-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

RANJANG UNTUK PENGANTIN KECIL

Jumat, 12 Oktober 2018 | 16:39 WIB Last Updated 2019-12-06T11:27:50Z
RANJANG UNTUK PENGANTIN KECIL

Oleh: Marselus Natar

‘’Para malaikat Surgawi akan menjemput engkau dengan semarak sukacita yang tak terucapkan. 

Seruling dan kecapi menggemakan madah pujian untuk menyambut kedatanganmu di gerbang kemenangan kekal. 

Engkau akan berada bersama Pangeranmu di singgasana Surgawi. Engkau berbusanakan gaun panjang yang melambai-lambai, dengan mahkota tinggi di kepala. 

Emas dan berlian mewarnai kemegahan kediamanmu. Deru debu dan guyuran hujan tiada kau temukan lagi, sebab langit diselimuti sayap–sayap Serafim dan tanah ditutupi rona kirmizi permadani nan indah. 

Tidak ada penderitaan, ratap dan tangisan serta berbagai kesusahan – kesusahan seperti yang kau alami semasa di dunia ini.

Kemanapun engkau pergi, bala tentara surgawi menjaga dan mengawalimu. Di pelataran ranjangmu, kau menemukan beragam kembang, minyak narwastu dan minyak zaitun yang semerbak. 

Tubuhmu akan didandani dengan keindahan terindah.  Apakah yang masih kau ragukan?. Segala-galanya telah tersedia bagimu dan bagi semua saudaramu yang dengan iklas, berani dan dengan niat yang murni melakukan tindakan ini. 

Inilah jalan satu-satunyua untuk menempuh atau merasakan kebahagiaan tanah air surgawi dengan status pengantin yang tentunya disanjung – sanjung, dihormati, dimuliakan, disegani dan tentunya mencicipi tahta kekuasaan.’’

Dari pagi hingga petang, pernyataan ini merasuk hati sang Zaenap kecil. Sesungguhnya ia belum paham dengan kata pengantin.

 Ia belum mengenal cinta, belum pernah mengarungi amukan lautan rindu yang menghentakan nadi. 

Zaenap kecil yang masih polos dan lugu menelan semua pernyataan yang dilontarkan oleh ayahnya. Belakangan ini Zaenap kecil dilarang keras untuk bermain diluar rumah. 

Hampir setiap saat, sang ayah menjejali Zaenap dengan pernyataan–pernyataan yang memengaruhi cara berpikirnya.

 Sang ayah membuka wawasan Zaenap kecil dengan butiran kebahagiaan. ‘’ Zena, anak papa yang manis dan pintar,  tujuan kehidupan bapa, mama, Zena dan adikmu  adalah menemukan kebahagiaan yang hakiki. 

Seperti apakah kebahagiaan hakiki itu? Papa dan mama tidak tahu karena selama masih hidup di dunia yang fanah ini, kita tidak akan menemukan kebahagian jenis itu. 

Yang Zena, papa dan mama temukan, alami dan rasakan selama ini adalah kesenangan yang sifatnya sementara. Papa mengatakan demikian bukan tanpa sebab anakku. 

Kesenangan itu bersifat sementara. Tataplah rumah kita. Itu pun sementara. Tidak ada yang abadi di dunia ini.  

Sang ayah berusaha sedemikian rupa untuk mempengaruhi pikiran dan batin  Zaenap kecil. Di sudut rumah yang sudah rewot dan kumuh, Zaenap kecil tertegun membisu. 

Pikiran dan situasi batinnya sejenak nampak kacau. Ia lalu menoleh ke kiri sembari menarik nafas dalam – dalam kemudian menghembuskannya lewat mulut.

Beberapa waktu kemudian, pernyataan sang ayah nampaknya mulai merasuki hati dan pikiran Zaenap kecil. 

matanya yang dahulu sayu dan bening kini berubah sangar penuh dendam, suaranya yang lembut syahdu berubah menggelegar laksana bunyi mata petir di siang bolong. 

Ia benci dengan segala penderitaan di dunia ini, teristimewah penderitaan yang dialami keluarganya. Untuk mengungkapkan rasa kebencian yang kian membara, Zaenap kecil lantas berdiri sembari berteriak dengan suara nyaring. 

Sesekali ia mengangkat dan membanting perabot rumah tangga hingga rusak. ‘’ Aku benci penderitaan, aku mau hidup bahagia,’’ ungkapnya penuh amarah. 

‘’Papa, berikan kebahagiaan itu kepadaku, sekarang juga !’’ gumamnya kesal. ‘’Baiklah, Zenaku sayang. 

Kebahagiaan itu tidak ada ditangan papa saat ini, sayang. Untuk mendapatkan kebahagiaan itu, kita harus meninggalkan dunia ini dengan menempuh sebuah  jalan menuju kebahagiaan itu sendiri yaitu jalan kematian yang bahagia.

Kematian yang bahagia itu merupakan kematian yang sangat terhormat dan mulia di mata Sang pemberi kehidupan ini, dimana Ia akan mengutus para malaikatNya untuk menemani kita, menghibur kita dan mengantar kita kepada kebahagiaan yang kita harapkan. 

Sang pemberi kehidupan akan memperlakukan kita seperti seorang pengantin pria memperlakukan mempelainya.

 Kekuatan  kata – kata sang ayah  mengantarkan Zaenap kecil kepada suatu  keinginan dan hasrat yang harus terpenuhi segera. 

‘’Papa, aku  mau  menempuh jalan kematian bahagia itu sekarang juga.’’ Ungkap Zaenap dalam pengharapan yang penuh. ‘’ Sabarlah, nak. 

Besok pagi kita akan menempuh jalan itu secara bersamaan. Papa mau, kita semua harus menikmati kebahagiaan itu secara bersamaan.’’ Tandas sang ayah penuh keyakinan.

Keesokan harinya, subuh – subuh benar munculah seorang sosok yang hendak  mengantar mereka ke jalan yang telah dijanjikan sesuai dengan kesepakatan. 

Beberapa tas ransel berukuran sedang memenuhi punggung pria itu. Pria itu memberikan isyarat kepada kedua orang tua Zaenap agar berjalan sesaui dengan target dan tanpa pengampunan. 

Zaenap berjalan ke utara bersama mamanya sedangkan sang ayah berjalan menuju selatan bersama adik dari Zaenap yang masih bayi dan belum sanggup berbicara. 

Secara mengejutakan, semua mas media siang itu memberitakan tentang peristiwa bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga. 

Kini, ranjang untuk pengantin kecil itu terus membentang dalam penantian yang panjang, sebab pengantin tak kunjung datang. Semoga saja tidak usang, sembari menunggu punggung – punggung bersanding mesra dalam kekalutan berpikir.

Penulis adalah  rohaniwan  katolik  pada kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. Sekarang berdomisili di Komunitas St. Yoseph Maumere. Beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di surat kabar harian Pos Kupang.

Gambar diambil dari dekorrumah.net
×
Berita Terbaru Update