-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

OVOS OMNES; Kunyanyikan Untukmu

Selasa, 15 Mei 2018 | 21:30 WIB Last Updated 2019-12-06T11:44:15Z
OVOS OMNES; Kunyanyikan Untukmu
(Ilustrasi dari google)
Oleh: Marselus Natar

Gugusan gemawan membentang kusam dikolong langit yang hilang. Hari ini sungguh tidak secantik hari kemarin di mana langit biru senatiasa membujuk mata untuk menatap kemolekannya. Mataku pun tak jemu - jemu menatapnya, bahkan dari fajar hingga senja aku setia menatapnya. 

Sesekali aku seperti setumpuk onggokan sampah akibat larut dalam lamunan membisu. Sepertinya hidupku sia - sia, tanpa arti yang membuat eksistensiku layaknya sebagai manusia. 

Barangkali ada yang bertanya tentang status atau jabatanku saat ini. Jujur saja, statusku sudah jomblo. Pekerjaanku pengangguran. Beberapa tahun yang silam memang aku pernah hidup berkeluarga dan dengan demikian statusku kawin. 

Aku termasuk orang yang berpendidikan, bahkan berpendidikan tinggi juga jebolan universitas ternama. Aku paham benar ilmu hukum. 

Di era 90- an aku dan teman - teman sekampus sering turun kejalanan menyuarakan ketidakadilan dan kesewenangan pemerintah terhadap rakyat kecil. 

Akibatnya kami disanjung - sanjung oleh rakyat dan dibenci bahkan dikejar - kejar oleh pemerintah. Di era itu, aku dan teman - temanku sangat peka dan peduli terhadap kehidupan rakyat kecil dan sangat berani mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak adil. 

Pada saat yang sama aku mencita-citakan seorang pemimpin yang berpihak pada rakyat dan bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. 

Kelak jika aku menjadi seorang pemimpin atau mendapat jabatan penting dalam pemerintahan, aku harus berpihak pada rakyatku dan bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. 

Itu adalah mimpi yang menggebu, mengalir pada darah dan menghembus pada  nafas serta butir – butir keringat dalam perjalanan bersama sang waktu yang kian berlalu. Keparat, mengapa roda waktu melaju sekilat mata petir lantas hati bergetir?.
                                      
                                                                                ******
Bagaimanapun,  hari kemarin dengan hari ini memiliki cerita yang berbeda. Jika dahulu saya pernah bermimpi dan sekarang mimpi itu telah menjadi kenyataan maka itulah yang aku maksudkan bahwa benar dari hari yang satu ke hari yang lain memiliki cerita yang berbeda. 

Beberapa tahun yang silam, aku mencoba terjun ke dunia politik. Salah satu partai tersohor di negeri ini menerimaku sebagai anggota partai. Seiring berputarnya waktu, loyalitas serta kinerjaku terhadap partai sangat bagus. 

Ketua umum partai membujukku untuk maju dalam meramaikan pesta demokrasi di tahun politik yang akan berlangsung. Aku setuju dan maju sebagai calon legislatif. 

Bermodalkan cita cita dan keberanianku yang masih suci, aku mengumandangkan orasi yang sanggup menghipnotis massa yang adalah rakyat sendiri. 

Aku mengutarakan visi misi yang lahir dari perut (kelaparan dan kehausan) massa saat ini. Buah dari kampanyeku nampaknya menarik minat dan perhatian segenap rakyat sehingga mereka mempercayaiku sebagai orang utusannya atau perwakilan rakyat. 

Aku tahu benar bahwa terpilih menjadi orang utusan rakyat adalah sebuah kepercayaan yang harus dijalankann dengan sepenuh hati, sebagai penyalur bahkan corong aspirasi mereka. 

Diantara kami yang terpilih untuk diutus, akulah yang memiliki suara paling banyak. Akupun dipilih untuk menduduki jabatan yang cukup penting di kantor dewan. 

Bahkan, setiap hari aku menandatangani berlembar lembar berkas sebagai bukti persetujuanku terhadap sesuatu. Ada orang yang dengan sengaja menyelipkan sesen dua pada celeh - celah berkas yang mereka sodorkan. Bahasa gaulnya pelicin

Hari demi hari aku selalu diberi pelicin oleh orang - orang yang datang melegalkan berkas - berkas mereka. Pelicin - pelicin itu membuatku seperti saudagar yang kaya raya. 

Hartaku melimpah. Terlena dan terlelap dalam kemewahan hidup. Keluargaku tak kenal derita apalagi lara nestapa. Bahkan, kalau memungkinkan aku sanggup mendirikan rumah di bulan. 

Aku tidak merasakan penderitaan sehingga penderitaan yang dialami dan dirasakan orang lainpun tidak kurasakan. 

