-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

GAGAP MENATAP MATAHARI, BERJALAN DI BALIK AWAN, PUPUH JIWA SEBELUM TIRAI MENUTUP

Senin, 17 Desember 2018 | 23:18 WIB Last Updated 2019-12-14T14:52:57Z
GAGAP MENATAP MATAHARI, BERJALAN DI BALIK AWAN, PUPUH JIWA SEBELUM TIRAI MENUTUP


Pusi-puisi ERRY AMANDA

GAGAP MENATAP MATAHARI

Membongkar 
bongkaran sampah
segala sampah
tikus tikus 
bermain game
selulasi riwayat jiwa
menenun nasib
pertaruhan nyawa
melumat
lelehan emas
para perampok moral
di balik gemuruh
politik akrobat
seluruh negeri
tak Barat
tak Timur
adab telah berubah
serbuk partikel
di tengah garis bakar matahari

--- Bandung 101218

kepada semua sahabat para penulis PUSAI

TEMBANG JAMAN

Langit mengucurkan darah
bayibayi 
hilang timangan
seringai jaman
banjir
nanah peradaban

--- Bandung 06 12 18

BERJALAN DI BALIK AWAN

Menghitung jumlah ceceran kisah
Menggumpal di kumpulan awan
Siluet basah gemuruh ombak samudera air mata
Menyebar butiran embun
Pencaran cahya jiwa
Kelak
Kau akan menyaksikannya

--- Bandung 12 12 18

PUPUH JIWA SEBELUM TIRAI MENUTUP

Ditemani NYANYIAN BINATANG MALAM - kabut tebal dini hari menuruni lereng Gunung Manglayang, Bandung Timur, senyap hari dironce gugusan mendung, jalan-jalan sepi suara, lampu-lampu berpijar, berkedip di tengah suasan lengang.

Langit tak ada bintang. Suara jauh. Samar-samar terdengar pipuh Pasundan melangitkan Salawat atau senandung ilahiah. Di atas lereng gunung, tegak berdiri di tengah sayup Tarqim dari masjid.

Kian hening. Aku tangkap juga suara-suara yang riuh di balik dada sambil menatap langit dan derai air mata laki-laki. Nampak jalan-jalan panjang, jejak tanpa hitungan, muncul jadi diorama di silam perjalanan.

Pupuh makin tajam. Sunyi makin melahirkan cekaman bathin.
Nampak wajah bocah yang terlempar dari masa bocahnya. Di gurat wajah ubannya.
Membuka ke dua telapak tangan, apa yang telah diperbuat
sebelum kereta akhir diberangkatkan.

--- 171218

INDUSTRI KEKUASAAN

Berduyun robot jiwa berarak membangun peradaban kiwari, digerakkan remote control tehnologi KEBENARAN KATANYA, membolduser alam menciptakan kegelisahan dan petaka kemanusiaan.

Di sana dibangun gubug-gubug perselingkuhan di  tengah perayaan pesta kelamin, jajanan pasar sambil canda tentang Tuhan.

Ada milyaran manusia menghentikan pikir dan perasaannya. Berarak mengibarkan panji-panji  pembodohan kian kumal. 
Sudut sudut peradaban mengasah pedang untuk menguliti makhluk sebangsa.
Darah mengalir di got got, kanal-kanal adu dibya dengan seringai lebih buas dari kewan buas.

Keris, Tombak, Pedang, Kembang, Kemenyan, Batu Keramat, tertata rapi di gedung-gedung megah dan seutas tali menggantung di setiap rumah-rumah kardus, tanah-tanah becek air mata membentuk rawa, danau, sungai, samudera kepedihan tanpa tampungan

Di kota praja dibangun menara pencakar langit dengan halaman ribuan hektar, di sana dibangun perkumpulan caci maki yang mempelajari HUJATAN paling purna.

Selembar kertas usang tergeletak di pinggir jalan, bertuliskan:

"sudah sempurnakah kalian menginjak-injak pesanKU?"

--- sisa perjalanan 17 Desember'18

TEROMPAH

Aku mendengar suara langkah begitu berat membelah sunyi kota-kota tak berpenghuni. Makin menggema seperti terompah serdadu sisa perang membawa sobekan bendera terikat di kepalanya, sekadar untuk menghentikan kucuran darah dari peluru yang bersarang di pelipisnya.

Tak ada sambutan gemuruh pekik MERDEKA di tengah kota yang padam. Hanya ada suara-suara derak pintu yang dibanting deru angin. Seperti pintu hati yang juga bergemuruh menyimpan jutaan rasa, meski perang sudah usai.
Pengakuan apa yang dibutuhkan ketika umbul-umbul dan genderang kemerdekaan sudah terlipat waktu sebelum ia pulang dari medan pembunuhan. Norma kemanusiaan.

Aku menyaksikan seutas tali gantungan di ujung kota, gerbang pertikaian jaman orang-orang menyusun impian. Pertaruhan angkara peradaban jiwani.

Aku menyaksikan matahari senja terkapar di atas rumpun bambu. Dengung suara lalat berpesta bangkai kesantunan berserakan di jalan-jalan menuju Tuhan. Kosong. Hanya suara makin gemuruh.

Gemuruh itu menyelinap di degup jantungku. Bayang lelaki pulang perang itu lenyap. Terbaring di balik tempurung kepalaku.
Absurditas jiwani dikukuhkan

--- Jalan panjang jalan sunyi - 17 Desember '18
×
Berita Terbaru Update