-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEMISKINAN CINTA

Rabu, 23 Mei 2018 | 18:10 WIB Last Updated 2018-05-23T11:10:55Z

Atau cinta atau benci
Siapa yang bisa memilih antara keduanya. Barangsiapa memilih yang pertama. Dia telah memahati kehidupannya dengan kuas yang indah. Sebaliknya, barangsiapa memilih yang yang kedua. Dia telah membangun tembok kedengkian bagi sesama.
-Fredrich Kaffaso Nawang-

Dalam Buku “Seni Merawat Jiwa” ditawarkan tiga jalan untuk merawat jiwa dalam ranah pemikiran Pius Pandor, CP. Jalan pertama yaitu jalan pengenalan. Pengenalan mencakupi pengenalan diri, orang lain, alam semesta dan Tuhan. Jalan kedua adalah jalan peradaran. Jalan ini sejatinya memberikan kita rambu-rambu bagaimana seharusnya mengembangkan seni merawat jiwa. Jalan ketiga adalah jalan eureka atau jalan penemuan jati diri (Pandor, 2014). Jalan utama kehidupan manusia adalah jalan menuju perawatan jiwa. Ada berapa banyak jiwa yang terluka di sini atau situ. Ada berapa banyak jiwa yang miskin dan malang di luar sana. Dalam ulasan sederhana ini, saya tidak menggunakan pendekatan kemiskinan struktural atau kemiskinan fisik. Saya mencoba menggunakan pendekatan: “Kemiskinan cinta”. 

Suatu kali Joffer berbincang dengan seorang anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Joffer mengatakan, “Sungguh bahagia Nesia memiliki ayah dan ibu yang kaya. Sehingga apa pun yang Nesia inginkan terpenuhi.” Nesia menjawab, “Aku tak membutuh banyak uang, mobil, speda motor dan sederetan kekayaan lainnya. Saat ini, saya membutuhkan cinta kasih dan perhatian.” Cinta soal hubungan yang sejati antara dua pribadi. Terutama dalam pribadi anak dan orang tua, sahabat dan juga seluruh peristiwa perjumpaan.

Lalu Joffer pun berbincang dengan seorang anak dari keluarga miskin. “Apakah kamu bangga dengan keadaan kamu yang miskin dan susah payah menghidupi kehidupan itu sendiri?”, Sejurus pertanyaan dari Joffer. “Kendatipun orang tuaku miskin, tetapi cinta mereka telah kurasakan dalam kehidupan.” Anak itu bangga dengan keadaan orang tuanya. Bahkan, ia bersyukur memiliki orang tua seperti itu.

“Kemiskinan terbesar yang dialami oleh manusia dewasa ini”, menurut St. Theresa dari Kalkuta adalah “kemiskinan cinta”. Kemiskinan cinta itu menyergap setiap orang. Kemiskinan cinta membuat orang takut. Dalam Injil Yohanes dikisahkan bagaimana para murid yang bersembunyi karena takut. Mungkin kita tidak bersembunyi di tempat atau rumah-rumah, tetapi takut itu bersembunyi di dalam hati kita. Kemiskinan cinta membuat orang tidak percaya kepada situasi atau keadaan hidup mereka. Kemiskinan cinta mengerdilkan kehidupan. 

Apa yang menimpa seorang anak (Nesia) bukanlah sebuah kisah tunggal. Banyak anak sekarang yang menimpa krisis cinta dalam hidup. Krisis cinta dan perhatian tidak saja menyergap orang miskin, tetapi juga menghantui orang kaya. Orang tidak lagi puas dengan fasilitas yang memadai kalau orang tua tidak pernah berbicara dan berdialog dengan mereka. Orang tua pergi bekerja dari pagi sampai malam, tak ada sedikit waktu pun untuk bisa berada bersama sang anak. Akibatnya anaknya lebih mendapat kasih dari pembantu daripada orang tua kandung. Sehingga dari sisi emosional seorang anak lebih kuat dan dekat dengan pembantu ketimbang kepada orang tuanya sendiri. Sedih bukan?

Ada sebuah kecendurungan di sini untuk mencari cinta dan perhatian di luar rumah. Rumah pada pemahaman saya bukan gedung. Ruma memberi sejuta kehangatan dan kasih. Banyak anak muda sekarang mencari cinta di luar rumah. Orang mencari cinta dengan teman ABG-nya. Kalau, dilihat bahwa mereka juga tidak salah. Karena di dalam rumah, mereka tidak menemukan kasih dari orang tua. Pegangan dalam hidup yang pertama dan terutama adalah pemenuhan energi cinta. Ketika orang sudah diluapi dengan energi cinta, maka orang tidak lagi mencari cinta lain. 

Situasi karut marut sekarang sedang dipentaskan tatkala banyak anak muda yang terjerumus dalam narkoba. Kebanyakan dari mereka adalah anak orang yang cukup berada. Lalu, kita bertanya, apakah mereka tidak puas dengan kekayaan orang tua mereka? Terlalu sempit kalau dunia langsung menyalahkan anak muda. Patutlah kita melihat fondasi dari kehidupan adalah relasi aku-kamu. Relasi yang dibangun di atas wadas cinta. Kalau relasi dibangun di atas wadas ‘uang dan harta’, yang terjadi adalah relasi semu atau temporal. Karena kehauasan utama adalah kehausan kasih. 

