-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

JANGAN MENANGIS

Rabu, 16 Mei 2018 | 17:46 WIB Last Updated 2019-12-01T16:48:10Z
JANGAN MENANGIS



Oleh: Elminaldodede

Teruntuk para perempuan

yang masih menangis diam-diam.

Pada jeda panjang nan rapuh,

di antara lelah ingin jatuh,

terselip momen pilu



yang menyatu dalam isak tangis sendu,

menggema mewakili tetes-tetes air mata yang bisu

dari perempuan-perempuan kota kalbu.



Baladakah itu?

Lagu yang dibalut nada-nada melankolis mengalun merdu,

suara-suara minor muncul di tengah caci-maki, hina-benci menyerbu,

menyergap telinga, mengetuk hati,

hingga akhirnya langkah Sang Guru berhenti di situ.



Ya, kepedihan itu ternyata jauh lebih ampuh,

mengubah derita di tengah luka dan dahaga via dolorosa

menjadi kekuatan untuk sejenak berdiri dan menyapa dengan teguh.



Angin berhembus perlahan,

menyisir kegelisahan di bawah ganasnya terik mentari.

Waktu seakan berhenti sekali lagi,

meski titik-titik darah terus mengalir,

dan mata para ibu masih berair.



Hening. Tenang. Diam.

Segala jenis prasangka pun nestapa ikut meredam.

Untuk detik-detik itu, keagungan menjadi milik

tubuh Sang Guru dan hati para ibu yang lebam.



“Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi aku,

melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!”

Suara Anak Manusia terlontar perlahan dari bibirNya yang getar,

dari balik kukungan palang salib yang besar,

menyapa relung hati para puteri yang berdiri mencoba tegar.



Itu sapaan kasih yang mesra,

yang lahir dari kenangan seorang Anak kepada bundaNya;

Anak yang kini penuh luka-luka menganga dan mandi darah,

melihat wajah puteri-puteri asing itu sebagai wajah Maria.



“Oh, Ibu. Jangan melihat padaKu. Cukup hatimu saja yang remuk ditembusi pedang.

Jangan tangisi aku. Air mata ibu adalah seribu salib di pundakku. Ingatlah itu!”

Mengapa? Mengapa kalian menangis, wahai perempuan?

Yang kalian saksikan ini hanyalah secuil debu dari dengkilnya kehidupan.

Sebelum peristiwa ini, engkau sudah sering menangis, bukan?



Setelah hari ini pula, engkau akan menjumpai rupa-rupa drama yang lebih banal,

dengan antiklimaks yang samar penyelesaian.

Kalian sudah terlalu lama mengecap begitu banyak ketidakadilan,

padahal dirimu adalah rahim kehidupan.



Sejarah tidak pernah mengelak jika kita meminta bukti,

dan potret penindasan semakin berwarna akhir-akhir ini.

Kalian menghirup udara yang diracuni oleh himpitan budaya patriarki;

kodrat dirimu selalu berada di bawah bayang-bayang lelaki;

suara dan pendapatmu sering tidak didengar sama sekali;

elok paras dan lekuk tubuhmu digerayangi;

banyak mata yang lapar akan nafsu birahi,

juga berlaksa hati yang haus akan kenikmatan duniawi.



Anak-anakmu yang kau jaga dari dinginnya malam-malam sepi,

diculik dan dikirim ke luar negeri.

Di sana mereka menjadi budak tanpa gaji yang tak pasti,

dan tiba-tiba pulang kembali dengan peti mati.

Ah, apa yang ada padamu hanyalah eksploitasi!



Lalu, apakah engkau masih mau menangisi aku, wahai perempuan-perempuan?

Aku hanyalah korban dari penguasa politik dan pemimpin agama

yang tidak mau dikritik.



Wahai puteri-puteri Yerusalem, jangan menangis!

Apa gunanya bersedih jika dunia terlalu egois?

Teruslah berjuang untuk keluar dari neraka ketidakadilan yang bengis.



Jika kalian setia mengikuti tapak-tapakku di jalan salib ini,

maka bersama kita akan merayakan kebangkitan.

Simpan air matamu hingga ujung perjuangan,

biar nanti ia mengalir karena kebahagiaan.


Ledalero, Pekan Sengsara 2018.

*Puisi ini pernah dibacakan pada Perhentian ke-8 Jalan Salib Akbar di salah satu Paroki dalam wilayah Keuskupan Agung Ende, 30 Maret 2018.

**Elminaldodede adalah nama pena dari Dede Beo. Mencintai puisi, kopi, gitar, dan Juventus FC. Penulis tinggal di Maumere, Flores.

×
Berita Terbaru Update