-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

WHO AM I? (Refleksi Filosofis Tentang Identitas Diri Di Tengah Kemajuan Tehnologi Media Massa)

Selasa, 09 Oktober 2018 | 23:03 WIB Last Updated 2020-02-10T12:08:07Z

WHO AM I?  (Refleksi Filosofis Tentang Identitas Diri Di Tengah Kemajuan Tehnologi Media Massa)
(Gambar dari google)
Kesadaran tentang identitas diri seringkali diabaikan oleh orang-orang jaman now. Di tengah kemajuan tehnologi, manusia cendrung lupa diri-lupa identitas-lupa jati dirinya. Pengaruh tehnologi sangat terasa, baik dalam pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif membuka pintu ketertutupan pikiran dan hati pada masa depan yang cerah. Namun pengaruh negatif mendorong manusia terjebak. Sebab manusia mengalami kecanduan dalam kenikmatan sesaat yang menyesatkan.

Pengenalan identitas diri bukan seperti semudah membalikkan telapak tangan. Manusia harus melewati proses yang kadang-kadang menantang, menyulitkan dan atau  menyebalkan. Manusia yang tidak mampu melewati proses, berarti, sadar atau tidak, dia kalah dalam pertarungan kehidupan. Dia tidak mampu menjadi aktor penentu masa depan yang indah dan memesona.

Who am I? adalah secuil pertanyaan yang menggelitik sanubari. Pertanyaan tersebut bahkan mengguncang suara hati yang sudah tumpul. Manusia dimasukan dalam mal kesadaran akan sebuah arti eksistensi diri. Di sinilah manusia menemukan titik terang, dari mana dia berasal atau ke mana dia akan menuju.

Who am I merupakan pertanyaan reflektif yang harus dijawab dalam peziarahan kehidupan. Namun jawabannya tidak pernah selesai. Adakah kata-kata indah yang dapat menjadi jawaban menyeluruh atas pertanyaan tersebut? Pertanyaan who am i selalu aktual dalam pelbagai aspek kehidupan. Manusia tidak pernah bisa lari dari realitas pengenalan akan eksistensi dirinya.

AKU BERTANYA (?)

Ulasan tentang “aku bertanya” menarik perhatian saya. Aku bertanya maka aku mendapatkan jalan. Aku bertanya maka aku akan menuju. Pertanyaannya, jalan mana yang harus aku tempuh? Ke mana aku akan menuju? Manusia yang mengetahui darimana dia berasal pasti tahu juga kemana dia harus pergi atau kemana dia akan menuju.

Pada hakekatnya, manusia berasal dari Sang Pencipta. Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, menciptakan manusia. Namun manusia diciptakan secara istimewah. Karena begitu besar cinta-Nya, Dia membentuk manusia seperti gambar wajah-Nya. Siapakah manusia itu sehingga dia begitu pesona dari mahluk lainnya? Mengapa manusia diciptakan berbeda?

Manusia diciptakan dalam kemuliaan-Nya. Manusia juga harus memuliakan Dia dalam keseluruhan kehidupannya. Apakah ada gerangan manusia tidak memuliakan Dia dalam peziarahan kehidupannya? Jika ada orang demikian, berarti dia lupa diri-lupa dari mana dia berasal dan ke mana dia akan pergi.

Manusia diciptakan dengan pelbagai kemampuan, bakat dan potensi diri. Allah menganugerahkan akal budi dan hatinurai yang membuat manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Namun, manusia memiliki sisi manusiawinya. Manusia memiliki keterbatasan diri. Persoalannya, mengapa manusia yang diciptakan dengan sangat istimewah tetapi punya keterbatasan? Pertanyaan ini menjadi pergulatan manusia dalam peziarahan hidupnya. Jawabannya, barangkali Allah menghendaki supaya manusia tidak jatuh dalam kesombongan dan keegoisan. Barangkali Allah menghendaki supaya manusia tidak menjadikan dirinya allah.