Terlalu naif kalau orang tua mengatakan yang terpenting adalah kesejahteraan lahiriah keluarga. Bahwa semua keperluan anak terpenuhi. Anak difasilitasi oleh berbagai peralatan yang mempermudahkan mereka. Misalnya, mobil, laptop, motor, dan sebagainya. 

Sesungguhnya tanki yang masih kosong di dalam diri seorang anak adalah tanki cinta. Maka, isilah tangki itu sepenuhnya, baru yang lain ditambahkan kemudian. Karena tanki cinta itulah yang menghidupi dia di kemudian hari. Orang tidak bisa memberi dari apa yang dia tidak punya. Kalau ia sudah mendapat banyak perhatian dan kasih dari orang tuanya, maka kasih dan cinta itulah yang dia bagikan kepada orang lain dalam hidupnya.

Ada dua tipe orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan ini, Pertama, Mungkin kita sering melihat ada pribadi yang dingin dan pelit. Sesungguhnya yang terjadi adalah karena dia kekosongan cinta dan kasih dalam pergulatan hidupnya. Salah satu jalan yang dilalui adalah mencari dan membutuhkan perhatian dari pihak lain. Ia terus mencari perhatian, cinta, pujian, dukungan dan decak kagum dari banyak orang. kedua, Pribadi yang suka membantu. Suka berkurban. Karena dalam hidupnya, ia sudah terpenuhi dengan tanki cinta oleh orang tuanya. Relasi aku-kau (keluarga) membawa ia untuk bertumbuh dan membagi cinta yang telah ditanam dalam keluarga. Cinta itulah yang menjadi investasi untuk bisa diberikan kepada orang lain. Maka bisa ditarik kesimpulan, cinta itu butuh investasi. Sehingga cinta itu akan menjadi sebuah gerakan yang dahsyat dalam sebuah kolam hidup keseharian.

Kehidupan para nabi selalu dilingkupi oleh sabda. Para nabi adalah mereka yang membaca kehidupan. Para nabi melihat kehidupan ini adalah sebuah teks. Teks pertama adalah diri mereka sendiri. Teks kedua adalah orang lain. Teks ketiga adalah membaca kejadian. Dan Teks terakhir adalah Allah mau apa? 

Para nabi adalah manusia pendoa. Manusia yang se-phatos (perasaan) dengan Tuhan. Pada nabi juga selalu diliputi oleh penderitaan (man of suffering). Lalu, bagimana pewartaan mereka di tengah kehidupan yang mengalami kemiskinan cinta?

Hemat saya ada beberapa poin yang perlu direfleksikan tentang tema kemiksinan cinta yang sedang digarap. Pertama, menutup hati kepada Allah. Kemiskinan cinta itu pertama-tama ketika  hati membenteng atau memblokir untuk menerima cinta Allah. Manusia tidak sadar bahwa dia hanyalah pencipta. Dalam Kisah Yesaya, ia mengatakan kepada umat Israel, “Lembu saja mengenal tuannya, sedangkan Israel tidak”. Manusia sekarang ini sedang mengalami kemiskinan cinta ketika Allah mereka adalah uang, kekuasaan dan reputasi. 

Kedua, tidak membaca setiap kejadian-kejadian hidup. Begitu banyak peristiwa dilalui begitu saja, tanpa ada catatan refleksi untuk membenah diri. Dalam rada yang lebih puitis, Ebiet G. Ade bernyanyi, “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”. Manusia tidak membaca kejadian atau peristiwa dalam hidup, misalnya tsunami aceh, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, narkoba, penyalahgunaan seks dan kisah lainnya. Bukankah itu semua adalah kemiskinan cinta. 

Ketiga, membaca kehidupan sendiri dan orang lain. Mencari kesenangan pribadi merupakan kedangkalan cinta. Kedalaman cinta kepada diri sendiri yaitu membaca juga situasi orang lain. 

Hemat saya kisah Yunus adalah sebuah kisah yang indah dalam Kitab Suci. Kisah yang merangkum metafisika relasi kehidupan (diri sendiri, orang lain, alam ciptaan dan Tuhan) Salah satu kisah seorang Nabi yang membuat saya terharu. Ia mengalami pergulatan pribadi. Dikisahkan ia melarikan diri ke Tarsis, jauh dari Niniwe (kota yang besar bagi Tuhan). Apa yang terjadi, ia diberi ganjaran. Ada suatu peristiwa menarik yaitu ia mengalami tiga kali proses turun. Pertama, ia turun dari Yerusalem ke Kapal. Kedua ia turun lagi ke dasar kapal. Lalu, turun lagi ke laut. Dan terakhir ia turun ke ikan besar dan berdiam di dalam perut ikan. Apa yang menarik? Hanya ketika dia berada di dalam perut ikan, dia baru berdoa dan memuji Tuhan. Proses turun pun berubah menjadi proses naik. Ia dinaikkan ke daratan.  Kemudian Yunus berseru, engkau menaikkan aku dari dalam kuburan. Yunus akhirnya naik ke hadapan Tuhan. 

