-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANTOLOGI PUISINYA YS SUNARYO

Selasa, 27 November 2018 | 17:51 WIB Last Updated 2018-11-27T10:51:44Z
(Gambar dari google)

KATAKAN, HENTIKAN

Katakan tentang pahit dan manis
dengan ramuan hikmah kebijaksanaan
di tengah takdir keragaman
walau begitu samar didengarkan

Katakan tentang putih dan hitam
dengan warna suri tauladan
di tengah kesewenang-wenangan
orang-orang merasa paling benar
walau pelan yang didengarkan

Kemajuan peradaban
ada di halaman kemerdekaan
pada kesungguhan bebas bersuara
menempuh cara sejahtera
di jalan rindang keadilan
terbentang jejak kebahagiaan

Sedang langkah kemunduran
hentikan di degup kekuasaan
dengan saling membaca
risalah kehidupan purba
dan selalu meraba tanda-tanda
kini dan masa depan
tentang kerusakan
bencana di daratan dan lautan

Jangan hanya beralasan
tentang hilang waras berkata-kata
sebab mabuk di tengah pesta
hingga tak punya daya
merasa sesama manusia

Hentikan cerita saling curiga
dan nganga saling memangsa
sebab hanya jiwa sehat terjaga
yang bisa menyuarakan

Bandung, 23 November 2018

ZAMAN EDAN

Mbah, apakah ini zaman
yang dulu kau perkirakan
"zaman edan,
ora edan ora keduman"

Sebab aku menyaksikan
lalu-lalang orang telanjang
menggadang-gadang kemaluan
intim di gersang jalanan

Lalu menaiki panggung
acungkan telunjuk di hidung
menertawakan diri sendiri
mulut leleh berahi

Kata-kata tak dimengerti
kecuali diksi mengajak kelahi
angka-angka dimuntahkan
mualkan nalar kewarasan

Mbah, benarkah ini zaman
telah zamannya edan
atau kita sedang digerayangi
kegilaan tak disadari
di sisi gelap hati
mencari-cari kursi
menendang-nendang demokrasi

Mbah, bangun, jangan meludah!
kutanya lagi benarkah ini
erangan kematian kemanusiaan
dalam label: zaman edan!

Bandung, 24 November 2018


DOA DI ATAS PERAHU

Kita mau apa lagi
ketika umpatan-umpatan
menyembul di bibir demokrasi
lalu menikami batin pertiwi
dan nalar sehat telah jauh
tersesat di genang syahwat
ingin berkuasa

Sedangkan mulut-mulut ikut-ikutan
menyambut gerak kata
dengan tafsir dangkal makna
hingga terseret dalam perkelahian  adalah agamawan
adalah ilmuwan
bersekutu dengan politisi
berakrobatik untuk penobatan kursi
lalu berbagi kenikmatan badani

Kita mau apalagi
lantang membangun jiwa raga negeri
jika hati dikoyak berahi
dan pikiran dijualbelikan
tanpa kehormatan
kecuali mendapatkan sebidang lahan
yang selalu disembunyikan
oleh para pemimpin perkumpulan

Kita mau apa lagi
pesta di kerumunan orang lapar
berada di segelintir orang kenyang
namun terdepan dalam kerakusan sedangkan peraturan
tertidur di ketiak ketidakadilan

Kita mau apa lagi
kecuali tak boleh frustasi
mengayuh perahu renta
retak-retak berserak
dengan doa-doa anti anarki
regenerasi mesti tak teracuni lagi

Bandung, 26 November 2018

×
Berita Terbaru Update