukan tanpa tanjakan.  Bahkan lembah, ngarai dan bukit sekalipun kulalui dengan segenggam bekal kesetiaan dan kesabaran. Aku melangkahkan kakiku perlahan menjemput suara yang terus menggema di perbukitan sana. Ya, panggilan dari tempat yang tinggi dan nampaknya terlampau sulit untuk digapai apabila tak dibekali kesetiaan dan kesabaran sebagai ujung tombak pemusnah rasa jenuh dan bosan. Sebab jalan ini masih panjang dan masih terlihat jelas oleh mata akan panorama jalan yang berkelok – liku bak sepasang ular yang sedang membelit memadu kasih. 

Untuk memulihkan stamina, maka aku membutuhkan oase persinggahana guna membuang lelah yang kian penat. Aku tentunya membutuhkan oase yang sejuk – segar, teduh – damai, tenang tenteram agar staminaku bangkit kembali dari ketakberdayaannya. Lantas, mungkinkah aku ber-oase di kota Nyiur melambai yang kering, gersang dan bising? Kering gersang sebagai akibat dari iklim yang tak menentu? Bising dengan suara kendaraan serta alunan music tuan pesta  yang menggemuruh tanpa mempedulikan orang lain yang barangkali membutuhkan kesunyian dan ketenangan agar si lelah letih yang melilit tubuh akibat aktifitas hidup harian lenyap sirna dalam kesunyian dan ketenangan pada tempat dan waktunya. Sungguh, nurani tuan  bak sebilah parang yang kehilangan batu asah. 

Aku membutuhkan waktu yang cukup untuk menarik kembali staminaku. Dari sini , aku memutuskan untuk menepi dan mencari oase yang tepat untuk berhenti. Perlahan aku melangkahkan kaki ketepian kota nyiur melambai yang terkenal dengan panas dan debunya. Aku melangkah ke sebuah tempat yang kental dengan sunyi – sepinya. 
Aku telah banyak mendengar sebagaimana orang bercerita tentang kampung itu. Orang orang menyebutnya Kampung Rohani dan ada juga yang menyebutnya Lembah Carmel. Mungkinkah? 

Perjalanan ini semakin menarik sebab semakin menepi dari kota semakin terasa bahwa kesunyi - sepian yang diharapkan segera tergapai. Namun, kebahagiaan ini sedikit terusik lantaran mataku tak sanggup menahan pedih menatap semak belukar dan padang Ilalang yang sudah tak bernyawa lagi namun menyisahkan bulir – bulir benih yang matang dan sebentar lagi  akan jatuh tertimbun tanah sebagai wujud regenerasi, kini harus sirna menanggalkan sekam menggunduk  hitam menduka. 
Aku tak habis pikir, berapa banyakah hewan hewan kecil, binatang melata dan jenis burung yang harus kehilangan tempat tinggal, atau bahkan kehilangan telur serta anak - anak  mereka yang masih kecil dan tak berdaya?. Sungguh, betapa duka dan lara yang mereka tanggung sangatlah mendalam. Sementara aku hanya merunduk bungkam menelan bisu yang kian merasuk.  

Perjalanan ini laksana riak – riak air laut yang menyatu lalu  menari ketepian hingga membentuk gelombang yang menggulung menghempas pecah ke bibir pantai  yang tak pernah lelah menanti kedatangannya.  Dan akupun tiba di tempat yang aku rindukan. Ya, tempat yang teduh – syahdu,  sunyi – sepi dan menyimpan berjuta  misteri  bagiku yang adalah pemula di kampung ini. Lantas sejenak aku rehat lalu merenung dalam tanya, apakah yang aku cari di tempat ini?. Akankah suara - suara alam  seumpama  siulan burung,  gemuruh angin, gemercik air, keriukan bunyi cabang - cabang  menggesek,  dan  ekspresi  lambaian dedaunan nan indah berseri, lika - liku batang tali temali  hutan berirama dan seimbang, sanggup menjawapi maksud kedatanganku yang tertata rapih  pada kedalaman jantung hati ini?. Akh,, sudahlah, paling tidak mereka telah menyapaku dengan keunikan mereka masing - masing sehingga seolah olah aku menjadi betah untuk beroase di sini.

