-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rindu, Tatapan Mata, Hujan, Moratorium

Rabu, 05 Desember 2018 | 12:17 WIB Last Updated 2020-02-10T11:46:21Z
Rindu, Tatapan Mata, Hujan, Moratorium
Ilustrasi; blog penkcreatednow

RINDU

Di bola mata rindu membuka pintu-pintu pagi
menyiram daun-daun kopi
pada tembang-tembang ranting puisi
ladang sunyi menyimpan seribu matahari

Ho hoi...pada tarian cintaku
suara angin menciptakan komposisi rindu
menyatu dalam hatiku

TATAPAN MATA

Lembut tatapan matamu seperti sajakku
menguntit hutan rambutku di musim kemarau
sedang alisku yang lembut berbaring di kulit itu
bermimpi ladang lumut yang hijau oleh kerut waktu

HUJAN

Hujan gerimis
hati teriris
pembodohan terus menerus mengiris
giris!

Permainan politik kurang cantik
sedang berlangsung di bawah hujan riktik
seperti muda mudi dimabukan toak
aku tercenung di jalan setapak

Berjuta suara dikumpulkan untuk
menyanyikan dogma, dogma agama
sedang di seberang sana masih banyak rakyat jelata
menjerit di bawah kolong jembatan yang tua

Hujan manusia merebak di sebagian bumi kita
melaksanakan perintah raja
dengan hati putih mata buta
mereka berkata,
" inilah negeriku tercinta! penuh makna berdusta!"

Ah...buah pisang berbuah dua
musang berbulu domba
di dalam hujan kita berlomba
di negeri seberang kita berburu sisa

MORATORIUM

Moratorium datang membodohiku
para cukong kongkalikong dengan pembokong kaku
reklamasi seribu pulau tak perlu residu
rindu berencok asma tak perlu diadu
hanya kemunafikan yang boleh menyedu segala serdadu

KELAPARAN

Kelaparan adalah kegentingan budi pekerti
yang hilang dimakan propaganda keji
bagai para muda mudi suka bercinta di dalam egonya sendiri
kelaparan adalah kesepian sejati

O.....nyanyian malam selalu menakutan bagi jiwa-jiwa kelaparan
di antara para koruptor yang tersembunyi dalam kemewahan
sedang anak-anak mereka dibiarkan berfoya-foya di depan kemiskinan

Janji-janji wakil rakyat hanyalah tipuan belaka
pengkhianatan dan kehormatan adalah budaya
kelaparan dan kehinaan hanya terasa di dalam penjara
Kelaparan moralitas adalah benih yang disebar di negeri subur ini

EKO WINDARTO adalah penyair kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur, 56 tahun yang lalu. Sejak kecil ia senang membaca dan menulis. 

Penyair ini namanya muncul di percaturan sastra Indonesia sejak 1980-an. Waktu itu ia bersama-sama kawannya (Surasono Rashar, Ali Surakhman TS, dll) mendirikan HP3N (Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nasional) Komisariat Batu-Malang. Sejak bergabung dalam organisasi ini, Eko sering membacakan puisinya di berbagai kota. 

Dalam perjalanan kepenyairan, ia dinilai sebagai penyair berbakat oleh Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo dalam buku Kronik Sastra Indonesia di Malang (1995).

Puisi-puisinya banyak dimuat di koran dan majalah. Antologi Puisinya tergabung dalam banyak buku dan 2019 ia akan menerbitkan buku puisi tunggal. Selain menulis puisi, ia kini terampil pula menulis esai sastra dan telaah sastra.
×
Berita Terbaru Update