-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CERPEN; CITA-CITA MENJADI PENULIS

Jumat, 07 Desember 2018 | 07:43 WIB Last Updated 2019-12-06T10:37:55Z
CERPEN; CITA-CITA MENJADI PENULIS


Oleh: Atin Supartini

Hari demi hari, bulan demi bulan telah dilalui, genaplah satu tahun Nita berada di kelas tujuh SMP 1 Negeri Bina Bakti.

Kini Nita beranjak ke kelas delapan, dan dia pun semakin dekat dengan teman-temannya. Setiap hari dia belajar dengan semangat yang membara, tak pernah satu hari pun dia tinggalkan sekolah.

Di kelasnya Nita menjadi sekretaris, karena tulusannya yang elok nan rapi. Setiap dia menulis pada papan tulis, tak ada satu pun tulisan yang bengkok, semuanya lurus selurus garis horizintal.

Oleh karena itu, hampir semua guru mengenali Nita. Dia juga mendapat gelar "Kutu Buku", ke mana pun dai selalu membawa buku dan di mana pun dia selalu membaca buku.

Jiwanya dengan buku seakan menyatu. Di rumahnya pun terdapat ruangan khusus, tempat buku-buku.

Nita selalu menabung untuk bisa membeli buku, dan dia pun rela tak jajan demi bisa membeli buku. Karena menurutnya makanan bisa habis satu kali, tapi ilmu tak akan ada habisnya.

Kini Nita tinggal bersama dengan nenek dan kakeknya, karena semenjak lulus SD orang tuanya sudah tidak bersamanya lagi.

Saat itu, Nita sangat sedih dan Nita sering mengeluh "Kenapa ini semua harus terjadi?". Namun, perlahan-lahan perasaan itu mulai pudar, Nita kembali bangkit dan dia berjanji akan buktikan pada orang tuanya bahwa dia bisa sukses.

Nita berangkat ke sekolah hanya berjalan kaki, jarak rumah ke sekolahnya lumayan jauh sekitar 2 KM. Tetapi itu tidak menyudutkan semangat Nita untuk berangkat sekolah, semua itu Nita terima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. 

Di perjalanan menuju ke sekolah dia selalu membaca buku. Dia pun pernah keserempet motor ketika tengah asyik membaca, untungnya dia tak apa-apa hanya bersyukur masih dilimpahi keselamatan. Berkat ketekunannya dalam belajar Nita di sekolahnya selalu mendapat juara umum.

Selain membaca, Nita juga mempunyai hobi yang tak pernah dia tinggalkan. Menulis. Iya, dia sangat suka menulis terurama menulis cerpen.

Kegemarannya menulis berawal dari sebuah tugas Bahasa Indonesia, gurunya menyuruh membuat buju harian setiap harinya.

Setiap bulan Nita suka menghabiskan dua buku untuk menulis. Baginya menulis adalah teman sejati, walau dia tak hidup tetapi dia rela menampung semua cerita Nita. Di saat Nita sedang sedih, rindu, dan bahagia buku harianlah yang setia menemaninya.

Nita sangat bersyukur dengan adanya tugas tersebut. Setelah satu tahun menulis, sang guru mengumumkan siapa penulis buku harian terbaik.

Tak disangka dan tak terduga, Nitalah yang menjadi penulis terbaik itu. Betapa bahagia dan bersyukurnya Nita. Lalu, sang guru memberikan suatu hadiah berupa novel yang berjudul "A Single Shard."

Pak Adi, guru memperkenalkan dia dengan dunia literasi. Setiap membaca dan menulis, Nita selalu ingat guru yang berarti baginya.

Menjadi sekretaris kelas, bukanlah kemauanya tetapi dia dipilih oleh wali kelasnya. Banyak siswa yang tak suka dengan Nita, karena Nita selalu mengajak menulis di kala sang guru tak masuk.

"Nulis lagi, nulis lagi. Capek tahu. Ganti ah sekretarisnya!!" keluh seorang teman.

"Ya Allah, kuatkanlah hati ini. Apa aku salah? Aku hanya menjalankan sebuah tugas," gerutu Nita dalam hati dengan tangan tetap menulis.

Di masa penantian dibagikannya ijazah, Nita pergi merantau ke kota metropalitan.Di sana dia berusaha mengukir asa dan menempa cita selama kurang lebih satu bulan.

