-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Lingko: Filosofi Hidup Orang Manggarai

Kamis, 11 Oktober 2018 | 10:08 WIB Last Updated 2019-12-04T13:10:02Z
Lingko: Filosofi Hidup Orang Manggarai


Oleh: Tarsy Asmat MSF

Baru-baru ini saya mendengar Anis Baswedan, Gubernur DKI memakai kata Lingko untuk nama desain transportasi di Jakarta. Tidak ada yang salah. Tapi apakah itu Lingko?

Lingko adalah suatu areal perkebunan yang dibagi secara merata per kepala keluarga atau klen dalam kearifan lokal tata agraria masyarakat Manggarai. Modelnya seperti jejaring (web) laba-laba. 
Kita musti bertanya mengapa pembagian tanah masyarakat manggarai seperti itu?

Sebagai orang Manggarai, tanpa mau menyombongkan, saya mengatakan itulah kekayaan intelektual leluhur Manggarai. Untuk itu kita barangkali memahami sedikit filosofi hidup orang Manggarai.

Filosofi Hidup Jejaring

Tidak hanya sistem pembagian tanah yang berjejaring laba-laba, tetapi tata kelola sosial dalam masyarakat Manggarai juga adalah berfalsafat jejaring ini.

Kita mungkin mengenal "Mbaru Niang", di Wae Rebo, salah satu destinasi pariwisata nasional di Manggarai. Sistem atap Mbaru Niang juga berjejaring laba-laba.
Itu mempunyai makna dan ikatan sosial yang kuat. Pembagian atab rumah pada intinya merepresentasikan perkembangan (wela) sebuah klen.

Di tengah Mbaru Niang ada tiang utama yang melambangkan pemegang utama klen. Ketika juru utama Klen memanggil anggota keluarganya, ia akan duduk di tiang itu dan mulai bertitah, memberitahukan sesuatu dan sebagainya.

Begitu pula tata ruang kampung. Jauh sebelum ada ilmu tata kota, masyarakat Manggarai mempunyai kearifan tata ruang kampung. Kampung mempunyai pusat yang disebut compang atau like.

Pada pusat kampung inilah klen akan mempersembahkan korban, doa dan ujub baik itu untuk syukur panen, pembersihan dosa, tolak bala atau petaka dan sebagainya.

Ya rumah, kampung dan ladang ditata seperti jejaring laba-laba inilah pusat dan model hidup orang Manggarai.

Sesuatu itu ada karena ada tujuannya. Kalau saya mengatakan, jauh sebelum Weber mempromulgasikan teori rasionalitasnya, leluhur orang manggarai sudah mewujudkan rasionalitas ini dalam kehidupan mereka.

Pembagian lingko seperti jejaring mempunyai tujuan: Pertama, terciptanya keadilan yang seadil-adilnya. Hukum adat (teori) terwujud dalam praktek yang konkrit.

Kedua, agar penyebaran hama tanaman merata. Dengan pembagian seperti jejaring, setip orang yang mempunyai hak atas tanah di Lingko wajib mengerjakan dan mengolah lahannya secara serempak.

Karena ini juga muncul sistem kerja dalam masyarakat manggarai yaitu sistem kerja dodo atau tolong menolong. Hari ini saya membajak sawahmu, besok kau membajak sawahku.

Ketiga, terciptanya etos kerja dan mengurangi iri hati sosial. Pembagian ladang atau lingko yang adil dan merata menuntut masyarakatnya untuk bekerja. Kalau seorang tidak mengerjakan kebunnya dalam lingko yang terintegrasi seperti itu ia pasti ditegur oleh tetangganya.

Mengapa demikian? Karena kalau ia tidak mengerjakan kebunnya ia sama saja membawa petaka bagi kebun yang lain. Dari kebunnya muncul hama penggerek seperti tikus dan lain-lain. Jadi semua harus bekerja atau kalau diberi branded kerja semesta.

Bagaimana membagi lingko jejaring?

Cara membagi lingko sederhana saja. Setelah tua teno (tetua adat urusan tanah) menemukan titik pusat lingko, ia meletakan jari telunjuknya. Sebesar jari telunjuknya itulah sudut kerucut masing-masing ladang. Kalau klennya besar, ia akan diberi sudut kerucut dua jari telunjuk. Kemudian ditarik batas masing dan mulai menancap pancang pembatas. Jika masih belum adil dan merata, tiang pancang di ubah sampai semua pihak menyetujui bersama. Model ladang ini sebenarnya menggunakan bangun ruang segitiga.

Filosofi Politik

Sistem seperti itu adalah sistem politik juga. Politik merupakan seni membangun peradaban. Kita bisa mengatakan sistem integrasi ini sudah menjadi kearifan di masyarakat Manggarai.

Mbaru Niang menjadi tempat utama membicarakan, mendiskusikan, merancang dan memutuskan masalah-masalah sosial. Karena itu yang berhak tinggal dan menjaga Mbaru Niang adalah seorang Tua Golo (kepala kampung). Ia seorang yang pandai bicara, bijakasana mengatasi perkara dan mempunyai kekuatan magis (sekarang sudah modern) sehingga disegani.

Seorang Tua Golo adalah seorang pengambil kebijakan. Semua perkara sosial akan dibawa kepadanya. Lalu ia akan memanggil sidang publik untuk menyelesaikan persoalan.

Sistem ini mestinya menjadi solusi pembangunan. Jejaring merupakan modal sosial. Jejaring juga menjadi prinsip dasar kosmologi dimana setiap komunitas, subjek saling sejajar.

Demikian pula model bisnis jaman kini banyak menggunakan pendekatan jejaring ini. Bedanya sistem jejaring manggarai ini membuat setiap orang sama kedudukannya.

Semoga pembangunan daerah Manggarai tidak melupakan Jejaring Laba-labanya. Ibarat lingko, pembangunan itu harus merata.
Begitulah kira-kira tentang Lingko yang dipakai pak Anis.
×
Berita Terbaru Update