-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA MURAHAN YANG HARUS DIBAYAR MAHAL

Jumat, 21 Desember 2018 | 18:14 WIB Last Updated 2019-12-05T13:31:22Z
CINTA MURAHAN YANG HARUS DIBAYAR MAHAL


Seorang pemuda miskin sedang tergila-gila pada seorang gadis yang cantik nan jelita. Dirinya sendiri juga bingung,kenapa dia begitu mencintai wanita itu. Seharusnya tidak begitu, tidak mencintai seorang gadis cantik dan anak orang kaya.

Sebut saja adalah Acik, sulung dari dua bersaudara. Sedangkan gadis itu adalah Berlina. Berlina, merupakan kembang di kampusnya.

Demi melancarkan ongkos perkuliahannya, Acik memilih kuliah sambil kerja. Dan dia pun kerja di salah satu tempat ngopi atau Warkop sebagai pramusaji.

Ya, seperti itulah gambaran kehidupan yang harus Acik jalani. Mau tak mau harus dia nikmati. Soal asmara, Acik memiliki selera yang tinggi, dia begitu mencintai Berlina, yang seharusnya tidak dia cintai.

Bukan karena masalah status sosial saja, tetapi wajah Berlina terlalu cantik nan jelita, sedangkan Acik dengan tampan pas-pasan.

Acik tak punya keberanian tuk mengungkapkan perasaan suka dan cintanya itu kepada Berlina. Oleh karena itu, dia mengungkapkannya lewat puisi dan cerpen yang ia tulis, dan diam-diam mengirimnya ke tim redaksi mading kampus.

Tidak disangka tulisannya itu banyak diminati oleh rekan-rekan kampus kalangan Mahasiswa seperjuangannya. Ada yang mengcopy paste, ada yang jadiin status facebook atau wa.

Karena komposisi kata-katanya menyentuh hati, dan tak ada satu orang pun yang tahu puisi dan cerpen itu milik siapa karena Acik tidak pernah mencantumkan nama pada puisi dan cerpen tersebut.

Acik mengagumi Berlina sejak masa P2MB, mereka pernah satu kelompok dan saat itu pula mulai tumbuh rasa suka Acik kepada Berlina. Acik mencoba menepis rasa itu, namun sia-sia, Acik tak bisa membohongi hatinya.

Hingga sampai pada akhirnya, waktu itu selesai ujian Skripsi. Seperti biasa, Acik bersama teman-temannya ngopi bareng dulu di kantin. Sebagai pelepas penat, sekalian amunisi untuk tidak kantuk.

Dan disitu juga duduk Berlina sambil mencicipi cemilan dari dalam tas kecilnya. Acik sudah mempunyai rencana, agar hari itu pula bisa mengungkapkan perasaannya itu ke Berlina.

Berkat sahabat karibnya, Acik pun bisa mendekati Berlina. Berlina yang agak heran, mulai memecah keheningan,"ehem, ada apa ya? kok mau ketemu sama saya?" ucap Berlina jutek. Dengan berat Acik memberanikan diri," Lin, maaf ya sebelumnya ganggu waktu kamu,"

"O yaa..ganggu banget, ah uda cepatan ngomong intinya aja nggak usa panjang lebar"Jawab Berlina. "Lin, aku suka sama kamu, dari masa Ospek dulu aku sudah menyimpan rasa cinta ini, namun aku pendam, sekarang aku tak mampu lagi memendam rasa ini. Aku takut akan menjadi penyakit hati. "Ungkap Acik dengan nada gugup"

"Whaaaat? Kamu suka aku? Wah parah ini orang, kamu udah ngaca belum siapa kamu. Kamu mau mempermalukan aku di hadapan orang-orang. Mau ditaro di mana muka aku.

Udah kamu kubur dalam-dalam perasaan suka kamu itu, atau kamu cari saja cewe lain yang setara dengan kamu," ucap Berlina dengan nada sombong.