Waktu berlalu amat gesit. Sementara udara terus menghebuskan gelora dinginnya menembusi pori - poriku. Tempat ini sangat dingin walau berada jauh dari gunung dan bukit. Sesuai dengan namanya, tempat ini berada di lembah. 
Aku ingin menceritakan sedikit tentang lembah ini sesuai dengan apa yang saya dengar, rasakan dan alami sendiri di sini. Paling tidak, ada dua peristiwa penting yang pernah terjadi di tempat ini. ‘’ 

Suatu ketika, ada sebuah  peristiwa yang menghentakan hati dan amat rumit untuk dipecahkan akal sehat manusia. Kala itu hujan sedang turun dan beberapa konfrater sedang asyik bermain bola sembari mengantar senja yang letih kepangkuan malam. Secara mengejutkan, pelangi muncul penuh pesona persis di belakang pondok nomor 10 itu. Para fater lari terbirit - birit ketakutan. Father, di bawah sana ada pelangi. Kami lari karena takut. Mendengar itu, akupun berdiri dan langsung mengarahkan pandanganku ke tempat itu. Betapa aku terkejut, melihat pelangi yang begitu indah dengan cahaya  yang berkilau. Aku sering melihat pelangi tetapi dengan jarak yang sangat jauh. Detik itu  hidupku sungguh sangat berharga karena sanggup melihat pelangi dengan jarak yang sangat dekat. Kumelihatnya seperti sebuah pamflet besar yang hendak dipajang di sebuah tempat.’’ Ungkap seorang pendamping rohani yang dengan sukacita membagikan pengalamanya tentang kampung ini.

Beberapa menit kemudian ia kembali menceritakan kegaiban yang sulit dimengerti. ‘’suatu malam aku sangat terkejut ketika melihat sebuah cahaya benderang di tengah hutang sebelah sana, cahaya itu seolah - olah hendak menyingkap pekat malam yang seram. Aku mengamat - amatinya secara seksama, ternyata cahaya itu bersumber dari sebuah pohon yang dikerumuni hampir jutaan kunang - kunang. Lantas, darimana dan apakah yang sedang mereka lakukan?. Terus terang , aku tidak paham sama sekali. Sungguh, aku melihat hal semacam itu hanya di sini saja.’’ Ungkapnya dengan raut wajah yang meyakinkan. 

Aku tahu bahwa peristiwa yang terjadi itu hanyalah dua dari ribuan peristiwa yang terjadi di sini yang tentunya sarat akan misteri. Andaikata  Sungai Kerit yang mengalir syahdu di lembah ini sanggup menceritakan kegaiban yang sering terjadi maka cerita tentang Lembah Carmel tak akan pernah usai dan bahkan corong penaku pasti tumpul sehingga membendung tinta yang hendak kugoreskan padamu. Akan tetapi biarlah Sungai Kerit itu  membungkam, biarlah kedua peristiwa itu terus berkisah dan corong penaku sekalipun biarlah mengering tanpa membekas pada setiap goresan - goresan yang kukisahkan untukmu. 

Aku sungguh menyadari bahwasanya bukan hanya ‘’ langit yang menceritakan kemuliaan – Nya, atau Cakrawala yang menceritakan pekerjaan tangan – Nya, serta hari meneruskan berita kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan kepada malam’’, akan tetapi segala - galanya adalah menceritakan kemuliaan – Nya, termasuk siulan burung, gemuruh angin, gemercik air, keriukan bunyi cabang - cabang menggesek, lambaian dedaunan nan indah berseri, lika – liku batang tali temali, pesona pelangi, dan cahaya pohon yang diselimuti jutaan kunang - kunang. Aku merenungkan semuanya, segala bentuk senyuman, sapaan serta ekspresi alam yang kujumpai adalah cermin yang memantulkan puncak perziarahanku selama ini. Dia memberi tanda bahwa terkadang aku melalui perjalanan yang berlekak liku seperti lika - liku batang tali temali, terkadang seperti cahaya pesona pelangi atau kerlap - kerlip cahaya jutaan kunang - kunang yang menyelimuti pohon itu. Aku menemukan hal itu karena aku tenggelam dalam sunyi sepinya Lembah Carmel. Aku terlelap dalam keheningannya.  

Jiwa raga ini seutuhnya adalah kesunyian yang mengantarku ke jalan yang Mahasunyi. Dan dari sini aku hendak melangkah lebih dalam lagi menelusuri kesunyian jalan-Nya. Aku mau bertolak lebih dalam lagi. Aku berhasrat menguasai sungguh - sungguh kesunyian jalan - Nya di mana kaki tak pernah berbunyi ketika aku melangkah, tubuh tak pernah letih kala berjalan, dan keringat tak pernah bercucuran kala gerah. Semuanya sirna dalam lorong - lorong kesunyian yang tiada tara. Ya, aku berdiri dan bersama – Nya aku mau bertolak lebih dalam ‘’ duc in altum ’’ meraih kesunyian. 

(Lembah Carmel, 27 – 29 juni 2017)
     
×
Berita Terbaru Update