-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEMANDIRIAN

Rabu, 05 Desember 2018 | 21:36 WIB Last Updated 2019-12-06T11:14:41Z
KEMANDIRIAN


Oleh: Edi Kuswantono

Derap langkah hari terus menjulur, romadon pun merambah menjauh, kini kelahiran dalam setiap helaan nafas kesucian mestinya berhembus menyatu saling berangkulan menghapus dosa.

Namun, selentingan hati kembali mulai hiruk pikuk oleh gebyar kehidupan, tanpa ada jejak kepahaman tentang inti sapuan lembut goresan amal baik saat pemeraman diri tengah berlangsung, selaput lembut bagai serat sutra pembungkus diri tetap utuh melilit terkutuk.

Dan kenyataan pengaruh kuat gebyar dunia  tetap menyisakan rasa angkuh, tak mau beranjak dari tempat asalnya, meskipun angin surga berkali-kali mendorong kencang demi meringankan beban keakuan.

Pada keadaan lain "Bpk. Wanto" seorang telah berumur lebih setengah abad, tidak banyak orang mengenal sepak terjang hidupnya, mereka yang mengenal sejak kecil hanya tahu sebatas lahirnya, menilai dan mengukur dirinya dari tempat di mana ia berdiri, tidak pernah menjajaki sampai di mana kedalaman hatinya.

Begitu pula tentang ombak kehidupan, mereka lebih perhatian kepada alunan gelombangnya, tidak ada keberanian berlayar mengarungi samudra hidup dan kehidupan layaknya para pelaut, hanya  berdiri di tepi pantai menunggu perahu datang bersandar, dengan berharapan meminta berkah agar bisa menjual hasil tangkapannya.

Masih dalam suasana yang fitri penuh keprihatinan, beliau duduk berdua sambil berbicara dan menatap wajah putranya "aku lama mengenal situasi ini, sejak mentari mengemas cahaya menarik kembali sinarnya dari ujung jemari pohon kelapa yang berdiri melambai disepanjang pantai.

Dalam suasana seperti itu sering melihat serta merasakan wajah-wajah murung membara berjalan memetik sinar tembaga, sulit padam manakala terbakar, suka menyangka telah berjalan lurus.

Namun lupa menyadari keadaan saat melangkah di jalan setapak bakal tertimpa gelap, dan ketika menerima kebenaran hanya melalui telinga, tanpa merasa bakal memecahkan kendang pendengaran hati".

Ia bicara lirih kepada putranya bernama "Firas", mahasiswa baru disalah satu perguruan tinggi ternama di Negeri ini.

"Ayah,! bukankah pasang surut kehidupan memang bertindak seimbang,!? segala sesuatunya tergantung prilaku diri kita.

Bukankah kenyataan kehidupan hanya sebuah gejolak yang tak pernah betakhir.?" Wajah "Firas"  tertunduk penuh sikap hormat.

Dalam desah nafas dalam, pandangannya menatap jauh ke depan, sedikit bergeser memperbaiki tempat duduknya,  tangannya meraih sebatang rokok klobot dan mengisapnya.

"Siapa terpengaruh pada gejala cahaya terangnya dunia, maka dia bakal  terombang-ambingkan keadaan, bagaikan buih terbahak-bahak bangga terhadap keadaannya, tetapi dalam sekejap menghilang di atas permukaan.

Sebab percaya pada kedalaman keimanan butuh tekat dan keteguhan hati dalam mengarunginya.

Setiap prilaku akan menemui banyak hal dan mempengaruhi watak pribadinya, dari setiap ungkapan kata  pasti mempunyai tanggung jawab untuk mengungkap kedalaman, memiliki resiko besar bahwa apapun ungkapan perkataan itu bakal kembali menimpa kepada dirinya sendiri".

Kembali wajah beliau menatap wajah "Firas" penuh perhatian, hatinya merasa iba terhadap kemandirian generasinya. Lalu  tengadahkan wajah dan telunjuk tangannya menuding ke langit.

