-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ETIKA DEMOKRASI JOHN DEWEY DAN RELEVANSINYA DENGAN POLITIK INDONESIA

Minggu, 14 Oktober 2018 | 08:13 WIB Last Updated 2018-10-23T09:20:06Z

Indonesia dikenal dengan negara demokrasi. Demokrasi berkaitan dengan pemerintahan rakyat; pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam konteks ini, pemerintah dipilih oleh rakyat demi kesejahteraan rakyat itu sendiri.

Rakyat memiliki kebebasan untuk menentukan tokoh yang paling cocok untuk memegang kunci sebuah negara. Namun realitas belum secara maksimal menunjukan system demokrasi Indonesia yang terbuka, jujur dan adil. Mengapa terjadi demikian?

Manusia Indonesia terjebak dalam system demokrasi yang labil. Hal ini disebabkan karena adanya nafsu berkuasa. Individu yang ingin berkuasa, melakukan banyak cara agar kunci negara tersebut dipegangnya.

Salah satu realitas terjadi di Indonesia yakni dalam pemilihan umum. Individu yang memiliki visi-misi berkuasa, menerapkan system politik jaringan yang sifatnya rahasia. Dalam politik tersebut, ada pertarungan tersembunyi antar-kubu. Politik adudomba sangat berperan dan terlihat halus tetapi itu sangat membahayakan. Selain itu, permainan politik uang juga sangat kental di Indonesia. Uang menjadi jaminan untuk menghapus keringat (balas jasa dalam perjuangan untuk menggolkannya) bawahan atau orang-orang yang bekerja sama dengannya.

Politik adudomba dan uang, hemat saya, dapat membenarkan roda pemerintahan Indonesia yang pasti berjalan pincang. Politik tersebut mampu menghancurkan etika demokrasi.

Bahwa individu yang memakai politik adubomba dan uang mampu menghancurkan tatanan hidup bersama. Nilai-nilai demokrasi tidak terwujud dengan baik. Hal ini jelas, roda keperintahan membawa korban bagi rakyat.  Rakyat yang menderita semakin melarat sedangkan yang berkuasa semakin jaya. Selain itu, koruptor ada di mana-mana, suap-menyuap merajalela, fanatisme berkembang pesat, system demokrasi tidak berjalan etis dan segala hal buruk dibenarkan. Dengan demikian, negara diliputi kekacauan yang berdampak negatif bagi rakyat kecil.

Pemilihan Presiden semakin mendekat, rakyat Indonesia harus membuka mata untuk menentukan pilihan yang tepat. Pilihan rakyat sangat menentukan masa depan rakyat itu sendiri. Rakyat salah memilih berarti resiko ditanggung sendiri. Sebab rakyat yang ingin negara Indonesia tetap kokoh dan kuat, dia tahu, dia tidak terpengaruh oleh politik adudomba dan uang. Atau apabila rakyat hendak negara Indonesia bersatu tetapi terpengaruh oleh adu-domba dan suapan, dia dengan tahu dan mau menjebakan dirinya dan seluruh rakyat ke dalam penderitaan berkepanjangan.

Untuk menjawab persoalan ini, penulis mengajak untuk tapilkan kebenaran yang tersembunyi di dalam hati rakyat Indonesia itu sendiri. Rakyat Indonesia merupakan aktor yang menentukan pilihan terbaik. Namun untuk mencapai hal itu, pemikiran John Dewey sangat aktual untuk menyadarkan dan mendorong rakyat Indonesia dalam menerapkan etika demokrasi yang baik dan benar.

ETIKA DEMOKRASI JOHN DEWEY

Pemikiran John Dewey mengenai etika demokrasi sangat aktual. Etika demokrasi Dewey tersebut telah ditulis oleh Manaek Sinaga dalam jurnal ilmiah filsafat teologi Widya Sasana Malang yang berjudul Demokrasi Menurut John Dewey. Dan saya merasa tertarik menulis kembali pemikiran Dewey untuk menjawab persoalan politik Indonesia dewasa ini. John Dewey menggarisbawahi demokrasi sebagai sebuah system pemerintah yang memiliki dua aspek mendasar yakni aspek etis dan aspek komuniter. Kedua aspek ini sangat memengaruhi etika demokrasi.

Pertama, Aspek Etis. Hemat John Dewey, aspek etis demokrasi sangat menyatu dengan manusia sebagai subjek dan tujuan demokrasi itu sendiri. Pemikiran tersebut berkaitan dengan karakter masyarakat yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi.
John Dewey mengetengahkan tata kelola pemerintahan menjadi sarana dalam perwujudan nilai-nilai demokrasi. Nilai-nilai demokrasi tersebut yakni kebebasan, kesederajatan, dan persaudaraan.

Kebebasan. Kebebasan merupakan salah satu nilai inti demokrasi. Kebebasan merupakan nilai mendasar demokrasi. Jadi, secara filosofis, demokrasi itu merupakan kebebasan.
Demokrasi sebagai kebebasan merupakan demokrasi yang merenggangkan ikatan, melonggarkan pembatasan, meretas sekat-sekat, membongkar tembok pembatas. Persoalan atau kekacauan dalam kehidupan masyarakat diatasi supaya manusia mampu mengungkapkan dirinya untuk menemukan kebenaran. Kebenaran itu membebaskan manusia dari segala kepentingan pribadi atau golongan.

