-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MAMA YUNI, TERPEJAM

Selasa, 09 Oktober 2018 | 22:08 WIB Last Updated 2019-12-04T09:19:43Z
 
MAMA YUNI, TERPEJAM
(Gambar dari google)

Sedih. Tangisan merebak. Matanya terpejam. Wajahnya pucat. Perjalanannya kini terhenti. Dalam keadaan tak bernyawa, ia dipangku anak-anaknya. Riuhan cerita tentang kasih, menggelegar ke setiap hati yang pernah bertemu denganya. 

Kini, Mama Yuni telah berakhir. Mama Yuni, begitulah ia disapa. Sebenarnya, namanya bukan Yuni. Yuni adalah nama anak sulungnya.  Nama aslinya adalah mama Marselina.

Tradisi memanggil nama seorang ibu dengan nama anak pertamanya adalah sebuah tradisi yang umum di NTT. Hal ini sedikit berbeda dengan orang Jawa dan Sumatra yang memanggil nama seorang ibu dengan nama suaminya. Mendengar berita tentang mama Yuni meninggal, hatiku terenyuh.

Ryan, Ino dan Yopy, sampaikan salam dukaku buat bapa Gabriel dan semua adik. Saya mengenang Mama dalam doa hari ini. 

Pertemuan saya pertama kali dengan Mama, itu terjadi 19 tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1999. Saat itu saya adalah anak seminari KPA Mataloko. 

Mama sering datang ke seminari untuk mengunjungi Rm. Matias Sala Rawa Patty, Pr (alm). Saya ingat kami pernah duduk bercerita di dapur seminari, yang saat ini sudah menjadi ruang rekreasi para Romo. 

Pertemuan kami selanjutnya terjadi satu tahun sesudah itu. Persisnya saat kami KPA tahun ke-II. Ada kejadian mengejutkan. 

Saat itu salah satu teman kelas kami, Paulus Prado yang adalah sepupu Ryan sendiri, meninggal secara tiba tiba. 

Kami, anak seminari berangkat ke Munde Waerana untuk melayat, sekaligus mengikuti upacara pemakaman Paulus Prado.Ternyata orang yang mengurus Paulus sampai masuk seminari adalah mama Yuni.

Mama Yuni selalu mengajak anggota keluarganya untuk masuk seminari dan berharap menjadi imam kelak. Ia bukan saja mengajak keluarganya. 

Namun semua anak laki lakinya, didorong masuk seminari. Tercatat Ryan, Ino, Yopy, anak mama Yuni, pernah belajar di KPA Mataloko. 

“Mama sungguh merindukan salah satu anaknya bahkan kalau boleh semua anaknya menjadi imam” katannya kala itu. Namun, kemudian hari Tuhan berkehandak lain.

Kembali ke persahabatan saya dengan mama Yuni. Tahun 2006, ketika saya  menjalani masa TOP di KPA Mataloko, Mama Yuni datang ke seminari mengantar anak laki laki sulungnya, Ryan untuk mengikuti masa pendidikan di seminari. 

Sebenarnya, kedatangan mama Ryan sudah  melewati waktu yang ditentukan pihak seminari. Namun atas intervensi Rm. Yonas, Ryan akhirnya bisa diterima di KPA Mataloko. Saat Ryan di KPA itulah, relasi yang sempat terputus sejak kepergian Rm. 

Matias disambung kembali. Mama dan bapa sering datang ke KPA Mataloko. Demikianpun keluarga bersar KPA, sering ke Munde sekedar untuk berdoa di patung keluarga kudus ataupun singgah dalam perjalanan ke Ruteng.  

Saya masih ingat beberapa anak seminari, diskor oleh Rektor KPA, gara gara terlambat pulang dari Munde.

Persahabatan antara keluarga besar seminari KPA Mataloko dengan keluarga bapa Gabriel dan Mama Yuni di Munde, sangat akrab.  

Kemudian dilanjutkan lagi saat saya menjadi Rektor KPA Mataloko. Setiap kali saya ke Ruteng, saya pasti singgah  di Munde. 

Rumah mereka,  saya anggap seperti rumah sendiri. Kadang sebelum berangkat dari seminari, saya lebih dahulu menelpon mama, sekedar memberi tahu bahwa kami akan makan siang di rumah. 

Tak sekalipun mama menolaknya. Mama selalu menjawab, “baik Pater, mama dan bapa tunggu e’.

Tahun 2014,  saat pesta perak seminari KPA St. Paulus Mataloko, saya mengundang semua keluarga seminaris dan mantan seminaris dari Munde Waerana dan mama Yuni ‘memimpin’ rombongan keluarga alumnus seminari KPA Mataloko dari Manggarai Timur. 
Mereka datang menghadiri syukuran seminari dengan penuh sukacita.

Tahun 2015, saat sedang berlibur natal di Soa, Mama Yuni menelpon dan bertanya tentang keberadaanku. 