Keringat setiap hari membasahi tubuh, mata layu terpaksa harus beroperasi di kala petang sudah menjelma. Semua itu dia jalani dengan ikhlas.

Hanya ibunya yang selalu mendo'akannya dan menghubunginya. Dia pulang membawa bekal dan pengalaman.

Selepas lulus dari SMP, Nita dilanda bingung apakah dia harus melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK.

Kalau dia masuk SMA, dia merasa kasihan melihat keadaaan orang tuanya, yang saat itu tak mampu membiayainya selepas lulus dari SMP, Nita dilanda bingung apakah dia harus melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK.

dia masuk SMA, dia merasa kasihan melihat keadaaan orang tuanya, yang saat itu tak mampu membiayainya.

Terlebih mereka sudah tidak bersama, Nita pun tinggal di rumah kakeknya yang teramat menyayanginya. Kalau dia masuk SMK, saat itu dia pikir mungkin biayanya agak ringan.

Setelah dia pikirkan matang-matang, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan ke SMK. Walau di hati kecilnya masih terselip nama SMA yang dia dambakan, tetapi dia berusaha lupakan dan ikhlaskan.

Nita hanya berharap ridho Allah SWT. dan ridho-Nya tergantung ridho kedua orang tua. Mungkin itu bagian cerita hidupnya harus melewati jalan lain tuk sampai di gerbang kesuksesan.

Nita membayar biaya sekolahnya dari pendapatan yang dia peroleh saat kerja di kota metropolitan.

Ibunyalah yang mengurus pendaftaran masuk SMK, karena waktu itu dia masih merantau di kota metropolitan. Hari pertama sekolah Nita awali dengan Basmallah.

Dia ke sekolah masih tetap jalan kaki, sembari melahap buku bacaan. Selama satu minggu MPLS, dia melihat pemandangan baru.

Dia melihat lautan ilmu yang akan dia labuhi setiap hari tuk mencari mutiara ilmu. Dia pun menerima dengan ikhlas semua pembelajaran di sekolahnya itu. 

Di masa MPLS, dia dikenalkan seputar SMK, guru-gurunya, fasilitas-fasilitasnya dan jurusan-jurusan yang ada.

Di sana dia mendapati kenalan baru, dia memilih tuk masuk jurusan Administrasi Perkantoran. Sebab, dia ingin mendalami dunia sekretaris, dan sekretaris tidak lepas dari yang namanya Menulis.

Dia rasa pilihannya tepat, karena menulis termasuk hobinya. Selepas MPLS, dia baru merasakan hari pertama belajar di sekolahnya, dia berada di kelas X Administrasi Perkantoran 2.

Dia mempunyai keluarga baru, rapi sayang di kelasnya lakinya hanya sedikit. Nita mempunyai teman sebangku yang bernama Riska, dia yang selalu melempar senyuman manis sewaktu MPLS dan kini menjadi teman sebangkunya.

Hari demi hari dia lalui dengan semangat belajar yang membara. Dia belajar dengan sungguh-sungguh, agar dapat memetik buah kesuksesan.

Sampai detik ini dia tetap membiasakan menulis buku harian. Karena menulis adalah bagian hidupnya dan separuh jiwanya.

Dia juga sering browsing di internet mengenai lomba-lomba menulis. Dia suka mengikuti lomba tersebut, walau karyanya belum sempat terpilih, tetapi dia tetap semangat menulis.

Kadangkala di pikiran Nita tersirat nama SMA, "Seandainya aku berada di sana." Namun, dia kembali sadar dan ingat perkataan ibunya "Semua sekolah sama, yang penting niat kita mulia tuk mencari ilmu dan ridho-Nya."

Kata-kata itulah yang selalu menampar hatinya di kala sedang gundah. Setelah beberapa bulan dia jalani proses belajar, dia menemukan ciri khas SMK, sekolah yang mengedepankan praktek dibandingkan teori.

Sesekali dia merasa sedih, karena sebagian guru yang kurang bertanggung jawab akan tugasnya. Karena itu acapkali Nita menangis dan teringat perjuangan orang tua, terutama ibunya. Dia rindu dan butuh taburan ilmu dari guru-gurunya.

Banyak siswa yang melanggar tata tertib dan ada yang asyik memainkan handphone di kala belajar dan ada juga yang pacaran.

Kesekolah itu belajar, bukan pacaran! Mengenai pacaran sejak SD hingga kini Nita belum mencicipi bagaimana itu pacaran. Karena ibunya belum memperbolehkan, beliau menyuruhnya fokus dalam menuntut ilmu. Karena jodoh sudah ada yang menentukan.

