-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGIKUTI YESUS YANG "KERE"

Senin, 21 Mei 2018 | 18:02 WIB Last Updated 2019-12-20T09:59:42Z
MENGIKUTI YESUS YANG KERE

“Kalau Yesus yang dari sononya ‘kaya’, mau jadi ‘kere’. Lalu, kenapa loh yang dari sononya ‘kere’, nggak mau atau malu bergaul dengan orang‘kere”. (-Kata Nieta, seorang mahasiswi Katolik-)

Sambil menikmati secangkir kopi, dengan menikmati setiap sensasinya, tiba-tiba ada suara yang keluar dari mulut seseorang. Pembicaraan awalnya kuanggap sebagai hal biasa. 

Kata-kata itu justru, kata yang dilupakan, hampir saya lupakan. Kata yang diucapkan seorang pemikir dan tokoh refleksi yang tenggelam oleh waktu, tapi kemarin saya temukan lagi dan saya terkesima.

Sebuah problem adalah sesuatu yang kita jumpai menghambat jalan kita. Ia sepenuhnya ada di hadapan kita. Ia ada untuk diurai dalam detail dan dipecahkan.

Sedangkan sebuah misteri tak bisa; ia melibatkan diri kita seluruhnya, tanpa kita bisa merumuskannya-seperti ketika seorang Amir Hamzah kembali ke Tuhan dengan “sayang berulang”, dan ia sia-sia memahami Maha-Misteri itu lengkap dan final, “Engkau pelik menusuk ingin, Serupa dara di balik tirai”. Pergi ke mars adalah problem, sedangkan jatuh cinta adalah misteri.

Dalam kehidupan selalu saja ada misteri. Misteri itu membuat kita tak tahu apa yang perlu kita lakukan. Saya pernah mendengar kisah dari seorang remaja.

Dia pernah jatuh sakit dan difonis tak bisa sembuh. Dan, berdasarkan hasil keputusan dokter, sakit yang dideritanya hanya ada dua di Indonesia. Dia termasuk. Sedangkan, pasien sebelumnya tidak selamat.

Semua orang panik, terlebih keluarga dekat, khususnya orang tua. Apa yang membuat ia tenang. Ia percaya  hidup adalah misteri. Selalu saja ada kejutan dari Tuhan.

Suatu hari, ia mendapat berkat dari Tuhan Yesus melalui Bapak Uskup. Dan, Uskup itu menyuruhnya untuk mendaraskan rosario setiap hari.

Mulai dari saat itu, ia melakukan secara rutin dan dari hati. Apa yang terjadi? Dalam waktu sesingkat-singkatnya dan tempo yang tidak panjang, penyakitnya sembuh.

Dia berdoa, “Tuhan itu penipu”. Kenapa? Karena Tuhan menipu dirinya bahwa dirinya bisa sembuh. Semua orang tidak melihat itu sebagai misteri. Mereka hanya melihat dengan kacamata manusia.

Setelah mengalami pengalaman itu, ia melihat bahwa yang menyembuhkan dia adalah Yesus Kristus. “Kalau Yesus yang kaya rahmat mau menjadi miskin, kenapa saya yang dari sonohnya kere nggak mau memberi,” demikian ungkapan remaja ini.

Ada beberapa pelajaran berharga yang saya petik. Pertama, hidup itu adalah problem yang diciptakan manusia.

Lebih jauh Goenawan melihat dunia yang diperlakukan seperti itu, manusia dan alamnya ada untuk dikuasai dan dimiliki. Ilmu, teknologi dan ekonomi maju, dan dunia modern lahir.

Hutan rimba diubah jadi kota dan tambang dan manusia bisa terbang, sampai ke bulan. Tapi ada yang cedera.

Seperti manusia pertama di angkasa luar dalam sajak Subagio Sastrowardoyo yang terkenal itu, orang bisa terlontar dari bumi yang dikasihinya, jauh, sampai pada tepi. Di sana ia akan berbisik sedih, aku tak mungkin kembali. Ia hanya punya kenangan.

Apa yang kukenang? Masa kanak-kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa.

Kedua, hidup itu adalah misteri. Tuhan yang diibaratkan oleh Amir Hamzah diibaratkan “serupa dara di balik tirai”. Tuhan yang maha-pelik-telah diproyeksikan sebagai Tuhan-yang-siap-dipakai oleh manusia.

Bila menyebut Tuhan bagi Amir Hahmzah bukan Tuhan seperti yang kita bicarakan. Ada saja kejutan dari Tuhan dalam kehidupan manusia. Ada kejutan besar dan ada kejutan kecil.

Dunia ini adalah rumah yang memberikan manusia kenyamanan dan kehidupan. Sehingga, teriakan kesadaran tidak perlu diperdengarkan lagi, seperti halnya diserukan oleh Goenawan Mohamad mengutip Gabriel Marcel dalam, Le Monde Casse (Dunia yang Rusak) “Sadarlah kau, kita hidup...kalaupun ini bisa disebut ‘hidup’...di sebuah dunia yang rusak? Ya, rusak, seperti arloji macet”.(Goenawam Mohamad, “Misteri,” dalam TEMPO, 13 mei 2018). Dan, rumah kita bukan arloji macet!

Editor: Eugen Sardono
Sumber: Nieta, Mahasiswi Brawijaya, Mahasiswi Katolik
×
Berita Terbaru Update