-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CERPEN; JEJAK MUSYAFIR

Jumat, 07 Desember 2018 | 00:57 WIB Last Updated 2019-12-06T11:03:03Z
CERPEN; JEJAK MUSYAFIR


Karya : Edi Kuswantono

Senja berjalan pelan tertatih sejengkal lagi akan tertelan bumi, rona merah tembaga menghias langit di ujung pematang, dan kepak sayap kelelawar semburat bertebaran dari persembunyiannya, sayup-sayup menyongsong panggilan Tuhan berkumandang.

Seketika sepi menyelinap di tepian pantai, di sana jejak-jejak musyafir menandai jalan menuju Tuhan.

Tak lama setelah usai sholat maghrib, para jemaah di bawah kuba masjid mengepulkan asap do'a melambung tinggi menggapai harapan.

Angin malampau mendesir dingin mendekap sepi. Sang uztad selesai berdo’a bangkit dan berjalan menuju serambi masjid berkumpul bersama para jemaah lainnya, duduk santai bercengkrama penuh keakraban.

Malam makin menyelimuti langit Madura bagian ujung pantai utara, dan "Bambang Sumantri" sosok musyafir sederhana tinggal di rumah pesisir desa Slopeng, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk asap motor berderu debu.

Beliau adalah putra bungsu "Raden Amiruddin Joyo Soepeno", sedang duduk di depan teras rumah sederhana, menikmati kegelapan memintal malam, kedua putra-putrinya turut serta duduk berdampingan "Suryadi" putra pertama dan "Ernawati" putri keduanya

Gelap makin pekat, desir angin  menusuk tajam terasa dingin, isarat bakal turun hujan.

Tiba-tiba cahaya bagai cemeti Amarasuli menghujam bumi, petir menggelegar begitu mencekam, hati dan jantung ke dua putra putri bergetar ketakutan, tangan ke duanya bergayut pada lengan bapaknya, beliaupun menatap wajahnya, "jangan takut anak-anakku...!.

Ini hanya gambaran peristiwa akhirat menguji keteguhan iman kita. Paket ujian Tuhan berupa hujan, badai, petir, dan ombak gelombang laut, adalah sebuah peristiwa dibutuhkan oleh alam.

Tidak ada jalan lain bagi kita, tetap tawakkal kepada Tuhan Allah atas semua keadaan."

Tangan om Sumantri merangkul kedua putra putrinya. "Kau harus punya tekat dan keteguhan hati, hidup sekali harus bisa melaksanakan kewajiban berbuat baik, tidak perlu berburuk sangka kepada siapapun, meskipun keadaan kita seakan-akan tidak punya sanak saudara.

Ini hanya keadaan waktu, suatu ketika dayanya akan mempertemukan dirimu pada saudara-saudaramu satu rumpun.

Sepupumu yang lain ada pula dalam keadaan gelap tidak mengerti silsilah. Namun dari dunia lain mbah 'Amaruddin Joyo Soepeno' melihat keadaan kita dan bakal menuntun kalian  mempertemukan dengan keterunannya.

Sekarang tidurlah dalam dekapan ibumu, dan kau harus tetap menyayangi dan menghormati ibumu sampai kapanpun. Dan mulai sekarang engkau tidak perlu hawatir keadaan ayahmu ini." Kemudian mencium kening putra-putrinya.

"Suryadi" dan "Ernawati" bangkit dari tempat duduknya, tetapi dalam benak fikiran "Suryadi" terbesit sebuah pertanyaan "Ayah ..!

Memangnya ayah mau kemana kok bilang tidak usah dihawatirkan..!?. Wajahnya menatap ayahnya penuh penasaran.

Beliau tersenyum sambil membenahi rambut panjangnya yang menutupi punggungnya. "Anakku..! Ayahmu di dunia ini hanya seorang musyafir, pada saat engkau dewasa nanti jejaknya bakal kau ketetahui, sekarang tidurlah...,

Hari makin gelap tertutup mendung pekat, hujan angin belum reda, ayo tidur dulu...!". Tanpa berfikir kedua putra-putrinya melangkah masuk kamar di mana ibunya telah tidur pulas.