Jadi, sekarang Nita tak kenal yang namanya pacaran. Dia hanya pacaran dengan tumpukan buku-buku dan Al-Qur'an. Kekasih pertamanya adalah buku, karena buku adalah separuh jiwanya.

Satu kenangan yang tak akan dia lupakan, sewaktu kelas X dia mengalami kebocoran. Kala itu dia sedang belajar Matematika, dia disuruh ke depan untuk mengisi soal, eh pas dia berdiri tahu-tahunya ada yang bocor, roknya pun basah.

Dengan perasaan malu Nita maju ke depan dengan rok yang dilipatkan. Semua bola mata teman-teman tertuju padanya, termasuk ibu guru.

Dia sungguh malu, tambah dia disuruh lagi ke depan. Tapi malunya seakan terbalaskan dengan jawaban soal yang dia kerjakan.

Seringkali dia merasa tak adil di saat ulangan, karena banyak teman yang tidak sportif. Namun, Nita berusaha bersabar, karena yang jujur pasti selamat.

Di saat pembagian rapor jantungnya berdetak tak karuan. "Akankah aku dapat masuk 10 besar?" pertanyaan yang senantiasa menyerang.

Ternyata hasil memang tak pernah mengkhianati proses, dia meraih juara di kelasnya. Di masa libur sekolah dia kembali pergi merantau ke kota metropolitan, kota yang terdapat gedung-gedung yang mencakar langit dan bising kendaraan di mana-mana.

Selama dia bekerja di Jakarta, dia ditawarin kuliah oleh majikannya. Saat itu Nita bingung, apakah dia harus menerima tawaran itu.

Setelah direnungkan, akhirnya Nita menerima tawaran tersebut dan dia akan membicarakan pada orang tuanya. Nita sangat bersyukur atas tawaran itu, baginya itu adalah kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya.

Menginjak ke kelas XI, masa metamorfosis kedua, ialah kepompong. Di mana Nita melaksanakan prakerin sebagai salah satu tugas untuk mengikuti ujian nanti.

Di sana dia mendapat berbagai ilmu dan pengalaman. Setelah usai, dia dan teman-temannya kembali ke habitat semula.

Di masa kepompong ini, banyak teman yang duluan "mati" sebelum berubah menjadi kupu-kupu. Hal itu terjadi karena mereka tak sabar dan tak kuat akan godaan yang datang. Jumlah murid di kelasnya pun berkurang.

Di masa ini Nita benar-benar ada dalam keadaan kritis. Berturut-turut dia olahraga tanpa alas kaki. Bukannya ke sekolah dia tanpa sepatu, tetapi sepatu itu tidak layak untuk dipakai olahraga. Sepatu itu pun hanya satu-satunya yang Nita miliki.

Walau kakinya tak beralaskan tapi itu tak menyudutkan semangatnya untuk berolahraga. Pada suatu hari dia putuskan untuk meminjam sepatu olahraga kepada temannya. Sebab, minggu itu jadwalnya balap lari.

 Lari merupakan salah satu olahraga yang sangat ia sukai. Dia berlari secepat mungkin menyusul teman laki-laki. Dia tak hiraukan teman yang ada di belakang, tujuannya hanyalah garis finish di depan.

Dengan butiran keringat yang berjatuhan, Nita tetap semangat lari tuk sampai tujuan. Dia pun sampai. Teman-teman lelaki pada bengong keheranan, melihat Nita meninggalkan semua teman perempuan.

Dia bersyukur dapat meraihnya, walau lari hanya dengan sepatu butut. Teman yang meminjamkan sepatu padanya ialah teman karibnya. Teman itu sudah dianggap saudaranya sendiri. Dia sekolah di SMA, lewat dia, Nita bisa merasakan bagaimana SMA.

Kepompong yang tadinya bergelantungan di dahan pohon, kini telah mengelupas menjadi kupu-kupu indah. Kini Nita berada dalam metamorfosis terakhir.

Di masa ini banyak godaan yang menghadang, yang perlu dia hadapi dengan bijak. Banyak siswa yang semangatnya mulai mengendor. Namun, berbeda dengan Nita bersungguh-sungguh dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar.

Beberapa bulan kemudian, Nita pun lulus dengan hasil yang gemilang. Lalu, Nita pun mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia menerima tawaran yang dulu majikannya berikan.

