-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KUMPULAN PUISI KARYA AHMAT SHOLIHIN

Selasa, 13 November 2018 | 19:56 WIB Last Updated 2018-11-13T13:09:42Z

MENYUSURI LORONG CAHAYA

Malam ini aku masih terpekur bisu dalam labirin bayangan
Menelaah langkahku yang kemarin patah
Tergelincir kerikil saat menyusuri lorong cahaya
Kini, ketika lembar kalender mulai jatuh perlahan
Ada sesal menjerit dalam diam

Tiba-tiba mataku gerimis
Lalu hujan
Bagaimana hendak kuberpijak...
Sedang kakiku tak bisa kutapakkan
Masih terbelenggu batu-batu

Namun yakinku menggebu
Membelah hujan
melangkahkan kembali menyusuri lorong cahaya
Aku tak mau jika langkahku tergelincir kembali di lorong kalender baru
Mesti bisa menyusuri lorong dan memetik cahaya itu
Meski kutahu, langkahku tertatih
Aku tekadkan hati, mantapkan niat
Memburu ridha-Nya
Sebab telah kugenggam janji kalam-Nya
"Takkan berubah nasibmu
Tanpa kau merubahnya sendiri"
Petuah-petuah sakral itu kujadikan sebagai penghapus dahaga
di perjalanan sunyi ini

DESA

Kadang lalulalang polusi sebabkan tubing gerah
Menikam jantung dengan panas kertas kertas angka
Menabur manis janji surgawi
Padahal jauh dari hingar bingar gedung pencakar langit
Terbentuk surga dunia
Melantun syahdu wewangian bunga
Gunung gunung menjulang
Menatap lakon raja pencari mangsa mangsa
Dan akhirnya desa sebagai target utama

KETIKA SUFI BERSUJUD DI HADAPAN KELEDAI

Ketika gumpalan daging dibelenggu syahwat
Ia mengembara mencari lorong maksiat
Menahkodai tubuh agar ikut tersesat
Mengulum nikmat sesaat

Pada gersang jiwa terbungkus luka
Patuh terjerembab di lembah nestapa
Menjual tawa pada derita menimpa
Lalu ke mana ujung pasrah pada Sang Pencipta

Kallaa bal rana 'alaa quluubihim
Menutup pintu tak tersentuh cahaya
Tuli atas lantuanan firman-Nya
Buta tak mampu menatap indah ar-rahim

TERPENJARA DALAM HENING

Ketika alfabet mengajak tinta
Mengembara pada hening
Pena terjebak tak menemui jalan terbuka
Terperangkap di labirin khayalan tak bergeming

Terpaku menatap embusan diksi bertebangan
Tinta ingin menangkap menjadikannya puisi
Menuliskan gurindam pada hati
Namun ilusi tak mampu menimang angan

Angan jauh berkelana di ladang tandus
Mencari sebait sajak yang hilang
Malam ini tak ada diksi berembus
Hanya kelebat asa menari dalam bayang

Ke mana pena hendak labuhkan tinta
Menuliskan puisi penyejuk jiwa
Jika kembara membelenggu kata
Haruskah luka terus menganga

Malam ini imaji terpenjara dalam hening
Tanpa puisi
Penuh ilusi
Menawar-nawar anarki

Jember, 2017/2018



×
Berita Terbaru Update