-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DUKA-MU DUKA-KU

Selasa, 15 Mei 2018 | 10:55 WIB Last Updated 2018-12-08T15:44:05Z

Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya-Jawa Timur, berduka, Minggu 13 Mei 2018, pkl. 07.15 WIB. Aku baru saja beranjak dari Kapel Seminari Montfort Pondok kebijaksanaan-Malang Jawa Timur. Belum lama kubuka akun facebookku, muncul status pertama dari salah satu teman di FB, “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Status itu disertai gambar-gambar mayat, dan beberapa orang luka-luka, serta puing-puing gereja bersangkutan, porak poranda bak perang sarat nyawa. Walau jauh dari TKP, tetapi hati saya sebagai satu tubuh, dalam Gereja Tubuh Kristus, sungguh merasakan jeritan duka Gereja di tengah-tengah Serigala berbulu domba. Tragedi ini tidak hanya sekali terjadi tetapi berkali-kali. Dalam diam, kubertanya, “mengapa harus Gereja?, ya, Tuhan, mengapa harus Gereja yang mati di tangan para perenggut nyawa?”. Haruskah masuk surga itu sarat darah? Gumamku kecewa, seraya meneteskan air mata tentang mereka yang menjadi korban. Aku kelewat sarat, menyaksikan anak-anak tergeletak kaku di halaman gereja, ibu-ibu muda lelap tak berdaya, ayah-ayah seolah tak berarti di pelataran bumi, lanjut 'ku bertanya, “di manakah Tuhan?”, mengapa tinggal diam? Tak mungkinkah aku menang, walau hanya selamat badan?
Tanya itu mungkin hanya akan membawa sial. Gereja ya...lagi-lagi Gereja yang dibantai habis-habisan. Iblis begitu akrab di bumi, mengusik keamanan anak-anak terang.
Pagi itu beranjak siang, seraya meratap zasat-zasat tertumpah darah, perang diam. Aku masih termangu menatap video singkat tentang pemboman itu, seraya merefleksikan nasib Gereja di bumi. Sampai kapankah kita dibantai serigala-serigala liar itu? Kapan kita angkat salib itu dan katakan bersama, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawa-ku”.
Bumi ini bagaikan taman Getzemani bagi Gereja Tubuh Kristus, di mana iman diuji, tubuh disesah, darah tertumpah, harga diri direndahkan dan bahkan jiwa disobek-sobek kebencian masif dalam hati serigala berbulu domba.
Kami berduka, sungguh kami berduka. Saat ini sudah mulai siang, aku masih tidak mau beranjak dari kursi ini, meski ada sorak-sorai terdengar dari luar sana, anak-anak Gereja yang masih tersisa. Aku tidak tahu apa yang mereka rasakan? Apakah tertawanya tanda siap, kapan saja Tuhan kehendaki terjadi? Memang bila kurenungkan kata-kata Tuhan Yesus di akhir-akhir keberadaanNya di bumi ini, sungguh nyata, namun aku masih tetap terus bertanya, “kapan Gereja, Umat Allah bebas dari intaian serigala dunia”?
Ayat-ayat Injil menjelang hari raya Pentakosta bernuansa pengharapan, tetapi sampai kapan harapan itu sungguh-sungguh terwujud, kalau kita terus diperdaya iblis-iblis berbadan manusia?
Sekarang jarum jam sudah menjuk ke pkl. 11.20 WIB, tetapi aku tetap masih duduk di kursi ini, seraya mulai merajut kata-kata yang mungkin dapat mengispirasiku tetap berpegang teguh pada Tuhan Yesus. Untuk saudara-saudariku yang seiman yang telah berpulang ke pangkuan Bapa, hari ini Minggu, 13 Mei 2018, pkl.07.15 WIB, kuucapkan selamat jalan, aku terus berdoa untuk kalian dan pelaku teror itu, sebab tidak mudah melupakan tragedi ini, sama seperti aku yang tidak mudah mengampuni pelaku teror itu, tetapi karena TUHAN telah mengajarkannya kepadaku, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44). Ini tidak mudah, tetapi untuk kalian aku berusaha melakukannya.
Layaknya hari siang, demikianlah mataku mulai mengerang kepenatan. Senada dengan itu rasanya imanku sungguh-sungguh diuji, pertanyaan Tuhan Yesus bergema nyaring di telingaku, "Apakah kamu tidak mau pergi juga? (Yoh. 6:67). Atas nama saudaraku seiman yang hari ini telah berpulang ke pangkuan Bapa, aku hendak menyanyikan nama Tuhan, dengan terus bertekun dalam iman akan Kristus, dengan itulah aku solider dengan mereka yang telah mendahului kita, darah mereka tidak sia-sia, tetapi menyirami gersangnya halaman Gereja dalam dunia modern, sarat teror dan kejahatan diam-masif di bumi ini, bersama pemazmur kunyatakan, “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu” (Mzm 91:7). Mereka rebah karena cinta akan Kristus, mereka laksana martir awali dengan gagah menghadap Kristus Sang Martir Ilahi, namun gumam ini bukanlah pembenaranku akan tragedi ini, tetapi bagiku, mereka adalah teladan Gereja Kristus yang tak kenal takut dan Gentar.
Kini waktu kian melangkah, merunduk ke arah barat, aku masih belum beranjak dari dudukku, lagi-lagi kulakukan hanya demi peristiwa hari ini yang kian merajam imanku, sebab mereka adalah bagianku, tubuhku dalam Kristus, aku tak sedang berandai-andai tetapi rasa itu tidak bisa kutipu. Hanya orang beriman mengaku Yesus sebagai Tuhan.

Oleh: Dominikus Siong
×
Berita Terbaru Update