"Lihatlah anakku...! bintang kecemerlangan bertaburan di langit manakala gelap membungkus hari, barang siapa tidak merengkuhnya sulit menemukan bulan jatuh di pangkuan.

Itulah simbul Tuhan dalam menurunkan kepahaman ilmu hakekat hidup, di situlah tempat 'kemandirian', dan umumnya tidak banyak mengerti tentang persoalan ini.

Sebab sikap hidup di antara kita senantiasa menggigil naik darah, debar jantung tidak beraturan, seperti lolongan anjing yang mulai kelaparan, mencari sisa daging menempel pada tulang setelah ditinggal predatornya, demi memuaskan rasa egois di tengah kegelapan hutan saat musim kering tiba".

Wajah dan hati "Firas" tertegun dan tetap tertunduk, kecamuk dalam benaknya tidak pernah sepi, ia terus berusaha menelusuri kedalaman jiwanya.

 "Yah...,! Kemandirian berasal dari 'diri',! bukankah setiap orang pasti membawa diri sendiri selama hidup kehidupan ini.?"

Untuk menjawab kegundahan hati putranya, "marilah anakku,! rasakan saat malam menggelar kepribadiaan.

Pada waktu rembulan mendorong hasrat kelana merobek tirai rahasia purnama, tingkah sebagian besar di antara kita justru bersembunyi di balik bayangan pohon kering.

Mereka telah membawa dirinya memilih menghindari cahaya purnama sebagai cermin cahaya kepahaman diri, terang-terangan menolak kebenaran petunjuk jalan menuju kemandirian diri pribadi adalah ketenteraman hati.

 Andaikan saja mereka mengerti tentang 'Barang siapa mengetahui dirinya, maka mengetahui pula tentang Tuhannya'.

Karena di sana diri berada, di sana tempat jiwa bersandar, di sanalah tempat ketentraman hati bersemi, dan di sanalah kedamaian tempat kebebasan diri dari berprasangka buruk terhadap sesamanya. Namun kita terlena pada gairah hari dan terbuai kupu-kupu malam dalam mimpi tidurnya".

Kepala tertunduk "Firas" terdiam seribu bahasa, batinnya berusaha menuangkan pengertian ini pada aplikasi realnya, mengepalkan tangan tanda semangat untuk mengarungi kenyataan hidup apa adanya.

Peristiwa demi peristiwa yang menimpa  selama ini merupakan pembelajaran sangat berarti buat hidup kedepan. Lalu "Ayah...,!

Aku berterima kasih atas pengertian pasang surut kehidupan kita, adalah kenyataan hidupku sendiri, pembelajaran dan bekal buat diriku sendiri.", tangannya meraih tangan ayahnya menciunnya, terima kasih banyak ya yah.!", hatinya puas terhadap petuahnya.

Dengan rasa haru sang ayah tersenyum penuh lingangan air mata, "baiklah anakku..! Ayah mendidik dan menyekolahkan hingga masuk perguruan tinggi bukan untuk menjadikan dirimu sesuatu sesuai keinginan ayah, atau menuruti prasangka orang tidak mengerti pendidikan.

Tetapi aku hanya menuntun agar dirimu punya 'KEMANDIRIAN', sewaktu-waktu tidak bergantung kepada keadaan orang lain.

Biarlah mereka bebas berkata apa saja terhadap keadaan diri kita, pada masanya pasti akan menerima konsekwensi dari kenyataan ucapannya sendiri. 

Hidup dan kehidupan ini terus melipat ruang dan waktu, dayanya seharusnya untuk kembali bersih suci seperti sedia kala”. Semoga tutur kata ini bisa memberi manfaat bagi dirimu dan kita semua.

Surabaya, 05 Desember 2018
Panglaras Budi Jaya Soepena
×
Berita Terbaru Update