-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUISI-PUISI LEBUAN TONCE

Selasa, 01 Mei 2018 | 21:37 WIB Last Updated 2018-05-01T14:39:13Z
(Ilustrasi dari google)

SELVIANA, 1

Kata pertama yang dipagutkan ibumu
pada halaman pertama lembaran tubuhmu
ialah aku.
Aku mencintaimu seperti pena ibu
melukai tubuhmu
dan cintaku melebihi hujan mencintai tanah.
Kita adalah sepasang kata yang belum sempat terucap pada dunia.
Kita adalah puisi. Abadi

 (Ledalero, Maret 2018)

SELVIANA, 3

Sudah sepatutnya kau kekalkan bahagia
Bukankah begitu?

Bersama subuh yang garang
kita menerjang dosa
sampai nafasmu jatuh berguguran
kupungut ia(mu) hingga kesucian tergelak,
tersibaklah gelap.
“Aku bersamamu”

 Kita abadikan serapah
hingga seorang malaikat jatuh ke tanah.
                   
(Ledalero, 2018)

TERSESAT DI JALAN AKSARA

Kau tekuk diri pada semesta
Doa-doa melesap semerbak  asap kurban Abraham
Airmata berhamburan berteriak ke telaga sunyi
Jika kau mati, semuanya sebatas puing-puing duka
Kau bingung mau bungkam atau mati
Iblis mengintipmu dari api yang dibakar segerombolan bangsa Babel
Menanti para baal mengunyah daging lemakmu ditikam seribu kutukan
Tiba-tiba kau terjengkang
Iblis memungutmu, menyembelihmu
Neraka menyiksamu hingga apinya berwarna biru
Teriakmu ialah isyarat segala doa dan kutukan serupa jelaga
Dari dapur nenekmu membakar kulit para nabi.
Tawar tawamu membuatmu mengantuk

Kau pagut lagi doamu,
Kau tanggalkan diam-diam seribu kutukmu
Dan segalanya berhenti di sini. Kau masih tersesat
Berharap Musa kembali membawa dua loh batu yang telah kau hancurkan
Di depan tubuh seorang wanita telanjang.

(Larantuka, Juli 2016)

TENGAH MALAM

Ada maut di ambang sunyi
Nyawa sejengkal mengetuk apa?
Entah surga entah neraka
Dia asyik menggoda dosa
Meniduri aib hingga Tuhan diam-diam
Menangis di tengah malam.
“Barangkali Tuhan sakit” selorohmu.
Malam juga menangis mendengar langit
Perlahan-lahan menutup pintunya.
Remang. Dan kau pun beku.

(Ledalero,  Januari  2018)

AYAHANDA, IBUNDA DAN TUHAN

/1/
Ayahanda, di atas bahu kejam-mu yang legam
Kau terbitkan duniaku yang nyaris terbenam

/2/
Ibunda, di telapak kaki putihmu yang tak bercadar
Engkau menelanjangi surgaku yang nyaris pudar

/3/
Tuhan, dalam telapak tanganMU yang kudus
Asal nafas kami Kau hembus
Semoga pada detak rahim-MU yang tulus
Nama kami Kau pahat di jantung Firdaus

  (Kuwu, Juli 2016)

AYAHANDA
:
Engkau sebijak Sulaiman
Dan seperkasa Iskandar Agung
Bijakmu kusimpan dalam iman
Perkasamu kudengung atas nama kidung

(Ledalero,Agustus 2017)

PERJALANAN

Kalian tahu, ketika Dia disalibkan
Dan dikuburkan tanpa peti?
Semenjak saat itu, godamku berdetak
Dan perjalanan dimulai hingga mati

(Kuwu, Mei 2016)

OLEH: LEBUAN TONCE 

Penyair adalah seorang mahasiswa STFK Ledalero sekaligus pencinta Sastra.
Saat ini ia tinggal di Unit Mkhael Ledalero.

×
Berita Terbaru Update