-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KASIH SAYANG SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA

Jumat, 07 Desember 2018 | 23:18 WIB Last Updated 2020-02-10T12:00:44Z
KASIH SAYANG SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA
Ilustrasi; media idntimes

Oleh: Br. Bojes, SDB

Saya ada karena kehendak Allah, saya dilahirkan oleh ibu, saya dididik agar menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan komunitas.

Ibu selalu mendidik saya dengan KASIH SAYANG. Ibu mencintai saya dengan sepenuh hati dan tidak ada yang terlewatkan perhatiannya.

Saat melahirkan, ibu merasakan sakit yang amat sangat, menangis kesakitan, antara hidup dan mati, bahkan mungkin jika diberi pilihan oleh Tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau nyawa saya, pastilah ibu akan memilih menyelamatkan saya.

Sempat terlintas di pikirian saya, apa yang terjadi jika Bunda Maria lebih memilih menyelamatkan nyawanya daripada Yesus disaat melahirkan?

Dan juga Bunda Maria lebih besyukur lagi kalau bayi Yesus tidak selamat ketika dilahirkan, karena Bunda Maria mengandung di luar nikah. Itu kalau dipikirkan secara manusiawi. Tetapi Rencana Tuhan jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia.

Betapa besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Ibu memberikan kita ASI waktu bayi. Mohon untuk tidak menggantikan kata IBU yang sudah mengindonesiakan dengan kata UMMI yang kearab-araban, soalnya kita semua sudah mengenal istilah Air Susu Ibu yang disingkat Menjadi ASI.

Coba bayangkan Air Susu Umi, kalau disingkat? Pasti akan Menjadi Lucu.  Sosok ibu selalu ceria di depan kita. Ibu menahan derita, menggendong ketika kita menginginkan hangatan pelukannya.

Ada seorang anak yang sangat benci kepada ibunya, begitu besar kebencian yang di rasakannya, bukan karena ibunya jahat & tidak perhatian kepadanya, tapi semata karena mata ibunya cacat sebelah.

Ketika sekolah dasar, sang anak sering di ejek teman-temannya dengan sebutan anak si buta. Pernah suatu ketika si ibu memanggil & tersenyum kepadanya, ketika dia sedang berkumpul dengan temannya, bukan sebuah senyuman yang didapatkan oleh si ibu, tetapi sumpah serapah yang dilontarkan sang anak.

Sang Anak berkata di depan ibunya bahwa dia benci ibunya karena ibunya buta dan dia ingin ibunya mati saja. Tahun berganti, sang anak telah memiliki keluarga sendiri & selama itu dia tidak pernah lagi mau tinggal dengan ibunya.

Suatu kali sang ibu berada di depan rumah anaknya. Bukannya dipersilahkan masuk tapi diusir dengan penuh cacian. Ibu meninggalkan rumah itu dengan wajah sedih. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Para tetangga mengabarkan pada sang anak. Sang Anak tidak merasa sedih atas kepergian ibunya. Seorang tetangga lalu mengirimkan sepucuk surat dari sang ibu, dalam surat, ibu hanya mengatakan.

"Maafkan saya jika selama ini membuatmu malu. Nak, mata ibu memang cacat sebelah, karena ketika kamu masih berusia tiga tahun kamu terjatuh ketika bermain sehingga matamu buta sebelah. Karena tidak ingin melihat matamu buta sebelah, ibu memberikan mata ibu sebelah untukmu nak.

Ibu tidak peduli harus kehilangan sebelah mata demi kamu agar kamu tetap sempurna" Di Akhir surat sang ibu mengatakan bahwa dia begitu mencintai sang anak & ingin sekali memeluk sang anak yang ia bayangkan ketika anaknya tergolek jatuh & kehilangan sebelah mata.

Tercekat kerongkongan sang anak ketika membaca, tak kuasa butiran air mata mengalir dari sudut matanya, dengan sesak dipenuhi perasaan haru & bersalah teramat dalam.

Sesuai tema seremonet ini, saya merefleksikan, betapa besar cinta kasih seorang ibu kepada anaknya.

Di era teknologi dan informasi sekarang, banyak dari ibu yang mencintai anak-anaknya baik dalam suka maupun duka.

