-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANTARA SEMANGAT MERAYAKAN NATAL DAN JAGA RUMAH

Selasa, 25 Desember 2018 | 09:32 WIB Last Updated 2019-12-05T10:29:36Z
ANTARA SEMANGAT MERAYAKAN NATAL DAN JAGA RUMAH
(Ilustrasi dari me.me)

Malam itu aku masih saja duduk di depan teras.Tidak seperti biasanya, menjelang Natal tiba aku yang paling di depan mengambil kesempatan untuk mengikuti perayaan misa.

Tapi kali ini, aku mendapatkan tugas untuk tinggal. Waktu berdetak begitu cepat. Semua orang rumah memiliki kesibukan masing-masing dengan mempercantik diri untuk menyambut kelahiran sang juru selamat.

"Rikus, kamu tidak ke gereja? Sapa tanta Milka, yang keluar dari dalam kamarnya." Tidak tante" ucapku santai.

Ia pun tidak membalasnya. Karena ia tahu, tak ada yang memilih tinggal. Jadi, aku yang antusias pilih tinggal. Hingga semua satu persatu berpamitan dan mereka menitip pesan.

"Rikus, tolong jaga rumah baik-baik ya." Aku pun menyanggupinya karena memang hanya aku yang ada di rumah.

Malam itu, jalanan begitu ramai. Jadi kesunyian bisa disingkirkan. Hanya saja malam Natal kali ini tidak dihebohkan oleh bunyi petasan yang meriah, semua lebih pada suasana hening dan syahdu.

Untuk memecah kesendirianku, akhirnya aku coba buka aplikasi Wa yang ada di handphone androidku.

Dengan maksud mencari kesibukan untuk memainkan imajinasi liar yang ada   kepala sehingga bisa dijadikan history di dinding Wa. Mungkin ada yang tidak sempat ke Gereja, mereka bisa like dan koment.

Yang pertama aku kirim adalah ucapan "selamat hari raya natal mohon ma'af lahir dan batin" karena memang pas momennya."

Adapun yang langsung membalasnya lewat story. Ini pasti tidak ke Gereja" ucapku dalam hati."

Jawaban mereka pun bervariasi ada yang masih di jalan lah, ada yang baru mau berangkat, lebih parahnya lagi, ada di dalam Gereja, tetapi masih sempat untuk bermain handphone.

Aku pun, spontan menegurnya; jika sekarang berada dalam Gereja, fokuskan dulu untuk mengikuti ibadah. Mereka akhirnya menyadari hal itu, dengan hanya read saja chatingku, dan mematikan handphonenya.

Tiba-tiba aku termenung seketika mendapat history Wa dari salah satu teman ponsel. Kami belum pernah sapa-menyapa meskipun lewat sosial media.

"Merasa sedih, karena dia tidak memiliki baju baru" Seperti itulah perkataan dalam historynya." Aku langsung mengomentarinya; kenapa juga dengan baju baru dek" ungkapku." langsung diread.

Aku menunggu balasanya, mungkin agak lambat baginya untuk memberikan penjelasan itu. Butuh pertimbangan, apalagi dengan orang yang baru sekarang sempat mengomentari history wa-nya.

Aku masih duduk di bangku depan teras sambil memandang jalanan yang luas, yang kolang-kaling dihiasi kendaraan yang lewat.

Lima belas menit berlalu. Tiba-tiba hanphone bergetar. Ini pasti Mery" gumamku dalam hati" ternyata betul, ia baru membalasnya. Tidak kakak, itu hanya status saja."ucapnya"

Aku pun semakin penasaran. Butuh waktu untuk meracik kata-kata agar dia bisa menceritakan kronologi yang sebenarnya yang sedang ia alami.

Alhasil ia menceritakan yang sesungguhnya. Hitory yang dilontarkan pada dinding wa tersebut, memang keadaan yang sebenarnya sedang ia alami.

"Saya tidak ke Gereja kak, karena saya tidak memiliki pakayan baru. Teman-temanku yang lain, semua pada punya baju baru."chatingnya yang terakhir."
Aku memilih jeda seketika, untuk memikirkan apa yang harus dibalas.

Aku kembali membalasnya; yang sabar dek. Menurutku ini mungkin bisa membuat otaknya sedikit untuk berpikir lebih maju. Dugaanku meleset.

Iya tetap bersih keras, bahwa, penampilan khususnya cara berpakaian merupakan suatu hal yang rill dan pasti, kesabaran tidak dibutuhkan.

Aku kembali menenangkan situasi hatinya yang lagi kalut, dan tidak terpancing dengan kegusarannya lewat chating.

Semakin sengit debat antara kami berdua. Tak disangka kemenangan berpihak kepada saya, alhasil; Ia meyakini bahasanya dalam menyambut pesta Natal, kita tidak perlu menyambutnya dengan pakayan yang baru, melainkan hati dan jiwa yang baru.

Sehingga kelahiran Sang juru selamat bermuara dan berlabuh di dalam hati dan jiwa kita."

Selepas pulang dari Gereja kami saling bersalaman dan menghayati suasana suka cita kelahiran Yesus Kristus. Rumah pun menjadi sangat ramai dan penuh kegembiraan.

Makassar, 24/12/2018
By: Cris Jata
×
Berita Terbaru Update