Di hari keberangkatan dia pergi ke Jakarta, ibu dan saudaranya menangis melihat keberangkatan Nita. Tak lupa Nita meminta izin dan do'a kepada ibunya.

"Nak, ibu do'akan semoga kamu akan menghadapi kehidupan di sana. Semoga kamu dapat menggapai semua cita-citamu. Do'a ibu akan selalu menyertai setiap langkahmu." tutur ibunya seraya mengusap kepala Nita.

"Iya bu, aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses. Aku sangat menyayangi ibu....," ucap Nita penuh kesedihan dan dia langsung memeluk erat ibunya.

Hari itu dibanjiri tangisan, Nita merasa sangat berat untuk meninggalkan ibu dan keluarganya. Nita pun akhirnya pergi dengan tekad yang kuat.

"Man Jadda Wajada" itulah kalimat yang selalu memotivasinya.

Sesampainya di Jakarta, dia disambut dengan baik oleh majikannya. Nita masuk universitas negeri Jakarta dengan jurusan Manajemen.

Nita berangkat kuliah masih tetap seperti dulu yakni jalan kaki. Setiap hari Nita jalani kuliah dengan penuh semangat.

Di samping kuliah Nita juga ikut bekerja dalam bidang kepenulisan, dia menjadi seorang pengarang buku seperti novel, cerpen, dan lain sebagainya.

Setiap bulan Nita memperoleh pendapatan kurang lebih Rp. 3000.000,- dari pendapatanya itu sebagian dia tabungkan dan dia kirimkan kepada orang tuanya. Nita sudah berhasil menerbitkan banyak novel karangannya, seperti yang berjudul "Cinta Yang Hilang."

Setelah tiga tahun kuliah, tibalah saatnya Nita menjadi sarjana. Dengan gelar Comlaude. Namun, sayang di waktu pelepasan wisuda orang tuanya tidak hadir. Berkat gelarnya itu, Nita ditarik oleh sebuah perusahaan di Jakarta, dan dia pun bekerja di sana.

Nita sangat berterima kasih kepada Bu Tati sebagai majikannya yang telah membiayainya kuliah. Nita berpamitan kepada majikannya untuk pulang ke kampung halamannya.

Di saat Nita sampai di kampung halaman, ibu dan keluarganya menyambutnya dengan gembira. Nita yang turun dari mobil langsung lari memeluk erat ibunya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Bu, kini aku sudah SUKSES," ucap Nita dipelukan ibunya.

"Iya nak, alhamdulilah. Ibu bangga punya anak sepertimu, Nak." ucap sang ibu penuh kebahagiaan.
Kemudian, Nita menemui ayahnya yang sudah lama tak jumpa.

Sang ayah sangat kaget dengan Nita yang telah berubah. Kini Nita anaknya telah sarjana dan sukses. Air mata pun mengalir dari kelopak mata ayahnya.

"Ayah bangga padamu, Nak. Maafkan ayah yang selama ini telah menelantarkanmu.." ucap sang ayah penuh penyesalan.

"Iya ayah, dari dulu aku sudah maafkan. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran buat kita ." ucap Nita penuh kelembutan.

Di kampungnya, Nita mendirikan sebuah toko buku dengan nama "Toko Buku Nita." Nita pun memberikan rumah kepada ibu dan ayahnya.

Kini orang tuanya tidak lagi dibuli oleh tetangganya, dan tidak harus lagi kerja panas-panasan. Bahkan sekarang ibunya telah memiliki toko makanan di dekat rumahnya.

Beberapa tahun kemudian, Nita pun menikah dengan lelaki yang dulu sewaktu SMK dia sukai. Nita tinggal di Jakarta, di rumah pribadinya.

Nita menjadi manager di sebuah perusahaan. Selain itu, Nita menjadi penulis terkenal dengan karya-karyanya yang mendunia. Nita sangat bersyukur atas apa yang dia miliki.

Walau kini Nita telah menjadi orang yang ternama, tetapi sikapnya tak berubah, dia tetap rendah hati. Akhirnya, Nita dapat memetik buah kebahagiaan kesuksesan dari benih yang selama ini dia tanam dengan penuh perjuangan. Kehidupannya pun selalu ada dalam lingkaran kebahagiaan.

Bungbulang-Garut, 7 Desember 2018
×
Berita Terbaru Update