Kemudian, ia mewartakan apa yang difirmankan Tuhan kepada umat di Niniwe. Setelah ia mewartakan Firman Tuhan, semua orang Ninewe bertobat. Raja pun ikut bertobat. Bahkan manusia dan binatang memakai pakaian kabung. Ini simbol pertobatan sejati. Tidak ada yang mati di dunia ini. Semuanya hidup. Semuanya memuliakan Tuhan.

Yunus pun akhirnya sedih lagi karena berhasil mempertobatkan orang Niniwe. Dia menginginkan agar orang Niniwe ditunggangbalikan oleh Tuhan. Akan tetapi, malah mereka balik ke jalan Tuhan. Ketika umat Niniwe bertobat, malah ia merasa sedih. Dan sangat ekstrem digambarkan, bagaimana ia mau mati dan tidak bertahan lagi untuk hidup. 

Akhir kisah ini begitu gemilang dan mempesona. Yunus menarik diri ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Dia mendirikan pondok untuk berdiam diri. Ia sangat kesal dengan Tuhan. Tuhan menumbuhkan sebuah pohon jarak agar Yunus tidak kepanasan di siang hari. Ia sangat bahagia karena pohon jarak itu. Lalu, Allah mengirim ulat untuk menggerakan pohon jarak itu. Dan, Yunus pun lebih kesal lagi.

Lalu, terjadi suatu dialog cinta. “Apakah engkau sayang kepada pohon jarak itu?” Yunus menyahut Allah, “Aku sangat kesal dan aku lebih baik mati saja dari pada hidup.” Allah memberikan peneguhan, “Yunus, Engkau sayang pada pohon jarak yang tidak engkau usahakan. Yang tidak engkau tumbuhkan. Yang tumbuh dalam semalam dan binasa dalam semalam. Bagaimana mungkin Aku (Allah) tidak sayang kepada Niniwe yang penduduknya berjumlah seratus dua puluh ribu itu, yang tidak bisa membedakan tangan kiri dari tangan kanan dan segala ternak mereka”.

Kisah Yunus memberikan suatu kejelasan apa itu cinta. Cinta itu tidak berhenti di wilayah “ego pribadi”. Cinta itu melampaui apa yang dirasakan oleh manusia. Kemiskinan paling besar dalam kehidupan adalah ketika kita tidak memiliki cinta. Ketika kita tidak memiliki lagi kosakata “syukur” dan “terima kasih”. Kisah Yunus merupakan sebuah sekolah cinta. Sebuah sekolah yang melatih orang untuk membangun diri dengan nilai cinta kasih. Jokowi menyerukan Revolusi mental, dan Kitab Suci menyerukan Revolusi Cinta. Karena dunia terlalu surplus dengan benci, sedangkan cinta makin defisit. 

    Kemiskinan cinta merupakan akar dari segala kemiskinan dalam kehidupan manusia. Kemiskinan cinta berjangkit pada kemiskinan moral, kemiskinan struktural, kemiskinan sistemik, kemiskinan keadilan, kemiskinan harapan, dan kemiskinan lainnya. 

   Lantas, apa yang perlu kita bangun? Belajar dari para nabi yaitu mau mendengarkan suara Allah. Allah mau berbicara apa di dalam manusia zaman ini. Lalu, usaha kita adalah merawat tiga jalan yang sudah diserukan oleh Pius Pandor dalam SMJ (Seni Merawa Jiwa). 

  Kisah hidup para nabi merupakan pergulatan tentang cinta dan 267 (re-la-si). Relasi kosmologis yaitu diri sendiri, sesama, alam ciptaan dan Tuhan. Dalam relasi terkadang terjadi penderitaan dan kecemasan. Hal ini sangat kuat dalam kehidupan Yeremia. Di tengah penderitaan, ia mengalami kemiksinan akan cinta Allah. Adanya pengalaman ke-absen-an cinta Allah. Ia menggambarkan suasana batinya dalam sebuah syair yang indah: “Engkau (Allah) seolah-olah seperti sungai yang curang dan air yang tidak dapat dipercaya”. Padahal orang yang haus itu merindukan air untuk memuaskan rasa dahaga, namun justru air itu tidak lagi dapat dipercayai. Pengalaman relasi memurnikan kehidupan Yeremia dan ia pun dipenuhi dengan Cinta Allah. 

   Sehingga, kemiskinan cinta selalu dalam gandengan dengan pengalaman dimurnikan. Orang yang mampu bertahan akan mencapai suatu pengalaman yang intim dengan Allah. Dalam bahasa yang lebih radikal, kemiskinan cinta diakibatkan oleh pengalaman jauh dari Allah. Tidak mengejar harta rohani. Orang berlomba-lomba menabung harta di dunia ini. Orang lupa menabung harta surgawi. Mata manusia dibutakan oleh cinta. Bukan cinta kepada Allah, melainkan cinta kepada uang. 

Penulis: Fredrich Kaffaso Nawang
Editor: Eugen Sardono

×
Berita Terbaru Update