-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MELESTARIKAN KEBUDYAAN DALAM RANGKA MEMILIHARA NKRI (Nilai Politis Pegowai dalam suku Dayak Barai-Kalimantan Barat)

Kamis, 03 Mei 2018 | 22:59 WIB Last Updated 2019-12-04T13:21:17Z

MELESTARIKAN KEBUDYAAN DALAM RANGKA MEMILIHARA NKRI (Nilai Politis Pegowai dalam suku Dayak Barai-Kalimantan Barat)


Pegowai merupakan salah satu pesta syukuran suku dayak, terutama dayak Barai di beberapa wilayah Kalbar, tepatnya di desa Nanga Lidau, sekitar 60 Km dari kota Sintang.

Pesta ini dilakukan dua atau tiga bulan setelah memanen padi di ladang. Dalam konteks kultural dayak Barai Pesta ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan baik dengan Ompongk soma (bahasa Dayak Barai: Sang Pencipta) maupun dengan keluarga dan juga temuai (Tamu). 

Di wilayah Kalimantan Barat, tepatnya di kota Sintang, di satu dua desa sekitar 60 Km dari kota Sintang, hiduplah sub suku Dayak yang disebut Dayak Barai.

Suku ini tersebar diberbagai daerah khususnya di kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang. Suku ini terdiri dari tiga bagian yakni Orang Barai Hulu, Orang Barai Darat, dan Orang Barai Hilir (bdk. Alloy, 2008: 95).

Suku ini memiliki kebiasaan atau tradisi Bebonet danPegowai. Kebiasaan ini biasanya diadakan dalam Pesta Gawai Adat (Syukuran setelah panen), yang dilakukan satu kali dalam satu tahun.
Dalam pesta ini, masyarakat dayak Barai menyelenggarakan beberapa acara adat yang wajib diikuti oleh muda-mudi sebagai penerus kebudayaan.

Pada suatu hari dimana orang-orang Barai (di Kampung Nanga Lidau) sudah memanen hasil ladangnya masing-masing. Pada bulan ke tiga setelah memanen hasil ladang, mereka mulai mengadakan pertemuan bersama para pemuka adat yang diketuai oleh Tumenggung.

Intensinya adalah untuk menentukan hari dan tanggal Pesta Pegowai (Pesta Syukuran Setelah Panen Padi). Setelah memastikan tanggal dan hari pesta tersebut, kemudian Tumenggung mengumumkannya di Balai desa.

Itu dalam konteks suku dayak Barai, karena tidak memiliki Rumah Betang, tetapi berbeda dari kebudayaan dayak bidayuh (Serawak), untuk menyatukan atau mengumpulkan anggota sukunya, Kepala Suku yang disebut Tua Kampung harus memukul Gong di Betang Panjang (Rumah Panjang), sebgai tanda ada pertemuan khusus (bdk. Inki, 2007: 7).

Pegowai dilaksanakan selama dua hari, pagi siang dan malam. Pada hari pertama Pegowai, dilakukan pemotongan hewan kurban masal. Hewan-hewan yang wajib dikurbankan adalah Babi, dan Ayam kampung.

Setelah memotong hewan-hewan tersebut kemudian ada yang bekotah (bahasa dayak Barai: Menguliti daging Babi); ada yang memasak nasi dan sayur atau daging yang sudah dikuliti, di halaman rumah dengan tungku api.

Ada pula yang menyiapkan daun-daun kayu panjang dan lebarnya 30cm, untuk membungkus daging mentah yang akan dibagikan kepada para temuai (tamu) yang akan menghadiri undangan itu; ada pula yang menyiapkan Arak dari tape ketan, Tuak dan kue-kue tradisional seperti Topongk (dari beras ketan), Kelepont, dan bokat (beras ketan yang dimasak dalam bambu).

Yang tidak kalah penting juga adalah ada yang menyediakan kelongkangk (sejenis keranjang kecil untuk menyimpan makanan bagi roh-roh nenek moyang, di gantung di pondok ladang dan di bumbungan rumah).

Pada hari kedua, kegiatan pegowai dilanjutkan dengan penuh suka cita, makan, minum dan menampilkan kesenian-kesenian dayak Barai, baik silat mau pun pantun dan juga tarian.

Pegowai merupakan acara wajib dilakukan, karena berkaitan dengan kegiatan pertanian, misalnya Nyarek okok (Memeriksa hutan untuk lahan pertanian);

MuhonKa Ompongk Soma (Minta Ijin kepada penghuni hutan rimba yang bersangkutan); Nobas (menebas lahan); Nunu Uma (Membakar ladang); Nugal (proses menanam Padi) dan Nganyi (Memanen Padi) (bdk. Bernard, 1989: 119). 

Pegowai memiliki simbol etis yang sangat dalam. Bagi orang Barai, setiap rejeki yang diterima baik melalui hasil ladang mau pun hasil pekerjaan sehari-hari selain berladang, itu merupakan anugerah dari Tuhak atau Ompong Soma (Tuhannya orang Barai).

Ada pun syair-syair yang biasa diucapkan saat melakukan upacara tersebut misalnya demikian (dalam bahasa asli dayak Barai):

“O kant antu rimak, antu babas, antu langit, antu arai sungai...O kabant gana kayu, gana batu, dongan gana arai sungai....Aboh kita bagumpol ditok, bajantoh bakesah, badamai basenang...Itok kabant babi-Manok; Asok-Ukoi...Ulamp kayok udah mansak, aboh kita nyogak nyumak besenang becerita...tok am suko kami ah...dst. (bahasa Barai:

“Oh...hantu hutan, hantu langit hantu sungai...Oh...penghuni kayu, penghuni batu dan penghuni sungai...

Mari kita berkumpul di sini, berturtur-bercerita, berdamai dan berbahagia...ini ada sayur-sayuran:  babi, ayam, Anjing ayo kita makan sambil bercerita ria”).

Syair tersebut sangat identik dengan paguyuban yang juga dilakukan saat-saat dimana ada acara yang sangat serius dan sakral.

Relevansi

Pegowai memiliki makna politis. Acara ini menekankan kebersamaan (kolektivitas).

Hal ini dapat kita ambil saripatinya dari proses awal berladang hingga pesta Gawai dan dalam proses gawai tersebut ada kegiatan berbagi mulai dari mengundangan tamu makan sampai memberi bingkisan bagi para tamu yang memenuhi undangan.

Uniknya adalah bahwa bagi orang barai adalah suatu hal yang tidak etis ketika tamu pulang dengan tangan hampa.

(Pegowai merupakan Bahasa Dayak Barai, Sintang, Kalimantan Barat: “Pesta Syukuran Setelah Panen Padi”)

Oleh: Dominikus Siong
Mahasiswa STF Widya Sasana-Malang

×
Berita Terbaru Update