-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CINTA TAK HARUS MEMILIKI

Minggu, 09 Desember 2018 | 23:23 WIB Last Updated 2019-12-15T02:14:29Z
CINTA TAK HARUS MEMILIKI


Di  teras rumahnya, Rina duduk manis. Sesekali tatapannya kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. 

Ia masih kebingungan dengan rasa yang mendera dirinya. Yah, Perjumpaannya dengan Dodi saat ulang tahun sekolah, membuatnya sering melamun, akhir-akhir ini. 

Duduk di sampingnya selama acara ulang tahun sekolah ke-24 itu, adalah pengalaman yang tak terlupakan baginya. Ada getaran yang muncul di hati.

Getaran itu mengubah segalanya. Kebiasaan lama yang sering dilakukannya yakni telat ke sekolah serentak ditinggalnya. 

Ia selalu bersemangat bangun pagi dan berada di sekolah selama jam pelajaran, terasa begitu singkat baginya.

Namun Rina tidak bisa menjelaskan perasaan bahagia itu. Sempat terlintas di benaknya, apa yang pernah dikatakan sang bunda, bahwa suatu hari nanti ia akan tumbuh dewasa. 

Saat itu ia akan mengalami pengalaman jatuh cinta. Tetapi Rina tidak mengerti apa itu Cinta. Apa lagi cinta itu, selalu sulit dimengerti oleh akal budi.

Perjumpaan dengan Dodi kala itu membuat Rina sering tersenyum sendiri. Ia kadang bingung, sebab wajah Dodi tiba-tiba terlintas di benaknya. 

Bahkan saat memasak pun, Rina tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagia itu.

“Rin, kamu ada pacar ya,” tanya ibunya. “Ngga ada bu, emangnya kenapa?”

“Ibu mau nanya aja. Ada yang berbeda sih dengan kamu. Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering tersenyum sendiri.”

“Ah....., ngga ada bu, kalau Rina tersenyum, bisanya Rina ingat teman-teman di kelas yang suka ngelucu.”

“Oh gitu ya,” “Ia bu.”

Sulit bagi Rina untuk mengatakan bahwa dia sudah memiliki seorang pacar. Sebab Rina belum mengungkapkan perasaannya. Rina menunggu saat yang tepat. Meski ia sadar, jarang seorang perempuan yang memulai lebih dahulu.

****
Pada suatu hari Minggu, entah mengapa, Rina datang lebih awal ke gereja. Di dalam gereja, tidak ada satu pun umat yang mendahuluinya. Saat melirik arlojinya, ia baru sadar, perayaan ekaristi baru dimulai satu jam lagi.

Dalam heningnya gereja paroki yang besar itu, ia berlutut dan mulai berdoa pada Tuhan. 

Ia berdoa pada Tuhan membantunya mengerti rasa yang sedang mendera dirinya. Juga memohon kesembuhan untuk Susi, sahabatnya, yang menderita Leukimia. Susi adalah sahabat sejak masa kecilnya. 

Kini ia hanya terbaring di rumah dan tidak lagi bersama Rina mengikuti perayaan Ekaristi di gereja setiap hari Minggu.

Rina sangat dekat dengan Susi. Tentang perasaannya dengan Dodi, Susi adalah orang yang pertama yang mendengar kisahnya. Susi itu menarik. 

Selain teman ngobrol yang santai juga suka mendengarkan siap saja yang ingin berbagi cerita denganya. Ia selalu memberi perhatian penuh kala orang lain berbagi cerita padanya.

Dalam doanya, Rina sungguh-sungguh menyerahkan sahabatnya pada Tuhan Yesus. Ia berharap,  Susi bisa sembuh dari sakitnya. Hatinya sedih, melihat penderitaan Susi yang semakin parah.

****

Satu persatu umat mulai datang dan memenuhi gereja itu. Rina bangkit dari tempat doanya dan mengambil tempat duduk di bangku tengah. 

Saat perayaan Ekaristi mulai, Rina bersemangat menyanyi. Tiba-tiba seorang pemuda masuk ke gereja. 

Setelah lama mencari tempat yang masih kosong, ia akhirnya menemukan satu tempat yang masih bisa diisi. Tempat itu persis di samping kiri Rina.

Seperti kata seorang penanyi, kadang cinta itu mendebarkan, itu yang dialami Rina pada pertemuan kedua dengan Dodi. Rina baru mengetahui itu Dodi, saat ia melirik ke sampingnya.

Rasa suka pada Dodi, seketika itu muncul kembali. Serasa dunia ini milik berdua saja. Dan perayaan ekaristi diikutinya dengan penuh sukacita. 

