-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MONTFORT; SIAPAKAH DIA?

Senin, 03 Desember 2018 | 22:14 WIB Last Updated 2018-12-08T15:54:03Z

(Gambar St. Montfort yang berdoa-gambar ini diambil dari google)
SEJARAH HIDUP MONTFORT

            St. Louis-Marie Grignion de Montfort lahir di kota Montfort-Sur-Meu, Bretanye, Prancis Barat, 31 Januari 1673. Nama Montfort sebenarnya nama pengganti dari marga de la Bachelleraie dan merujuk pada tempat kelahiran Louis-Marie Gringnion. Pergantian nama ini merupakan ungkapan spiritualitas sikap lepas bebasnya dari ikatan apa pun, termasuk ikatan pada kelurgannya. Ia anak ke-2 dari 18 bersaudara. Ayahnya bernama Jean-Baptiste Grignion dan Jeanne Robert adalah nama ibunya. Ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Kolese St. Thomas Becket di Rennes (1685-1693), dan melanjutkan studinya di Seminari Tinggi Saint Sulpice di Paris (1693-1700). Ia ditahbiskan menjadi imam, 5 Juni 1700 di Paris. Sejak menjadi imam muda, Pater Montfort telah merindukan sekelompok imam misionaris yang melaksanakan karya misi di bawah perlindungan panji Bunda Maria. Tentang kerinduan dan hidup dalam semangat Bundawi Maria ini, diungkapkan secara cemerlang pada mahakaryanya yaitu Doa Menggelora (DM), Cinta (Kasih) dari Kebijaksanaan Abadi (CKA/ KKA), Bakti Sejati kepada Maria (BS), Rahasia Maria (RM), Rahasia Rosario (RR).
            Pada 2 Februari 1703, bersama dengan Marie-Louise Trichet (Beata Marie-Louise dari Yesus), St. Montfort mendirikan Kongregasi Putri-Putri Kebijaksanaan (DW). Sedangkan Santo Montfort selaku Bapa pendiri Serikat Maria Montfortan (SMM), memulai mendirikan serikatnya pada 1705 di kota Poitiers, Prancis Barat.  Hal itu berawal dari kedatangan Br. Mathurin Rangeard, yang kemudian diakui sebagai anggota SMM yang pertama. Setelah itu, Montfort mendirikan kongregasi Bruder-bruder St. Gabriel (SG). Selain itu, orang kudus ini, menjadi guru rohani dan pelindung para kerabat awam, terutama Kerabat Santo Montfort (KSM) dan Legio Maria. Pater Montfort meninggal pada 28 April 1716 di Saint Lourent- sur-Sevre-Perancis pada umur 43 tahun. Dia dinyatakan Venerabilis (pantas dihormati) oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1838, digelari Beato pada 22 Januari 1888 oleh Paus Leo XIII dan dinyatakan Santo pada 20 Juli 1947 oleh Paus Pius XII.

