-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETIKA KELUARGA TERCINTA DAN SEMUANYA DIRENGGUT DARIPADAKU

Rabu, 19 Desember 2018 | 22:24 WIB Last Updated 2019-12-05T11:26:21Z
KETIKA KELUARGA TERCINTA DAN SEMUANYA DIRENGGUT DARIPADAKU


Karya: Garnis Danu Kusuma

Sore itu hujan berhenti aku berjalan menelusuri padang sahara dengan angin sepoi-sepoi dan diikuti pelangi yang menampakan diri, kulihat bunga-bunga segar dikerumunin lebah. 

Selang beberapa puluh meter kulihat ke tengah ladang terdapatlah sebuah kepala seorang pemuda yang terpisah dari tubuhnya. 

Merasa ada jejak darah, aku menuju ke pepohonan dan kulihat lagi ada seorang lelaki tua dengan posisi leher diikat menjulang ke atas, tak sampai di situ kuamati lagi pohon itu terdapatlah bayi yang tersangkut di ranting pohon, tubuhnya hancur seperti habis dirajang oleh taring-taring frustasi. 

Dalam hati kuberkata " siapa gerangan yang tega-teganya melakukan semua ini ?" 

Lalu kudengar suara orang yang berjalan sedang mengarah kepadaku, ku lihat yang ternyata adalah seorang wanita muda dengan baju kusut dan robek-robek. 

wajahnya kotor dan menampakan kesedihan yang mendalam, tubuhnya kurus seperti anjing kelaparan lalu tiba-tiba ia berkata " mereka adalah keluargaku ". 

Aku terkejut, terdiam, tersipu rintih mendengarnya, tak berteleh-teleh aku bertanya " apa yang terjadi pada keluargamu wahai wakil wisnu ?" Ia menjawab dengan air mata mengucur seperti air terjun ".

Saat kami berjalan di jalan setapak itu kami dihadang oleh kawanan perampok bermata parang dan berhati pisau setajam dendam mereka mencoba merampok segala harta keluargaku bahkan mereka telah mencoba merampok keperawananku. 

Dengan keadaan bingung bercampur ketakutan, aku terdiam mematung dan penuh kebisuan, kakak dan bapaku mencoba melawan serigala-serigala kelaparan itu. 

Namun itu sia-sia saja karena serigala-serigala itu sudah mengelilingi dan siap memangsa kami akhirnya kakaku diseret pada bebatuan. 

salah seorang mengeluarkan samurai dari kereta pualam, digoroklah leher kakaku hingga darahnya bercucuran. 

Aku menjerit tidak karu-karuan seolah-olah aku diguncang adzab Tuhan yang paling nyata. Bapaku digantung, dan tak sampai di situ adiku yang berumur 1 tahun dibanting ke tanah lalu dilempar batu dan kerikil-kerikil nestapa. 

Dari situlah aku lebih memilih kesempatan untuk lari sejauh-jauhnya di saat serigala-serigala itu berpesta pora. 

Sementara gadis itu bercerita, berhembuslah semilir angin yang menggoyahkan jiwaku. Kulihat gadis itu berwajah sangat pucat, kantong matanya menghitam dan matanya berkaca-kaca seperti malaikat maut yang sudah mencengkram lehernya.
 Ia mencoba melanjutkan perkataanya " apakah aku melakukan hal yang salah disaat aku meninggalkan mereka ? Apakah aku hanyalah wadah api neraka disaat orang berdosa masuk kedalamnya ?" 

Aku mencoba menafsirkan ucapanya dan meringkas makna-maknanya. Kutemukan sebuah jawaban Tuhan di ubun-ubun kepala dan kukatakan padanya. 

"Tuhan itu maha penyayang dan penuh kasih setia. Ia pasti menolongmu dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya. 

Di balik tragedi yang sungguh tragis ini, Ia meneguhkan imanmu, memberi harapan, kekuatan dan membuka jalan terbaik untuk hidupmu. Tenanglah!!! Dan percayalah, Tuhan pasti besertamu. 

Setelah kukatakan demikian, gadis itu menundukan kepalanya yang sangat lemah karena kesedihan menggoncang lempeng samudra dihatinya dan ia berkata " aku berterimakasih kepadamu.  

Kurasa Tuhan itu memang maha penyayang. Ia menyampaikan pesan lewat dirimu, melalui ucapan-ucapanmu yang telah membuka segel pada syaraf-syaraf kain sutraku". 

Ia lalu mengangkat kepalanya dan membalikan badan seraya berjalan menjauh untuk mengartikan apa arti dari semua yang terjadi.

Ilustrasi dari riaurealita.com
×
Berita Terbaru Update