Meskipun petir dan gemuruh halilintar pada langit terus bertalu-talu, namun bapak alam raya tidak runtuh, tetap teguh oleh gempuran fitnah alam ini.

Hujan lebat mengguyur hamparan ladang, badai taufan melanda dahan ranting pepohonan, patah rebah dipangkuan terkasih ibu bumi belantara dan semua bersujut.

Namun kala murka banjir bandang melumatkan segala benih tumbuh keangkuhan.

Kini kokok ayam jantan mengiris malam kian tipis, kabut putih mengusir mega mendung, fajar kidip pun mempersembahkan piala musim dingin, putra-putri om sumantri telah dalam dekapan mimpi indahnya.

Sedangkan Ibunya menggelihat menyatukan kekuatan, demi semangat hidup dan kehidupan pagi ini, lalu ia memandangi anak-anaknya tidur didekatnya, tersungging senyuman mewakili harapan hatinya .

Kalian berdua rukunlah dan tetap teguh saling menyayangi, ibu hanya tempat persemaian hidup, berdo'a agar kelak engkau mengetam kebahagiaan lahir batin".

Lalu diciumnya kening kedua anaknya, kemudian ia turun dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamar mandi. "Oh...! Ayah belum tidur" sambil mengusap wajahnya.

Om sumantri sambil mendangak memandangi istrinya, "belum bu, tadi malam hujan lebat dan petir bertalu-talu membuatku sulit tidur", tenggorokannya memaksanya batuk sekedar menepis rasa tidak enak pada pita suaranya.

"Oh ya...!?, berarti tidurku sungguh lelap, hihihi...", sedikit tersenyum menyembunyikan rasa malunya, "aku ke kamar mandi dulu ya... yah ..!, basa-basinya menunjukkan rasa manja.

"Cepatan sana...! Bau liurmu tu.. semerbak" om sumantri menggodanya

"Emmm..., ayah..., awas nggak aku buatkan kopi lo...! Udah ah..." dengan ketus ia berjalan dan membuka pintu kamar mandi.

Om "sumantri" tidak beranjak dari duduknya, tertunduk, dalam benak fikirannya menjemput kenangan lama, rentang masa "kesulitan dan keteguhan", senantiasa menyelimuti hidup dan kehidupannya.

Terlintas wajah bapaknya "Amiruddin Joyo Soepeno", meskipun telah dalam pelukan bumi kelahiran, namun petuahnya masih segar dalam ingatan.

"Semoga engkau dilapangkan dan tetap sejahtera  selalu". Terlintas secuil do'a buat bapaknya.

Tak lama kemudian mendesah dalam, tak terasa bulir air jernih tertahan di sudut matanya, "oh...., mbakyu Kusmini...!?,

Sungguh tak sanggup diriku membayangkan atas penderitaanmu, anak-anakmu semburat tak berujung pangkal, anak ragilmu telah mati obor, semoga engkaupun dalam dekapan kesejahteraan Ilahi Robbi", lalu ia mengusap air matanya yang mengalir deras.

"Ya..., semoga anak cucu kita semua mengerti tentang makna keluarga dan persaudaraan"

Sang istri tertegun melihat suaminya meneteskan air mata, "ayah kenapa menangis...,?

Udahlah yah, hidup kita nikmati apa adanya, tidak perlu sedih, suka duka memang keadilan Tuhan dan semua hamba pasti diberinya, yang miskin dan yang kaya, kafir dan beriman, tua muda, laki dan perempuan, jelata maupun ulama semua pasti diuji dan menerima suka duka.

Sedangkan kebahagiaan hanya milik seorang dalam keteguhan keyakinannya", ia mendekati suaminya dan duduk didekatnya.

"Oh istriku..! Bukan hal itu menjadikan aku sedih, hanya lintasan kerinduan pada bapak dan mbakyuku, mereka lebih dulu meninggalkan kita, rasa rindu kebersamaan membuat aku terharu, banyak cerita hidup kehidupannya belum sempat dinikmatinya, tapi..., ya ..., sudahlah ...!?"

