-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETENTERAMAN HIDUP BERBANGSA

Sabtu, 08 Desember 2018 | 12:54 WIB Last Updated 2019-11-23T22:50:52Z
(Gambar dari google)

Oleh : Edi Kuswantono

Kali ini angin kencang, hujan deras begitu lebat dan cukup lama, gemuruh guntur dan petir bertalu-talu, kilauan cahaya petir menghujam bumi begitu mengerikan.

Tetapi bocah-bocah kala itu tidak pernah takut oleh keadaan, justru situasinya dipergunakan untuk bersenang-senang dengan air hujan yang deras, berburu burung basah kuyup tidak mampu terbang.

Mereka juga pohon kelapa melenggak-lenggok tertimpa angin besar, seakan-akan menari lemah gemulai, dan lentik janur kuning bersih begitu lihai memainkan tarian alam, seketika bakal tumbang karenanya.

Situasi semacam itu ditunggu-tunggu, akar pohon kelapa menembus bumi kelahiran akan melemah, sebab hujan turun begitu deras dan lama, membuat cengkeramannya tidak bisa optimal, akan segera tumbang bagai mabuk tarian alam.

Sorak-sorai bocah kala itu"Horeeee, tumbaaang,  serbuuuu," dan berlarian  berebut kelapa muda yang jatuh. Hem, yaaa, begitu indah keadaan kala itu.

Bocah-bocah itu, kini, telah melampaui setengah abad, tak terasa waktu menggilas dan menyeret makin tua dan makin rapuh mengikuti perlajanan hidup.

Apalagi yang akan diharapkan dari perjalanan ini kedepannya ? Ya, kalau bukan karena generasi yang kokoh, perjuangan akan sia-sia,  apalagi bila tidak bisa sampai kepuncak keteguhan.

Ini adalah sebuah tantangan dalam menghadapi perusuh “eksternal”, berupa arus gelombang Globalisasi dan bertarung antar ideologi melalui media massa; pengkhianatan “internal” yang bersumber dari keragaman kebudayaan, suku, agama dan ras.

Sebab musabab tantangan eksternal dan internal karena “Melemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila akibat dari ketidakmampuan mengelola kedua tantangan tersebut”.

Meskipun menjalin kasih sayang dari masa ke masa semakin menyusutkan hasrat bermesraan, adalah hal sangat alamiah.

Tak ada jalan lain pada kondisi seperti itu, kecuali terus merajut kasih sayang dengan memupuk saling pengertian, itulah yang bisa menyelamatkan sebuah keutuhan ketenteraman hidup berkeluarga dalam hidup dan kehidupan berbangsa.

ketenteraman hidup berkeluarga dalam berbangsa telah terwakili dalam rumah partai, tetapi wakil-wakil kita itu senantiasa lupa diri terhadap amanahnya.

Keniscayaan rumah partai justru menjadi sarang tikus penggarong dan pengerat kekuatan angota warganya, tetapi keluar sarang membuat isu kemisknan demi kesejahteraan. Hal inilah yang dikatakan “bedebah mendengus seperti suara kebo berbau busuk”.

Tidak jarang terjebak terpenjara pada teriji terali besi, masihkah engkau tidak punya rasa malu? Sungguh biadab jika rasa malu itu musnah dari jiwa agungmu.

Kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa dipungkiri sering kali menjadi bencana keutuhan, tetapi sejauh bisa mengembalikan kepada posisi awal tujuan hidup membina keluarga dalam berbangsa, untuk hidup meraih "Kebahagian dan ketenteraman".

Maka hal lain yang akan datang menimpanya adalah sebagai ujian kualitas keteguhan membina rumah tangga dalam kehidupan berbangsa yang sejahtera sampai akhirruszaman.

Sebab yang berpotensi melemahkan hidup berkebangsaan adalah “Primordialisme (membanggakan rasa kesukuan secara berlebihan); Radikalisme, baik liberal (pemikiran dan sikap hidup bebas dan individual) maupun sektarian (beragama yang tidak toleran);

Ketidakadilan sosial di segala bidang kehidupan, utamanya ekonomi dan hukum”.
Wahai saudaraku sebangsa setanah air ..!