 SPIRITUALITAS MONTFORTAN

               Spiritualitas Montfortan secara telak terarah pada tujuan hidup Kristiani yakni mencapai keserupaan dengan Kristus. Menjadi manusia kudus. Dalam mengejar  keserupaan dengan Kristus dan mencapi kekudusan, Montfort memulai refleksinnya pada peristiwa Inkarnasi. Sebuah peristiwa penjelmaan karena Cinta,  yang  menyelamatkan umat manusia. Merujuk pada peristiwa penjelamaan (kenosis) inilah, peran cemerlang Bunda Maria tersembulkan. Bunda Maria dipercaya dan dipakai oleh Allah atas kerja sama dengan Roh Kudus, untuk menghadirkan Putra-Nya ke dunia dengan mengambil rupa seorang manusia. Peristiwa inkarnasi itulah yang mendobrak sekaligus mengubah arah hidup dan pemikiran Montfort untuk mengabdi hanya pada Allah ( Deo Soli).
               Dalam mengabdi hanya pada Allah saja, Montfort secara tegas mengingatkan umat beriman untuk menoleh sekaligus merefleksikan kembali hidup manusia dalam terang penghayatan janji-jani pembatisan. Bahwasannya dengan sakramen Babtis, manusia dibebasakan dari dosa asal serta telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Dan karenanya masuk menjadi anggota Gereja. Maka sakramen Babtis menjadikan manusia lahir secara baru dalam Kristus Yesus Sang Kebijaksanaan yang menjelma menjadi Manusia. Implikasi dari sakramen Babtis adalah menguaknya seruan mutlak untuk menghayati janji-janji pembabtisan kita. Namun, oleh karena adanya kisah ingkar manusia terhadap janji-janji pembabtisan, maka janji-janji Baptis itu harus secara terus menerus diperbaharui setiap saat dalam peziarahan imannya. Menyadari gaya hidup dan ingkar janji yang telah diucapkan manusia, maka St. Montfort menyerukan pentingnnya pembaharuan diri dengan mengusung sebuah metode pembaharuan yakni Melalui pembaktian diri kepada Yesus melalui Santa Perawan Maria.
               Montfort mendeskripsikan pembaktian diri ini dalam buku Bakti Sejati kepada Maria no. 1. Di situ, Montfort  berkata “Melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia. Melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di dunia".  Secara singkat dapat dipahami bahwa dengan membaktikan diri kepada Yesus melalui tangan Maria, seorang Kristen mengikuti pola tindakan Allah Tritunggal Mahakudus, yang telah mau melaksanakan karya penyelamatan-Nya di dalam dan melalui hamba-Nya yang bersahaja itu, Maria. Keikutsertaan Maria dalam tata penyelamatan, menghadirkan pemahaman mengenai wajah Gereja yang di dalamnnya Kristus hadir sebagai Kepala Gereja dan umat beriman merupakan anggota-anggota dari kepala itu yakni menjadi Tubuh Mistik-Nya (Gereja).
               Kekaguman terhadap peran menggetarkan Maria inilah, Montfort akhirnya mengajak umat beriman menjadi bentara Bunda Allah. Ia menyerukan salah satu cara ampuh kepada para misionarisnya (SMM, DW) dan kepada Gereja untuk membangun Kerajaan Allah Melalui Maria. Bangunan Kerajaan Allah tersebut dilakukan dalam semangat Marial dan mengikuti jejak para rasul, sembari meminta Roh kudus untuk membimbing, menuntun orang beriman dalam setiap aktivitas hidupnya. Hidup itu mutlak diserahkan segalannya pada Allah atau tidak sama sekali. Penyerehan itu bersemboyankan “Totus Tuus”. Semboyan ini jugalah yang di pakai sebagai motto hidup Beato Paus Yohanes Paulus II. Keradikalitasan penyerahan diri kepada Allah mengarah pada pola hidup yang bersedia mengambil resiko untuk Allah. Montfort mengatakan “Jika engkau tidak mengambil risiko bagi Allah, engkau tidak melakukan sesuatu yang besar untuk-Nya”.  Di dalam Allah penderitaan manusia diubah menjadi kegembiraan, duka menjadi suka. Hanya Allah-lah yang menjadikan manusia baik adanya, sebab Allah adalah sumber yang dari padaNya mengalir kebaikan,  kepada setiap  insan  yang gelisah dan rapuh.


