-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SASTRA SERIUS DAN SASTRA HIBURAN

Sabtu, 05 Mei 2018 | 11:50 WIB Last Updated 2019-12-07T15:17:41Z


Dalam studi sastra dikenal dua macam sastra, yaitu sastra serius atau sastra interpretatif (interpretatif literature), yaitu sastra untuk ditafsirkan, dan sastra hiburan atau sastra pop atau sastra untuk pelarian (escape literature).

Sastra serius cenderung merangsang pembaca untuk menafsirkan atau menginterpretasikan karya sastra itu, sedangkan sastra hiburan adalah karya sastra untuk melarikan diri (escape) dari kebosanan, dari rutinitas sehari-hari, atau dari masalah yang sukar diselesaikan.

Sastra hiburan, dengan demikian, sifatnya menghibur. Sastra hiburan dinamakan juga sastra pop (sastra populer).

Sastra serius merangsang pembaca untuk menafsirkan, dan karena itu menambah wawasan kehidupan (insight into life) pembaca.

Sebaliknya, sastra hiburan hanyalah untuk iseng semata, dan karena itu tidak meninggalkan kesan yang serius.

Salah satu ciri sastra hiburan adalah tokoh-tokoh yang tampan, kaya, dicintai, dan dikagumi, serta sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah.

Pembaca, dengan demikian, dipancing melakukan identifikasi diri seolah dirinya tidak lain adalah tokoh itu sendiri.

Maka, apa yang dipancing oleh sastra hiburan tidak lain adalah wishful thinking, yaitu impian-impian yang tidak mungkin dicapai. Pembaca dibuai bukan oleh masalah hakiki kehidupan, namun ilusi.

George Santayana, seorang filsuf estetika menyatakan bahwa akhir sebuah karya seni yang baik adalah gema kesan berkepanjangan dalam pikiran dan jiwa seseorang yang mampu menghayati karya seni itu dengan baik.

Sastra serius menawarkan renungan (kontemplasi) yang dalam, dan karena itu, pada saat pembaca selesai membaca, dia akan merenung berkepanjangan.

Kriteria Sastra

1.    Pada zaman Aristoteles hanya ada dua genre, yaitu puisi dan drama, sementara drama dibagi dalam tiga sub genre, yaitu tragedi, komedi, dan tragi-komedi (tragedi dengan unsur-unsur komedi).

Karena drama ditulis dalam genre puisi, maka karya sastra yang baik dianggap mempunyai nilai puitik (poetic) yang tinggi – pity, terror, dan catharsis.

Pity, yaitu rasa kasihan pada penonton atau pembaca. Terror, yaitu rasa diteror, rasa takut, rasa ngeri, dan karena semuanya itu timbullah ras mual. Catharsis, yaitu rasa lega karena telah terbebas dari pity dan terror.

2.    Horace (Horatius) menganggap, karya seni yang baik, termasuk sastra, selalu memenuhi dua butir kriteria, yaitu dulce et utile (ras nikmat dan manfaat atau kegunaan).

Sastra harus bagus, menarik, dan memberi kenikmatan. Tentu saja, kenikmatan ini hanya dimilki oleh pembaca yang bermutu.

Sastra harus memberi manfaat, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral.
Masalah moral akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan yang ujungnya menyangkut masalah kretivitas. Tujuan pengarang menulis yakni untuk menciptakan karya sastra yang estetis. 

Sementara itu, pembaca yang kritis akan merasa digurui. Moral, dengan demikian, dapat mengurangi nilai estetika, dan karena itu mengganggu kenikmatan pembaca. 

Menurut Jane Austin, semua tokoh yang ada dalam novelnya harus menarik, dan untuk benar-benar menarik, nilai-nilai moral harus dilanggar.

Dia berhasil dengan baik karena dia akhirnya sanggup memadukan tuntutan estetika dna tuntutan moral.

3.    Keberhasilan Jane Austen dan pengarang-pengarang lain dalam mengatasi dilema tuntutan estetika dan tuntutan moral melahirkan kriteria lain, yaitu bentuk (form) dan isi (content) harus seimbang.

Bentuk adalah cara atau teknik menulis, sedangkan isi adalah pemikiran yang akan dituangkan dalam karya sastra.

Bentuk yang terlalu baik akan melahirkan karya sastra yang kosong, sedangkan isi yang bain tanpa diimbangi oleh bentuk yang tepat akan melahirkan karya sastra yang menggurui.

Salah satu bagian bentuk adalah bahasa: bahasa yang baik dengan isi tidak bermutu akan melahirkan retorika kosong belaka.

Moral, sementara itu, masuk pada bagian isi. Perimbangan yang baik antara bentuk dan isi, dengan demikian, menyangkut masalah moral. Dalam perkembangannya, isi cenderung hanya berupa pemikiran yang belum tentu ada kaitannya dengan moral.

4.    E.M. Forster, seorang novelis dan teoritikus sastra, dalam Aspect of The Novel antara lain menulis mengenai cerita, dan plot, serta tokoh dan penokohan.

Kunci penting terjadinya plot (hubungan sebab-akibat) tidak lain adalah konflik, dan kunci penting konflik adalah tokoh dan penokohan.

Sebagaimana halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari, masing-masing tokoh mepunyai watak sendiri-sendiri dan kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Perbedaan watak inilah yang memicu timbulnya konflik, apalagi kalau watak-watak itu saling bertentangan.

Sebagai konsekuensi keharusan adanya konflik, muncul tuntutan lain, yaitu klimaks sebagai penentu penutup plot. Makin tinggi nilai estetika sebuah konflik, makin tinggi pula nilai estetiak sebuah klimaks.

Karena klimaks memegang kunci penutup plot, maka karya sastra dengan konflik yang baik dan klimaks yang baik juga akan mempunyai penutup yang baik.

Menurut Kuntowijaya, salah satu kelemahan sastra Indonesia adalah lemahnya konflik.

Pengarang tidak mampu menciptakan konflik yang bermakna, tidak lain karena pengarang adalah produk masyarakat Indonesia yagng cenderung menghindari konflik sehingga berbagai masalah yang seharusnya dapat diselesaikan tidak pernah terselesaikan dan dibiarkan berlarut-larut sampai hilang dengan sendiri.


(Batu, 2742018)

Oleh: Eko Windarto
×
Berita Terbaru Update