Akibat mendengkur dalam kemewahan, aku melupakan semua visi dan misiku dahulu yang pernah dikumandangkan kepada massa yang adalah rakyatku sendiri. 

Suatu senja, sebuah berita dilayar tv menghentakan nuraniku. Ada kemiskinan yang menindas dan merajalela rakyatku saat ini. 

Ada kasus human trafficking dan peti mati bak cendawan di musim hujan bergelimpangan saat ini. Aku lalu sadar mengenang kembali tahun - tahun yang telah berlalu. Apakah yang telah kuperbuat untuk rakyatku?. 

Nuraniku terus mengusik, menghakimi dan memojokkanku. Aku telah mengkhianati nurani mereka. Aku telah melumpuhkan kepercayaan yang mereka berikan kepadaku. Akh, aku terus meratapi diriku yang sia - sia melewati tahun - tahun yang terlalu cepat dalam berlalu. 

Dengan hati yang berat sembari menatapi rona cahaya mentari senja di teras rumah, aku bernazar untuk mendonasikan separuh harta kekayaanku kepada siapa saja yang membutuhkanya. 

Tekadku bulat. Keesokan harinya aku mulai mengagendakan semua hal yang sudah aku nazarkan. Namun hari kemarin dengan hari ini memiliki cerita yang berbeda. 

Aku dikagetkan dengan sebuah pernyataan bahwa aku terlibat dalam sebuah proyek abal - abalan dengan bukti telah mengizinkan proyek tersebut untuk beroperasi. Aku ditangkap, diperiksa dan disidangkan. Aku dinyatakan telah bersalah. Hukumanya adalah penjara.
                              
                                                                                          **********    
Malam pertama dirumah tahanan tidak sama ketika aku menikmati malam pertama dirumah baruku dulu. 

Aku mengalami sebuah kegelisahan mendalam dari petang hingga subuh. Aku tidak bisa tidur. Menarik nafaspun sulitnya bukan main. 

Pengap, sesak, gaduh semuanya menyatu di rumah ini. Tubuhku seolah olah mati dan sepertinya hanya anganku sajalah yang hidup sehingga melalang buana kesana kemari dalam sempitnya ruangan penjara. 

Aku telah meninggalkan istri dan buah hatiku tercinta. Menyendiri dalam kepenatan penjara adalah hal membosankan. Lebih baik hidup sebagai pengangguran dari pada mengurung dalam jeruji besi membendung. 

Aku lebih memilih kehilangan harta kekayaan atau hidup sengsara daripada kehilangan belaian dan kasih sayang dari istriku tercinta. Kehilangan suara manja nan lembut dari mulut si buah hati tercinta. 

Akhh,, betapa malangnya hidupku kini. Orang - orang yang aku kasihi hanya melintas dalam bayangan fana disampingku. Pelicin - pelicin yang dahulu aku terima ternyata membuatku tergelincir dan jatuh seperti ini. 

Dimana si Jaka, si Jaki dan si Jeky yang bekerja sama denganku saat mengurusi proyek abal - abalan itu? Dimana mereka semua, mengapa dibiarkan berkeliaran bebas tanpa menanggung beban? 

Ini sungguh tidak adil. Lantas apakah aku berani memberikan kesaksian serta membeberkan rangkaian fakta dan peristiwa yang sesungguhnya? Juga disertakan dengan secuil sandiwara biar aku memiliki waktu untuk menghirupkan udara segar diluar sana?. Akh, sabar…!. 

Ada baiknya aku tuangkan lewat nyanyian atau penggalan sajak indah pelipur lara. 

Aku tidak menggunakan symbol - symbol atau kemegahan alam semesta sebagai liriknya, akan tetapi aku memilih dan menghimpun deretan nama - nama para sahabat yang pernah menerima pelicin bersamaku kala itu. 

Lalu aku bernyanyi atau mendaraskan puisi sembari menitikan air mata penyesalan. Aku meratapi hari - hariku yang telah berlalu dengan suara terengah - engah. 

Ovos omnes atau nyanyian ratapan adalah judul yang pantas untuk mengungkapkan keseluruhan laguku. 

Ovos omnes terhadap kebutaan mata batinku, kebebalan dan ketumpulan nuraniku. Maafkan aku rakyatku, maafkan aku istri dan buah hatiku tercinta, maafkan aku keluargaku. 

Aku memilih untuk tetap bernyanyi dalam remangnya waktu sembari menerima kenyataan yang menimpaku dan menanti waktu yang akan membebaskanku dari penderitaan ini. Lekaslah berlalu hai waktu, jangan biarkan rambutku putih dalam jeruji penjara ini.
×
Berita Terbaru Update