Saya menjawab “saya di rumah, di Soa Mama”. Mama bertanya, “bolehkah kami mengunjungi Pater dan keluarga di rumah?”

Saya pun menjawab dengan gembira, “dengan senang hati Mama, mari, silakan datang, kami menunggu e”.  Mama akhirnya tiba di rumah sekitar jam 1 siang, bersama rombongan keluarga dari Munde. 

Saya sempat diberi hadiah satu topi songket Manggarai, yang langsung dikenakan di kepala saya oleh mama.Topi itu masih saya simpan sampai sekarang.

Tahun 2016 sebelum meninggalkan Flores, untuk melanjutkan tugas belajar di Filipina. Saya sempatkan ke Munde untuk bertemu dengan semua keluarga seminari KPA Mataloko. Saya pun bertemu bapa Gabriel dan Mama Yuni beserta keluarganya.

Tadi pagi sekitar jam 2.30 saat sedang tidur, saya merasakan getaran Hp secara simultan. Ternyata ada panggilan dari Ryan. 

Menggerutu pun sempat kulontarkan, “ada apa ni Eong telepon malam-malam”. Namun, saya tetap menerima panggilannya. Ryan lalu bertanya, “Kae Romo, ada nomor Hp biara CICM ka?”. 

Serentak saya berpikir bahwa yang diminta adalah nomor biara CICM di Manila. Karena memang di biara CICM Manila Para Fraternya kebanyakan dari Manggarai. 

Saya lalu menjawab “Ada Ryan, nanti saya kirimkan. Memang,  ada apa e kok minta nomor biara CICM tengah malam begini?” 

Ryan langsung menangis dan menjawab, “Kae Romo punya Mama di Munde sudah meninggal dunia e. Saya mau beri tahu adik Nando yang ada di sana”. Sontak pun Saya sangat terkejut, karena tidak pernah mendengar berita sakitnya. 

Terakhir kali Saya menerima SMS darinya saat setahun yang lalu. Kala itu, untuk menginformasikan keberadaan Yopy di KPA Mataloko. Mama memrediksi bahwa Yopy tidak bisa bertahan karena ada sekian banyak tantangan.

Serentak Saya pun langsung mencari di internet nomor komunitas CICM Jakarta. Secepat kilat saya telah mengirimkan nomor itu ke Ryan. Tak lupa saya mengirimkan pesan untuk Ryan agar kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan ini. 

Di saat itu juga, Saya menginformasikan berita duka ini di Group WA Gubuk Bambu 2006 dan langsung ditanggapi oleh saudara Erby Bitan setelah berselang 5 menit kemudian. 

Pagi ini hampir semua anggota group sudah menyampaikan rasa dukanya. Terima kasih untuk persaudaraan kita. 

Tak terasa sudah 12 tahun sejak kita berpisah dari Gubuk Bambu di Mataloko. Namun, persauadaraan itu terasa masih sangat kuat dan semakin kuat serta tak lekang oleh waktu.

Memang wajar jika di dalam persahabatan, saling bertengkar, silang pendapat, saling memersalahkan. Namun, di saat teman kami mengalami kedukaan, kami pun merasakannya.

 Kami pernah berada dalam kesederhanaan Gubuk Bambu. Gubuk Bambu memang begitu sederhana. 

Namun, persaudaraan yang terjalin tidaklah sesederhana namanya. Keesokan paginya, Ryan membalas pesan WA saya, untuk mengucapkan terima kasih karena Nando bisa dihubungi dan dia akan tiba di Munde sekitar sore hari.

Mama Yuni bagi seorang calon Imam

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi pada tahun 2013 sekitar bulan Oktober. Saat itu, ada seorang Frater Rogationis alumni KPA Mataloko bernama Fr. Herman, meninggal. 

Ia  masih keluarganya Ryan. Sebagaimana tradisi kami di KPA, jika ada  alumni yang meninggal dan jaraknya tidak terlalu jauh, biasanya datang melayat. Bila mungkin mengikuti upacara pemakaman.Tradisi ini selalu diingatkan Rm. Yonas kepada saya.

Setelah semua acara selesai,  mama mengajak kami, dari KPA untuk mampir ke rumah. Selesai berdoa di depan patung keluarga kudus, mama mendekati saya dan minta waktu bicara pribadi. 

Mama meminta bantuan doa saya untuk seorang anggota keluarga besar mereka yang dianggap sudah tak bisa diatur lagi. 

Anak itu selalu mabuk- mabukan. Hampir  setiap malam. Ia kerap membuat keonaran di tengah masyarakat dan sering membuat malu keluarga besar. Nama anak itu, Petrus Renatus Lijung. 

Mama meminta saya, membuat intensi khusus dalam misa setiap hari. Dan  mama juga, akan berdoa serta berpuasa untuk intensi itu. Saya menyanggupinya. 