Ia tidak lagi berpusat pada Tuhan yang sedang dirayakannya. Rasa itu menggetarkan jiwanya. Perayaan Ekaristi yang berlangsung satu setengah jam itu pun serasa semenit baginya.

Momen yang tidak  dilupakannya hari itu ialah saat Dodi mengucapkan salam damai kepada Dodi.

“Salam damai Tuhan, Rina,” “Ia Dod, salam damai Tuhan.”

Tatapan mata dan sentuhan tangan Dodi membuat Rina seolah tersambar petir. Sukacita yang dialaminya semakin tak terkatakan.

Saat perayaan Ekaristi usai, Rina ingin sekali ngobrol dengan Dodi. sayangnya,  Dodi keburu pergi. Ia menghilang di antara orang banyak itu. 

Ada rasa kecewa dalam hati, tetapi apa boleh buat, Dodi sudah kembali ke rumahnya.

“Ah, mas Dodi mungkin sibuk, ”

“Kukira di lain kesempatan, kami bisa bertemu lagi.”

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, Rina tidak melihat wajah Dodi, entah di sekolah pun di Gereja. Ada tanya dalam hatinya, Dodi ke mana? 

Tetapi karena malu, ia tidak menanyakan teman-temannya soal Dodi. Ia hanya menunggu.

Minggu ketiga di bulan itu, Rina melihat Dodi di gereja. Namun sebentar saja. Dodi menghilang lagi. Rina tak sempat mengucap selamat hari minggu untuknya. 

Saat di dalam gereja, Rina memperhatikan Dodi, dan kalau memungkinkan ia akan duduk di dekatnya. 

Tetapi tubuh Rina yang mungil itu, tidak bisa menerobos orang-orang di dekatnya yang bertubuh jangkung. Rina bahkan sudah melihat ke semua sisi gereja. Tetapi Dodi, tidak dilihatnya.

“Kemana ya, Mas Dodi,” katanya dalam hati.

****

“Saudara mari semua, hadapkan altar Tuhan Kita….” Demikian sepenggal syair lagu pembuka perayaan itu. 

Saat perarakan masuk, Rina melihat Dodi menjadi misdinar. Wajahnya anggun, dan pakian yang dikenakannya sangat cocok baginya. Hati Rina berbunga-bunga.

Selama perayaan itu, Rina tidak fokus pada Imam yang memimpin Ekaristi, tetapi pada Dodi. Ia sangat bahagia bisa menatapnya setelah lama tak bertemu. 

Tetapi Rina bingung, ia mencintai seorang yang ia sendiri tidak tahu, apakah Dodi memiliki rasa yang sama dengannya.

Sebelum berkat penutup, biasanya ada pengumuman. Tidak seperti biasanya, setelah pengumuman, Romo Eko berdiri di mimbar dan menyampaikan sesuatu.

“Bapa/ ibu, saudara/I yang terkasih. Kita patut bersykur pada Tuhan, dari paroki kita ada yang akan masuk biara.” 

Semua umat saling memandang tanda heran dan bahagia. Dodi adik kita, lulus test masuk seminari Tinggi Pondok Kebijaksanaan Malang. 

Mari kita sama-sama mendoakan adik kita ini, agar ia bertahan sampai ditahbiskan menjadi imam kelak.” Semua umat yang hadir bersukacita dan bertepuk tangan.

Rina sungguh kecewa. Hatinya seolah merasakan seperti ada tusukan pedang. Dia tersakiti. Ia marah pada Tuhan, mengapa ia jatuh cinta dengan orang yang akan hidup selibat atau tidak menikah.

Hari minggu itu menjadi hari yang paling menyedihkan baginya. Untuk terakhir kalinya ia bertemu dengan Dodi saat Dodi hendak meninggalkan kota kecil itu dan berlangkah ke Malang. 

Dodi hanya membalasnya dengan senyuman. “Jatuh cinta itu biasa, Rin. Makasih telah mengungkapkannya padaku. 

Sayangnya, pilihan kita beda. Cinta Tuhan lebih kuat kurasakan.” Rina sungguh sedih mendengar kata-kata Dodi. Tetapi ia tidak bisa memaksa Dodi harus menerimanya.

Sebelum Susi pulang ke rumah bapa di Surga, ia sempat membagi pengalamannya. Dan kata-kata dari susi meneguhkannya. 

“Cinta tak harus memiliki. Bersyukurlah kau telah jatuh cinta. Membiarkan orang yang kau cintai bahagia bersama yang lain, lebih mulia dari segalanya.”

Oleh: Benediktus Jonas
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang.

(Gambar dari google)

(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update