-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEDIA MASSA DAN KEBERPIHAKAN; TANTANGAN BAGI PENDIDIKAN KEBENARAN

Selasa, 22 Mei 2018 | 21:08 WIB Last Updated 2018-05-22T14:08:35Z

Keberpihakan menafikan netralitas. Ia muncul lantaran ada kepentingan subjektif. Dalam hal ini, objetivitas menjadi tidak penting. Media massa pun turut bermain dalam hal ini. Masyarakat sekarang berada pada posisi dilematis, mau mempercayai media yang mana? Mengingat keberpihakan dilatarbelakangi kepentingan subjektif, maka pencapaian tujuan yang melatardepaninya. Di sini, segala cara cenderung menjadi sah, sejauh terget dapat diraih. Di tengah persoalan ini, bagaimana Gereja meresponinya. Apakah Gereja diam?
Pada Zaman Orde baru, ada guyonan politik bahwa di negara-negara totaliter dokter gigi tak laku. Bukan karena tak ada pasien sakit gigi, tetapi karena tak ada  yang berani buka mulut. Buka mulut adalah berbahaya, bisa dicap anti pembangunan, bisa dikenakan pasal-pasal tertentu. Oleh karena itu, supaya aman, semua harus diam, ikut petunjuk resmi atau setengah resmi. Tak boleh tampil beda, harus seragam seperti pakain sekolah.
            Di era Reformasi, ada guyonan tercatat dokter yang paling berlaku keras ialah ahli THT. Soalnya banyak sekali pasien penderita radang tenggorokan. Bukan karena kurang gizi, tetapi karena terlalu banyak buka mulut dan berteriak menuntut kebebasan yang semu. Di sana, siapa saja boleh berteriak, tetapi tak semua orang wajib menjawab.
            Charles Frost mencoba mengakses kedua fenomena yang kontras di atas. Katanya, “pelitnya penguasa membuka keran demokrasi”. Akibatnya, sekali keran dibuka higga dol, maka bumi tirai bambu banjir peluh, air mata dan darah manusia. Di samping itu, masyarakat belum siap berdemokrasi atau menikmati kebebasan yang mengucur deras dan tiba-tiba itu dari keran demokrasi.
            Kita adalah bangsa yang pintar mengambil hikmah dari berbagai pengalaman. Kita tidak boleh terjepit di antara dua titik ekstrem di atas. Kita menciptakan petunjuk baru-juklak, juknis, jukri dan jukdung-sebagai acuan dalam berprilaku. Kita menjadi manusia-manusia petunjuk.
            Inter Mirifica adalah dekrit Konsili Vatikan II tentang “Media Komunikasi Sosial”. Dokumen ini dipromulgasikan oleh paus Paulus VI tanggal 4 Desember 1965. Terjemahan dari judul Inter Mirifica (di antara karya teknologi yang mengagumkan) mengatakan maksud dari dokumen ASK ini. IM menaruh keprihatinan besar pada kemajuan kreativitas manusia dalam teknologi komunikasi.
            Kemajuan komunikasi telah mengubah peradaban manusia. Komunikasi manusia memiliki kodrat tujuan: menyampaikan kebenaran. Teknologi komunikasi diperuntukkan bagi hidup manusia dalam menggapai kebenaran. Setiap komunikasi kepalsuan haruslah disimak sebagai penyalahgunaan media dan pelanggaran komunikasi.
            Media komunikasi juga memiliki maksud kodrati: harus digunaka secara moral mengembangkan dan memuliakan hidup manusia. Jika media komunikasi digunakan untuk menghantam dan merusak keluhuran hidup manusia, halnya secara moral bertentangan dengan prinsip kemajuan komunikasi itu sendiri.
            Karena kodrat media komunikasi yang demikian (mengantar pencapaian kebenaran) dan maksudnya harus memuliakan hidup manusia, diperlukan cita rasa tanggungjawab dari para eskponen dan pengelola media komunikasi. Kemajuan komunikasi manusia harus pula melukiskan kebersatuan seluruh umat manusia, dan menghindarkan bangsa-bangsa terpecah-belahan.
            Tugas utama dan kodrati umat kristiani ialah mewartakan injil. Injil adalah Kabar Baik kepada semua orang. Karena itu, seiring dengan kemajuan komunikasi, umat Kristiani makin dipanggil untuk menyesuaikan cara-cara baru yang lebih berdayaguna untuk mewartakan Kabar Baik. Gereja mendorong dan memberi semangat kepada segenap lapisan umat untuk belajar dan memanfaatkan seefektif mungkin media komunikasi dalam rangka melanjutkan tugas perutusannya, mewartakan Kabar Gembira.
            Dekrit IM menggarisbawahi keterpautannya dengan tugas pewartaan injil sebagai “dimensi pastoral kemajuan media komunikasi”. Gereja juga mendorong Hari Komunikasi Dunia sebagai bentuk perhatian nyata terhadap bidang komunikasi manusia. Malahan, Gereja mendesak agar umat katolik (awam, klerus atau biarawan/ti) tidak menunda-nunda keikutsertaan mereka dalam kemajuan komunikasi untuk kepentingan perwartaan injil. Juga, agar Gereja memanfaatkan mereka yang ahli di bidang komunikasi untuk memajukan pewartaan dalam Gereja. Kemajuan sarana komunikasi haruslah juga makin memuliakan Allah. Jurnalisme menjadi lapangan pengabdian Gereja kepada bangsa. (Bdk. Armada Riyanto, Katolisitas Dialogal)

Oleh Eugen Sardono
×
Berita Terbaru Update