Kemudian ia bangkit mendekati jendela dan membukanya, tangannya meraih lampu templek lalu meniupnya.

Setelah selesai mematikan lampu, ia membuka pintu dan keluar melangkah menuju pantai, tidak jauh dari rumahnya. Ia dapat merasakan kesejukan dan kesegaran pagi buta ini.

Oh...!, kabut tebal tertatih-tatih hanyut oleh semilir angin beranjak menyibak pagi, menjemput mentari, dan rona merah membara membias indah di ufuk langit, embun pagi bergayut di daun cemara, dan tangkai dan jemari pohon kelapa rebah tertunduk setelah angin kencang menerjangnya.

Ombak gelombang lautan mengayun sepi, karang-karang berpagut merindukan ombak membelai. Maha suci engkau ya Allah telah menciptakan harmonisasi kehidupan ini.

Hati siapa tidak bisa merasakan keharmonisan, maka dia telah berbuat kebinasaan dirinya sendiri.

Betapa indah bias-bias halus cahaya mentari menerobos awan putih, menimpa wajah-wajah semesta, geriapnya di atas permukaan lautan menggairahkan ikan-ikan menggayuh kehidupan pagi.

Nampak Tuhan berisi rahmat telah tersaji amat luas, siapa saja dipersilahkan menjumputi, tidak membeda-bedakan kepada semua hambanya.

Lama, "Sumantri" berdiri di tepi laut, wajah dan pandangan menatap jauh ke dada samudra, "akal fikirannya terus merenungi perjalanan nasib, menelusuri 'jejak musyafir' terdahulu, kepada riak, ombak gelombang laut mengisaratkan dinamika hidup kekal, setiap kali datang silih berganti merupakan satu ketetapan".

Sepintas dari renungannya dapat mengambil kesimpulan bahwa: "Gejolak alampun sesungguhnya hanya menjaga keseimbangan, seperti keadaan diri sendiri, bejuang menjaga ketentraman adalah kewajiban hidup dalam kehidupan ini.

Dan prilaku sederhana merupakan kunci sukses dalam mengarungi hidup ini, karenanya tidak secuil pun dunia yang kita miliki akan dibawa kembali menghadap kepadaNya. Barang siapa bisa bersyukur dialah yang berhak memperoleh kenikmatan".

Hari hampir mengelupas kelopak mata pagi, "sumantri" membalikkan badan dan melangkah kembali pulang.

Ditemui istrinya bernama "Mukiya" sedang melambungkan asap rebusan air demi secangkir racikan kopi buat suami tercinta,  aroma kopi asli menyengat membangkitkan semangat hidup makin tegar, lalu "sumantri" kembali duduk di depan teras rumah, di atas licak bambu kesangannya.

Tak lama kemudian istrinya datang membawa secangkir kopi, " ini yah, kopinya masih panas lo..!", ia menaruhnya di sebelah kirinya.

Dengan senyuman tersungging di sela-sela wajah penuh dengan rambut brewok, "ya bu...!, terima kasih ya.., oh iya..!, anak kita belum bangun ya ...!?, tangannya sambil menuangkan kopi panas pada lepek cangkir, meniup lalu mencicipinya, "Hem... nikmat..!".

"Belum bangun yah, biar saja, hari juga masih liburan.!" Sambil menyapu latar rumahnya.

Kepala "sumantri" manggut-manggut "ya bu biarkan mereka tidur pulas, semoga menjadi anak berbakti, saling menyayangi dan tetap berbuat baik kepada siapa saja.

Pasang surut kehidupan mereka kelak mudah-mudahan tetap teguh dalam kesederhanaan. Hatiku miris melihat keadaan generasi saat ini, ketika bisa berbuat sesuatu merasa telah segalanya.

Sedangkan hidup kedepannya masih jauh dipanggang, adap sopan santun mulai terkikis oleh duniawi, rasa angkuh dan sombong menjadi hiasan pribadinya, bicara seenaknya,  tanpa mempertimbangkan bahwa akibatnya bakal menimpa dirinya sendiri".