Untuk membuktikan kesombongan manusia, saya mengungkapkan realitas kehidupan manusia itu sendiri. Sebab realitas tidak membohongi kejahatan. Bahwa manusia berusaha menjadikan sesamanya sebagai the other. Tatkala manusia menganggap sesama sebagai liyan, maka dia bertindak seperti harimau menerkam musuh. Hal ini terlihat jelas, semisal dalam dunia politik. Kecendrungan manusia yakni nafsu berkuasa. Manusia ingin menguasai manusia lainnya.

Who am i merupakan bagian dari aku bertanya. Aku bertanya merupakan bagian dari petualangan identitas kesejatian diri. Manusia mampu mengenal eksistensi dirinya tatkala dia bertanya. Pertanyaan tentang diri tidak terlepas dari 5W + 1 H. Dan salah satu pertanyaan penting untuk mengenal diri yakni siapakah aku.

Di tengah dunia carut marut yang semakin hari semakin terpuruk, ‘manusia harus kembali’. Manusia kembali untuk bergulat tentang eksistensi dirinya. Manusia kembali untuk bertanya tentang keseluruhan dirinya. Dengan adanya pertanyaan, manusia pasti berusaha mencari jawabannya. Seperti pepatah kuno mengatakan, ada pertanyaan pasti ada jawaban.

AKU DI TENGAH KEMAJUAN TEHNOLOGI
Sadar atau tidak, dunia dewasa ini dikuasai kemajuan tehnologi media massa. Kemajuan tehnologi sangat berkembang cepat. Persaingan tehnologi antara negara berkuasa sungguh dirasakan. Negara-negara maju berlomba-lomba menciptakan tehnologi yang sangat canggih. Sedangkan negara-negara miskin atau negara-negara berkembang tidak mampu bersaing dengan negara-negara maju. Akibatnya pasar dunia dikuasai oleh negara-negara yang memiliki kemajuan tehnologi tinggi.

Kemajuan tehnologi media masa memiliki manfaat luar biasa. Kemajuan ini mendorong manusia mengembangkan dirinya. Manusia mampu memeroleh informasi dan pengetahuan yang sangat luas. Manusia mampu mengasah keahliannya dalam bidang tertentu. Manusia mampu menjalin relasi dan komunikasi dengan siapapun dan di mana pun berada. Namun yang menjadi persoalannya yakni tatkala manusia tidak mampu bersikap kritis dan bertanggung jawab serta mengendalikan diri dari pengaruh negatif media massa tersebut.

Pengaruh negatif dari kemajuan tehnologi media massa kadang-kadang menimbulkan perubahan cara pandang negatif tentang sesama manusia. Pertanyaannya, siapakah aku bagi sesamaku di tengah kemajuan tehnologi media massa?

Gambaran tentang aku di tengah kemajuan tehnologi media massa merujuk pada keseluruhan keberadaan diri manusia yang bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh media massa tersebut. Manusia memiliki akal budi dan iman yang kuat untuk memakai alat tehnologi secara bijaksana.

Agar manusia mampu bersikap kritis terhadap pengaruh media massa, manusia perlu bercermin pada sikap Yesus Kristus yang sangat kontras dengan dunia. Keteladanan hidup-Nya berlimpah kasih. Dengan demikian, kasih merupakan landasan dasar dalam menentukan pilihan hidup yang benar dari pengaruh-pengaruh negatif dari media massa.

Manusia yang mampu mendasarkan dirinya pada kasih Allah, berarti dia mampu menjadi pribadi yang bersikap kritis dan bertanggung jawab karena relasinya yang mesra dengan Allah. Kedalaman relasi dengan Allah membuat manusia sadar akan kesejatian dirinya. Dengan demikian, manusia adalah pribadi yang melibatkan Allah dalam memanfaatkan tehnologi media massa. 

(Oleh Nasarius Fidin)



×
Berita Terbaru Update