Dalam pembicaraan itu, saya mengusulkan kepada mama, sekiranya mama bisa mengatur, bagaimana caranya  Jung (nama panggilan anak itu) saya ke KPA Mataloko untuk beberapa hari. 

Lalu, dengan berlinang air mata, mama berucap, “Pater terima kasih banyak, semoga Tuhan mendengar doa kita”. Hari itu, saya pulang ke Mataloko tanpa Jung.  Mama berjanji untuk mengantar Jung ke KPA.

Saat misa 40 malam Fr. Herman, RCJ,  saya berpesan kepada Pater Heri yang pergi ke sana, untuk mengajak Jung ke KPA. 

Saya juga menelpon mama, agar sekiranya bisa Jung datang ke seminari bersama P. Heri. Jung akhirnya bisa diajak kompromi  dan bersedia mengunjungi seminari untuk beberapa hari saja. 

Saat tiba di seminari, saya menyambut Jung dengan hangat, sembari meminta semua seminaris untuk melakukan hal yang sama terhadapnya. 

Dua hari awal di KPA, Jung benar benar hanya tidur dan bangun untuk makan. Memasuki hari ketiga, Jung mulai ikut misa. Hari keempat mulai ikut ibadat pagi. 

Hari kelima rambutnya yang gondrong sudah dipangkas. Setelah seminggu di KPA, saya coba bertanya, “Jung, apakah betah di seminari?Jung tidak menjawab. Ia malah bertanya, “Pater, apakah boleh saya tinggal di sini untuk beberapa hari lagi?” Serentak saya menjawab, “oh tentu saja.

 Jung boleh tinggal sini, kalau Jung mau’.  Lalu Jung menjawab “kalau begitu saya ke kampung dulu untuk ambil pakaian, karena saya bawa pakaian cuma dua potong”.  Jung, akhirnya berangkat ke Munde.

 Selang dua hari, Jung muncul kembali di seminari. Saya mengumumkan ke semua seminaris bahwa kalian mendapat teman baru. Dia bukan seminaris. Namun,akan mengikuti semua kegiatan seminari sebagai murid pendengar.

Hari terus berlalu dan saya terus memantau perkembangan Jung. Walau murid pendengar, Jung mengambil bagian dalam pelajaran di ruang kelas. Dia memakai pakaian seragam seperti seminaris yang lainnya. 

Dia sangat bertanggungjawab dalam semua hal, termasuk dalam doa dan misa. Menjelang, pendaftaran masuk Frater, saya sama sekali tidak mengurus dokumennya, karena Jung murid pendengar. 

Namun, saat rapat Pater Heri, bertanya tentang status Jung, “ apakah dia boleh masuk frater tahun ini atau harus ulang satu tahun penuh lagi’. 

Saya menjawab, “ secara aturan sama sekali tidak bisa. Namun, saya juga meminta pertimbangan Frater TOP dan Pater Heri sendiri”.  

Mereka memberikan penilaian yang sangat positif tentang Jung. Saya sendiri,  mengakui bahwa semua penilaian itu benar adanya.

Jung adalah anak nakal’ yang sudah bertobat. Ia disentuh Allah, melalui doa dan usaha mama Yuni. Tanpa sepengetahuan Jung, saya menelpon Pater Donato, pimpinan biara Stikmata serta menceritakan semuanya tentang Jung. 

Di akhir pembicaraan saya bertanya, “bolehkah kami mengirimkan dokumen lamaran Jung ke Stikmata?”  Pater Do menjawab, “ silakan saja. 

Namun, jika dalam semester awal, ternyata dia melakukan pelanggaran, maka kami akan mengembalikan dia ke seminari KPA. Akhirnya semua berjalan seperti biasa, Jung diterima di biara Stikmata serta menjalani pembinaannya.

Dua bulan kemudian, saya mengunjungi Jung di Maumere.  Saya bertanya kepada Pater Donato, tentang Jung. Beliau menjawab, “ dia anak baik, anak yang taat dan saya percaya dia akan bertahan”. 

Bulan Juni kemarin saya mendapat pesan messenger dari Jung. Dalam pesan itu, dia menulis, “Amu, terima kasih untuk semua pendampingan Amu selama ini. Saya akan berangkat ke Thailand, untuk menjutkan masa formasi di sana.

 Mohon doa Amu, karena dari angkatan kami dari KPA tinggal saya sendiri yang masih bertahan di jalan panggilan ini. Semoga saya setia sampai akhir”. 

Membaca SMS itu,  saya terharu, karena saat masuk Stikmata, mereka berjumlah delapan orang, termasuk Jung. Jung adalah orang yang masuk dengan catatan ‘diterima dengan percobaan beberapa bulan’.

Terima kasih untuk kesetiaanmu Jung. Terima kasih untuk mama Yuni, yang selalu mendukung dengan doa. Jung,  kini berada di Thailand.

 Oleh: Romo Yanto Ndona, O.Carm

(Tulisan ini sudah dimuat di www.indonesiasastra.net)
×
Berita Terbaru Update