Tangan "sumantri" sambil mengelus-ngelus jenggot panjangnya.

Istrinya sejenak berhenti menyapu, ia menoleh "Aaamiin ya Robbal Alaamiiin...! Semoga anak-anak kita tetap menjaga adab sopan santun, ya yah !, jauh dari prilaku hati tidak baik, dan hal itu merupakan harapan kita selalu", lalu ia melanjutkan menyapu.

Mataharipun telah terbelalak penuh keceriahan, kilau cahayanya menerobos celah janur dan pohon kelapa. k

Kicau burung kutilang saling bersahutan, lalu lalang para nelayan telah menggelar kehidupan pagi ini, pasar krempyeng mulai ramai pengunjung, memadati jalan Salopeng - Sumenep.

Musim berganti, pada umumnya para nelayan punya tanda alam sebagai pedoman bila hendak melaut.

Suatu ketika, di sore hari angin kencang disertai hujan lebat bersama badai, gelombang pasang mendorong ombak menepi dan menerjang batu karang begitu keras, gemuruh guntur dan petir bertalu-talu, kilatannya menghujam bumi begitu mengerikan.

Bocah-bocah kala itu tidak pernah takut oleh keadaan, bersenang-senang berburu burung basah kuyup yang tidak mampu terbang jauh, lalu menangkapnya.

Pohon kelapa melenggak-lenggok tertimpa angin besar, seakan-akan menari lemah gemulai, dan lentik janur kuning begitu lihai memainkan tarian alam, akar pohon kelapa menembus bumi.

Kelahiran akan melemah, sebab hujan turun begitu deras dan lama, membuat cengkeramannya tidak bisa optimal, segera tumbang bagai mabuk tarian alam.

Sorak-sorai bocah kala itu"Horeeee, tumbaaang,  serbuuuu," mereka berlarian  berebut kelapa muda. Hem, yaaa, begitu indah keadaan kala itu.

Bocah bocah itu, kini, telah melampaui setengah abad, tak terasa waktu menggilas dan menyeret makin tua dan makin rapuh mengikuti perlajanan hidup. Apa lagi yang akan diharapkan dari perjalan ini kedepannya ?

Ya..!, kalau bukan karena ingin melihat generasi kokoh, perjuangan akan sia-sia,  apalagi bila tidak bisa sampai kepuncak keteguhannya.

Menjalin kasih sayang dari masa ke masa semakin menyusutkan hasrat bermesraan, adalah hal sangat alamiah.

Tak ada jalan lain pada kondisi seperti itu, kecuali terus merajut kasih sayang dengan memupuk saling pengertian, itulah yang bisa menyelamatkan keutuhan ketenteraman berkeluarga.

Kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa dipungkiri sering kali menjadi bencana keutuhan, tetapi sejauh bisa mengembalikan kepada posisi tujuan awal membina rumah tangga.

Hidup penuh "Kebahagian dan ketenteraman" semua akan tetap terjaga keutuhannya, kadang hal lain datang menimpanya merupakan ujian kualitas keteguhan dalam membina rumah tangga sejahtera.

Marilah kita saling membina kerukunan di dalam rumah tangga kita sendiri, dan kepada sesamanya. Bergegaslah mulai hidup damai kepada siapa saja, agar hidup kitapun penuh kedamaian.

Teruslah untuk memperbaharui keadaan jiwa damai dalam hati kita, kesalahan yang terjadi ulurkan tangan saling memaafkan, karena kita ini manusia yang hidup untuk mensejahterakan alam semesta.

Kualitas manusia bagaikan piramida, manusia level bawah bahagia jika diberi, level midel suka berdagang, level atas bahagia menebar kebaikan.

Berilah ruang menunjukkan simbul  kasih sayang itu sesuai kehendakNya, dan jangan hanya ditunjukkan di dalam selimut tidur ....!!!

Surabaya, 05 Desember 2018
Panglaras Budi Jaya Soepena

×
Berita Terbaru Update