Dewey menjelaskan dua makna kebebasan yakni, pertama, kebebasan berarti lepas dari segala ikatan. Kedua, kebebasan merupakan  iklim yang memungkinkan setiap pribadi mengungkapkan kebenaran.

Gambaran tentang kebebasan di atas terungkap dalam relasi dan komunikasi sosial kemasyarakatan. Masyarakat dikatakan bebas tatkala setiap pribadi mampu mewujudkan kebenaran yang membebaskan. Oleh karenanya, manusia wajib berteman dengan kebebenaran dalam menentukan pilihan.

Kesederajatan. John Dewey memahami kesederajatan tidak terletak pada kesamaan dalam hal jumlah atau pembagian yang berhubungan dengan kesejahteraan ekonomis. Kesederajatan bersifat universal. Ia tidak berpihak pada pelbagai perbedaan yang memisahkan. Maksudnya, kesederajatan itu tidak membawa pribadi ke dalam jurang pembedaan tetapi menuntunnya ke dalam kebenaran yang bersifat universal dan tidak terbatas.

Persaudaraan. Menurut John Dewey, persaudaraan merupakan kemauan untuk bekerja sama. Persaudaraan merupakan bagian dari nilai demokrasi. Persaudaraan tidak bisa dibatasi dalam menentukan sebuah pilihan. Manusia tetap menjalin kerjasama untuk mewujudkan kebebasan, keadilan dan kedamaian.

Kedua, Aspek Komuniter. John Dewey memahami aspek komuniter berkaitan dengan demokrasi yang membangun hidup berkomunitas. Maksudnya, nilai-nilai demokrasi menjadi kehidupan nyata dan memiliki keberadaannya. Demokrasi merupakan semangat hidup bersama yang mendorong setiap individu untuk mengembangkan diri dan bertanggungjawab terhadap perkembangan sesamanya.

Demokrasi merupakan moralitas hidup bersama. Sebab demokrasi dapat dikatakan dasar, metode, dan tujuan hidup kemasyarakatan.

Dalam kemasyarakatan, aspek komuniter berkaitan erat antara individu dengan alam dan sosialnya. Setiap individu lahir dan  dibesarkan dalam lingkungan masyarakat dan tradisinya. Identitas individunya selalu berkaitan dengan identitas sosialnya. Karena manusia merupakan mahluk sosial. Dia harus membutuhkan orang lain.

Untuk mengetahui agar demokrasi benar-benar nyata yakni setiap individu memiliki kesediaan dan komitmen untuk selalu ada bagi sesamanya untuk berbagi hidup. Dia berpasipasi aktif dalam membangun kehidupan bersama yang menghargai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Selain itu, setiap individu menjalin relasi dan komunikasi yang memerdekakan, menciptakan habitus sosial dan bertanggungjawab terhadap masa depan manusia.

Di tengah situasi di mana manusia memahami kebebasan secara individual dan melepaskannya dari tanggungjawab sosial, aspek komuniter ini sangat penting agar manusia mampu menjadikan nilai-nilai demokrasi sebagai tolak ukur dalam kehidupan bersama.

Bagi John Dewey, aspek etis dan komuniter sangat penting dalam sebuah negara agar masyarakat mampu menjiwai dan mewujudkan nilai-nilai demokrasi dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks ini, demokrasi selalu merupakan seni hidup yang indah yang didasari dengan nilai-nilai etis dan komuniter.

KESIMPULAN

Pemikiran Dewey sangat relevan dengan situasi politik Indonesia. Realitas politik Indonesia yang tumpang tindih perlu dibenahi kembali. Etika demokrasi sangat penting dalam perpolitikan seperti tatkala diadakan pemilihan umum.

Pilpres semakin mendekat. Rakyat Indonesia didorong untuk memilih kandidat yang paling tepat untuk menjadi pemimpin Indonesia. Namun etika berdemokrasi harus dikedepankan. Etika demokrasi seperti yang terungkap dalam aspek etis yakni kebebasan, kesederajatan dan persaudaraan menjadi landasan dalam kehidupan kemasyarakatan.

Rakyat Indonesia bebas dari segala ikatan, batasan atau sekat-sekat dalam menentukan pilihan. Kebebasan dalam pemilihan tidak membawa kebencian bagi sesama tetapi lebih menunjukan kesederajatan dan persaudaraan sejati yang berlandaskan cinta kasih. Oleh karenanya, setiap individu atau rakyat Indonesia, tetap menjalin aspek komuniter dalam pilpres mendatang. Maksudnya, Rakyat Indonesia tetap mengutamakan etika demikrasi dalam pemilihan calon presiden dan wakil presiden 2019 yang akan datang.

Oleh Nasarius Fidin





×
Berita Terbaru Update