Dengan hati teriris Acik terdiam lalu "ma'af Lin, sekali lagi atas cintaku ini. Biar aku beri pelajaran kepada hati kecilku ini agar lebih tahu diri.

"Sudah, aku mau pulang sopirku sudah menunggu untuk menjemput aku" permisi, sambil mengambil tas kecilnya dan bergegas meninggalkan Acik yang masih terduduk lemas di kantin.

Sahabat-sahabatnya pun mendekati Acik, mereka solah-olah merasakan apa yang sedang sahabat mereka rasakan.

Salah satu dari seorang sahabatnya memberi motivasi bahwasannya hidup ini bukan seluas lingkungan  Kampus ini, coy.

Ini awal dari kehidupanmu, bukan akhir dari segalanya, anggap saja ini cambuk agar bung bisa mengejar cita-cita dan cinta," tambah seorang sahabatnya. Acik mulai tersenyum dan mereka pun bubar pulang ke kos.

Waktu wisuda pun tiba, dan Acik mendapat IPK tertinggi dari sahabat-sahabatnya yang lain. Iya sangat bahagia, karena pada saat itu ia bisa menyaksikan kedua orang tuanya tersenyum penuh kegembiraan di hadapannya.

Acik mulai bingung, dengan gelar sarjana yang baru ia peroleh ini, kira-kira saya akan mengaduh nasib di mana ya? Ucapnya membatin.

Singkat cerita, 5 tahun kemudian. Di sebuah restoran asing yang makanannya super mahal, Acik mengajak Ayah dan Ibu. 

Tiba-tiba ada seorang perempuan menyapanya, ternyata perempuan itu adalah Berlina yang dulu sangat dia cintai.

"Hey, kamu Acik yang dulu itu kan? Ngapain kamu di sini? Kamu kerja di sini ya?" tanya Berlina dengan bertubi-tubi.

Acik hanya diam tertunduk dengan muka agak memerah. Lalu Berlina melanjutkan " Aku sudah nikah lho, ini anak aku. Suamiku kerja di perusahan besar, dan gajinya sudah mencapai 30 juta per bulan, dia sangat cerdas."

Acik berlinang air mata mendengar kata-kata Berlina. Beberapa menit kemudian, suami Berlina datang.

Sebelum Berlina mengatakan sesuatu, suaminya berkata" Pak, saya terkejut melihat bapak ada di sini, kenalkan istri saya Berlina."

Lalu dia berkata pada istrinya" ini bos ku, bos muda yang dermawan, dia yang memberikan semua fasilitas yang kita punya, termasuk meminjamkan uang untuk kita beli rumah dan mobil mewah, dia masih lajang lho, Dia mencintai seorang gadis, tapi gadis itu menolaknya, itu sebabnya dia masih belum menikah." 

"Sial sekali gadis itu, bukankah sekarang tidak ada lagi orang mencintai seperti itu," lanjut suaminya.

Berlina terkejut seakan tak percaya akan semua ini tertunduk malu tak bernilai melihat ke dalam mata Acik. Rasa menyesal, rasa bersalah, semua bercampur aduk menjadi satu.

Mereka bubar dan Acik kembali ke meja makannya, di sana ada Ayah dan Ibunya yang sedang menunggu. Ternyata kedua orang tua Acik mendengar percakapan mereka tadi, lalu ibunya berkata;
"Nak, itu tadi teman kuliahanmu dulu ya?"

Acik tertunduk, dan menjawab"iya mak, pak..itu teman kuliah Acik dulu waktu di kampus Bossowa Makassar.

Wanita itulah yang sering aku ceritakan sama emak dan papa, tapi sayang dia sudah punya suami. "Sudahlah nak, lupakan dia, itu bertanda bahwa Tuhan tidak mengizinkan kamu untuk bersamanya" Nasehat Emaknya.

Makassar, 21 Desember 2018

By: Cris Jata

Ilustrasi dari yuliandre667.wordpress.com
×
Berita Terbaru Update