SEJARAH SERIKAT MARIA MONTFORTAN DI INDONESIA

            Para Misionaris serikat Maria Montfortan (SMM), pertama kali berada di Kalimantan. Dalam rangka membangun dan mengembangkan karya misi di Kalimantan, maka Pada 23 September 1938, Tahta Suci, melalui Propaganda Fide menyetujui permohonan yang diajukan oleh Prefektur Apostolik Kalimantan, Mgr. Pasificus Bos, OFM. Cap, untuk menyerahkan beberapa bagian daerah keuskupan sintang kepada Serikat Maria Montfortan. Pada 7 April 1939, beberapa misionaris SMM yang berasal dari Belanda yaitu P. Harry L’Ortye, P. Jan Linsen dan Br. Bruno, tiba di Kalimantan. Kehadiran merekalah yang menjadi awal terbentuknya aktivitas karya misi si Kalimantan. Pada tahun 7 Maret 1940, di datangkan lagi 2 missionaris Montfortan Belanda, yakni P. Josef Wintraaecken dan P. Lambertus van Kessel. Pater Lambertus  kemudian menjadi uskup Sintang pertama.
            Kendati daerah misi sangat luas dan berat, para Montfortan mencoba melakukan yang terbaik. Semakin hari karya misi bertumbuh dan berkembang. Mereka kemudian merencanakan untuk mengambil alih beberapa paroki dari Kapusin. Akan tetapi, perang dunia II membuat rencana mereka tak terpenuhi. Jepang mengalahkan Belanda dan menduduki seluruh kepulauan nusantara. Semua orang Eropa, baik orang Belanda maupun Inggris (misionaris dan kaum awam), termasuk kelima misionaris Montfortan ditangkap dan dibawa ke Kuching, Malaysia. Mereka tinggal di kamp tawanan selama 3 tahun sampai perang selesai. Setelah perang usai, mereka kembali ke tempat karya mereka masing-masing.
            Pada tahun 1945, adalah Aloysius Ding seorang dari suku dayak yang menjadi seorang imam SMM pertama dari Indonesia. Awalnya Ia ditahbiskan sebagai imam keuskupan. Lalu, memutuskan menjadi Montfortan. Ia menjalani masa Novisiat di Belanda dan mengucapkan kaul pertamanya pada 1949. Ia wafat pada 1995. Karya misi para Montfortan di dalam membangun Gereja lokal semakin hari semakin bertumbuh dan berkembang. Pada 11 Maret 1948, Propaganda Fide meningkatkan status daerah misi Sintang menjadi Prefectur Apostolik Sintang dan mengangkat. P. Lambertus van Kessel sebagai Prefektur Apostolik. Dengan ditingkatkannya status misi Sintang menjadi Prefektur Apostolik, itu berarti bahwa terdapat dua pimpinan struktural dalam karya misi, yakni Mgr. Lambertus van Kessel, SMM sebagai Prefektur Apostolik dan P. Harry L’Orthy sebagai Pimpinan SMM.
            Tampaknya Tahta Suci begitu senang melihat pertumbuhan dan perkembangan Prefektur Apostolik Sintang. Pada 1956, Tahta Suci, melalui Propaganda Fide, kembali meningkatkan status karya misi Sintang dari Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik. Mgr. Lambertus van Kessel diangkat menjadi administrator apostolik. Dan, lima tahun kemudian, tepatnya pada 3 Januari 1961, Vikariat Apostolik Sintang diangkat statusnya menjadi Keuskupan Sintang. Mgr. Lambertus van Kessel diangkat menjadi uskup Sintang pertama. Ia menjabat sebagai uskup Sintang selama 12 tahun.
            Berkembangnya panggilan imam projo dan hadirnya kongregasi-kongregasi lain di keuskupan Sintang menghidupkan kembali kesadaran para Montfortan akan identitas diri mereka sebagai imam religius Montfortan. Kesadaran ini mengundang para Montfortan untuk kembali ke akar, kembali ke nilai-nilai yang menjadi kekhasan SMM. Salah satunya adalah membangun kembali hidup komunitas, mentransfer semangat hidup dan spiritualitas St. Montfort melalui proses pembinaan calon-calon SMM.
            Pada 8 Desember 1979, novisiat SMM dibuka di Putussibau, Kalimantan Barat. Pada 1983, Novisiat dipindahkan dari Putussibau ke Sintang dan pada 1985 novisiat kembali dipindahkan ke Bandung. Pertumbuhan panggilan berkembang dengan pesat. Hal ini mendorong SMM Indonesia untuk memikirkan sungguh-sungguh proses pendampingan yang baik dan rumah formasi yang kondusif. Penambahan tenaga dalam rumah formasi pun dilakukan, mengingat banyaknnya juga paca calon-calon Montfortan yang baru. 
            Buah-buah dari karya formasi-pembinaan sungguh menakjubkan. Hal ini membawa vitalitas baru dalam kehidupan SMM Indonesia. Karya misi SMM menjadi beragam dan mulai menyebar. SMM tidak hanya berkecimpung dalam dunia pastoral parokial, tetapi juga mulai terlibat dalam karya-karya kategorial, seperti pembinaan kaum awam dan kaum muda, terlibat dalam komunikasi sosial-budaya dan juga dalam agro-forestry. Di akhir 1999, SMM berkarya di tiga keuskupan, yakni Sintang, Bandung dan Ruteng. Berkat rahmat Allah, panggilan pun terus mengalir. Hal ini mendorong SMM Indonesia untuk memutuskan memindahkan novisiat dari Bandung ke Ruteng pada 2002 dan memindahkan skolastikat dari Bandung ke Malang pada 2004. Bertambahnya jumlah anggota mendorong SMM Indonesia untuk terlibat dalam tugas perutusan Kongregasi yang lebih luas. Sejak 2001, SMM Indonesia mengutus anggotanya untuk menjadi misionaris di luar negeri seperti Papua Newguinea, Equador, dll. 


Oleh: Ricky Rickard Sehajun, S.S., M.Pd

Tulisan ini sudah diterbitkan di http://www.indonesiasastra.net/2018/11/montfort-siapakah-dia.html


×
Berita Terbaru Update