Kita lahir sudah dalam keadaan berbangsa seperti ini, mengapa dirimu tidak sadar keadaan ini ? beragama dan dalam agama adalah roh kehidupan masing-masing, pegang erat-erat demi melakukan kewajiban hidup berbangsa. 

Oh Tuhan..! kami tahu “islam”, tujuan hidup, pegangan  hidup kami, adalah merekap semua kitab yang ada, dan pada kitab suci itu telah disebutkan dalam surat 2, ayat 62.

“Sesungguhnya orang orang mukmin, orang yahudi, orang Nasrani, dan Shabi’in “siapa saja” diantara mereka yang benar benar beriman (percaya) kepada Allah dan hari kemudian serta beramal kebaikan (sholeh), maka mereka akan mendapatkan pahala dari Tuhan, dan mereka tidak akan merasa takut atau bersedih hati”.

Mengapa dalam kenyataan kehidupan kita sehari hari masih mengingkari ayat Tuhan ini ? Apakah Tuhan salah menurunkan ayat ini ?

Tidak saudaraku ...! Kita hidup di bumi Indonesia sama dengan bangsa-bangsa lain, dan “MENGAPA KITA PERLU PANCASILA”.

Karena kita punya “rasa Nasionalisme dan rasa kebangsaan yang kuat yang berakar pada sejarah bukan berdasarkan kekuasaan /hegemoni ideologi, sebab nilai-nilai Pancasila berasal dari bangsa  sendiri = kausa materialis, sehingga  Bangsa Indonesia  tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila”.

Itulah jiwa bangsa burung dan apabila jiwa kita tidak memiliki nilai tersebut dapat dipastikan tindakannya arogan bagaikan hewan liar saling menyerang kepada sesama ciptaan Allah Tuhan Robbul aalamin. Begitukah jiwa kita sebangsa setanah air ...? Tidak saudaraku...! Ciri khas pandangan hidup falsafah bangsa kita berbeda dengan lainnya. Sebab Falsafah hidup tersebut diangkat dari nilai-nilai kultural melalui refleksi filosofis pendiri Negara.

Marilah kita saling membina kerukunan di dalam rumah tangga kita sendiri, dan kepada sesamanya di dalam hidup dan kehidupan berbangsa. Bergegaslah mulai hidup damai kepada siapa saja, agar hidup kitapun penuh kedamaian.

Teruslah untuk memperbaharui keadaan jiwa damai dalam hati kita, kesalahan yang terjadi ulurkan tangan saling memaafkan, karena kita ini manusia yang hidup untuk mensejahterakan alam semesta. Berilah ruang menunjukkan simbul  kasih sayang itu sesuai kehendaknya Tuhan Allah yang bijaksana.

Oh..., lautan Indonesiaku...!
Engkau apungkan diri ini
Engkau lipat waktu ini
Engkau celupkan  jiwa ini
Engkau rengkuh hati ini

Kini malam purnama usai tiba
Aku menggigil mandi cahaya
Kau taburi bintang sinar asa
Dan Kau lumat seluruh gelora

kala purnama merambah dewasa
Akalku terus  memeras masa
Penglihatan, pendengaran berdo'a
Menelusuri jalan meraih asa

Kugait satu bintang paling jauh
Lewat rahasia keheningan malam rebah
Saat perpagut bintang merengkuh
Di pucuk kembang rembulan jatuh 
Jiwaku bergayut sepenuh resah

Waktu usai menggelar peristiwa kelabu
Tinggal belulang menjelang wujut  debu
Sirnalah rasa cemas dan rasa tabu
Akhir keangkuran bersujud di lembah kalbu

Musim semi kini mulai berkembang
Hari-hari indah menghampar begitu cemerlang
Kehangatan mantahari menggeliatkan kembang
Agar generasi esok nikmat bertandang

Surabaya, 08 Desember 2018
Panglaras Budi Jaya Soepena

×
Berita Terbaru Update