-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Budak Rindu, Puisi Terbangsat, Tanpa Judul

Minggu, 10 Juni 2018 | 14:59 WIB Last Updated 2020-03-19T11:46:49Z
Budak Rindu, Puisi Terbangsat, Tanpa Judul
Ilustrasi; google

Puisi-Puisi Chamar Patah

BUDAK RINDU

Berjuta perih merenda luka
Merajut lara
Merajam sukma

Berbaris-baris anak puisi mati
Terbujur di kertas sunyi
Mengutuki diri
Menyumpahi nurani

Malaikat-malaikat kecil menangis
Perih getir meringis

Aku bagai sebingkis pesan dari hati
Hati yang terberai
Luluh lantak dalam berai
Saat embun pagi adalah ludah-ludah kekecewaan
Mengkuyupkan asa keinginan
Lantas bijakkah jika sebutir rindu
Menjilati bibir munafik itu

Seperti senja menelan gelap
Malam meniduri waktu
Bintang memaki rembulan

Anak-anak puisi itu telah mati
Berkabung menuju pusara Antologi
Bersampul hitam caci maki
Sumpah serapah tak bertepi

Sejenak kutiupkan ruh kekuatan
Mungkin aku masih bisa bangkit
Dari suram penghianatan

Masa berputar abadi
Seperti membasu daki di candramuka
Mereguk dingin di alkausarmu
Atau salsabila rindu

Ini dunia nyata duhai hatiku.
Bukan Hastinapura
Bukan Alengka
Bukan Sriwijaya

Jika kendedes bertahta dihati pecinta
Ken Arok abadi sebagai perusaknya
Shinta lambang keagungan cinta
Rahwana penabur gelap kehidupannya
Sedangkan cinderrella pemenang keajiaban cinta

Lantas kita sebagai apa.
Hanya budak rindu
Tertipu dikemayu bujuk rayu

Saat kebenaran telanjangi waktu
Sanggupkah kau memakai gaun rindu
Bersulam tulus syahdu

Sebentuk pesan dari hati
Melumat habis anak puisi
Budak kebencian telah dilahirkan
Melepas pana permusuhan
Sementara aku disini
Merentangkan dada pada pelukan kematian

Saat puisi menjadi darah
Diksi menjadi air mata
Engkau tak akan sanggup duhai puan
Lelehkan rinduku lagi
Ia telah mati
Bersama rasa perih

Pagi ini....
Di Kota ini
Aku pusarakan namamu.
Dihitam legam jelaga rindu

Penyair itu telah mati
Di tiang gantungan kehancuran
Kecemasan dan kegelisahan

Kita ramu pagi ini
Diperjamuan abadi
Agar tak kan kutemui lagi
Searipun beni dan sakit hati.

Kampung Melayu.10.06.18

PUISI TERBANGSAT

Aku terpaksa menitipkan hatiku padamu
Sebentar saja
Menjelang sakit ini berakhir
Setelah itu kan kupinta kembali

Pun jika aku lupa nantinya
Engkaupun telah merasa bosan
Tak perlu engkau kembalikan hatiku itu
Cukup engkau titipkan kehati lain.

(Mungkin disana aku merasa tenang)

Kampung Melayu.10 06.18


TANPA JUDUL

Saat dirimu meludahi tubuh puisiku
Aku merasa ditelanjangi
Ditengah keramaian

Sementara.....!!
Kumpulan diksi yang tertulis
Masih menggelora pujaku padamu

Kukulum jua rindu itu
Dengan rasa getir
Berharap masih bisa memamah
Rasa kenangan itu...

Achhh......!!
Aku merampungkan puisi ini tanpa judul

Kampung Melayu.10.06.18
(Gambar diambil dari google)
×
Berita Terbaru Update