-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENDIDIKAN MORAL DAN KEAGAMAAN DEWASA INI

Kamis, 24 Mei 2018 | 23:21 WIB Last Updated 2018-05-24T16:24:31Z

“Bona culina, bona discpilina,” demikian Pius Pandor mendefinisikan bagaimana pendidikan kedisiplinan menjadi soko guru perkembangan kehidupan manusia. Dapur yang baik menghasilkan kedisiplinan yang baik. Dapur merupakan wadah orang melatih untuk memasak kepribadian dan karakter. Dalam tulisan ini, penulis melihat ada beberapa wadah (culina) yang mengembangkan kedisiplinan (disciplina). 

Pertama, family (keluarga). Dalam tesis yang diajukan oleh Axel Honneth, ia mendeklarasikan keluarga menjadi tempat penanaman affective value (keutamaan afeksi). Manusia tidak cukup memeroduksi nilai-nilai intelektual, tetapi juga perlu diimbangi dengan keutamaan moral. Keluarga menjadi basis fundamental membentuk karakter manusia. 

Kedua, sekolah. Sekolah atau lembaga pendidikan bisa menjadi culina (dapur) bagi seseorang untuk melatih memasak kedisplinan hidup. Setelah seorang anak dibentuk di rumah, ia pun bersosialisasi dengan lingkungan lebih luas, yaitu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sesuai dengan tujuan utama pendidikan kita, dengan indah termaktub dalam Konstitusi UUD negara RI yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Nilai-nilai intelektual ditanamkan di sini. Gereja juga menganjurkan agar sekolah menanamkan nilai pendidikan moral dan keagamaan bagi peserta didik. 

Dalam buku “Seni Merawat Jiwa” dipekikan suatu seruan utama yaitu merawat jiwa (hidup) dengan nilai-nilai moral dan pengetahuan umum. Seorang anak perlu dibina dan dilatih dalam “Sekolah Memaafkan”. Dewasa ini terjadi krisis besar yang melanda manusia yaitu krisis pengampunan. Konflik dan persoalan melingkari kehidupan manusia. Latar belakang cetusan tersebut karena manusia pada galibnya adalah relasi. Dalam relasi, setiap pribadi mencoba menerima perbedaan. Dalam proses tersebut, normal terjadi pergesekan dan pertentangan. Oleh karena itu, memaafkan menjadi pekikan utama pembebasan karakter manusia. 

“Memaafkan” selalu membuka kesempatan terciptanya rekonsiliasi. Maaf melahirkan kebebasan. Maaf lalu akhirnya menerima kelemahan sesama, tidak mendasarkan diri pada ego pribadi. Memaafkan merupakan mukjizat yang melenyapkan hambatan bagi terciptanya jalinan persahabatan. Menyitir pernyataan Gandhi, “kalau kita semua hidup di atas dasar “mata ganti mata”, “nyawa ganti nyawa” maka dunia ini akhirnya akan menjadi buta dan mati. Satu-satunya jalan adalah mengampuni.

Lembaga pendidikan Indonesia masih absen mendengungkan “sekolah memaafkan”. Kesalahan ucap, kesalahan tingkah, dan kesalahan pergaulan  justru memantik provokatif dan pertentangan akbar. Contoh; kasus Ahok. Ini merupakan ujian bagi manusia Indonesia, dapur kehidupan (rumah, sekolah, masyarakat, negara) belum melatih manusia menciptakan rekonsiliasi. Pengampunan adalah tindakan terbaik atau satu-satunya bagi penyembuhan dan rekonsiliasi pribadi maupun rekonsiliasi sosial.

Hemat saya, absennya bona culina (wadah yang baik) menanamkan keutamaan memaafkan akan berdampak pada saling bertikai dan menjatuhkan. 

Ketiga, agama. Profil Indonesia menampilkan banyak agama yang diimani dan diamini. De facto, diskursus tentang manusia Indonesia selalu bertalian dengan agama. Ini merupakan suatu kekayaan. Indonesia memiliki “kekuatan”, “kekayaan”, dan “keanekaragaman” yang bermartabat. Bukankah ini sebuah kemajuan luar biasa? 

Sodoran positif yang ditampilkan profil Indonesia kini dilenyapkan ketika dalam negara yang kaya “agama”, “suku” dan “ras” memeroduksi konflik dan perpecahan. Dokumen Konsili Vatikan II memberikan komentar yang cemerlang tentang peran agama. Dokumen Konsili, Gravissimum Educationis No. 7 mengatakan, “…Gereja menyadari sangat beratnya kewajiban untuk dengan tekun mengusahakan pendidikan moral dan keagamaan semua putra-putrinya. Maka, Gereja harus hadir dengan kasih-keprihatinan serta bantuan yang istimewa bagi sekian banyak siswa, yang menempuh studi di sekolah-sekolah bukan katolik. Kehadirannya hendaklah dinyatakan baik melalui kesaksian hidup mereka yang mengajar dan membimbing siswa-siswa itu, melalui kegiatan kerasulan sesama siswa….” 

Sekolah juga menjadi wadah membina anak untuk melatih berdebat. Dalam hal ini, Rocky Gerung pernah mengungkapkan, “Debat bukan sabung ayam.” Tapi kita terlanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi panggung kehidupan kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan. Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

Keempat, negara. Hemat saya, seorang negarawan yang baik membedakan wilayah agama dan politik. Ada ruang tertentu, culina agama tidak perlu merepotkan culina politik. Terkadang, suhu dan cuaca negara kita selalu dirisaukan oleh dua culian tersebut. Yang satu kadang tampil mengatasi yang lain. Yang lain terlalu mengalah melepaskan yang satu. Padahal, dari hakikatnya negara menjadi pengayom. Hemat saya, seorang pemimpin negara tidak perlu juga mendasarkan setiap kebijakan negara pada ayat-ayat suci keagamaan. Culina negara sudah tertata rapih dalam aturan bersama yaitu UUD dan Konstitusi yang mengelolah kehidupan seluruh umat manusia. Perbedaa-perbedaan suku, ras, agama harus diusahakan dengan sungguh menuntun kepada nilai keadilan dan kewajaran. Tidak perlu lagi ada pencaplokan hak-hak pribadi dan kekhususan suku atau agama tertentu. 

Dari percikan empat culina di atas sejatinya menciptakan nilai moral dan keagamaan yang baik. Seperti dalam nada imperatif, Yesus menegaskan, ”Lakukanlah apa yang engkau kehendaki orang perbuat bagimu. Jangan mencubit jika tidak ingin dicubit. Jangan menghakimi, jika tidak ingin dihakimi,” Imperatif ini serentak menjadi pengontrol bagi gerak laku kita, dan juga seluruh proses kehidupan kita. Saya kembali mengutip kajian utama majalah Hidup edisi 30 Juli 2017, “Joyful in Multicultural”. Hemat saya, moralitas dan culina yang tidur membangunkan monster. Agar tidak terjadi lagi anak muda yang terjermus dalam seks bebas, narkoba, kekerasan, bunuh diri. Agar tidak lagi terdengar manusia Indonesia menjangkit penyakit “galau”, maka marilah kita melihat kembali pendidikan moral dan keagamaan kita ke depan. 
Oleh: Laurensius Fura
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang, Jawa Timur

Editor: Eugen Sardono
×
Berita Terbaru Update