-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEBAIKAN TUKANG PEMBERSIH KANDANG SAPI

Jumat, 07 Desember 2018 | 20:00 WIB Last Updated 2019-12-05T14:01:06Z
KEBAIKAN TUKANG PEMBERSIH KANDANG SAPI


Ku lihat pekat menggelayut di langit. Desau angin meliuk-liukkan pohon di pinggiran jalan. Sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Pulang sekolah jalan kaki, sudah menjadi rutinitasku. Aku mulai berlari kecil berusaha mengejar teman yang telah dulu di sana.

Tiba-tiba, langkahku terhenti, ada sepeda motor tua berpoles tanah menghampiriku. Sepeda motor itu dikemudikan oleh seorang bapak yang berpakaian seadanya dan kumal.
Aku tertegun, mendengar beliau mengajakku naik sepeda motornya.

"Neng, ayo ikut!" Aku dilanda bingung harus bagaimana, seorang yang tak ku kenal mengajakku. Aku berpikir dalam benak, "apakah bapak itu baik, atau...," tapi dari tampangnya beliau orang baik.

"Silahkan saja, Pak" ucapku dengan sedikit keraguan.

"Ayo, nanti keburu hujan lho. Ayo!" ajaknya kembali penuh kepastian. Mendengar bapak itu yang terus melempar ajakan, aku semakin kikuk dibuatnya.

"Ayo!" ajak lagi bapak itu, dengan senyuman terlukis di bibirnya. Aku pun mulai menimbang-nimbang, bila aku menolak takutnya nanti malah melukai hatinya, dengan positif thinking bahwa beliau orang baik aku pun menerima ajakannya.

Sebelum aku naik beliau mengeluarkan sebuah pertanyaan, "pulangnya ke mana?"
"Itu, dekat puskesmas, Pak." jawabku sedikit terbata-bata.

"Iya ayo, bapak juga arahnya ke sana.." ucapnya menyakinkan.
"Pak, bener ini gak apa-apa?" tanyaku sebelum naik.

"Iya, gak apa-apa. Sedikit kotor karena bapak habis membersihkan kandang sapi," jawabnya.
"Ooh.." ucapku sembari naik.

Mendengar jawabannya tadi, aku kembali memutar kenangan, dulu juga aku pernah diajak pulang oleh seorang bapak pembersih kandang sapi.

Jangan, jangan.... iya, setelah aku selidiki ternyata beliau yang dulu pernah mengajakku, dari sana aku pun yakin bahwa beliau orang baik.

"Ayo!" ucapku pada teman-teman yang tadi ku kejar, dan mereka pun tersenyum.
Di tengah perjalanan, bapak itu bertanya, "Emangnya sekolah di mana, Neng?"

"Itu di SMK, Pak.." jawabku pelan.
Sepeda motor masih melaju, pertanyaan ke dua kembali beliau lontarkan, "Ooh, emangnya tak bawa motor?"

"Hehe, tak punya, Pak." jawabku penuh kepolosan.
"Oh iya, gak apa-apa." ucap bapak itu.

"Bapak tinggal di mana?" tanyaku memberanikan diri.
"Itu di Kp. Cibalubur, bapak itu tukang pembersih kandang sapi sekaligus tukang tahu," terangnya.
"Oooh..." jawabku datar.

Dengan melihat beliau, aku ingat perjuangan bapakku, yang rela bekerja apa pun demi menghidupi keluarga. Aku rindu bapakku yang di sana, ingin rasanya aku dijemput olehnya.

Hujan mulai turun dari kelopaknya, "Ya Allah, aku rindu bapak..." batinku berkata.

Kemudian, kami sampai di pinggir puskesmas. "Di mana?" tanya beliau.
"Di sini aja, Pak," jawabku.

"Yakin, di sini?" tanya beliau memastikan.
"Iya, Pak," jawabku lagi.

Sepeda motor berhenti, aku pun turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih, " Terima kasih Pak, semoga Allah membalasnya."

"Iya, aamiin.." jawab beliau dengan senyum manisnya, lalu beliau pun berlalu.

Sungguh mulia hati beliau.
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberiku rezeki, hari ini aku bertemu dengan bapak yang baik hati.

Ya Allah, balaslah kebaikannya, mudahkanlah rezekinya, panjangkanlah umurnya dan lancarkanlah hidupnya. Aamiin.." do'a ku ucapkan sembari melihat bapak tadi berlalu hingga tak terlihat lagi.

Aku salut padanya, yang meski pekerjaannya hanya tukang pembersih kandang sapi. Itu lebih baik dari pada menjadi seorang pejabat yang duduk di singgasana emas, tapi hidup dengan memakan uang rakyat.
Aku sangat bersyukur dapat bertemu dengan orang yang baik sepertinya. Aku akan selalu mengenang kebaikannya...!!!

(Ilustrasi dari google)
×
Berita Terbaru Update