Semua kita pasti melihat kenyataan hidup saat ini. Ada ibu yang menyangi anaknya, anaknya dalam pemikiran saya adalah anak yang “cacat”.

Begitu besar perhatian mereka kepada si buah hati yang kelihatan orang banyak dianggap cacat, tidak pantas untuk hidup, anak yang sial, lebih parahnya lagi anak yang tidak diinginkan oleh salah satu orang tua untuk dilahirkan malahan kelahirannya menjadi seorang anak yang cacat.

Ingin marah dan putus asa, tetapi tidak pernah kita sadari, bahwa meraka-mereka itulah yang dekat dengan kerjaan Allah.

Patutlah kita menghormati para ibu seperti kita mencintai Bunda Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.

Bunda Maria tidak pernah melihat cacat kita baik secara fisik dan psikis menjadi penghalangnya untuk mencintai dan melindungi kita.

Janganlah kita Menjadi murtad atau anarkis ketika melihat patung Bunda Maria dirusak atau dibakar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Itu adalah teguran kepada kita untuk lebih mencintai Bunda Maria dan selalu berusaha menjaga Bunda Maria yang selalu menemani hidup kita.

Janganlah kita Menjadi seperti seorang anak yang saya ceritakan di dalam seremonet ini. Ambilah hikmah dari kejadian-kejadian yang menimpa tentang iman kita, karena kita akan memperoleh kebahagiaan kelak.

Refleksi untuk kita adalah, bagaimana dengan para ibu yang sering melakukan aborsi? Atau di media sosial sering kita melihat bayi di tempat sampah atau dimasukan dalam kantong plastik, diletakan begitu saja di trotoar atau digantung di pagar rumah, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Pengalaman saya berkomunikasi dengan teman-teman tentang para wanita yang “kecelakaan” di luar nikah, baik dengan pelaku atau korban, saat berkumpul atau melalui media sosial, mereka selalu protes kepada saya, ada yang pro dan kontra.

Ada yang setuju agar digugurkan saja, dengan alasan karena sudah membuat malu keluarga dan sahabat, ada yang tidak setuju dengan alasanya, mereka bisa dinikahkan lebih cepat atau diselesaikan dengan cara kekeluargaan meskipun tidak harus menikah.

Saya selalu memposisikan diri sebagai penetral. Setiap kali saya mendengar ada para wanita yang hamil karena kecelakaan, kecelakaan yang saya maksud adalah, kerena diperkosa atau karena faktor ekonomi ataupun kerena mau mencoba dan gagal menaggulanginya.

Saya selalu mengatakan kepada mereka, ingat, janganlah kalian menggugurkan janin bayi di dalam kandungan, karena Tuhan punya rencana dengan janin itu, meskipun kamu harus menanggung malu sekarang.

Sering-seringlah membaca kitab suci, karena kamu akan menemukan kedamiaan ketika merenungkan sabda Tuhan, ada tokoh-tokoh dalam kitab suci yang mengalami nasib seperti kalian.

Apa yang akan terjadi jika Bunda Maria menggugurkan janin Yesus di dalam kandungannya?

Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda Dosa walaupun kelihatan peran utamanya ‘hanya’ kecil di awal untuk melahirkan Yesus ke dunia; sesungguhnya Bunda Maria telah mengambil peran yang terbesar dan terpenting.

Sebab tanpa kesediaannya, Yesus tidak jadi dilahirkan ke dunia pada saat itu. Apalagi jika kita merenungkan Kitab Suci dengan lebih mendalam, kita dapat melihat, bahwa peran Bunda Maria bukan saja terlihat pada saat awal hidup Yesus di dunia ini, melainkan sepanjang hidup Yesus, bahkan setelah kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria menyertai para rasul.

Memang Maria tidak  ditonjolkan di dalam Kitab Suci (dan memang sudah seharusnya demikian, sebab jika tidak, orang dapat menjadi bingung akan siapa sebenarnya tokoh yang ingin ditonjolkan).

Namun Alkitab menyatakan bahwa Bunda Maria selalu hadir di saat-saat yang penting di dalam hidup Yesus sebagai manusia. 
×
Berita Terbaru Update